14

1321 Words
"Lo diapain Pak Sean?" "Hah?" "Atau lo habis ngapain sampai beliau marah?" Aire menggeleng murung. Dia mencuci tangannya dengan asal. Tidak peduli Bila masih menunggu jawaban. Omong-omong, mereka ada di toilet. Sudah dipastikan hanya ada mereka berdua disana. Tadi, begitu melihat Aire mengintilinya dengan wajah hampir menangis, Bila langsung inisiatif mengajak tetangga kubikelnya itu untuk ke toilet dulu. Bicara soal Sean, Aire bersumpah kalau dia akan menjauhi laki-laki itu, tidak peduli siapa dia. Bukan sekedar wacana lagi seperti hari kemarin. Laki-laki itu berbahaya. Apalagi Sean itu... sudah mencuri ciuman pertamanya dengan sangat tidak sopan. Omong kosong soal hadiah buat Sean. Sudah hangus! "Bil, nanti kita tetap berangkat bareng ya," pinta Aire pelan. "Yakin? Lo ngga takut dimarahin lagi sama Pak Sean?" Aire menggeleng. Lebih menakutkan kalau malah pergi dengan laki-laki itu. "Ya udah, habis ini ke kantin bentar yuk. Gue pengen kopi." Sekali lagi, Aire hanya mengangguki ajakan Bila karena ia belum siap kembali ke kubikelnya. Dia... takut. Dan pada saat seperti ini, segelas besar milkshake akan membuatnya lebih tenang. *** Dan benar saja. Tiba di kubikel, Aire menerima pandangan aneh dari sebagian rekan kerjanya. Sebagian yang lain lirik-lirik kepo. Aire putuskan untuk tidak jauh-jauh dari Bila karena hanya dia yang tidak memberikan pandangan penuh penghakiman. Berada di kubikelnya, Aire duduk dengan agak bersembunyi. Entahlah, rasanya ingin menenggelamkan diri saja. Dia tidak mau dipandangi seperti itu lagi gara-gara Sean. Tapi... "Lo berangkat kantor dianter Pak Sean ya?" Rumi bertanya usai mendekatkan kursi berkaki rodanya ke kubikel Aire. Yang ditanya menoleh kaku. "Kesimpulan darimana?" "Tadi Pak Sean nyari lo," jawabnya, kemudian menatap bibir Aire dengan seksama. Membuat yang ditatap makin risih. "Katanya mau balikin lip cream punya lo, jatuh di mobilnya." Duh! Kenapa perkara lip cream jatuh di mobil saja kesannya jadi gimana gitu ya? Aire mengeluh dalam hati. Padahal tadi, habis dari tempat bubur itu Sean isi bensin dulu. Dia turun, dan Aire tetap di mobil. Dia pakai kesempatan itu buat memoles ulang lip cream-nya. Tapi kemudian Sean selesai lebih cepat dan karena Aire tidak mau tertangkap basah sedang 'memperindah' bibirnya, dia segera memasukkan benda mungil itu. Yang ternyata jatuh. Padahal sungguh, Aire tidak berniat menggoda Sean atau apapun. Dia hanya merasa bibirnya kurang terhidrasi saja. Sekarang, Aire merutuk. Kenapa tidak dia lakukan begitu tiba di kantor saja sih?! Lagipula, harus banget ya Sean memberi jawaban sejujur dan segamblang itu? Aire yang kena getahnya kan. Cewek itu mengangguk pelan. "Kayaknya jatuh waktu tadi aku buka tas," jawabnya. Rumi mengangguk-angguk layaknya percaya dengan jawaban Aire. Tapi ekspresinya menunjukkan yang sebaliknya. Tersenyum menyebalkan. Dan kembali ke kubikelnya usai berbisik, "Hati-hati. Banyak yang naksir Pak Sean disini." Soal itu, Aire juga pernah mendengar gosipnya dari Ina waktu di klinik. Banyak sekali staf cewek yang diam-diam mengidolakan Sean Abraham. Siapa pula yang tidak kagum? Sean itu gantengnya kelewatan, mirip campuran Inggris-Korea meski tidak ada yang tau pasti dia dapat gen sebagus itu dari mana. Tubuhnya juga tinggi tegap, impian kaum Adam dan kaum Hawa sekaligus. Pembawaannya dingin. Tatapannya dalam dan menghanyutkan. Pintar jangan ditanya. Dia bahkan termasuk muda untuk menjadi direktur. Meski Aire tidak yakin berapa usia Sean. Makanya Aire sebisa mungkin menghindari Sean meski tampaknya Sean malah terkesan membawa-bawa Aire dalam segala urusannya. Mengingat kalau Sean akan turun langsung dalam proyek kali ini, Aire mengeluh. Ayolah, ini bahkan baru hari ke-tiga Aire mengenal Sean. Itu berarti, masih ada banyak hari yang akan dilalui lagi dengan sering bertemu laki-laki itu. "Re, ngga usah dipikirin ya omongan Rumi." Bila mengingatkan dan, tentu saja... Mana bisa?! Aire sudah terlanjur takut duluan. Takut gosip dan takut Sean. Pokoknya simalakama. Maju kena, mundur kena. Apalagi makin kesini, Sean terkesan makin berani. Dan Aire sama sekali tidak mengerti dengan maksud Sean. *** "Mbaaak, cepet sembuh dong." Aire merengek begitu di kamar inap Seila hanya tinggal mereka berdua. Yang lain sedang mengunjungi kamar inap Angga. Seila tertawa, wajah Aire betulan murung dan entah kenapa jadi lucu. "Emang ada masalah sama kerjaan?" Seila langsung tau maksudnya. Aire mengangguk. "Aku kan gantiin Mbak Seila sama Mas Angga. Tapi bukan masalah gantiin kalian yang bikin takut." "Terus apa?" "Masa aku disuruh ngintilin Pak Sean, mbak?" Aire sedang dalam mode mengadu. Habisnya mau cerita ke siapa? Yang dicurhati malah mengernyit heran. Sebagai karyawan senior, Seila tentu tau Sean itu siapa. Direktur di perusahaan mereka. Orangnya dingin dan agak s***s mulutnya. Tapi fair. Kalau soal pekerjaan, profesionalitas dia nomor satu. Seila saja kagum dengan cara kerja Sean kok. Tapi ada yang aneh... "Kenapa kamu ngintilin Pak Sean? Beliau masih di kantor sini?" Aire mengangguk dengan berat hati. "Di rapat kemarin itu Pak Sean bilang kalau bakal turun langsung di proyek ini." Ah iya, Seila paham. Proyek ini jelas penting untuk Sean karena 'katanya' ini permintaan rekan laki-laki itu. "Terus kenapa kalau ngintilin Pak Sean? Orangnya baik kok, Re. Ngga segan ngajak karyawannya makan bareng." "Tapi nakutin, mbak." "Dikit aja kok." Seila tertawa. Dia mengecilkan volume televisi yang masih menyala dan memperhatikan wajah kusut Aire. Apapun itu yang dimaksud Seila, tidak sama maksudnya dengan Aire. "Emang kemarin ikut Pak Sean kemana aja?" Sesaat Aire ragu. Dia ikut Sean? Yang ada Sean yang sebenarnya ikut Aire survei. Tapi Sean yang menentukan mereka akan survei kemana. Jadi, bagaimana? "Kemarin survei tanaman ke Bogor. Padahal aku minta yang di Jakarta aja biar ngga jauh." "Terus?" "Terus katanya Pak Sean lagi pengen jalan, mbak. Aneh kan? Kayak ngga ada kerjaan." Seila mengangguk-angguk. Tangan kirinya yang diinjeksi jarum infus mengusap perutnya lembut. Kandungannya memasuki trimester ketiga dan ia mulai merasa begah. Tapi hal-hal seperti itu tidak mempengaruhinya saat bekerja. Kemarin itu tiba-tiba mulas dan sempat pendarahan. Makanya Seila ambil cuti. Sambil mendengarkan Aire, Seila bergumam, "Beliau ulang tahun kemarin." Aire membelalak, tidak menyangka. "Mbak juga tau?" Yang diangguki Seila dengan wajah serius. "Kebetulan aku tau." "Tapi, mbak. Emangnya umur Pak Sean berapa sih?" "Sampai hari ini, usia beliau genap 39 tahun." Lumayan juga. Maksudnya, lumayan jauh juga dengan Aire yang masih 23 tahun. Eh? Cewek itu kemudian mengerjap setelah sadar bahwa benaknya membandingkan umur mereka yang beda jauh. Buat apa coba? Tapi kalau dipikir-pikir, beda umur yang jauh begini kok bikin greget ya? Soalnya meski sudah mau 40 tahun, Sean masih seperti baru 30 tahun. Kalau perempuan dibilang sedang ranum-ranumnya berbunga, Sean yang laki-laki seperti sedang siap-siapnya membuahi. Sedang matang-matangnya jadi pejantan. Eh? Aire menggeleng, mengusir pemikiran barbarnya. "Terus kemarin cuma survei tanaman aja?" "Sama makan." "Dimana?" Ini kenapa Seila bertanya hal tidak penting sih? Tapi Aire menjawab, "Puncak, mbak." "Berduaan aja kemarin?" Kenapa pertanyaan Seila membuat Aire malu? Padahal hanya pertanyaan sederhana. Tapi ya itu, kesannya kemarin dia dengan Sean yang survei sampai Bogor itu hampir seperti kencan. Hujan-hujan, dingin, saling merapat di bawah payung, makan siang yang sialnya romantis di Puncak. Apalagi itu kalau bukan terkesan seperti kencan? Aire baru sadar kalau kemarin itu tidak seperti direktur dengan karyawannya. Dengan berat hati, dianggukinya pertanyaan Seila. Seila mengangguk-angguk tanpa memberi Aire penjelasan tentang apa yang dipikirkan ibu hamil itu. Aire kemudian teringat kalau kemarin Sean bilang ingin tau lebih banyak tentang Aire. Mungkinkah itu berlaku sebaliknya? Soalnya ada yang ingin Aire tanyakan soal Sean. "Mbak, mau tanya." "Tanya aja, cantik. Biasanya juga langsung tanya kok." Aire tersenyum canggung. "Faro Abraham itu siapanya Pak Sean ya, mbak?" Bukannya menjawab, malah balik bertanya, "Pak Sean ngasih tau?" Aire mengangguk, kemudian menggeleng. Bingung. "Saudara kembarnya yang udah meninggal ya, mbak? Eh iya, aku sambil kupasin jeruk buat mbak ya." "Hm, ya, mungkin." Seila hanya mengamati pergerakan tangan Aire yang sedang mengupas jeruk saat benaknya mungkin memiliki kesimpulan. "Tapi sekalipun aku sama Angga udah ngantor, kayaknya Pak Sean ngga bakal ganti orang lagi deh." "Loh?! Kenapa, mbak?" Terkejut campur syok. Aire tidak ikhlas dengarnya. Jadi apa dia kalau semakin sering menghabiskan waktu bersama Sean?! "Soalnya... mbak pikir Pak Sean udah nyaman sama kamu." Apanya nyaman kalau Sean sering memandangi bibirnya dengan tatapan sayu dan napas berat?! Alih-alih nyaman, Sean lebih terlihat seperti predator. Iya, predator yang sudah menemukan mangsa dan sudah menandai targetnya. *** []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD