6. ILONA AERA RAFIQ

1708 Words
Seorang gadis tampak menggerak-gerakkan tubuhnya yang terasa begitu lellah dan pegal-pegal. Ia baru saja menyelesaikan rapat dengan manajer pengelola serta kepala chef di kafe dan restoran miliknya. Perkembangan jaman serta selera makan pengunjung kafe membuat mereka harus terus memikirkan inovasi untuk menu-menu makanan mereka agar mampu bersaing dengan semakin menjamurnya tempat makan para kaum milenial. Kafe dan restoran itu sebenarnya sudah mengusung tema yang sangat tepat di masa kini. Perpaduan antara konsep tradisional dan modern yang bisa menjangkau seluruh kalangan baik tua maupun muda. Terlebih, lokasinya yang sangat strategis. Namun tetap saja, ia merasa sangat perlu untuk mengembangkannya lebih jauh lagi. "Permisi, Mbak Ilona. Ini makan siangnya," sapa seorang karyawan yang mengantarkan semangkuk mie kuah khas Jepang dan segelas teh tawar panas kesukaannya. "Ini mah bukan makan siang, setengah sore." Ilona menginterupsi, sementara sang karyawan terkekeh atas ucapan atasannya tersebut. "Nggak mau nambah gorengannya, Mbak?" Tawaran itu langsung dijawab gelengan oleh Ilona. "Sejak rapat tadi saya udah makan gorengan banyak banget." Begitu sang karyawan undur diri, gadis itu segera menyantap hidangan yang sudah menguarkan aroma yang begitu menggoda lidahnya. Mie kuah khas Jepang itu menjadi salah satu dari sekian banyak menu andalan di kafenya. Ilona sangat pandai membaca situasi pasar. Selain itu ia sangat cerdas dalam hal mengelola keuangan serta operasional tempat usahanya. Ilona mengerti jika selera anak muda saat ini sangat beragam. Ada yang menyukai konsep tradisional, tak sedikit pula yang suka akan konsep modern dan minimalis. Namun secara keseluruhan selera mereka sama, tempat makan itu harus memenuhi syarat untuk di update melalui social media. Tempat yang cantik dan menarik saja belum tentu cukup. Hidangan yang disajikan juga harus sesuai dengan tren yang terjadi saat ini, tentu saja dengan kualitas rasa yang harus sesuai dengan tampilan makanannya dari luar. Kafe milik Ilona tidak hanya mengusung satu ciri khas saja. Selain ada makanan khas Indonesia, gadis itu juga mengembangkan makanan khas negara lain yang tengah populer. Contohnya saja Korea, Jepang bahkan hingga menu Timur Tengah yang baru ditambahkan selama beberapa bulan terakhir ini yang ternyata mendapat apresiasi yang cukup membanggakan dari para pengunjung. Sementara untuk restorannya yang juga terletak bersebelahan tetap pada ciri khasnya yang mengusung tema makanan tradisional Indonesia, karena merupakan cabang dari restoran milik sang ayah di Jogja. Peminatnya juga tidak kalah banyak. Selain masyarakat umum, Ilona juga bekerjasama dengan pengelola agen perjalanan sehingga pangsa pasarnya jauh lebih luas. Selain itu ada juga jasa katering untuk berbagai acara seperti pernikahan, seminar hingga rapat dari beberapa instansi pemerintah. Gadis lulusan sebuah institut kuliner tersebut awalnya diminta oleh sang ayah untuk menjalankan cabang rertoran di Semarang sejak masih duduk di semester 5. Pada saat itu pula, karena bertepatan dengan proyek pendidikannya, Ilona akhirnya juga membuka kafe kekinian yang letaknya bersebelahan dengan restoran milik sang ayah. Ilona mengambil konsentrasi Culinary Business sehingga proyek untuk tugas akhirnya mengharuskan ia agar memiliki suatu usaha baru. Bisa berupa kafe maupun gerai retail makanan. Begitu hidangan makan siangnya telah tandas, Ilon segera melangkah menuju mobilnya. Sore ini juga ia harus segera kembali ke Yogyakarta sebab kemarin sang ayah mengatakan ingin membicarakan hal penting dengannya. Selama 2 hari ini Ilona memang menginap di Semarang. Di ruangan kerjanya, tersedia sebuah tempat tidur yang bisa ia tempati karena Ilona biasanya tidak cukup hanya sehari dalam mengunjungi tempat usahanya. Gadis itu rutin datang setiap 1 minggu sekali, karena saat ini ia juga tengah menempuh pendidikan S2 di salah satu universitas bergensi di Kota Pelajar tersebut. "Langsung pulang, Mbak Ilona?" tanya Sean, sang manajer pengelola kafe. "Iya, Mas. Lagipula nanti malam saya ada kelas online dan semua bukunya kan di rumah." "Hati-hati, ya, Mbak. Jalanan sepertinya lumayan rame karena menjelang libur panjang." Ilona mengangguk sekilas dan tersenyum. "Thanks, Mas. Pergi dulu, ya," pamitnya lantas memasuki Hyundai Ioniq berwarna abu-abu miliknya. Tidak membutuhkan waktu lama, kendaraan listrik beroda 4 itu kini menjadi salah satu anggoa kepadatan jalur tol Semarang - Yogyakarta. Meskipun cukup padat namun setidaknya Ilona bisa bernapas sedikit lega karena ia memutuskan kembali sore ini. Jika saja ia memutuskan untuk pulang ke Jogja malam nanti seperti kebiasaannya, sudah bisa dipastikan ia akan ikut terjebak kemacetan parah. Beberapa saat sebelum mobilnya keluar dari exit Colomandu, layar di sebelah kirinya menyala, menampilkan panggilan dari sosok yang paling dicintai oleh Ilona. "Halo, Ayah," sapanya saat panggilan itu terhubung. "Lagi di mana, Sayang? Masih di Semarang?" buru Adnan karena memang sehari ini Ilona belum memberikan kabar padanya. Ilona menepuk keningnya begitu menyadari ketelodarannya karena lupa belum memberi kabar pada sang ayah terutama saat dia memulai perjalanan menuju Jogja. "Ilona sudah di perjalanan, Ayah. Sebentar lagi sampai exit Colomandu. Maaf karena Ilona lupa belum bilang sama Ayah." Di seberang sana, Adnan menghela napas lega. Sejak pagi ia memang memiliki kegiatan yang sangat menyibukkan, membuatnya tidak menyadari jika ia dan sang putri belum saling memberi kabar. "Ya sudah, Ayah pikir kamu masih sibuk di Semarang." "Enggak, Yah. Ilona kemarin hanya membahas menu baru seperti yang kita rencanakan tempo hari," jawabnya seraya memelankan laju mobil karena mobilnya mulai memasuki gerbang tol yang ternyata cukup padat. "Ya sudah, hati-hati, ya, Nak," pesan Adnan yang diangguki oleh sang putri. "Iya, Ayah. Sampai ketemu nanti, Yah." Sekitar satu jam kemudian, kendaraan roda 4 itu akhirnya memasuki pekarangan sebuah rumah khas Jawa yang semakin tua semakin terlihat estetik. Itu karena sang ayah selalu merawat rumah peninggalan kakek dan neneknya tersebut. Ditambah, Ilona yang sangat gemar menanam bunga membuat pekarangan yang cukup luas tersebut terlihat semakin sejuk dan indah. Dahi Ilona mengernyit menyadari keadaan rumah yang masih gelap. Menandakan sang ayah belum pulang. Gadis itu segera melangkah memasuki rumah untuk menyalakan lampu. Kemudian memasuki kamarnya untuk mandi dan membersihkan diri. Guyuran air yang membasahi tubuhnya membuat Ilona merasa jauh lebih rileks. Akhir-akhir ini ia memang merasa cukup lelah dan sepertinya membutuhkan liburan. Usaha kulinernya yang berkembang pesat serta kegiatan pribadinya yang memang cukup menguras tenaga dan pikiran. Meskipun Ilona tidak melakukannya atas dasar keterpaksaan, tetap saja wajar baginya untuk merasa lelah. Seusai mandi, Ilona segera mempersiapkan laptop dan segala macam buku untuk materi perkuliahan malam ini. Melihat waktu perkuliahan yang sepertinya masih cukup, ia memutuskan untuk ke dapur dan membuat mi instan kesukaannya. Apalagi, perutnya sudah beberapa kali berbunyi saat ia mandi tadi. Padahal, 3 jam sebelumnya ia sudah makan semangkuk mi ramen yang cukup mengenyangkan. 10 menit kemudian mie goreng pedas yang lengkap dengan sayuran pokcoy dan telur serta potongan sosis itu akhirnya siap. Ilona tersenyum lebar dengan air liur yang terasa akan menetes. Sudah beberapa minggu ini ia tidak memakan mi instan dan jujur saja, Ilona sangat rindu pada rasa kudapan bermicin tersebut. Saat kembali ke ruang tamu, tampak sang ayah yang baru saja memasuki rumah. Ilona segera meletakkan piringnya dan beraling mencium punggung tangan kanan sosok cinta pertamanya tersebut. "Ayah malem banget," serunya seraya bergerak duduk di atas permadani. "Tadi niatnya mau langsung pulang, tapi selepas menelpon kamu, ada teman ayah yang berkunjung. Jauh-jauh dari Jakarta, Ayah nggak tega buat langsung pulang," jawab Adnan seraya bergerak duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Teman yang dimaksud Adnan adalah Rio, partnernya saat dulu hidup dan mendirikan usaha di Jakarta. Rio datang bersama sang istri dalam rangka menghadiri prosesi wisuda keponakannya yang menempuh pendidikan di Jogja. Beruntungnya, Adnan sama sekali belum mengganti nomor ponselnya sejak 20 tahun yang lalu atau lebih tepatnya 3 tahun setelah berpisah dengan Aulia. "Ayah punya teman di Jakarta?" Adnan mengangguk, "Kan dulu Ayah kuliahnya di Jakarta, Nak." Ilona hanya manggut-manggut mengerti. Tangannya mulai bergerak menyalakan benda berlayar 14 inci di hadapannya sementara satu tangan lainnya menggerakkan garpu untuk menyantap mi instan buatannya. "Ini anak, sendirinya dagang mi, di rumah masih bikin mi lagi," sindir Adnan dengan melirik piring berwarna putih tersebut. Ilona hanya terkekeh mendengar ucapan sang ayah. "Ayah masuk dulu, ya. Kalau kuliah kamu sudah selesai nanti panggil Ayah," pamit Adnan seraya beranjak untuk melangkah menuju kamarnya. Ilona hanya mengangguk dengan fokus mata yang tertuju pada layar lapotopnya sebab sang dosen sudah memulai sesi perkuliahan. Begitu memasuki kamarnya, Adnan juga segera mandi untuk membersihkan diri serta menjernihkan pikirannya. Tadi, Rio datang dan menceritakan tentang Aulia. Kebetulan, istri Rio merupakan teman arisan Aulia meskipun keduanya tidak terlalu akrab. Dewi, istri Rio, bahkan merasa sangat terkejut saat mengetahui fakta jika Adnan dan Aulia pernah menikah. Dewi juga menceritakan tentang Ilana yang kini menjadi seorang model profesional. Adnan tidak terlalu terkejut mengetahui fakta itu sebab ia beberapa kali melihat foto sang putri sulung terpampang di beberapa majalah fashion. Adnan tidak tahu apakah Ilona menyadari hal itu atau tidak sebab selama ini putri bungsunya itu tidak pernah bertanya. Adnan sangat merindukan Ilana, tentu saja. Selama ini, mereka tidak pernah bertemu. Adnan tidak pernah sekali pun menginjakkan kakinya lagi di tanah Ibukota. Pria itu bahkan masih merasa begitu egois karena harus memisahkan kedua putrinya. Baik dari dirinya maupun dari sang ibu. Sementara Ilona sendiri memang sudah tidak pernah menanyakan lagi perihal sang ibu. Entah apa yang ada dalam benak putrinya tersebut, Adnan sendiri tidak tahu. Padahal sampai saat ini, di ponselnya masih tersimpan rapi beberapa gambar Aulia meskipun sudah tidak digunakan sebagai gambar latar sejak Adnan terpergok oleh Ilona pada waktu itu. Dalam hatinya, Adnan yakin jika Ilona menyadari hal itu. Saat Dewi memperlihatkan foto terbaru Aulia, naluri lelaki Adnan sedikit terpantik. Di matanya, Aulia semakin cantik dan tidak terlihat menua sama sekali meskipun usianya sudah menginjak angka 45 tahun. Tentu saja sebab selama ini ia tidak pernah dan tidak berusaha untuk melupakan sang mantan istri. Bahkan, meskipun Sukma sudah ratusan kali menyarankannya agar menikah lagi, Adnan bergeming. Ia memilih mencurahkan segala kasih sayangnya pada Ilona. Karena di dalam hatinya, tidak akan ada yang bisa menggantikan sosok Aulia meskipun mereka telah lama berpisah. Perasaan hangat yang telah lama menghilang itu kini seolah kembali bertunas. Adnan menggeram frustasi. Ia tidak ingin melakukan perbuatan tidak senonoh itu sendirian. Tetapi bagaimana, wajah Aulia masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Ia masih sangat normal. Terlebih saat ia tahu, Aulia juga belum menikah lagi, setidaknya sampai detik ini. "Aulia...hh," geram Adnan di ujung napasnya yang sedikit menggebu. Pria itu menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dan setelahnya, justru bayang-bayang malam indah yang pernah dilaluinya bersama Aulia kembali menguak bahkan tergambar begitu jelas. Adnan memutuskan untuk mengakhiri mandinya. Logikanya masih mampu mengendalikan keresahan hati pria 47 tahun tersebut. Terutama saat ia mengingat ada pekerjaan rumah yang tengah menantinya pada halaman surat elektroniknya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD