“Tolong jangan tuan…” “Tuan…” “Aaaahhh…” teriaknya keras. Air matanya jatuh di pelupuk mata merasakan sengatan yang begitu menyakitkan. Revano tersenyum mengabaikan wanita itu menjerit. Revano sama sekali tidak mengumpat meskipun wanita itu begitu sempit karena lembah istrinya memang sangat sempit seperti gadis yang masih suci tak tersentuh. Revano tak memberi jeda saat berhasil menembus kesucian si wanita yang menangis di bawahnya. Dia melakukan dengan kasar seolah Revano melampiaskan rasa kecewanya pada Melanie. Hanya satu kali hentakan pasukan adiknya pun keluar di dalam rahim si wanita bersamaan tubuhnya yang ambruk karena lelah. Si wanita itu hanya bisa menangis melihat hidupnya yang kini sudah hancur. Pagi harinya, Revano menggeliatkan tubuhnya saat sinar matahari menerpa waj

