8. Napas yang Beradu di Sudut Ruangan

1223 Words
“Kau berani sekali sekarang,” ujar Mirza sambil mendekat dengan langkah perlahan. Suara rendahnya terdengar penuh ancaman. “Apa karena merasa sudah jadi istriku?” Ruangan kantor Mirza Hakim yang luas terasa menyempit oleh ketegangan yang meluap. Di tengah suasana sunyi, hanya terdengar suara napas mereka berdua. Mirza berdiri dengan ekspresi dingin, sementara Yoeja hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan suaminya. Senyum itu terlihat kecil dan samar, tetapi jelas mengandung sindiran yang menusuk hati Mirza. Yoeja tetap diam. Senyumnya tidak pudar, tetapi matanya jelas menunjukkan perlawanan. Ia tahu permainan ini berbahaya, tetapi ia tidak akan kalah begitu saja. Melihat sikap Yoeja yang tidak gentar, Mirza kehilangan kesabarannya. Ia melangkah lebih dekat, tubuhnya kini hanya beberapa inci dari tubuh Yoeja. “Katakan sesuatu, Yoeja. Atau kau hanya berani tersenyum di belakang topeng keberanian itu?” ujar Mirza sambil menyudutkan Yoeja ke arah dinding. Wanita itu mundur perlahan, langkahnya terhenti saat punggungnya menyentuh permukaan dingin dinding kantor Mirza. Yoeja menelan ludah, napasnya sedikit terengah, tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Mirza kini begitu dekat, matanya yang tajam menatap langsung ke dalam matanya. Napasnya terasa hangat di wajah Yoeja, dan jantungnya berdetak lebih cepat, seolah ia adalah rusa yang terperangkap di hadapan singa lapar. Namun, di tengah tekanan itu, Yoeja tiba-tiba mendapatkan ide. Dengan wajah tenang, ia sedikit mencondongkan tubuh, membuat jarak mereka semakin tipis. Bibirnya hampir menyentuh telinga Mirza saat ia berbisik, “Apa Tuan Hakim tidak takut kalah di permainan ini?” Mirza terdiam, terkejut dengan langkah berani Yoeja. Sebelum ia bisa bereaksi, Yoeja dengan gesit menyelinap ke samping, melepaskan diri dari posisi terpojoknya. Ia melangkah cepat menuju meja kerja Mirza dan mengambil berkas yang tadi dibawanya dari rumah. “Cepat tandatangani ini,” ujar Yoeja sambil mendorong dokumen itu ke arahnya. Suaranya tegas, tapi ada nada santai yang sedikit mengusik Mirza. “Aku nggak akan ganggu kencanmu dengan wanita itu. Lagipula, bukankah aku sudah mengambil tempatnya di hidupmu? Jadi, nggak usah repot-repot jadi orang baik di depanku.” Ucapan Yoeja seperti bara yang dilemparkan ke dalam api. Wajah Mirza memerah, amarahnya langsung terpicu. Dengan gerakan cepat, ia meraih dokumen itu dan menandatanganinya tanpa sepatah kata pun. Setelah itu, ia melemparkan pena ke meja dengan suara keras. “Kau selalu tahu cara memancing emosiku,” kata Mirza sambil menatap Yoeja dengan tajam. “Tapi jangan berpikir kau bisa terus lolos dari ini.” Sebelum Yoeja sempat menjawab, Mirza kembali mendekatinya dengan langkah besar. Ia menyudutkan Yoeja untuk kedua kalinya, kali ini lebih dekat, lebih menekan. “Dengar, Yoeja,” bisik Mirza dengan nada penuh ancaman. “Aku bisa melakukan apa saja denganmu saat ini. Apa pun. Tanpa harus kau intimidasi soal Cynthia atau wanita lain.” Yoeja menatap Mirza dengan mata terbelalak. Ia tahu Mirza adalah pria yang penuh kendali, tetapi ada sesuatu dalam nada suara suaminya yang membuatnya sedikit gentar. “Mirza, cukup. Jangan bertindak gegabah,” ujar Yoeja dengan nada rendah, mencoba menenangkan situasi. Namun, Mirza tidak mendengar. Ia semakin mendekat, hingga jarak di antara mereka benar-benar lenyap. Dalam sekejap, Mirza menunduk dan mencium bibir Yoeja dengan kasar. Ciuman itu bukan tentang cinta atau kelembutan itu adalah bentuk luapan emosi, kekesalan, dan sesuatu yang lain yang sulit dijelaskan. Yoeja terkejut, tubuhnya menegang. Ia merasakan sedikit rasa sakit saat gigi Mirza tidak sengaja melukai bibirnya, hingga setetes darah keluar. Itu bukan ciuman yang diinginkannya, dan jelas bukan sesuatu yang ia izinkan. Dengan dorongan kuat, Yoeja mendorong d**a Mirza, memisahkan tubuh mereka. “Apa-apaan kau, Mirza?!” seru Yoeja marah, wajahnya memerah. Ia menyeka bibirnya yang terasa perih. Ada rasa pahit bercampur amarah yang membakar dadanya. “Cukup! Malam pahit itu sudah cukup menjadi yang pertama dan terakhir kali kau melakukan hal ini padaku!” Mirza terdiam, napasnya berat, tetapi sorot matanya terlihat sedikit menyesal. Ia tidak menyangka dirinya bisa kehilangan kendali sejauh itu. Namun, seperti biasa, ia menutupi rasa bersalahnya dengan ekspresi dingin. “Kau yang memancingnya,” ujarnya singkat. “Jangan bertingkah seolah-olah kau tidak tahu apa yang kau lakukan.” “Aku?” Yoeja tertawa kecil, meskipun itu bukan tawa bahagia. “Jangan berani menyalahkanku atas tindakan bodohmu sendiri, Mirza. Jika kau tidak bisa mengendalikan dirimu, itu sepenuhnya kesalahanmu, bukan aku.” Mendengar ucapan itu, Mirza terdiam. Ia tahu Yoeja benar, tetapi egonya terlalu besar untuk mengakuinya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan berjalan menuju jendela besar di ruangannya. Di luar, hujan mulai turun deras, seolah mencerminkan suasana hati mereka yang kacau. Yoeja menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Ia tidak ingin air mata jatuh, tidak di depan Mirza. Dengan tangan gemetar, ia merapikan berkas yang sudah ditandatangani, lalu berbalik menuju pintu. Namun, sebelum ia sempat pergi, Mirza memanggilnya. “Yoeja.” Wanita itu berhenti, tetapi tidak menoleh. “Apa lagi, Tuan Hakim?” tanyanya datar. “Kita belum selesai,” ujar Mirza, suaranya rendah tetapi terdengar tegas. Yoeja mendesah pelan, lalu menoleh dengan senyum kecil yang sama seperti sebelumnya. “Oh, kita selesai, Mirza. Kau hanya belum menyadarinya.” Tanpa menunggu jawaban, Yoeja keluar dari ruangan itu, meninggalkan Mirza dengan pikirannya yang berkecamuk. Di lorong, Yoeja berjalan cepat menuju lift. Ia berusaha menenangkan napasnya yang masih tidak teratur. Namun, saat ia mengingat kembali kejadian tadi, ia tidak bisa menahan senyum kecil yang muncul di wajahnya. “Aku berhasil mengecohnya,” gumamnya pelan, meskipun ia tahu harga yang harus ia bayar untuk itu cukup mahal. Bibirnya masih terasa perih, tetapi setidaknya ia berhasil mempertahankan martabatnya. Di dalam ruangan, Mirza berdiri di depan jendela, memandangi hujan yang mengguyur kota Balikpapan. Ia menghela napas panjang, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Yoeja benar-benar wanita yang berbeda. Ia tidak pernah bertemu seseorang yang bisa membuatnya merasa seperti ini: tertantang, marah, tetapi juga tertarik. “Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku, Yoeja?” gumamnya pelan, sambil menyentuh bibirnya sendiri, seolah mencoba mengingat kembali rasa ciuman tadi. Hujan terus turun di luar, tetapi di dalam ruangan itu, Mirza tahu badai yang sebenarnya ada di dalam dirinya. Di lobi kantor Hakim Corp, Yoeja duduk menunggu sopir keluarga Hakim menjemputnya. Pandangannya tertuju pada lantai, pikirannya masih sibuk mencerna kejadian di ruangan Mirza. Namun, ketenangannya terusik saat suara tinggi yang dikenal baik menyapanya. “Oh, ternyata kau di sini.” Suara itu milik Chyntia, wanita dengan penampilan sempurna yang selalu menjadi pusat perhatian. Chyntia melangkah mendekat, senyumnya terlihat angkuh. “Aku heran, Yoeja, apa rasanya menjadi istri karena terpaksa? Kau tahu kan, Mirza tidak akan pernah benar-benar menginginkanmu?” Yoeja terdiam, menunduk tanpa menjawab. Chyntia melanjutkan dengan nada mengejek. “Kau hanya pengganggu, Yoeja. Mirza adalah milikku, dan tidak ada yang bisa mengubah itu. Dia hanya kasihan padamu. Bagaimana bisa wanita sepertimu bersaing dengan aku?” Beberapa orang di lobi mulai melirik ke arah mereka, membuat suasana semakin tidak nyaman. Yoeja menarik napas dalam, matanya tetap tertunduk. Namun, saat Chyntia hendak melanjutkan ejekannya, Yoeja perlahan berdiri. “Aku mungkin bukan apa-apa di matamu, Chyntia,” ujar Yoeja pelan, tetapi tegas. Ia menatap langsung ke mata wanita itu, tatapannya menusuk. “Tapi setidaknya aku tidak perlu menjual harga diriku hanya untuk mendekati pria yang tidak pernah benar-benar memilihku.” Chyntia terpaku, wajahnya merah padam. Sebelum ia sempat membalas, suara klakson BMW hitam metalik memecah keheningan. Yoeja berjalan menuju mobil itu tanpa menoleh lagi. Chyntia hanya berdiri di tempat, menggertakkan gigi sambil berdecak kesal. Mobil itu melaju keluar pelataran Hakim Corp, meninggalkan Chyntia dengan rasa malu yang membara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD