
“Pak.” Lirih sang istri menatap sendu sang suami yang berdiri membelakanginya. Mereka baru saja menikah atau lebih tepatnya terpaksa menikah.
Pria itu berbalik lalu menatap sang istri. Menajamkan pandangannya tatkala mendapati tubuh sang istri yang dibalut dengan lingerie. Pangeran mengepalkan tangannya erat, jakun pria itu naik turun melihat tubuh indah Queenza.
“Ganti pakaianmu!” titah Pangeran dengan nada dingin membuat hati Queenza sakit.
Apakah dia baru saja ditolak oleh sang suami? Pangeran tidak tertarik pada tubuhnya? Mendadak Queenza merasa rendah diri di hadapan Pangeran.
“Tapi … malam ini adalah malam pertama kita,” cicit Queenza memberanikan diri mengeluarkan isi hati.
Sontak saja Pangeran terkekeh kecil mendengarnya. Mata pria itu memerah dan berkaca-kaca. Sejujurnya dia tidak berniat menyentuh Queenza. Karena mereka menikah tanpa cinta.
Pangeran dipaksa oleh orang tuanya untuk menjadi pengantin dadakan Queenza. Karena sang kakak yang merupakan calon suami Queenza kabur di hari H pernikahan.
Terpaksa Pangeran menjadi tumbal sang kakak untuk menggantikan posisi sebagai mempelai pengantin pria.
Padahal setahunya, sang kakak sangat mencintai Queenza. Gadis muda yang berparas cantik dan bertalenta.
“Baiklah, kalau begitu mari kita lewati malam ini dengan sangat panas!” Pangeran berjalan mendekati Queenza.
Gadis cantik itu memundurkan langkahnya tanpa sadar. Tatapan Pangeran sangatlah mengintimidasi dirinya. Membuat Queenza takut.
Hap! Pangeran lebih dulu merangkul pinggang Queenza. Tubuh keduanya saling bersentuhan, tinggi Queenza hanyalah 158 cm, sedangkan Pangeran 183 cm. Perbedaan yang amat jauh membuat tubuh Queenza tenggelam dalam pelukan Pangeran.
“Tubuhmu sangat kecil. Dada dan bokongmu sangat rata, tidak ada yang bisa kupegang,” bisik Pangeran dengan sensual di dekat telinga Queenza. Sengaja memancing hasrat terpendam gadis polos itu. “Tapi tidak apa-apa. Saya sangat pandai membuat sesuatu yang kecil menjadi besar,” lanjutnya lagi berhasil membuat tubuh Queenza meremang.
Sebenarnya gadis itu ingin marah. Entah mengapa lidahnya kelu dan tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Deru nafas Pangeran di telinganya mampu membuat dirinya kepanasan.
“Kamu masih perawan?” tanya Pangeran serak seraya menggiring tubuh Queenza menuju ranjang.
“Masih.” Gadis itu menjawab pelan. Matanya tak henti menatap wajah tampan Pangeran. Seolah ada magnet yang membuat matanya tak bisa berpaling dari paras rupawan Pangeran.
Pangeran tersenyum tipis, menambah ketampanan pria itu yang seperti patung Dewa Yunani.
Pangeran membelai bibir Queenza lembut. Lalu menekan belahan bibir dengan ibu jarinya.
“Mari buktikan, apakah kamu berbohong atau jujur.”
Pangeran langsung melempar Queenza ke atas ranjang. Pria itu membuka tapi gespernya. Queenza menelan ludahnya susah payah.
“Tenang, Queen. Kata Lena yang sudah menikah, awal-awal memang sakit. Lama-lama malah enak,” gumamnya berusaha menenangkan diri.

