Setibanya di perumahan Grand City, Mansion Hakim, Yoeja turun dari mobil tanpa menunggu Mirza. Ia melangkah menuju pintu masuk dengan kepala tegak, meskipun hatinya terasa remuk. Mirza memperhatikan dari belakang, merasa aneh melihat wanita itu yang semakin sulit ia pahami.
Keesokan harinya, langit Balikpapan mendung, hujan rintik mulai turun. Yoeja berdiri di dapur, membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri.
Namun, pikiran Yoeja masih tertuju pada kata-kata Mirza semalam. “Aku hanya memastikan tidak ada orang yang mencoba mengambil sesuatu yang menjadi milikku.”
Ia mendesah pelan. “Milik? Apa maksudnya aku hanya properti untuknya?” gumam Yoeja sambil menggenggam cangkir teh itu lebih erat.
Di ruang kerjanya, Mirza memandangi layar laptop, tetapi pikirannya terus melayang. Ia teringat ekspresi Yoeja semalam, bagaimana ia menjawab dengan tegas tetapi menyimpan luka. Hal itu membuatnya gelisah, meskipun ia tidak tahu mengapa.
Ketukan pintu menginterupsi lamunannya. Tanpa menunggu persetujuan, Indriana masuk dengan anggunnya. Wanita tua itu meletakkan surat kabar di meja Mirza, lalu duduk di kursi depan meja kerja.
“Kau terlalu keras padanya,” ucap Indriana tiba-tiba, membuat Mirza menatapnya dengan kening berkerut.
“Keras?” ulang Mirza, pura-pura tidak paham.
Indriana tersenyum kecil, penuh makna. “Dia istrimu, Mirza. Jika kau tidak memperlakukannya dengan layak, bagaimana kau berharap dia bertahan dalam keluarga ini? Atau, apakah kau bahkan peduli?”
Mirza membuang muka, enggan menjawab. Namun, dalam hatinya, kata-kata neneknya benar-benar mengguncang. Ia tahu, ada sesuatu tentang Yoeja yang mulai menggerakkan sisi lembutnya, sesuatu yang selama ini ia coba matikan.
Setelahnya sebelum ke kantor, Mirza sengaja mencari Yoeja. Ia menemukannya di balkon, memandangi hujan yang mulai reda. Tanpa berkata apa-apa, ia mendekat dan berdiri di sampingnya.
“Besok, aku ingin kau menemani ke acara makan malam dengan salah satu rekan bisnis keluarga,” ucapnya singkat.
Yoeja menoleh, matanya menatap tajam. “Tentu, Tuan. Tapi jangan khawatir, saya tidak akan mempermalukan Anda.”
Kalimat itu terdengar seperti sindiran halus, dan Mirza merasakannya. Ia ingin membalas, tetapi tidak menemukan kata-kata yang tepat. Untuk pertama kalinya, ia merasa kalah dalam percakapan.
“Bagus, pastikan jangan memanggil Tuan saat di sana,” jawab Mirza akhirnya, lalu berbalik meninggalkan balkon.
Namun, langkahnya terhenti sejenak sebelum ia pergi. Tanpa menoleh, ia berkata, “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Yoeja. Dunia ini sudah cukup kejam.”
Yoeja tertegun mendengar itu. Kata-kata Mirza terdengar tulus, meskipun ia mengucapkannya dengan nada datar. Namun, ketika ia berbalik untuk menatap suaminya, Mirza sudah pergi.
Di bawah langit Balikpapan yang mendung, Yoeja merasa sedikit hangat di tengah dinginnya hujan.
Mirza meninggalkan Yoeja yang masih terdiam, lalu melanjutkan harinya dengan berangkat ke kantor di daerah MT. Haryono, tidak jauh dari perumahan Grand City Mansion Hakim. Setibanya di kantor, ia langsung dihadapkan pada setumpuk berkas yang harus ditandatangani.
Saat Mirza fokus pada pekerjaannya, seorang staf perempuan bernama Maya masuk membawa secangkir kopi. Ia tampak ragu sejenak sebelum berbicara.
“Ada tamu yang ingin bertemu Anda, Tuan Mirza,” katanya pelan.
“Siapa?” tanya Mirza tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di depannya.
“Cynthia Carla, Tuan.” Jantung Mirza serasa berhenti sejenak.
Nama itu membangkitkan berbagai perasaan bercampur aduk di dalam dirinya. Namun, ia tetap berusaha tenang.
“Suruh dia tunggu di lobi,” jawab Mirza dingin, meskipun di dalam hatinya terdapat gejolak yang sulit ia abaikan.
Namun, Cynthia bukanlah tipe wanita yang mudah menyerah. Beberapa menit kemudian, wanita dengan penampilan sempurna itu muncul di depan pintu ruang kerja Mirza tanpa permisi.
“Sayang,” ucapnya dengan suara manis penuh keyakinan, “Apa kau benar-benar akan membiarkan aku menunggu seperti orang asing?”
Mirza mendongak, matanya bertemu dengan Cynthia. Wanita itu tersenyum seperti biasa, penuh pesona. Namun, bagi Mirza, senyum itu kini terasa seperti pedang bermata dua.
“Cynthia,” ujarnya pelan, menahan emosi, “Kau seharusnya tidak datang ke sini.”
Cynthia melangkah mendekat, melewati meja kerja Mirza dengan gerakan anggun. “Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja,” katanya lembut. “Kau tahu aku tidak pernah benar-benar bisa meninggalkanmu.”
“Aku sudah menikah,” balas Mirza tegas, meskipun di dalam hatinya ada keraguan yang samar.
“Menikah? Dengan siapa? Wanita itu?” Cynthia mendengus kecil, nada suaranya penuh penghinaan. “Mirza, kau dan aku sama-sama tahu ini hanya sandiwara. Kau tidak mencintainya, dan aku… aku masih mencintaimu.”
Mirza terdiam, seolah kata-kata Cynthia perlahan meruntuhkan pertahanannya. Perasaan ragu yang ia coba abaikan muncul ke permukaan.
Cynthia mendekat lebih lagi, berdiri di samping kursi Mirza. Dengan gerakan halus, ia menyentuh wajah pria itu, lalu mendekatkan wajahnya.
Dalam kelemahan sesaat, Mirza meraih Cynthia dan mengecup bibirnya. Kecupan itu cepat berubah menjadi lebih intens, dipenuhi hasrat yang pernah mereka miliki di masa lalu.
“Aku merindukanmu, Cynthia,” ucap Mirza lirih di sela-sela ciuman mereka.
Namun, sebelum adegan itu semakin panas, suara ketukan terdengar dari pintu.
“Tuan, ada yang ingin bertemu Anda,” suara staf lain terdengar dari luar.
Mirza terhenti seketika, melepaskan Cynthia. Ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan dirinya.
“Siapa lagi?” tanya Mirza dengan nada kesal.
Cynthia, yang terlihat sedikit terganggu dengan interupsi itu, tersenyum tipis. “Kita belum selesai, Mirza,” bisiknya sebelum melangkah mundur dengan elegan.
“Ny—Nyonya Yoeja, Tuan.” Suara Maya dari balik pintu.
Mirza langsung berdiri dari kursinya. “Biarkan dia masuk,” perintahnya cepat, membuat Cynthia menatapnya dengan alis terangkat.
Pintu terbuka, dan Yoeja melangkah masuk dengan ragu. Matanya langsung bertemu dengan Cynthia, yang berdiri terlalu dekat dengan meja Mirza. Atmosfer ruangan itu berubah menjadi tegang dalam sekejap.
“Oh, jadi ini dia,” ujar Cynthia dengan nada mencibir, matanya menelusuri penampilan sederhana Yoeja dari kepala hingga kaki. “Kau benar-benar berbeda dari apa yang kubayangkan, Nyonya Hakim.”
Yoeja hanya tersenyum tipis, mencoba menahan diri meskipun hatinya panas. “Maaf mengganggu,” ucapnya sambil menatap Mirza, mengabaikan komentar sinis Cynthia. “Saya hanya ingin menyerahkan dokumen yang Nyonya Indriana minta untuk Anda tanda tangani. Setelahnya saya akan kembali pulang.”
Mirza mengangguk, berusaha terlihat tenang meskipun suasana hatinya berkecamuk. Ia mengambil dokumen dari tangan Yoeja, tetapi tidak bisa mengabaikan cara Cynthia terus menatap istrinya seperti seorang ratu yang menghakimi bawahannya.
“Kau cukup beruntung, Yoeja,” kata Cynthia tiba-tiba, suaranya seperti sengaja menusuk. “Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk hidup mewah tanpa usaha.”
Yoeja, yang biasanya memilih diam, kali ini mengangkat wajahnya. “Anda benar, Nona Cynthia. Tapi tidak semua orang juga harus merendahkan dirinya sendiri untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.”
Cynthia terkejut mendengar balasan itu, sementara Mirza hampir tidak bisa menahan senyumnya. Untuk pertama kalinya, Yoeja menunjukkan sisi yang tidak ia sangka.
“Baiklah,” Cynthia berkata sambil tersenyum sinis. “Aku akan pergi untuk sekarang. Tapi ingat, Mirza, kita belum selesai.”
Setelah Cynthia pergi, ruangan itu kembali sunyi. Yoeja menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Mirza.
Namun, Mirza justru menatapnya dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. “Kau tidak perlu menjawabnya seperti itu,” katanya pelan.
Yoeja mendongak, menatap Mirza langsung di matanya. “Kalau saya diam, dia akan terus menginjak-injak harga diri saya. Saya mungkin bukan siapa-siapa, Tuan, tapi saya masih punya martabat.”
Mirza terdiam, merasa tersentuh oleh kata-kata itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat Yoeja bukan sebagai beban, tetapi sebagai seseorang yang memiliki kekuatan yang ia abaikan selama ini.
Namun, seperti biasa, ia menutupi perasaannya dengan nada dingin. “Lain kali, jangan terlalu berlebihan. Kau harus tahu batasmu.”