BAGIAN 9

1095 Words
Hati yang bersih adalah hati yang tak pernah menyimpan keburukan. Rasa benci, dendam, dan iri..., semua itu hanya bisikan dari setan.   * * *   KESUNGGUHAN   Firman POV   Aku menatap wajahku di cermin, seakan aku ingin menyelam ke dalam hatiku sendiri dan bertanya, 'bagaimana perasaanku terhadap Salwa?'. Bukan tanpa alasan aku melamarnya secara tiba-tiba. Ketika aku hendak keluar dari rumah Abah setelah berdebat panjang dengan Daniel, Tio menghadangku di teras samping untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan tanpa aku.   Flashback On "Tentu saja itu adalah kesalahan paling besar Akh..., Diva tidak akan memaafkan Akh Daniel jika melakukan hal itu," itu suara Salman. "Saat ini, rasanya semua hal menjadi serba salah bagi Ukhti Salwa," itu suara Rasya. "Ya..., dia benar-benar tidak punya tempat bernaung," dan itu suara Ardi. Tio menatapku dengan serius. "Saat ini tidak ada yang mendukungnya, tidak ada yang menjadi tempatnya bersandar, dan tidak ada tempat tujuannya untuk pulang. Dia sendirian," itu penilaian Tio. Dalam hati, aku membenarkan apa yang mereka pikirkan. Salwa memang sedang sendirian. Bagaimanapun aku memperjuangkannya agar tidak dizalimi, tetap tidak akan mengubah kenyataan bahwa dia sendirian seperti daun kering yang gugur terbawa angin. Aku sendiri tentu saja tak mempunyai hak yang lebih untuk terus berjuang. Aku bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Tapi..., aku tersadar, bahwa itulah intinya. Jika ingin memperjuangkannya agar tak lagi dizalimi, maka aku harus menjadi sesuatu yang mempunyai hak untuk membelanya. Aku menatap Tio. "Saya akan terus membelanya Akh..., Insya Allah," ujarku. Aku pun berlalu dari hadapan Akh Tio menuju ke arah rumah pondok santriwati yang Salwa tempati bersama Nilam, Ria, dan Risya. Langkahku terasa mantap bersama dengan payung miliknya yang kugenggam erat seakan-akan aku sedang menggenggam hatinya. Ku ketuk pintu rumah itu, mengucapkan salam, melihat Nilam yang membukakan pintu, mengembalikan payung yang Salwa pinjamkan padaku, dan..., "..., saya datang ke sini untuk melamar Ukhti Salwa. Saya ingin mengkhitbahnya untuk menikah dengan saya." Flashback Off   Jadi..., di sinilah aku. Sedang menatap cermin dan berusaha menyelami hatiku sendiri. "Kak Firman..., Kakak nggak mau ganti baju?." "Subhanallah...," lirihku pelan, sehingga dia mungkin tak mendengarnya. Aku melihat pantulannya wajahnya di cermin. Wajah yang membuat jantungku berdebar hebat ketika pertama kali tak sengaja melihatnya di masjid dua bulan yang lalu. Wajah yang diciptakan oleh Allah dengan sangat cantik bak pualam. "Iya..., Abi lagi nungguin Ummi selesai di kamar mandi. Sekarang baru mau ganti baju," jawabku seraya tersenyum padanya. Dia membalas senyumanku dan mendekat untuk membantuku melepaskan pakaian pengantin yang masih melekat di tubuhku. Aku takkan berbohong, dadaku bergemuruh hebat saat dia berada di dekatku seperti saat ini. Aku bahkan merasa sangat gugup ketika dia menyentuh bahuku dengan kedua tangannya. Ia sedang tak memakai hijab dan niqob-nya karena baru saja selesai mandi. Rambutnya yang panjang ia gerai dengan indah di hadapanku. Lentik bulu matanya yang terus menerus bergerak membuat pipiku memerah karena malu. Ya..., dialah Salwa, wanita yang baru saja menjadi isteriku beberapa jam yang lalu. * * *   Salwa POV   Flashback On Aku berjalan dari MTs setelah jam sekolah usai. Gerimis mengiringi langkahku menuju ke rumah pondok santri. Aku mengeluarkan payung lipat berwarna ungu - favoritku - dan melindungi kepalaku agar tak terkena air hujan. Tak kusangka, di tengah perjalananku menuju rumah pondok santriwati, aku bertemu dengannya. Pria pendiam yang tak sengaja kulihat dibalik tirai masjid dua bulan yang lalu, setelah momen pengakuanku pada Risya dan Ria. Dia adalah pria yang sering kuperhatikan selama sebulan terakhir ini ketika mengajar di MTs. Dia Guru mata pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah. Namanya Firman Hakim, itu yang kudengar dari beberapa santriwati yang bersekolah di Madrasah Aliyah. Dia punya banyak penggemar, terutama dari kalangan kaum hawa yang diajar olehnya di sekolah. Setiap kali aku makan siang di kantin, pasti ada saja yang kudengar tentangnya. 'Pak Firman itu baik sekali ya... .' 'Dia juga misterius karena pendiam... .' 'Dia tipikal pria idaman aku... .' Biasanya aku akan langsung terkikik geli di balik niqob-ku sendiri setelah mendengar hal tersebut. Dan hari ini, tanpa kuduga, aku berpapasan dengannya. Akupun membenarkan para santriwati itu, bahwa dia memang pendiam dan misterius. Dia berjalan agak cepat dan melewatiku begitu saja. Hujan semakin deras, dan dia tak membawa payung. Entah keberanian macam apa yang kugunakan sehingga aku memanggil namanya. "Akh Firman...," panggilku. Dia pun berhenti dan berbalik ke arahku yang tengah menatapnya. Aku pun mendekat dan menyodorkan payung yang kupakai untuknya. "Akh lebih membutuhkan payung ini sebelum hujannya bertambah deras, rumah pondok saya sudah dekat...," jelasku, agar dia tidak salah paham. Dia tetap terdiam di tempatnya, aku mulai merasa takut kalau dia akan menganggapku sok kenal. Dia pun menerima payung yang aku sodorkan untuknya. "Jangan sampai sakit..., anak-anak di madrasah akan mencari Akh Firman kalau sampai tak bisa mengajar. Assalamu'alaikum...," aku segera berbalik dan pergi dengan jantung yang berdebar hebat. Aku tak berani berbalik lagi ke arahnya karena merasa malu. Namun, aku masih bisa mendengarnya membalas salamku. "Wa'alaikum salam...," lirihnya. Jam menunjukkan pukul empat sore saat terdengar ketukan di pintu pondokku. "Assalamu'alaikum... ." Jangan kira aku tak terkejut ketika mendengar suara itu. Dia datang ke rumah pondok santriwati yang kutempati bersama Nilam, Risya, dan Ria. Aku sangat ketakutan saat mendengar suaranya yang mengucapkan salam di depan pintu setelah dia mengetuknya. Nilam, Ria, dan Risya saling berpandangan sesaat sebelum mereka menjawab salam. Nilam pun bergegas membukakan pintu. Risya, Ria dan aku pun mengikutinya ke depan pintu yang sudah terbuka. Aku melihatnya, dia menatapku sekilas sebelum akhirnya menundukkan kepalanya. "Saya ingin mengembalikan payung milik Ukhti Salwa," jawabnya setelah Nilam bertanya. Nilam menerima payung tersebut dan menyerahkannya padaku yang berada tepat di belakangnya. "Dan...," lanjutnya. Kami menunggu kata-kata selanjutnya yang akan dia katakan. "..., saya datang ke sini untuk melamar Ukhti Salwa. Saya ingin mengkhitbahnya untuk menikah dengan saya." Deg!!! Aku terpaku di tempaku berpijak. Flashback Off   Dia sedang menatap cermin saat aku keluar dari kamar mandi. Dia masih mengenakan baju pengantin dan belum melepasnya. Lagi-lagi, aku memberanikan diri. "Kak Firman..., Kakak nggak mau ganti baju?," tanyaku. Dia diam. Menatapku melalui pantulan cermin beberapa saat. "Iya..., Abi lagi nungguin Ummi selesai di kamar mandi. Sekarang baru mau ganti baju," jawabnya, seraya tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya dan mendekat untuk membantunya melepaskan pakaian pengantin yang masih dia pakai. Dia memanggilku 'Ummi'. Dia memberiku isyarat secara halus karena tak ingin aku memanggilnya Kakak. Aku pun membantunya melepaskan beberapa kancing kecil di bajunya. Aku berusaha meyakinkan diri, bahwa aku tidak salah. Aku mendengar gemuruh hebat di dadanya saat aku berada begitu dekat dengannya seperti ini. Dia memperhatikan aku, aku melihatnya sekilas melalui cermin. Aku tersipu malu atas apa yang dia lakukan. Ya..., dialah Firman Hakim. Pria yang baru saja menjadi suamiku beberapa jam yang lalu. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD