BAGIAN 10

889 Words
Hati kita milik Allah. Bila merasa sedih berbaliklah pada Allah. Bila merasa keliru berbaliklah pada Allah. Bila merasa gembira berbaliklah juga pada Allah.   * * *   MELINDUNGI   Siang itu di Kantin Madrasah saat jam istirahat, Salwa memesan makan siang seperti biasanya. Tanpa ia sadari, beberapa orang siswi dari Madrasah Aliyah berbisik-bisik tentangnya. "Pak Firman kok tiba-tiba menikah sama Guru baru itu ya?." "Iya, aneh..., tiba-tiba sekali." "Jangan-jangan ada sesuatu... ." Firman duduk di samping Salwa setelah mengambil makanan yang di pesannya tadi. Salwa terkejut sesaat karena kedatangannya yang tak terduga. "Ummi kok nggak nungguin Abi?," tanya Firman, datar. Salwa maklum dengan sikap Firman yang datar di depan umum, ia mengerti kalau pria itu tak ingin orang lain tahu kelembutan hatinya. Cukup dirinya yang tahu. "Ummi pikir Abi tidak akan makan siang, karena tadi pagi Abi bilang akan memeriksa hasil ulangan harian hari ini," jawab Salwa. Firman tersenyum sekilas. Dalam hati ia bersyukur karena Salwa tak memiliki sifat menuntut. "Pulang nanti, tunggu Abi di depan kantor MTs. Kita pulang sama-sama," pesan Firman, usai jam makan siang berakhir. Salwa hanya mengangguk dan tersenyum di balik niqob-nya. Ketika jam pulang sekolah tiba, Salwa benar-benar menunggu Firman di depan kantor MTs. Hingga Firman muncul, wanita itu tak pernah pergi kemana-mana. "Maaf ya Mi..., Abi agak lama," Firman terlihat menyesal. Salwa tersenyum. "Tidak apa-apa Bi, Ummi juga sedang memeriksa beberapa tulisan karya anak-anak," balas Salwa, memaklumi. Firman tersenyum lalu menggandeng tangan Salwa menuju mobil yang ia parkir di depan halaman pesantren. Ketika baru saja mereka hendak keluar dari gerbang, seorang santri pun muncul menghadang langkah mereka. "Assalamu'alaikum Akh Firman..., Ukhti Salwa...," sapa santri tersebut. "Wa'alaikum salam...," jawab Salwa dan Firman bersamaan. "Afwan karena saya mengganggu, tapi saya disuruh oleh Abah untuk memanggil kalian berdua ke rumahnya," jelasnya. "Kami akan segera ke sana Akh..., syukron," balas Firman. Ketika santri itu pergi, Firman menahan Salwa sebentar. "Ada apa Bi?," tanya Salwa. Firman mengusap kedua bahu Salwa dengan lembut. "Mi..., apapun yang akan terjadi, Ummi tidak perlu berbicara. Ummi hanya perlu diam dan biarkan Abi yang bicara," pinta Firman. Salwa merasa heran dengan permintaan itu, namun ia tetap saja menganggukan kepalanya dan menyetujui permintaan Firman. Mereka pun melangkah menuju ke rumah Abah. Bu Nyai dan Zahra ternyata sudah menunggu kedatangan mereka di depan pagar. Bu Nyai menghentikan langkah Firman dan Salwa. "Kalian harus bisa sabar ya..., saya dengan Abah akan terus membantu kalian," ujar Bu Nyai. "Ada apa Bu Nyai? Kenapa Ibu terlihat sangat gelisah seperti ini?," tanya Salwa. "Ukhti...," Zahra meremas pundak Salwa dengan lembut, "..., Ukhti Nilam sedang bertengkar dengan Bu Isma di dalam. Dia berkeras agar Ukhti tidak terus menerus dizalimi," jelas Zahra. Salwa hendak masuk namun Firman segera mencegahnya. "Ummi..., ingat permintaan Abi ya, jangan katakan apapun. Biar Abi yang bicara," tegas Firman. Salwa mengangguk. Mereka pun masuk ke dalam rumah itu, Isma langsung menatap Salwa dengan tajam. "Perempuan j*****m!!! Berani juga akhirnya kamu menunjukkan wajahmu itu!!!," bentak Isma. Firman menghalangi Salwa dengan punggungnya agar tak terlihat oleh Isma. Diva dan Kiana menangis di pelukan suami mereka masing-masing. Tak ada yang mampu mencegah kemarahan Isma. "Hei, minggir kamu!!! Mau apa kamu menghalangi dia dari saya??? Siapa kamu???," Isma membentak Firman. Isma hendak menarik tangan Salwa. Firman tetap tenang dan menepis tangan Isma yang hendak menarik tangan Salwa. "Saya suaminya! Kalau anda ingin mengatakan sesuatu pada Salwa, katakan pada saya!," tegas Firman. Diva dan Daniel menatap ke arah Firman dengan pandangan tak mengerti. Begitupula dengan Kiana dan Salman, yang sama tak mengertinya dengan situasi saat itu. "Apa kamu bilang? Kamu suaminya? Otakmu di mana sehingga mau menikahi perempuan j*****m ini???," tanya Isma, mengejek. "Alhamdulillah otak saya masih ada di tempatnya dan tak perlu ditanyakan. Saya menikahi Salwa karena saya mencintai dia, dan saya tidak memandangnya sebagai perempuan j*****m seperti yang anda tuduhkan! Di dunia ini hanya Allah yang Maha Sempurna, sehingga hanya Allah yang boleh menilai baik dan buruknya seorang hamba. Dan saya tidak pernah melihat dia dari sisi masa lalunya!," jawab Firman, tegas namun tenang. Salwa menundukkan kepalanya dan menangis diam-diam. Nilam mendekat ke arah Isma dan Firman. "Mulai sekarang, anda harus melewati banyak orang untuk menyakiti Ukhti Salwa. Karena kami, tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya," tegas Nilam. Cih!!! "Hanya kalian berdua??? Bukan hal yang sulit jika saya hanya harus melewati kalian berdua untuk memberinya pelajaran!!!," cibir Isma. "Anda harus melewati saya juga untuk menyakitinya!," ujar Tio, yang entah sejak kapan sudah berada di tengah-tengah mereka. "Saya juga!," Ria memeluk Salwa yang ada di belakang Firman. "Begitupula dengan saya," tambah Risya. Isma tertawa, seakan menertawai sebuah kebodohan. "Kalian benar-benar t***l!!! Kenapa sih kalian harus membela perempuan kotor seperti dia??? Dia itu... ." "Cukup Ibu!!!," bentak Diva pada akhirnya. Isma menatap tak percaya pada Diva yang membentaknya. "Saya sudah berusaha untuk diam atas perlakuan Ibu pada Kak Salwa, saya juga berusaha menjadi orang yang netral demi tidak menyakiti perasaan siapapun. Tapi entah kenapa..., semakin saya diam, Ibu semakin berusaha menyakiti Kak Salwa! Sementara yang Ibu sakiti, hanya diam tanpa perlawanan!," ujar Diva, menilai. "Kamu itu hampir dibunuh oleh dia!!! Kenapa kamu masih membelanya???," tanya Isma, marah. "Karena Nenek salah!!! Nenek nggak seharusnya menyudutkan Bibi Salwa terus menerus!!!." Semua menatap ke arah sumber suara yang berdiri di ambang pintu. Sosok itu berdiri dengan tegap dalam balutan seragam Madrasah Aliyah lengkap dengan hijab panjang dan niqob putihnya. Sosok itu..., Asyifa Herdiyan Kamil ! * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD