Selalu ada harapan bagi mereka yang berdo'a, selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha.
* * *
SEBUAH PERTEMUAN
Firman terburu-buru melangkahkan kakinya menuju ke rumah Abah setelah salah satu santri memberi tahu kalau Abah memanggilnya. Rintik hujan jatuh membasahi baju koko berwarna biru muda yang ia pakai. Tak ada payung, Firman tak sempat mencari payung terlebih dulu.
Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Salwa yang baru saja pulang dari madrasah. Firman melewatinya begitu saja, namun Salwa berhenti di tempatnya.
"Akh Firman...," panggilnya.
Firman pun terpaksa berbalik ke arah Salwa yang tengah menatapnya. Salwa menyodorkan payungnya untuk pria itu.
"Akh lebih membutuhkan payung ini sebelum hujannya bertambah deras, rumah pondok saya sudah dekat...," jelas Salwa tanpa diminta.
Firman terdiam di tempatnya dengan berbagai macam pertanyaan dalam pikirannya. Payung yang disodorkan oleh Salwa pun telah berpindah tangan pada Firman.
"Jangan sampai sakit..., anak-anak di Madrasah akan mencari Akh Firman kalau sampai tak bisa mengajar. Assalamu'alaikum...," Salwa berbalik dan pergi.
Firman masih saja terpaku di tempatnya.
"Wa'alaikum salam...," jawabnya, lirih.
Firman masih berdiri di tempatnya sampai akhirnya ia tak lagi melihat jejak keberadaan Salwa di depan matanya.
"Bagaimana bisa dia tahu namaku??? Bukankah aku mengajar di Madrasah Aliyah dan dia mengajar di Madrasah Tsanawiyah???," batin Firman.
Ingatan tentang panggilan dari Abah pun menuntaskan lamunan Firman sehingga pria itu pun kembali bergegas menuju rumah Abah. Payung milik Salwa di letakkan di teras rumah Abah ketika ia sampai, setelah itu ia pun bergegas masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum...," ujar Firman.
"Wa'alaikum salam..., mari masuk Akh, kami sudah menunggu," jawab Abah.
Di dalam rumah itu sudah berkumpul beberapa orang yang menunggunya. Salman, Daniel, Rasya, dan juga Ardi.
"Ada masalah apa sehingga saya di panggil ke sini Bah?," tanya Firman.
"Akh Daniel dan Akh Salman ingin meminta bantuan dari kalian semua. Ini menyangkut dengan urusan Ukhti Salwa," jawab Abah.
Salwa...
Lagi-lagi nama wanita itulah yang menjadi topik pembicaraan. Firman merasa sedikit tidak nyaman, maka ia segera menjatuhkan tatapan tajamnya pada Daniel.
"Apalagi yang harus dibahas mengenai Ukhti Salwa, Akh Daniel? Bukankah sudah jelas bahwa Ibumu tidak ingin dia kembali masuk ke dalam lingkup keluargamu?," tanya Firman.
Rasya dan Ardi menatap Firman secara serentak karena terkejut dengan apa yang pria itu katakan.
"Tenang dulu Akh..., kita bisa bicarakan hal ini baik-baik," ujar Salman, mencoba menengahi.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan Akh Salman, sudah jelas akar permasalahan ini berasal dari siapa. Ukhti Salwa sedang berusaha untuk memperbaiki jalan hidupnya, dia pernah dipenjara, apa hal itu masih tidak cukup sehingga Ibunya harus mencaci maki secara kasar???," pertanyaan Firman semakin tajam.
Daniel bangkit dari kursinya, Firman pun tak mau kalah. Rasya, Ardi dan Salman pun tidak duduk diam begitu saja.
"Ibuku hanya mencoba membuatnya menjauh dari Isteri dan anak-anakku!!! Dia memang pernah hampir membunuh mereka!!! Dan itu adalah kenyataannya!!!," bentak Daniel.
"Tapi Ukhti Salwa sudah dihukum!!! Apakah harus Ibumu menambah hukuman untuknya???," balas Firman.
Mereka segera dipisahkan. Daniel menatap tajam ke arah Firman, begitupula dengan Firman yang menatap Daniel penuh amarah.
"Cukup..., apakah pertengkaran kalian bisa menyelesaikan masalah?," tanya Abah, santai.
"Ibunya terus menyalahkan Ukhti Salwa Bah..., sementara kita semua yang ada di sini mencoba untuk membimbingnya agar tak kembali mengulangi kesalahannya," ujar Firman.
"Tapi yang dilakukan Ibuku tidak ada salahnya!!! Ibuku hanya berusaha melindungi keluarga kami!!!," balas Daniel.
Firman tertawa sinis.
"Melindungi keluarga katamu??? Kemana Ibumu saat kamu mengusir Ukhti Diva dan saat kamu nekat menikahi mantan isterimu yang membunuh Bapakmu itu??? Ukhti Diva tinggal di sini dan menderita selama sepuluh tahun karena terus mengharapkanmu agar bisa menerimanya..., kemana Ibumu saat itu??? Baru sekarang dia mau melindungi keluarganya??? Bahkan nyawa Bapakmu pun tak mampu dia lindungi!!!," balas Firman dengan telak.
Daniel terdiam, ia tak mampu membalas kenyataan yang Firman beberkan di hadapannya. Firman benar. Ibunya tak melakukan apapun ketika Ziona membunuh Bapaknya.
"Ibumu menyalahkan wanita yang sedang dalam proses menebus dosa-dosanya, bukankah itu adalah hal yang salah? Kamu Guru, kan? Jadi apakah kamu mengajarkan kepada anak didikmu untuk menyalahkan dan menyudutkan orang-orang yang hendak bertaubat?," tanya Firman.
Salman merangkul mereka berdua dengan tegas.
"Apa yang Akh Firman katakan adalah benar Akh Daniel..., kita memang harus memperingatkan Ibu agar tidak menzalimi Kak Salwa lebih parah lagi," saran Salman.
"Kita ini hanya manusia biasa Akh Daniel..., hanya Allah yang berhak untuk menilai baik dan buruknya seorang hamba. Dan kita berkewajiban untuk membimbing orang-orang yang hendak kembali di jalan Allah. Bukankah Rasulullah diutus oleh Allah untuk membimbing orang-orang kafir yang tersesat? Lalu apa gunanya berdakwah jika kita menyudutkan orang yang hendak bertaubat? Tolong pikirkan itu baik-baik," ujar Firman, dan bergegas pamit pada Abah karena takut tak sanggup menahan emosinya.
Abah membiarkan Firman pergi, Rasya dan Ardi masih berada di rumah itu.
"Bagaimana Akh Daniel, apakah sudah punya keputusan akan melakukan apa pada Ukhti Salwa ataupun pada Ibu Akh Daniel sendiri?," tanya Abah.
"Saya merasa dilema Bah..., entah apa yang harus saya lakukan. Jika saya menegur Ibu, maka sudah jelas Ibu akan marah pada saya dan Diva. Tapi kalau saya yang menegaskan pada Kak Salwa untuk tidak lagi masuk ke dalam keluarga kami, rasanya seperti saya akan membuat kesalahan paling besar," jawab Daniel.
"Tentu saja itu adalah kesalahan paling besar Akh..., Diva tidak akan memaafkan Akh Daniel jika melakukan hal itu," ujar Salman, yang tentunya tidak menyetujui apa yang Daniel katakan.
"Saat ini, rasanya semua hal menjadi serba salah bagi Ukhti Salwa," ujar Rasya.
"Ya..., dia benar-benar tidak punya tempat bernaung," tambah Ardi.
* * *
Firman berjalan cepat menuju rumah pondok santriwati yang di tempati oleh Salwa, Nilam, Ria, dan Risya. Payung berwarna ungu muda yang ada di tangannya menjadi alasan ia menjejakkan kaki di rumah itu.
Tok..., tok..., tok...!!!
"Assalamu'alaikum...," ujar Firman.
"Wa'alaikum salam...," jawab keempat orang wanita yang menghuni rumah itu.
Nilam membukakan pintu. Risya, Ria, dan Salwa mengikuti di belakangnya.
"Akh Firman..., ada apa?," tanya Nilam.
"Saya ingin mengembalikan payung milik Ukhti Salwa," jawab Firman.
Nilam menerima payung tersebut dan menyerahkannya pada Salwa yang berada di belakangnya.
"Dan...," lanjut Firman.
Keempat wanita itu menunggu kata-kata selanjutnya dari pria itu.
"..., saya datang ke sini untuk melamar Ukhti Salwa. Saya ingin mengkhitbahnya untuk menikah dengan saya."
Deg!!!
Mereka terdiam.
* * *