Tepuk tangan meriah mengiringi penampilan para model yang sedang berlenggak lenggok di atas catwalk. Satu persatu dari mereka bergantian untuk memeragakan busana dari masing-masing designer. Penonton baik yang duduk di kursi VIP maupun Reguler sama-sama berdecak kagum setiap melihat siapapun modelnya serta bagaimana pun bentuk baju yang dikenakan.
Seorang gadis yang sudah siap di ruang tunggu dengan penampilan cantiknya tersenyum lebar. Busana yang ia kenakan memiliki tema ceria untuk musim panas, dengan riasan natural yang sangat sesuai dengan kepribadiannya yang selalu ceria serta bersemangat.
Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri ada rasa berdebar serta penasaran karena ia akan membawakan busana dari salah satu perancang papan atas yang dimiliki negeri ini. Demikian pula citranya yang selama ini dikenal sebagai model profesional yang tidak pernah gagal membawakan busana apapun.
Saat mendengar nama sang designer dipanggil, Ilana menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Sebuah tepukan pada lengannya membuat gadis itu semakin merasa optimis. Ilana tersenyum dan mengangguk, kemudian melangkah menaiki panggung sepanjang 20 meter tersebut.
Nuansa panggung seketika berubah menjadi sangat ceria. Warna pink summer dan aransemen musik beat membuat penonton terlarut dengan penampilan gadis berusia 23 tahun tersebut. Dress floral itu seolah terlihat menyatu dengan jiwa Ilana. Gadis itu berjalan dengan tenang dan enerjik, sesekali ia melambaikan tangan pada beberapa fansnya yang tampak memawa banner bertuliskan namanya.
Sampai di ujung panggung, Ilana berpose dengan sangat apik. Diakhiri dengan kibasan rambut hitamnya yang sedikit diikal. Tak lupa memberikan senyuman termanis pada dua orang paling berharga dalam hidupnya yang duduk tak jauh dari panggung. Dua orang itu juga melambaikan tangan ke arahnya
Begitu turun dari panggung, gadis itu langsung disambut dengan pelukan hangat dari perancang busana yang ia kenakan.
"Goodjob, Baby Girl. Mbak nggak salah pilih kamu untuk ikut kali ini," puji Azaleta pada model kesayangannya itu. Sungguh, penampilan Ilana benar-benar di luar imajinasinya. Dan tentu saja sangat mengesankan.
"Thanks banget, Mbak Aza udah percaya sama Lana buat bawain baju ini." Ilana berkaca-kaca dalam pelukan sang designer. Beban berat yang beberapa minggu ini ia rasakan seolah sirna begitu saja.
"You deserve it. Nanti begitu bajunya keluar, Mbak akan kirim untuk kamu."
Ilana mengangguk saja karena menolak pun akan percuma. Setiap perancang busana yang menggunakan jasanya untuk memeragakan baju itu, pasti akan mengiriminya sehelai baju yang ia peragakan begitu jenis pakaian tersebut diluncurkan.
Usai dengan seluruh rangkaian acara sore hari itu, Ilana segera membereskan penampilannya dan berganti pakaian yang lebih santai. Selama ini, hampir seluruh baju yang dibawakan Ilana memiliki bentuk dress atau rok. Bisa dibilang, ia akan sangat jarang mengenakan pakaian model celana untuk pementasan. Selama 4 tahun berkarir di dunia modeling, Ilana hanya pernah 4 kali mengenakan pakaian bermodel celana. Padahal dalam kesehariannya, ia sangat suka memakai setelan celana.
Ilana sudah memulai karirnya di dunia modeling sejak duduk di bangku SMA. Tinggi tubuhnya yang mencapai 176 senti meter tentu sangat memudahkan langkahnya untuk berkarir di dunia fashion tersebut. Postur tubuh yang ia dapatkan akibat perpaduan kedua orang tuanya yang juga memiliki gen sama-sama tinggi.
Hanya saja, pada masa SMA tersebut Ilana belum terlalu sering mengambil pekerjaan. Itu karena Aulia memberikan pengawasan yang sangat ketat. Aulia selalu menomor satukan pendidikan Ilana sebab pernah sekali waktu karena Ilana mendapatkan job dari seorang designer ternama, ujian Ilana terganggu. Sejak saat itu, Aulia benar-benar melarang Ilana mengambil tawaran permodelan.
Hingga saat duduk di bangku kuliah, Ilana akhrnya berhasil meyakinkan Aulia agar diizinkan untuk mengambil pekerjaan. Ilana juga berjanji jika hal itu tidak akan mengancaukan pendidikannya. Meskipun awalnya Aulia merasa ragu mengenai hal itu, Ilana akhirnya membuktikan ucapannya dengan meraih IPK sebesar 3,5 di semester 1. Dan secara konsisten, dalam setiap semester nilai akademik gadis yang mengambil konsentrasi hukum itu selalu saja naik.
Memulai semuanya dengan mengikuti ajang pemilihan putri kampus, Ilana hanya sempat berhenti saat ia memasuki semester 7. Selama hampir 1 tahun, ia benar-benar berhenti untuk fokus pada skripsinya. Barulah setelah itu, ia benar-benar menekuni karirnya di dunia model dengan sangat profesional.
"Jadwalku untuk minggu ini ke mana aja, Mbak?" tanya Ilana pana Natalia, manajer pribadinya.
"Untuk minggu ini kosong, tapi hari Jumat siang kita harus bertemu dengan Mbak Dian Nurmala. Beliau katanya mau mengadakan Traditional Fashion Show di Yogyakarta. Acaranya tanggal 19," jelas Natalia pada Ilana yang masih merapikan rambut hitamnya.
"Mbak Dian? Di Jogja?" Ilana membeo. Natalia mengangguk.
Sebuah senyuman penuh binar terukir di wajah gadis itu. Dian Nurmala merupakan salah satu perancang busana tradisional yang menjadi idolanya Fokusnya pada jenis kebaya yang dipadukan dengan berbagai sentuhan khas Nusantara. Jadi tidak hanya kebaya khas Jawa melainkan juga kebaya dengan sentuhan Bali, Nusa Tenggara bahkan Papua.
Untuk bisa menjalin kerjasama dengan desainer tersebut bisa dibilang sangat susah. Sebab selama ini Dian Nurmala sudah memiliki jaringan model dari salah satu acara kontes kecantikan kebanggaan Indonesia. Ilana bahkan nyaris mengikuti ajang tersebut demi untuk mewujudkan ambisinya namun terhalang karena kontraknya untuk 2 tahun ini sudah penuh. Sementara untuk bisa mengikuti ajang putri kecantikan, ia harus mengosongkan semua kontrak kerja yang dimilikinya.
"Oke, Mbak. Kalau gitu aku pulang duluan. Ketemu hari Jumat ya, Mbak," pamit ilana kemudian. Natalia mengangguk dan menyilakan gadis itu untuk keluar terlebih dulu.
Ilana segera menuju ke tempat parkir di mana sebuah mobil berwarna silver sudah menantinya. Gadis itu tersenyum lebar melihat sosok laki-laki tersayang miliknya. Laki-laki yang akan selalu hadir setiap ia memiliki agenda panggung. Jika tidak sangat terpaksa berhalangan atau sangat sibuk, laki-laki itu akan menyempatkan untuk datang.
"Udah lama?" tanya Ilona dari belakang yang membuat sang lelaki sedikit terjengkat. Karena terlalu asyik memainkan ponsel, ia tidak menyadari kedatangan sang kekasih.
"Sayang. Kamu bikin kaget aja." Ilana terkekeh tanpa merasa berdosa. Laki-laki itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menarik sang gadis ke dalam pelukannya.
"Nggak lama, kok. Tadi sempet beli minuman dan ngobrol sama Bunda."
"Terus, minumannya mana?" Ilana merenggangkan pelukannya.
"Ada di dalam. Ayo," ajak sang lelaki seraya menggandeng tangan Ilana dan membukakan pintu untuk gadisnya itu.
"Thanks," ucap Ilana dengan tersenyum, yang dibalas senyuman serupa oleh lelakinya.
Begitu memasuki mobil, senyum Ilana semakin lebar mendapati minuman kesukaannya. Segelas Mango Bomb dan sebotol air mineral. Ia bahkan lupa selepas peragaan busana tadi tidak sempat meminum air putih.
"Bunda udah pulang, ya?" tanya Ilana saat sang kekasih sudah memasuki mobil dan memasangkan sabuk pengaman.
"Udah, pas kamu habis tampil tadi. Bilangnya ada klien yang dateng ke butik. Kamu mau aku antar pulang atau ke butiknya Bunda?" tanya sang lelaki sebelum menjalankan mobilnya.
"Ke butik aja, deh. Tapi kita makan dulu, bisa? Aku laper. Kamu nggak ada kerjaan, 'kan?" Ilana memang merasa cukup kelaparan karena tadi pagi ia hanya sempat sarapan sereal dan s**u. Itu sudah menjadi kebiasaannya ketika akan ada peragaan busana.
Sang pria menggeleng lantas mulai melajukan mobilnya memasuki jalanan protokol yang terpantau cukup lengang, "Oke, kita ke restoran biasanya."
Sepanjang pejalanan menuju restoran, tangan keduanya tak pernah terlepas kecuali saat sang pria harus memindahkan tuas porsneling mobilnya. Sementara tangan kiri Ilana fokus memegang gelas mango bomb kesukaannya.
"Jangan bilang kalau tadi pagi kamu nggak sarapan?" Ilana yang tengah mengamati keadaan di sebelah kiri jalan lantas menoleh pada prianya yang masih fokus mengemudi. Gadis itu tersenyum manis.
"Hehe, tahu aja," sahutnya tanpa rasa berdosa.
"Kamu itu pasti kebiasaan. Sarapan itu penting, Lana. Bandel banget sih dibilangin. Kalau lambung kamu kenapa-kenapa lagi gimana? Suka banget bikin orang lain khawatir." Ilana terkikik mendengar gerutuan kekasihnya yang memang luar biasa cerewet jika mengenai kesehatannya.
"Aku sarapan kok, Sayang ...."
"Sarapan sereal sama s**u," potong laki-laki itu cepat yang diangguki dengan antusias oleh Ilana.
"Aku nggak mau tahu, pokoknya nanti kamu harus makan yang banyak." Ilana kembali mengangguk, ia mengerti ucapan sang kekasih barusan bukanlah sebuah permintaan melainkan perintah.
Tidak perlu menunggu waktu lama, keduanya sudah sampai di sebuah restoran kesukaan mereka. Sebuah restoran tradisional yang yang menjadi tempat awal pertemuan mereka. Ilana segera turun begitu sang lelaki melakukan tindakan manis dengan membukakan pintu untuknya.
Seperti janjinya, Ilana menghabiskan cukup banyak jenis makanan. Disamping untuk menyenankan hati kekasihnya, ia sendiri sebenarnya juga merasa sangat lapar. Beberapa hari terakhir ini ia harus mengurangi porsi makannya. Meskipun tidak terlalu banyak tetap saja terasa untuknya yang sangat menyukai yang namanya makan.
"Pelan-pelan, Ilana," ucap sang lelaki yang terkekeh melihat betapa lahapnya kekasihnya itu. Ia mengusap sudut bibir Ilana yang terkena leleran saos akibat menyantap menu bakso bakar.
"Kenapa, ya? Hampir setiap bulan kita makan di sini, tapi sekali pun nggak pernah bosan."
"Itu karena kamu memang doyan makan." Sang lelaki lantas menyuapkan sesendok kuah ke dalam mulutnya sendiri.
"Habisnya enak, Sayang," balas Ilana masih belum mau mengalah. Gadis itu lantas menyuapkan makanannya untuk sang kekasih.
"Kamu langsung pulang?" tanya Ilana begitu hidangan di meja mereka telah tandas.
"Iya, ada kerjaan yang harus aku bicarakan sama Dimas setelah ini," jawab sang lelaki yang memang memiliki posisi penting di perusahaan.
"Yang semangat, ya," ucap Ilana seraya membelai lembut pipi kekasihnya.
"Terima kasih, Sayang. Ayo, aku antar kamu ke butiknya Bunda."
"Yuk."
****