Doa Aire antara terkabul dan tidak.
Dia mengakhiri hari dengan makan enak, memang.
Tapi sialnya, dia makan malam bersama Sean Abraham. Oh, tentu saja ada Arjuna dan Leon juga. Obrolan pun masih tidak jauh dari seputar pekerjaan.
Yang kadang Aire juga ikut dalam obrolan, tentu. Karena proyek ini adalah proyek divisinya dan Aire juga ikut andil dalam pembangunan.
Masalahnya, sekarang dia duduk bersebelahan dengan Sean. Arjuna dan Leon ada di seberang meja berukuran besar.
Membuat Aire berpikir. Harus ya, dia duduknya sebelahan dengan Sean? Kenapa sih Arjuna dan Leon bisa kompak memilih kursi di seberang? Sehingga Aire tidak punya pilihan dan harus duduk di satu-satunya kursi yang tersisa.
Main course akhirnya dihidangkan, membuat obrolan pekerjaan itu terjeda sejenak. Ruang VIP sebuah resto fine dining itu lengang.
Aire melirik laki-laki di sebelahnya, yang makan dengan gerak elegan. Sean duduk dengan tegak, tapi tidak kaku. Sebuah serbet putih berada di pangkuannya. Laki-laki itu mengiris dagingnya dalam potongan kecil dan menyuapnya dengan cara yang mengingatkan Aire akan eksistensi kaum bangsawan.
Sebagai cewek, Aire langsung merasa insecure.
Dia kemudian berusaha makan seanggun mungkin sembari mengingat table manner yang pernah dipelajarinya.
Tapi Aire tidak sadar bahwa dia sudah cukup anggun kok. Terbukti dari Sean yang tidak berkomentar apa-apa. Meski kadang tampak kikuk karena keberadaan Sean.
Sesaat setelah selesai dengan hidangan main course, Sean menyesap jus beri dari gelas tinggi di sisinya. Ya ampun, hanya segelas jus beri saja bisa tampak seperti red wine kalau di tangan Sean Abraham.
"Jadi," Sean kembali membuka percakapan selagi menunggu hidangan penutup dihidangkan. "Angga kena vertigo yang cukup parah dan sekarang masih rawat inap di rumah sakit."
"Betul, Pak."
"Dan setelah opname pun dia ngga bisa langsung turun ke lapangan."
Arjuna mengangguki gumaman Sean tanpa suara.
"Terus Seila?"
Arjuna segera menjawab, "Kondisinya juga belum memungkinkan buat turun lapangan."
"Dan satu-satunya pengganti mereka adalah orang di sebelah saya ini." Sean mengambil kesimpulan, tanpa melirik Aire yang nyaris tersedak oleh s**u dinginnya karena dinotis oleh direktur yang membuatnya makin s**l hari itu.
Iya, Aire memang memesan s**u lagi karena dia suka. Dan, dia hanya mengangguk asal karena Sean tidak melihat ke arahnya. Entahlah dia mengangguk untuk siapa.
"Aire, saya menyayangkan keputusan kamu yang masih mengenakan heels saat sedang meninjau lapangan begini." Sean menegur Aire, membuatnya menunduk untuk menatap alas kakinya saat ini.
Tidak, dia tentu tidak mengenakan heels berlumpurnya untuk masuk ke restoran mewah yang sudah direservasi atas nama Sean Abraham ini.
Sebaliknya, Aire justru sudah beralaskan sebuah flat shoes yang nyaman dan melekat cantik di kakinya. Dia mendapatkan alas kaki itu bukan karena meminta Arjuna untuk berhenti di sebuah toko.
Tapi karena sebelum mereka ke restoran, yang namanya Sean Abraham itu menyuruh Arjuna untuk menghentikan mobilnya di sebuah butik dimana Sean sudah lebih dulu menepikan mobil.
Sean memanggil seorang maid store dan menyuruhnya mencari alas kaki paling nyaman dan bagus di butik itu.
Pilihan Sean, tidak salah lagi, jatuh pada salah satu koleksi alas kaki paling mahal disana. Tadinya, Aire hendak menolak. Dia lebih baik menyisihkan gajinya untuk keperluan bulanan daripada harus membeli benda mahal itu.
Tapi kemudian, dengan enteng Sean menyerahkan kartu ATM-nya yang berwarna hitam untuk membayar.
Bagaimana Aire tidak tremor lagi?! Sean membayar lebih dari sejuta untuk membelikan pegawai noob-nya sepasang alas kaki. Dan kemudian menutup sesi belanja singkat itu dengan satu kalimat ringkas, "Ngga usah anggap ini utang."
Sudah, hanya begitu.
Lamunan Aire buyar saat dia mendengar Arjuna berdehem.
"Maaf, Pak. Saya tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi dan merepotkan orang lain."
"Maaf, Pak. Saya sendiri tidak menegur Aire sebelum berangkat dan berakhir menyusahkan Pak Sean." Arjuna akhirnya buka suara lagi. "Selanjutnya saya akan menegaskan Aire lagi kalau ada agenda ke lapangan seperti ini."
"Ngga perlu." Sean menjawab pendek. Dan tanpa mengindahkan Aire yang mati kutu di sebelahnya, dia menambahkan, "Karena mulai besok, Aire ada di bawah komando saya langsung."
"M-maksudnya, Pak?" Aire bertanya, mencicit dengan suara pelan.
Sean Abraham akhirnya menoleh, seolah baru menyadari eksistensi perempuan disana. "Mulai besok, kapan pun saya minta kamu ikut saya ke lapangan, kamu harus ikut."
Wajah Aire menjadi pias lagi. Ini terlalu mendadak. Dia bahkan merasa zonk soal apa yang akan ia kerjakan kalau ikut Sean turun lapangan.
Kalau Angga atau Seila diajak ke lapangan, okelah. Toh mereka ada di tim arsitek bangunan. Kalau Aire kan arsitek lanskap, bagian mendesain ruang terbuka hijau. Tidak penting-penting amat buat diajak ke lapangan di saat proyek baru akan dimulai.
Tapi karena Sean masih menghujamnya dengan tatapan dingin dan menghanyutkan, Aire menunduk.
"I-iya, Pak."
***
"Jun, jangan aku dong. Tim bangunan kan masih ada yang lain. Mereka pasti bakal lebih nyambung kalau diajak ke lapangan. Ya kan?" Aire memohon-mohon pada Arjuna seperginya mereka dari restoran.
Atas perintah Sean, Arjuna harus memastikan Aire selamat sampai rumahnya. Berarti ya harus diantar. Padahal tadinya Arjuna berencana menurunkan Aire di halte karena kemejanya ditarik terus.
Aire menarik lengan kemeja Arjuna lagi, meminta tanggapan. "Jun-"
"Bentar." Arjuna pun tampaknya sedang memikirkan sesuatu. Kedua tangan di kemudi, fokus menatap jalanan yang agak lengang karena ambil jalur memutar. "Lo apain Pak Sean sih?"
"Hah?"
"Lemot lagi gue getok nih?"
Aire cepat-cepat berpikir. Memangnya dia apakan Pak Sean Abraham yang terhormat itu? Pertanyaannya terbalik. "Harusnya tuh kamu tanya, aku yang diapain aja sama Pak Sean," balasnya dengan nada menggurui.
Arjuna menaikkan sebelas alis. "Emang lo diapain Pak Sean?"
"Ehm, digendong kayak tadi?"
Arjuna memutar mata malas. Dengan kelemotan seperti ini, dia heran kenapa kerja Aire bisa bagus. Padahal tidak mungkin kalau pakai joki. "Selain itu," balasnya. "Selagi ngga ada yang lihat kalian, lo diapain Pak Sean?"
Apa ya? Menyelipkan rambut ke belakang telinga termasuk diapa-apakan tidak sih?
Tapi sepertinya tidak karena Aire belum pernah dengar kasus seperti itu. Jadi...
"Ngga diapa-apain sih."
"Ya udah, makanya gue ngga tanya. Sebaliknya, gue nanya, lo apain Pak Sean sampai kayak gitu?"
Ih, sekarang Aire makin bingung! Dia kan tidak tau apa-apa. "Emang Pak Sean kayak gimana?"
"Kayak tadi. Ngapain coba beliau gendong lo? Sehari 2 kali loh, udah kayak mandi aja."
Iya sih, bagian paling aneh itu waktu Sean mau-maunya menggendong Aire di saat banyak orang mengajukan diri menggantikan pekerjaan berat itu.
"Lo pake pelet ya-"
Plak!!
"Sakit!" Arjuna mengusap lengannya yang dipukul Aire. Masih untung lengan, bukan pipi. Kalau pipi ya mampus karena tangan Aire pasti menjeplak.
"Lagian ngomongnya sih cari perkara banget," gerutu Aire. Pelet apa? Dia mana tau soal yang begituan. "Jun, kamu lobi Pak Sean dong. Yakali masa aku yang ikut ke lapangan? Lagian juga besok aku mau survei tanaman loh."
"Ngga bisa. Lo tau kan?"
"Ngga! Ngga tau!" balas Aire sewot.
Arjuna tetap melanjutkan, "Perintah Pak Sean itu bukan untuk dilobi, apalagi dibantah. Jangan coba-coba. Dan gue ngga mau ambil resiko."
"Tapi apa harus aku yang ditumbalin?!"
"Pak Sean yang milih, lo mau apa?"
Uh, Arjuna menyebalkan!
"Lagian kayak apa aja sih ditumbalin? Orang cuma ikut ke lapangan aja sesekali. Enak kali, habis itu pasti ditraktir makan kayak tadi."
Astaga, Arjuna. Bukan urusan makan atau tidak yang membuat Aire gerah sendiri merengek daritadi.
Masalahnya, dia dihadapkan kenyataan bahwa Sean Abraham itu sangat mengintimidasi dan menakutkan. Tapi sialnya, di tengah perasaan mencekam itu, Aire justru terngiang-ngiang lagi suara Sean yang rendah, agak berat, dan, ehm... seksi.
Aire juga masih terngiang-ngiang aroma parfum yang melekat di setelan kerja Sean.
Belum lagi tatapan intensnya yang bikin merinding.
Sekarang, jantung Aire berdegup kencang.
Ya ampun, seumur-umur dia kerja, baru kali ini rasanya begitu menakutkan.
***
[]