“Tuan Mirza, Nyonya menunggu di ruangan,” panggil Yoeja dengan nada ketakutan.
Mirza menatap Yoeja dengan kesal. Perdebatan dengan Indriana semalam membuatnya semakin marah kepada Yoeja. “Ini semua karena kamu yang bodoh!”
Yoeja meremas jari-jarinya dengan cemas, sambil melihat Mirza berjalan cepat menuju ruangan Indriana.
Indriana duduk di ruang tamu. Matanya tajam menatap Mirza yang kini berdiri di hadapannya. Keputusan yang harus diambil oleh cucunya menjadi beban berat bagi keluarga besar ini.
Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya kini menjadi kenyataan. Mirza, cucunya yang selalu ia banggakan, telah membuat keputusan yang begitu melukai kehormatan keluarga.
"Mirza," suara Indriana terdengar berat, penuh kekecewaan. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Kamu benar-benar mengkhianati aku dan keluarga ini."
Mirza menundukkan kepala, mencoba menghindari tatapan tajam neneknya. Namun, di dalam hatinya, rasa cemas dan takut akan kehilangan segalanya membuatnya semakin tertekan.
Mirza tahu betul maksud ucapan Indriana. Jika ia dicoret dari daftar ahli waris Hakim Group, seluruh hidupnya akan hancur. Semua yang telah ia nikmati, semua kenyamanan yang ia miliki, akan hilang begitu saja.
Indriana melanjutkan, kali ini suaranya semakin tegas. "Jika kamu tidak bertanggung jawab atas perbuatanmu, jika kamu tidak menikahi Yoeja, maka aku tidak ragu untuk mencoret namamu dari daftar ahli waris Hakim Group."
Mirza terkejut. Ia tahu ancaman ini bukanlah lelucon. Oma-nya sudah sering memperingatkannya tentang hak waris, dan kini ancaman itu menjadi kenyataan yang harus ia hadapi.
"Apa... apa maksud Oma?" tanya Mirza dengan suara bergetar.
"Mirza," ujar Indriana pelan namun penuh ketegasan. "Kamu harus bertanggung jawab. Ini bukan hanya soal perasaan atau kehormatanmu, ini tentang masa depan orang lain yang kamu buat terluka."
Mirza tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, ia tidak ingin kehilangan segala yang telah ia raih, tetapi di sisi lain, ia juga tidak ingin terikat pada tanggung jawab besar yang datang dengan pernikahan itu.
Wajah Yoeja yang selalu penuh ketakutan muncul dalam pikirannya, membuatnya merasa tidak siap untuk melangkah lebih jauh ke dalam hidupnya bersama wanita itu.
Namun, sebelum ia sempat memberikan jawaban, ponselnya berdering. Cynthia Carla, kekasihnya, menelepon. Mirza menghela napas lega, Cynthia selalu menjadi pelipur lara di tengah kerumitan hidupnya.
Mirza mengangkat telepon itu, dan suara manis Cynthia terdengar di ujung sana. "Sayang, bagaimana? Apa Oma sudah berbicara denganmu?"
"Ya, dia mengancam akan mencoretku dari ahli waris jika aku tidak menikahi Yoeja," jawab Mirza dengan nada frustrasi. "Ck, Oma memang bisa begitu. Tapi, kamu tahu kan, kalau aku kehilangan hak waris itu, kita semua akan kehilangan segalanya. Kita sudah terlalu jauh untuk mundur."
Cynthia berbicara dengan nada penuh keyakinan, seolah segala sesuatu yang ia katakan adalah kebenaran mutlak. "Kamu harus menikahi Yoeja. Itu satu-satunya cara untuk menjaga semuanya tetap utuh."
Mirza terdiam. Dalam hati, ia sudah tahu betapa besar pengaruh Cynthia terhadapnya. Selama ini, ia selalu merasa terjebak dalam hubungan ini, terlalu takut kehilangan wanita yang selama ini memberinya kenyamanan.
Namun, pada saat yang sama, Mirza juga merasa tidak siap menjalani kehidupan pernikahan dengan Yoeja, wanita yang hanya ia anggap sebagai masalah yang harus diselesaikan.
"Sayang, kamu harus melakukannya demi kita," suara Cynthia kembali terdengar, penuh tekanan. "Kalau kamu dicoret dari hak waris, aku tidak bisa bersamamu. Aku tidak mau hidup dengan laki-laki yang tidak bisa menjaga masa depannya."
Mirza merasakan beban berat di dadanya. Cintanya pada Cynthia membuatnya buta terhadap kenyataan. Ia merasa seolah-olah tak ada jalan keluar selain memenuhi permintaan Cynthia. Tanpa berpikir panjang, ia akhirnya mengangguk, meskipun ia merasa tersiksa.
"Baiklah, aku akan menikahi Yoeja," jawabnya dengan suara yang tersekat-sekat. "Tapi aku hanya melakukannya karena ini untuk keluarga dan demi hak waris."
Cynthia tertawa kecil, seolah merasa puas dengan jawabannya. "Bagus, Sayang. Aku tahu kamu tidak akan mengecewakan aku."
Setelah menutup telepon, Mirza menatap neneknya dengan tatapan kosong. "Oma, saya akan menikahi Yoeja."
Indriana menatap cucunya dengan campuran perasaan lega dan kecewa. Ia tahu bahwa Mirza akhirnya mengambil keputusan yang tepat, meskipun ia merasakannya sebagai langkah yang berat.
Namun, Indriana juga tahu bahwa ini adalah jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan. "Kamu akan melaksanakan pernikahan itu dengan segala konsekuensinya, Mirza."
Dengan langkah berat, Mirza beranjak menuju tempat yang lebih jauh dari pandangan neneknya. Ia tahu bahwa hidupnya akan berubah selamanya setelah pernikahan ini.
Beberapa hari setelah keputusan itu, persiapan pernikahan dimulai. Tentu saja, Yoeja merasa bingung dan takut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pernikahannya dengan Mirza akan terjadi.
’Bagaimana bisa ia menikahi pria yang selama ini menyakitinya, yang bahkan tak pernah menunjukkan sedikit pun kasih sayang padanya?’ tanya Yoeja dalam hati.
Di hari pernikahan, Yoeja terlihat sangat pucat; wajahnya tampak tertekan. Pikirannya dipenuhi kekhawatiran, dan setiap detik terasa begitu berat baginya. Ia mengenakan gaun pengantin putih yang indah, namun hatinya terasa hancur. Saat ia melangkah menuju altar, tubuhnya gemetar.
Mirza yang berdiri di sisi altar tampak tak bersemangat. Ia hanya menjalani pernikahan ini sebagai kewajiban, bukan sebagai sesuatu yang diinginkan.
Wajah Yoeja yang ketakutan membuatnya merasa tertekan, namun ia menahan diri untuk tidak menunjukkan ketidaknyamanannya.
Pernikahan itu berjalan dengan lancar, meski suasananya terasa canggung. Keluarga besar hadir, dan Indriana mengamati semuanya dengan seksama. Ia berharap ini bisa menjadi langkah untuk memperbaiki keadaan, meskipun ia tahu bahwa hubungan antara Mirza dan Yoeja tidak akan mudah.
Setelah upacara selesai, Yoeja kembali ke kamar pengantin dengan hati yang berat. Mirza mengikuti di belakangnya, tapi langkahnya tidak menunjukkan niat untuk merayakan hari istimewa ini.
Di kamar pengantin yang sunyi, Yoeja duduk terpaku di tepi tempat tidur, merasa asing di dunia barunya. Mirza berdiri di dekat pintu, wajahnya dingin dan penuh kebencian.
“Aku sudah bilang, ini hanya untuk keluarga. Jangan berharap apa-apa dariku,” katanya tajam.
Yoeja mengangguk kecil, menahan isak yang hampir pecah. “Aku tidak pernah berharap, Tuan Mirza...”
Ketukan pintu memecah kesunyian. Seorang pelayan menyerahkan amplop cokelat pada Mirza dengan wajah gugup. Tanpa berkata apa-apa, Mirza membuka amplop itu, membaca cepat, dan tiba-tiba membanting amplop itu ke atas tempat tidur.
“Ini semua salah kamu!” teriaknya, membuat tubuh Yoeja gemetar.
Dengan tangan gemetar, Yoeja membuka surat itu. Matanya melebar membaca isinya: Indriana mengubah syarat waris. Mirza hanya akan mendapat haknya jika ia membuktikan diri sebagai suami dan ayah yang bertanggung jawab selama tujuh bulan ke depan. Jika gagal, semua warisan akan jatuh ke pihak lain.
“Karena kamu, aku bisa kehilangan segalanya!” Mirza mendekat dengan wajah gelap. Ia menatap Yoeja seperti musuh. “Kalau itu terjadi, aku bersumpah, kamu dan anak ini akan membayar semuanya!”
Yoeja hanya bisa terdiam, air matanya jatuh tanpa henti. Ancaman Mirza bukan hanya kata-kata, melainkan janji yang berisi kebencian yang menakutkan.
Akankah Mirza benar-benar berubah demi menyelamatkan warisannya, atau ia justru menghancurkan segalanya, termasuk Yoeja dan anaknya?