Mirza menatap tajam ke arah Indriana, penuh amarah. “Oma mengubah syarat warisan tanpa memberitahuku?”
Kediaman Hakim, yang biasanya selalu tenang, kini mulai terasa konflik. Mirza, yang tidak pernah menunjukkan emosi, mulai berani membantah Indriana.
Indriana tetap tenang, menyeruput teh hangatnya. “Syarat itu sudah sewajarnya, Mirza. Kalau kau tidak bisa bertanggung jawab sebagai suami dan ayah, kau tidak pantas mendapatkan apa-apa.” Senyum Indriana membuat Mirza semakin kesal.
“Oma tidak bisa seenaknya begini!” Mirza mendekat, jarinya menunjuk wajah neneknya. “Perusahaan ini aku yang jalankan! Bukan dia!” Tangannya teracung ke arah Yoeja, yang hanya berdiri canggung di sudut ruangan.
Indriana meletakkan cangkirnya, menatap cucunya dengan sorot dingin. “Dan apa yang sudah kau lakukan, Mirza? Menghamili pembantu? Kalau bukan karena aku, skandal ini sudah menghancurkan nama kita sejak awal.”
Yoeja, yang mendengar itu, menggigit bibir bawahnya, menahan air mata. Namun, sebelum ia bisa menenangkan diri, Mirza memutar tubuh dan mendekatinya.
“Semua ini salahmu,” desis Mirza pelan tetapi menusuk. “Kalau kau tidak ada di sini, hidupku tidak akan serumit ini.
”
Yoeja mengangkat wajahnya perlahan, mencoba mempertahankan harga dirinya. “Kalau Tuan ingin saya pergi, katakan saja. Saya tidak pernah memohon untuk menikah dengan Anda.”
Kata-kata itu membuat Mirza terdiam. Wajahnya memerah, entah karena marah atau tersinggung, tapi ia tidak mampu membalas ucapan Yoeja.
’Kenapa dia tidak seperti sebelumnya, biasanya penurut?’ tanya Mirza dalam hati.
Indriana, yang memperhatikan keduanya, tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.
’Bagus, Yoeja. Aku yakin kamu bisa mengendalikan Mirza. Aku akan membuat Mirza sadar betapa semua yang dia lakukan itu salah,’ pikir Indriana.
“Kalian seperti anak kecil,” komentar Indriana. “Mirza, berhenti menyalahkan Yoeja. Dan kau, Yoeja, jangan memancing emosinya. Ini adalah tanggung jawab kalian berdua.”
Mirza mendengus frustrasi, lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan. Suara langkah kakinya yang berat semakin menjauh.
Setelah Mirza pergi, Indriana menoleh ke Yoeja. “Jangan terlalu diambil hati, Yoeja. Mirza memang keras kepala, tapi dia tidak jahat.”
Yoeja hanya mengangguk kecil, meskipun di dalam hatinya, ia sulit percaya. ’Bagaimana mungkin seseorang yang memperlakukannya dengan begitu buruk bisa disebut tidak jahat?’
Malam harinya, Mirza duduk sendirian di ruang kerja. Sebotol anggur setengah habis di mejanya, sementara ia termenung memandangi layar laptop. Pikiran tentang Yoeja terus mengganggunya.
’Bagaimana mungkin wanita itu berani membalas ucapannya tadi? Biasanya, semua orang hanya tunduk pada perintahnya, tapi Yoeja…’ berbeda, pikir Mirza.
Di lantai atas, Yoeja duduk di tepi tempat tidur. Gaun pengantin yang tadi siang ia kenakan tergantung di lemari, dengan perhiasan berkilau yang tak lagi ia kenakan, namun bayangan ejekan dan tatapan sinis para tamu acara masih membekas di pikirannya.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan keras. Mirza berdiri di sana, wajahnya terlihat kesal, namun masih ada sedikit kilau dari setelan jas mahal yang dikenakannya.
“Kau masih terjaga?” tanyanya, suaranya serak, seolah tak peduli pada kesan mewah yang menyertainya.
Yoeja hanya menatapnya bingung. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
“Bantu? Kau bahkan tidak bisa membantu dirimu sendiri,” balas Mirza sambil masuk ke kamar.
Mirza melemparkan jasnya yang terbuat dari bahan premium ke kursi, lalu duduk di sofa dengan gerakan kasar, tak peduli dengan kualitas bahan furnitur yang ada di sekitarnya. “Kenapa kau terus membuat hidupku lebih rumit?”
Yoeja terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Saya tidak pernah meminta untuk berada di sini, Tuan.”
Jawaban Yoeja membuat Mirza tersulut emosi. Ia, yang sudah kesal dengan keputusan Oma Indriana, akhirnya melemparkan kalimat yang menantang Yoeja.
“Lalu kenapa kau tidak pergi?” tantang Mirza.
Yoeja mengangkat alisnya. “Karena ada satu hal yang Anda lupakan, Tuan. Saya di sini karena anak ini.”
Tangannya menyentuh perutnya yang belum terlihat besar, tetapi kehadiran sang buah hati terasa nyata baginya.
Mirza terdiam. Kata-kata Yoeja itu bagai pukulan yang membangunkannya dari kemarahan sesaat. Namun, seperti biasa, ia menutupi rasa bersalahnya dengan sarkasme. “Oh, jadi kau pikir anak itu akan membuatku peduli?”
Yoeja tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Tidak, Tuan. Saya tidak pernah berharap Anda peduli.”
Jawaban itu membuat Mirza merasa kalah, tetapi ia tidak ingin mengakuinya. Ia berdiri, melangkah menuju pintu, namun sebelum pergi, ia berkata dengan nada datar, seperti seorang yang tidak ingin melibatkan emosi pribadi meski berada dalam ruang yang dipenuhi perabotan mewah, “Besok sore kita akan menghadiri acara sosial lain. Bersiaplah. Jangan mempermalukanku lagi.”
Setelah Mirza pergi, Yoeja hanya bisa mendesah. Hatinya berat, tetapi ia tahu bahwa inilah kehidupan yang harus ia jalani sekarang. Ia tidak boleh menyerah, bukan demi dirinya, tetapi demi anak yang sedang ia kandung.
Di acara sosial keesokan harinya, suasana terasa lebih tegang daripada sebelumnya. Para tamu masih membicarakan pernikahan Mirza dan Yoeja, tetapi kali ini, Yoeja berusaha lebih percaya diri.
Yoeja mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang sangat elegan, dengan rambut disanggul rapi dan dihiasi aksesori rambut mutiara. Tatapan sinis tetap ada, namun ia tidak membiarkannya memengaruhi dirinya.
“Nggak nyangka Mirza akan menikah secepat ini. Kalau tidak salah, dia bukannya sudah punya pacar, ya?” ucap seseorang yang tidak jauh dari Yoeja.
Suara-suara sumbang itu semakin membuat Yoeja tersenyum tipis, meresapi kesunyian dan ketenangan dalam dirinya, meskipun dunia sekitar terasa berat. Ia yakin pasti banyak yang seperti mereka di pesta ini, yang hanya bisa mencibir tanpa benar-benar memahami keadaannya.
Saat seorang wanita sosialita mencoba menyindirnya dengan pertanyaan, “Bagaimana rasanya menjadi istri dari pria seperti, Mirza?”
Yoeja hanya tersenyum dan menjawab dengan percaya diri, “Saya lebih fokus pada bagaimana menjadi ibu yang baik.”
Jawaban itu membuat wanita tersebut terdiam, tidak bisa menemukan balasan yang tepat. Di kejauhan, Mirza yang mendengar percakapan itu menahan senyumnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga dengan keberanian Yoeja.
Ketika acara hampir selesai, seorang tamu pria mendekati Yoeja. Pria itu adalah rekan bisnis keluarga Hakim, dengan senyum ramah dan nada suara yang hangat. “Nona Yoeja, bolehkah saya menemani Anda sebentar?”
Sebelum Yoeja sempat menjawab, Mirza muncul dari belakangnya, memasang tangan di bahu Yoeja.
“Maaf, tapi istri saya sudah cukup lelah untuk malam ini,” katanya sambil menarik Yoeja menjauh.
Yoeja menatap Mirza dengan bingung. “Tuan, apa yang Anda lakukan?”
Mirza hanya meliriknya sekilas. “Aku hanya memastikan tidak ada orang yang mencoba mengambil sesuatu yang menjadi milikku.”
Pipi Yoeja memerah, bukan karena marah, tetapi karena kata-kata itu menimbulkan rasa yang tak ia mengerti. Untuk pertama kalinya, Mirza mengakuinya sebagai “miliknya”, meskipun mungkin ia tidak serius.
Yoeja menundukkan kepala, menahan senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari. Mungkin, meskipun kecil, ada harapan bagi hubungan mereka.
Setelah acara selesai, Mirza dan Yoeja kembali ke rumah. Dalam perjalanan, suasana di dalam mobil terasa dingin. Mirza duduk di belakang dengan wajah tegang, sementara Yoeja menatap keluar jendela, mencoba mengabaikan rasa sakit di hatinya.
“Aku melakukan itu tadi malam hanya untuk menjaga privasi keluarga Hakim. Jangan salah paham,” ucap Mirza tiba-tiba, tanpa menoleh.
Yoeja menoleh perlahan, lalu menjawab dengan tenang, “Tenang saja, Tuan. Saya tahu tempat saya.”
Jawaban itu membuat Mirza menoleh sekilas, ekspresinya sulit ditebak. Ada sesuatu dalam nada suara Yoeja yang menusuk dirinya tegas, dingin, tetapi penuh luka yang tak terlihat. Ia ingin membalas, tetapi memilih diam.