4

1129 Words
Awalnya, Aire masih bisa mengikuti pertemuan untuk meninjau lahan proyek itu yang berjalan kesana kemari dan tidak jauh dari mobil. Arjuna membawa alat ukur jarak untuk sewaktu-waktu diperlukan. Tapi hari ini mereka hanya akan membahas garis besar rencana proyek dan Aire ada disana untuk... Untuk apa ya? Entahlah, dia juga tidak tau kenapa dia diajak kesana. Mungkin karena seharusnya ini tugas Angga dan Seila, tapi karena yang bersangkutan sedang ada halangan, maka Aire ditarik jadi pengganti. Meski sedari tadi dia hanya mengintili Arjuna kesana kemari. "Lahan di bagian Utara agak menurun sekitar beberapa derajat. Kita bisa kesana buat lihat sejauh apa kemiringannya," ujar Arjuna menjelaskan. "Shall we?" "Oke." Sean yang dari tadi hanya mengangguk singkat. Saat 3 laki-laki itu berjalan semakin jauh ke arah Utara, Aire justru terdiam di tempat. Mendadak tremor. Kok makin jauh sih? Dia melihat ke belakang, ke arah mobil dan jalan raya, yang tertutup semak belukar. Menelan ludah gugup. Ini kalau misal dia diapa-apakan, amit-amit, dibunuh misal, berarti tidak ada yang akan sadar dong? Atau kalau ada apa-apa dengan mereka- "Ada masalah?" Aire tersentak, menoleh kaku pada Sean Abraham yang sudah berdiri menjulang di hadapannya. Kapan Bapak Sean yang terhormat itu menghampirinya? Di depan sana, 2 orang masih terus berjalan. Sean menatapnya lekat, lagi. "Kamu ngga sadar saya jalan kesini?" Aire menggeleng. "Saya emang minta biar kamu ngga pingsan lagi. Tapi saya juga ngga mau ada pegawai saya yang kesurupan gara-gara bengong," tegurnya. "Fokus." "I-iya, pak." "Ikut saya." Sean sudah berbalik, hendak melangkah lagi sampai kemudian disadarinya kalau Aire masih diam di tempat. "Kamu mau disitu sendirian?" Aire bahkan belum menjawab, tapi Sean sudah melanjutkan, "Ngga usah mikir yang macem-macem. Kamu bakal baik-baik aja kalau ikut saya." Ya ampun! Aire jadi salah tingkah. Tatapan Sean lagi-lagi menghujamnya. Mengintimidasi. Tapi kok... gantengnya kelewatan? Sean mendekat, tangan kanannya terulur untuk menyelipkan helai rambut Aire yang tertiup angin ke belakang telinga. Dan, entah sengaja atau tidak, ujung jemari laki-laki itu terasa menggelitik pipinya. Sentuhan ringan yang terasa seperti angin lalu. Aire merinding. Tatapan Sean intens sekali. "Atau kamu mau saya gendong?" Wajah Aire seketika merona tanpa sebab. Dia menggeleng cepat. Segera meninggalkan Sean yang masih berdiri di tempatnya, cepat-cepat mengikuti Arjuna yang sudah agak jauh di depan sana. *** "Tekstur tanah disini lumayan keras, tapi semeter di depan kaki kita mungkin sudah kejeblos." Arjuna masih menjelaskan. Kakinya yang dibalut sepatu kets sedang menjejak tanah tempat mereka berpijak. Aire mendengus keki. Merutuki pikirannya sendiri kenapa dia tidak ganti pakai sepatu kets yang dia sediakan di kantor. Dan bukannya memakai heels yang sudah terasa berat karena tanah yang menempel! Sekali lagi, ya ampun! Sebagai satu-satunya perempuan disana, mengenakan heels di tanah tidak rata yang kadang berlumpur, Aire adalah yang cara jalannya paling tidak jelas. Habisnya, heels yang dia kenakan kadang copot-copot dari tumitnya karena melesak ke tanah. Repot pokoknya! "Nah, garis ini adalah batasnya. Rawa di depan sini permukaannya memang kering, tapi bawahnya berlumpur." Arjuna menusuk permukaan rawa itu dengan ranting panjang yang dipungutnya sembarangan. Dan benar saja, begitu menembus lapisan permukaan rawa yang kering retak-retak, rupanya bagian bawah masih berlumpur. "Jadi untuk kali ini kita cuma bisa jalan sejauh ini, Pak." Sean mengangguk mendengar penjelasan Arjuna. Kedua tangannya bertautan di belakang punggung, khas pose bapak-bapak. Arjuna dan asisten Sean yang bernama Leon sekarang berjalan ke arah Timur, masih meninjau lahan proyek. Sekarang, lagi-lagi tersisa Sean dan Aire di belakang. Bukan tersisa sih, karena sepertinya Sean sengaja tidak ikut melangkah dan malah mengamati Aire yang sedang sibuk membersihkan lumpur dari heelsnya dengan ranting. "Arjuna ngga ngasih tau kalau dia bakal ke lapangan?" "Kasih tau, Pak." Aire menjawab rikuh. Sean tidak menjawab lagi, tapi hanya memperhatikan bagaimana pegawainya itu masih berusaha membersihkan alas kakinya dengan ranting. Tapi usahanya itu tampak tidak berpengaruh banyak karena, apa yang diharapkan dari ujung ranting untuk menyingkirkan lumpur yang menempel di heels? Ditatap sedemikian rupa oleh Sean membuat Aire bingung. Haruskah lanjut membersihkan alas kakinya itu atau memutuskan jalan saja mengikuti Arjuna? Tapi belum juga Aire membuat keputusan, Sean sudah berlutut di depannya. Bukan, bukan untuk bantu membersihkan lumpur itu. Laki-laki itu berlutut membelakangi Aire, kemudian menoleh dari balik bahunya, "Cepet naik," suruhnya. Lagi-lagi Aire merasa tremor. Yakali?! "Pak-" "Cepetan, ngga usah buang-buang waktu saya." "Tapi ini buang-buang tenaga Bapak." "Berani kamu ngebantah saya?" Duh. Ragu-ragu Aire mendekat. Awalnya dia berpegangan pada bahu Sean dan, Ya Tuhan, terbuat dari apa bahu itu? Papan berlapis semen kah? Sudah lebar, keras pula. Seperti yang sudah terlatih. "Kamu emang selelet ini ya?" Protes dari Sean, yang tidak sempat Aire tanggapi karena laki-laki itu sudah meraih belakang lututnya, membuat Aire hilang keseimbangan, dan mendarat di punggung Sean. Ugh, drama! Dan... aroma parfum Sean kembali tercium. Masih dengan aroma aftershave yang samar. Tapi seperti ada dopamin yang menggelitik perut Aire. Yang membuat cewek itu hampir tersenyum. Wait- kenapa dia harus merasa tergelitik dopaminnya? Ini tidak benar! Tapi bersandar di punggung Sean ternyata lumayan. Ehm, maksudnya, tidak buruk. Setidaknya Sean tidak membuat Aire terjengkang karena laki-laki itu berdiri secara mendadak. Langkahnya ringan seperti tidak sedang membawa beban apa-apa. Mulanya mereka menyusul langkah Arjuna dan Leon di depan sana. Sementara Aire sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Masih merasa tidak enak. Apalagi, itu... Kalian tau kan? Bagian depannya menempel di punggung Sean. Kata orang, laki-laki bisa merasakan hal itu. Makanya Aire malu. Soalnya, punya dia juga tidak kecil-kecil amat. Dalam artian, masih berasa lah di punggung. Hmm... Aire mencicit. "Pak?" "Hm?" Sean menoleh ke kanan, dimana wajah Aire ada di bahunya. Sengaja sekali menoleh. Akibatnya, hidung mereka bersentuhan. Hal yang membuat Aire memundurkan wajah meronanya. "Saya- turun disini aja." "Kamu pikir saya angkot?!" sarkas Sean, kembali menatap ke depan. Langkah mereka sudah di belakang Arjuna dan saat manajernya Aire itu menoleh, raut agak terkejut. Leon lebih terkejut lagi. "Pak- itu..." "Hari ini selesai sampai disini." Hanya itu jawaban Sean, dan berjalan terus menuju mobil yang diparkir dekat jalan raya. Tidak ada yang lebih tergeragap melihat direktur mereka, lagi-lagi, menggendong pegawai biasa yang kena s**l selama hari itu. Lucunya, pegawai itu adalah orang yang sama dengan yang digendong Sean tadi usai meeting. Aire pikir hari ini adalah hari sialnya. Dan dia pikir, Sean mungkin salah satu dari serangkaian kesialannya hari ini. Dibawa menjauh oleh Sean, Aire menoleh ke belakang. Dilihatnya Arjuna membuat simbol melintang di dahi dengan jarinya. Hanya dari sorot matanya yang menampilkan horor saja Aire sudah tau apa artinya. Ngga waras ya lo?! Kurang lebih begitu. Aire harus apa sekarang? Dia hanya berharap hari ini segera berlalu. Habis ini dia akan pulang, menyelesaikan hari ini dengan istirahat dan makan enak. Sementara itu, Sean akan kembali dalam perjalanan bisnisnya di luar negeri. Mereka tidak perlu bertemu lagi. Bahkan tidak perlu lagi ada kejadian memalukan begini. Aire juga berharap Angga dan Seila segera sembuh biar Aire tidak perlu ditumbalkan seperti ini lagi. Amin. *** []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD