7. LIANDRA AIDAN MALIK

1548 Words
Sesuai janjinya, setelah makan Ilana diantar oleh sang kekasih untuk menuju ke butik milik Aulia. Letaknya tidak terlalu jauh baik dari kantor milik lelakinya itu maupun dari kantor agensi tempat Ilana bernaung. "Pesan dari siapa?" tanya Ilana pada sang kekasih yang tampak serius memperhatikan ponselnya. Keduanya sudah berada di dalam mobil. "Dari Dimas. Minta dibelikan makanan katanya," jawab sang lelaki yang kini menggerakkan jari-jemarinya di atas tuts keyboard untuk membalas pesan tersebut. Setelah itu, barulah ia melajukan mobil untuk mengantar wanitanya. "Hati-hati pulangnya. Dan terima kasih untuk hari ini," ucap Ilana sebelum turun dari mobil sang kekasih. Laki-laki itu tersenyum seraya mengusap lembut pucuk kepala wanita yang dicintainya tersebut. "Sampikan salamku sama Bunda, ya. Maaf aku nggak sempat mampir." "Nggak pa-pa. Bunda juga pasti ngerti. Toh tadi juga kalian udah ketemu, kan?" Sang lelaki kembali mengangguk kemudian meraih tubuh Ilana dan merengkuhnya dengan hangat. Gadis itu membalas pelukan sang kekasih dengan tak kalah mesra. Sambil tak lupa saling mengucapkan kata cinta. "Bye, Sayang," ucapnya lantas membuka pintu mobil. Ilana menunggu hingga mobil kekasihnya menghilang dari pandangan. Barulah setelah itu ia melangkan memasuki butik sang ibu yang hanya terbuka sebagian menandakan jika tempat usaha Aulia itu sudah menjelang tutup. Kekasih Ilana yang bernama Liandra itu mengemudi dengan cepat agar segera sampai di apartemen Dimas, sang sepupu. Waktu janjian mereka dimulai jam 6 sore dan baik Liandra maupun Dimas merupakan tipikal orang yang sama-sama tidak suka dengan yang namanya terlambat. Ilana dan Liandra sudah menjalin hubungan cinta selama kurang lebih 2 tahun. Mereka sudah saling mengenal sejak Ilana mengikuti sebuah event model yang diadakan di hotel milik keluarga Liandra beberapa tahun sebelumnya. Namun karena pada waktu itu Liandra harus berangkat ke Amerika untuk menempuh pendidikan Masternya, maka mereka menunda untuk menjalin hubungan. Karena Ilana tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh alias long distance relationshit. Liandra Aidan Malik merupakan putra pertama dari Pramudya Malik dengan Rianti Getruch yang merupakan wanita keturunan Indonesia Belanda. Saat ini, Liandra diberi kepercayaan untuk memimpin perusahaan milik keluarganya yang bernama The Queens Grup. Perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti properti dan pembangunan, pertambangan, pariwisata hingga berbagai farmasi dan obat-obatan. Jangkauan kerjasama yang dijalin sudah melingkupi kancah internasional terutama dengan proyek pemerintah maupun negara-negara adidaya lainnya. Sudah hampir setahun ini Liandra menjalankan perusahaan bersama Dimas. Liandra mulai memegang tampuk pimpinan setelah sang ayah berpulang akibat kecelakaan 2 tahun yang lalu. Saat itu, posisi Liandra yang baru saja selesai menempuh pendidikannya di Amerika adalah sebagai Direktur Keuangan sementara Dimas menjabat sebagai Direktur Operasional. Membutuhkan waktu yang cukup lama agar Liandra bisa menduduki posisinya saat ini. Bukan hanya karena para petinggi perusahaan belum mempercayai kinerjanya yang baru secuil kuku. Tetapi Liandra sendiri memang belum sepenunya merasa percaya diri untuk memegang tanggung jawab yang tinggi tersebut. Ia bahkan nyaris menyerahkan haknya itu pada Permana, adik dari sang ayah yang juga merpakan ayah dari Dimas. Tetapi Permana menolak sebab ia merasa tidak berhak dan hak sepenuhnya untuk posisi tersebut adalah milik Liandra. Mengingat, Pramudya merupakan orang yang paling berjasa hingga membuat perusahaan tersebut menjadi sebesar sekarang, selain karena saham terbesar serta mayoritas pemilik saham memang menginginkan Liandra sebagai pimpinan perusahaan. Sebagai gambaran singkat, Liandra memiliki perawakan layaknya anak keturunan lainnya. Tubuh setinggi 180 senti meter dengan otot-otot atletis yang membalutnya. Wajahnya yang tegas dengan alis tebal dan hidung yang mancung sebagaimana sang ayah. Serta kulitnya yang bersih karena menurun dari sang ibu. Iris matanya berwarna keabu-abuan jika diperhatikan dari dekat, juga merupakan turunan dari Rianti. 70 persen secara fisik, Liandra begitu mirip dengan Rianti. Sementara secara sifat, 90 persen ia adalah fotokopian dari Pramudya. Beberapa saat sebelum sampai di gedung apartemen Dimas, Liandra terlebih dulu mengambil makanan berupa martabak telur yang merupakan kesukaannya dengan Dimas. Ia sudah memesan beberapa menit sebelumnya sehingga hanya tinggal mengambilnya saja. Tidak sampai 15 menit, Liandra sudah sampai di depan bangunan tinggi yang merupakan gedung apartemen milik Dimas. Jika hendak membahas urusan yang penting keduanya memang seringkali memilih untuk mengerjakannya di apartemen. Baik di apartemen Dimas maupun apartemen liandra. Sebab jika mereka melakukannya di rumah utama yang kini ditempati Liandra beserta ibu, sang nenek serta adiknya, sudah pasti pekerjaan mereka tidak akan selesai. Terbengkalai, pasti. Liandra bergegas memarkirkan mobilnya di samping mobil sang sepupu. Bangunan itu sebenarnya juga merupakan salah satu aset milik keluarganya, namun untuk kepemilikannya diatasnamakan untuk adik Liandra yaitu Bianca. Laki-laki itu segera memasuki lift yang akan membawanya menuju lantai 10, lantai di mana unit milik Dimas berada. Liandra menekan bel unit tersebut meskipun ia mengetahui pin keamanannya. Biar bagaimana pun, itu merupakan tempat priasi milik Dimas dan Liandra sangat menghormati hal tersebut. "Bukannya tadi lo pamit nemenin Ilana?" tanya Dimas begitu pintu terbuka. Ia mengetahui hal itu dari sekretaris Liandra saat siang tadi akan menengok ruangan sepupunya itu. Ucapan Dimas membuat Liandra yang hendak mengucapkan salam seketika memurungkan wajahnya. "Ada sepupunya dateng bukannya disapa malah nanyain yang lain duluan," jawab Liandra bersungut-sungut sembari melangkahkan kaki memasuki unit. Dimas tersenyum miring kemudian menutup pintu untuk menyusul langkah kakak sepupunya itu. "Biasanya kalau lagi nemenin Ilana kan lo suka lupa waktu," ucap Dimas seraya bergerak menyiapkan kopi untuk menemani pekerjaan mereka berdua. "Tapi bukan berarti gue lupa kerjaan, Dimas," sahut Liandra acuh lantas berjalan menuju rak piring untuk menyiapkan makanan yang dibawanya. Sembari menunggu Dimas menyiapkan kopinya Liandra terlebih dulu menghubungi sang ibu. "Ya sudah, kalau terlalu malam kamu nginap saja di unitnya Dimas. Jangan pulang," peringat Rianti dengan tegas di ujung kalimatnya. Bukannya apa, Liandra pernah nekat pulang saat jarum jam menunjukkan pukul 2 malam dan berakhir dengan luka di tangannya akibat dihadang oleh sejumlah preman. Beruntung, Dimas memiliki firasat buruk dan langsung mengukuti kakak sepupunya tersebut. Sejak saat itu, Rianti melarang keras Liandra pulang sendirian di atas jam 12 malam. "Iya, Mama. Andra ngerti." "Sepertinya emang lo harus nginep malam ini," ucap Dimas seraya menunjuk beras-berkas di atas meja menggunakan dagunya. Liandra hanya mencebikkan bibirnya sementara tangannya masih sibuk mengetik pesan untuk sang kekasih. Selesai dengan urusan pribadi masing-masing, keduanya memulai pekerjaan mereka yang sudah bisa dipastikan akan sangat menguras tenaga dan pikiran tersebut. Baik Dimas maupun Liandra sama-sama menonaktifkan ponselnya karena tidak ingin fokusnya terganggu. **** "Siapa, Nak?" tanya Aulia pada sang putri yang baru saja menutup ponselnya. "Liandra, Bunda. Kasih kabar kalau malam ini dia nginap di apartemennya Dimas, soalnya lagi banyak kerjaan," jawab Ilana seraya memasukkan kembali benda pipih tersebut ke dalam sakunya. Gadis itu kemudian menghampiri sang ibu yang masih berkutat dengan pembukuan milik butik. "Bunda," panggil Ilana begitu duduk di samping Aulia. "Ada apa, Sayang?" "Menurut Bunda, Liandra serius nggak sih sama Lana?" Pertanyaan Ilana membuat Aulia sontak menghentikan aktivitas tangannya. Beralih menatap sang putri yang tampak kalut. "Kenapa bertanya seperti itu, Sayang? Bukannya selama ini Liandra selalu menunjukkan keseriusannya sama kamu?" Aulia balik bertanya. "Nggak tahu kenapa ya Bunda Ilana merasa nggak pantas unuk mendampingi Liandra yang sempurna itu," aku Ilana jujur. Selama ini, ia seringkali merasa minder menyandang status sebagai kekasih dari laki-laki super sempurna itu. Karena Lianra terlahir di keluarga yang kaya dan berada. Sementara dirinya hanya tergolonorang biasa. Beruntung butik milik sang ibu merupakan tempat yang menjadi kesukaan dari para pesohor dan pejabat negara sehingga sedikit banyak ikut mengangkat derajat keluarganya. Selama ini pula, Liandra sudah beberapa kali mengenalkannya pada keluarga laki-laki itu. Dan mereka semua menerima Ilana dengan lapang hati. Sama sekali tidak mempermasalahkan status keluarganya terutama sang ibu yang menjadi orang tua tunggal. Tetapi, hal itu tetap saja terasa mengganjal di hatinya. "Bunda ngerti apa yang ada di dalam benak kamu. Tapi kalau kamu tanya sama Bunda apa Liandra serius dengan kamu, maka Bunda akan jawab jika dia serius. Coba perhatikan sikapnya selama ini. Kalau tidak serius, mana mungkin Liandra akan mengenalkan kamu pada keluarganya? Bunda juga kenal baik dengan Bu Rianti, dia orang yang baik dan sudah pasti kebaikannya menurun pada kekasih kamu," jelas Alia menenangkan kegelisahan hati putrinya. Aulia sendiri heran, setelah sekian lama baru sekarang Ilana menyampaikan kegundahan hatinya. Aulia tentu bisa menjamin keseriusan Liandra pada sang putri sebab tadi siang laki-laki itu sendiri yang mengatakan padanya untuk serius dengan Ilana. Liandra juga menyampaikan pada Aulia kalau secepatnya ia akan melamar Ilana, mengingat usianya juga sudah cukup matang untuk membina jalinan rumah tangga. Terlebih, keduanya sudah berhubungan cukup lama. Kini yang berkecamuk di dalam benak Aulia justru mengenai wali sah Ilana. Jika Ilana menikah dengan Liandra nantinya, maka wajib hukumnya untuk Ilana dinikahkan oleh ayah kandungnya. Yang membuat Aulia merasa gamang, ia sama sekali tidak mengetahui kabar mengenai Adnan saat ini. Terakhir yang dia ingat, Adnan mengganti nomor ponsel dan semua akses komunikasinya sehingga Aulia benar-benar kehilangan jejak. "Bunda yakin sekali?" tanya Ilana dengan menatap penuh sang ibu. "Firasat seorang ibu, Nak. Percaya sama Bunda. Kalau Liandra berani mempermainkan kamu, Bunda sendiri yang akan membawa kamu pergi jauh. Dan sampai menangis darah pun, dia tidak akan pernah bisa mendapat maaf dari Bunda." Ilana tersenyum, kemudian mendekat untuk memeluk malaikat hidupnya tersebut. Meskipun menjadi orang tua tunggal, Ilana merasa Aulia jauh lebih sempurna dari apapun. "Bunda lembur?" tanya Ilana begitu acara berpelukan mereka selesai. "Sepertinya tidak. Mungkin 1 jam lagi pekerjaan Bunda selesai. Atau kamu mau pulang duluan?" Aulia kembali berkutat dengan pekerjaannya. Akhir-akhir ini ia memang mendapat banyak sekali pesanan baju yang membutnya harus bekerja ekstra keras. Ilana menggeleng cepat kemudian memilih merapikan beberapa file yang sudah selesai diperiksa oleh sang ibu. "Lana tunggu Bunda saja." ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD