3

1292 Words
Kenapa hari Senin-nya tidak bisa lebih baik lagi? Sudah pingsan tidak jelas di depan bos sampai merepotkan yang bersangkutan, sekarang malah kepergok sedang berghibah saat mulutnya sedang mangap pula. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga. Aire tidak tau harus menyahut apa saat Sean masih menatapnya tajam. Dia menggeleng lemah, "Ngga ada apa-apa, Pak." Ina bahkan hanya diam saja saking gugupnya. Sean tidak merespon, tatapannya segera tertuju ke meja nakas di sebelah Aire. Sebuah pena hitam berkilau yang tampak mahal tergeletak disana. Sean beringsut mendekat, tangannya terulur meraih pena mahal itu dan memasukkannya ke saku jas. Sialnya, jarak yang tidak sampai semeter membuat Aire dapat mencium aroma parfum yang dikenakan Sean. Aroma musk dan kayu-kayuan yang segar. Juga tercium aroma aftershave yang membuatnya terkesan jantan sekali. Kok jantan sih?! Lakik banget maksudnya. Mungkin tadi pagi Sean habis bercukur. Sean lantas melirik Aire yang malah menunduk dengan sepiring bubur ayam di pangkuannya. Itu bubur yang tadi dia pesan untuk pegawainya. "Siapa nama kamu?" "Hah?" Aire mendongak patah-patah. "Saya tanya siapa nama kamu." Eh- bukannya tadi dia sudah dikenalkan Arjuna sebelum rapat ya? Tapi mungkin Sean tidak peduli. Siapa pula yang mau peduli dan mengingat nama pegawai culun sepertinya di saat Sean dihadapkan dengan nama-nama penting lain yang dapat mendatangkan keuntungan jutaan dollar buat perusahaan? Aire merutuk dalam hati. Menunduk lagi. s**l. Ditatap Sean selekat ini membuatnya ingin ditelan kasur saat itu juga. "Saya Aire. Aire Elizabeth." "Jangan menunduk kalau saya ajak bicara." Ya ampun, Mama. Adek salah apa sih?! Aire memberanikan diri mendongak. Betul dugaannya soal Sean yang mungkin habis bercukur tadi pagi. Rahang dan dagu laki-laki itu halus dan bersih. "Nama saya Aire, Pak. Aire Elizabeth." Sean bergeming. Tatapan obsidiannya yang dingin dan menghanyutkan masih menatap Aire, seolah menilai sesuatu. Atau mencari sesuatu. Sesaat tatapannya jatuh di bibir Aire yang dipoles lip cream berwarna natural. Saking naturalnya sampai memberikan kesan segar dan alami, membuat Sean ingin tau bagaimana bibir itu tanpa ditutupi apapun. Pucat kah? Atau lip cream itu justru menyembunyikan warna ranum kesukaannya? Tapi laki-laki dewasa itu tidak menanggapi, hanya mengangguk samar sebelum berucap, "Habiskan buburnya. Saya ngga mau ada pegawai lainnya yang ikut-ikutan pingsan kayak kamu." Aire meringis keki, menggerutu dalam hati. Siapa pula yang mau pingsan, di hadapan bos besar sepertinya?! Setelah Sean pergi diikuti ajudannya, barulah Aire bisa menghela napas. Dia punya sesuatu untuk dikeluhkan. "Kenapa harus datang buat ambil pulpen sih?!" Ina tersenyum lemah. "Konon pulpennya itu bisa buat beli mobil, rumah, dan seisinya." Aire menghela napas. "Terus kenapa harus beliau yang ambil?" keluhnya lagi. "Ajudannya aja kan bisa." Ina menggelengkan kepala, tidak tau juga ya. Kenapa orang sekelas Sean Abraham mau-maunya menggendong pegawai pingsan ke klinik, datang sendiri ke kantin untuk memesan bubur, dan datang lagi untuk mengambil pena. Padahal, ada ratusan bahkan ribuan orang di gedung ini yang bisa disuruhnya melakukan ini-itu. "Ra?" "Apa?" "Habisin buburnya ya, aku mau balik ke kantin." *** Usai menghabiskan buburnya, Aire ingin sekali kembali bekerja. Meski Dokter Wira mengatakan bahwa dia bisa saja istirahat untuk hari ini. Arjuna juga sudah mengijinkan Aire absen, sebagai kompensasi sudah mendampinginya di rapat penting sekaligus ijin sakit. Tapi, ayolah, biar pun penampilannya masih terkesan noob karena dia memang tidak punya wibawa, Aire tidak selemah itu. Dia bukan orang yang bakal pingsan di sembarang tempat. Jadi dengan keras kepala, Aire segera kembali ke kubikelnya di lantai 27 usai menghabiskan infus. Dan segera, dia menyesali keputusannya itu. Karena teman-temannya langsung mengerubungi dengan wajah senyum-senyum tapi penasaran. "Gimana, Ra? Rasanya digendong Pak Sean?" Aire mana tau. Dia kan pingsan. Untungnya, Arjuna datang untuk menghalau gembala ke tempatnya masing-masing. Setelah hanya ada Aire di kubikelnya, Arjuna menghampiri Aire dan menyerahkan sesuatu. "Jepit rambut lo kan?" Aire mengangguk. Dia memang mengenakan jepit mutiara yang simpel untuk menghalau poninya yang sudah agak panjang. Kan, sudah dibilang Aire agak noob. Orang kantoran mana yang kerja memakai jepit hanya untuk menghalau poni? Diterimanya jepit itu dan langsung dikenakan di sisi kepalanya, sambil bertanya, "Kok bisa di kamu?" "Ada di Pak Sean." "Hah?" Tak! "Lo kenapa plonga-plongo sih habis pingsan?" Aire merengut karena dahinya disentil. "Namanya juga habis pingsan, ya gimana." "Tadi jepit lo jatuh di ruang meeting. Pak Sean yang mungut, tadinya mau balikin sendiri. Tapi karena buru-buru ya gue yang disuruh balikin." Aire heran. Kenapa sih yang namanya Pak Sean Abraham yang terhormat ini kok mau-maunya merepotkan diri di saat sebenarnya ada agenda lain menunggu? Jadinya pasti tidak akan serikuh ini kalau yang mengurus Aire dari tadi adalah orang lain. "Ra?" "Kenapa lagi?" sahut Aire bosan. Tak! "Yeu songong!" Arjuna menjitak kepalanya lagi. "Badan lo udah fit belum?" Aire menggerakkan bahunya sejenak, merasakan tubuhnya yang sudah baik-baik saja. Dia mengangguk. "Udah kok." "Bagus." Arjuna melirik jam tangan di pergelangannya. "Jam 2 nanti lo ikut gue." "Kemana?" "Ninjau lapangan di Depok." Ah iya, divisi mereka sedang ada proyek pembangunan di Depok. Tim arsitektur sudah membuat rancangan bangunannya. Sudah konsultasi juga untuk urusan bahan bangunan dan lain sebagainya. Aire di tim lanskap juga sudah membuat rancangan untuk taman terbuka hijau. Rencananya, besok dia akan survei tanaman bersama Seila. Tapi karena Seila cuti mendadak, mungkin Aire akan pergi sendiri. "Lo udah makan bubur yang dibeliin Pak Sean kan?" Aire mengangguk oleh pertanyaan itu. Melenguh. Sean lagi Sean lagi. Kenapa nama itu bergentayangan dimana-mana hari ini? Kan dia jadi terngiang-ngiang aroma parfum Sean yang entah kenapa memorable. Ditambah aroma aftershave-nya yang bikin candu. Arjuna mengangguk sebelum beranjak. "Bagus. Gue ngga mau ditanya-tanyain lagi." Meninggalkan Aire yang lagi-lagi disergap bingung. Ya ampun, kenapa otaknya lemot sekali hari ini? Sepertinya ini karena dia belum minum s**u. *** "Harus banget ya lo nyuruh gue minggir cuma buat beli gituan?" Arjuna menatap Aire dengan aneh. Yang disindir hanya mengangguk usai menusukkan sedotan ke kemasan kotak yang dibelinya. Dengan takzim Aire menyesap minumannya yang dipandangi Arjuna dengan aneh. Omong-omong, 'gituan' yang dimaksud Arjuna adalah sekotak s**u rasa pisang yang 5 menit lalu menjadi sebab Aire menepuk bahunya dan berseru, 'Mampir ke minimarket bentar, urgent!' Aire yakin kalau lemotnya otak dia hari ini adalah karena belum minum s**u. Makanya dia berani menyuruh Arjuna yang notabene atasannya itu untuk berhenti. Masih aneh melihat Aire sebahagia itu minum s**u, Arjuna kembali melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan minimarket berlogo merah. Tidak ada yang bicara. Arjuna lebih memilih bernyanyi sendirian mengikuti musik yang disetel di radio. Jadi Aire memutuskan untuk melihat pemandangan di luar, yang isinya adalah jajaran mobil yang terjebak macet. Setengah jam kemudian mereka tiba di lokasi. Hamparan tanah seluas hampir 2 hektar yang masih belum diapa-apakan. Tanah itu masih ditumbuhi rumput tinggi dan ilalang. Begitu Aire turun dari mobil, ia menyadari bahwa ada mobil lain yang sudah tiba lebih dulu. Penumpang Alphard hitam di depan itu berdiri memunggungi, menatap hamparan lahan kosong di depan sana bersama orang lain yang sedang menjelaskan sesuatu. Arjuna melangkah mendahului Aire, menghampiri 2 orang laki-laki di depan sana dan mereka berjabat tangan. Saat Aire juga hendak ikut berjabat tangan, batinnya yang tidak suci-suci amat itu kembali mengeluh. Tanpa melepas kacamata hitamnya pun Aire sekarang tau siapa orang yang barusan berjabat tangan dengan Arjuna. Bapak Sean Abraham yang terhormat, bersama asisten pribadinya yang tampangnya tidak kalah mengintimidasi. Jantung Aire serasa melengos waktu Sean menjabat tangannya dengan tangan laki-laki itu yang lebih lebar, hangat, dan kuat. Jabatan tangan Sean terasa seperti mencengkeramnya, meski ada kesan lembut seolah tidak mau tangan Aire remuk. Sialnya, Sean tetap menahan jabat tangan mereka saat Aire hendak melerai. Laki-laki tinggi itu melepas kacamatanya dengan tangan kiri, dan kembali menatap Aire lekat. Obsidiannya dingin dan menghanyutkan. Aire pikir dia tenggelam. Yang jelas, apapun maksud Sean yang menahan agar tangan mereka tetap berjabat, itu berhasil membuat Aire merasa terintimidasi sedemikian rupa. "Saya harap kamu ngga pingsan lagi disini dan ngga perlu bikin semua jadi repot," ujarnya tanpa tedeng aling-aling. Aire malah ingin pingsan saja lagi. *** []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD