15

1103 Words
"Mas Angga kapan sembuh sih?!" Sepertinya tujuan Aire datang menjenguk adalah untuk protes kenapa Angga dan Seila sakitnya bersamaan. Angga terkekeh di kasurnya. Secara keseluruhan, dia terlihat baik-baik saja. Katanya juga bakal pulang dari rumah sakit siang ini. Kemudian, pemuda yang diprotesi Aire itu cengengesan. "Kangen banget ya sama gue?" "Ngga gitu." Aire sewot. Tapi karena ini Angga, dia tentu saja tidak akan sembarang curhat soal Sean. "Tapi aku jadi ngerangkap kerjaan Mas Angga juga." Angga lagi-lagi terkekeh santai, seperti orang yang tidak pernah kena vertigo. "Kan enak, bisa dapet bonus. Kalo bagus, bisa promo buat naik jabatan." Sayangnya, Aire tidak terlalu berambisi terhadap karir. Yang penting ada kerja dan gajinya di atas UMR Jakarta, maka sudah cukup. Sehingga dia bisa punya tabungan. "Terus bawaan buat gue mana?" tagihnya. "Nih." Aire menyerahkan sebuah kotak yang membuat Angga senang. Sekotak soft cookies jumbo yang akhir-akhir digandrunginya. "Ngga bawain kopi sekalian?" "Tuh kan, Mas Angga! Habis vertigo mintanya malah kafein!" Selagi Aire mengomel, Angga sudah menikmati kue favoritnya itu. Dia membiarkan Aire menunggu sambil mengupas buah yang kemudian dia makan sendiri. Angga mengamati sejenak Aire yang hari bernampilan semi-formal seperti biasa. Kemeja, rok span, dan sepatu kets. Aire memang cantik, tapi penampilannya itu lagi-itu lagi. "Lo kesini sama siapa?" "Bila." "Tapi tadi Bila keluar bareng yang lain." "Ngga apa-apa, paling mau nyari makan dulu di sekitar sini." "Terus kerjaan gue gimana lo handle? Aman ngga?" "Baru juga mulai kemarin aku jalan, Mas. Masih oke lah." "Good." Angga mengangguk-angguk. Melahap kuenya lagi. Lantas karena bosan, Aire pamit karena habis ini dia bakal langsung ke lahan proyek. Dia kembali sebentar ke kamar Seila untuk mengambil tas dan jaket. Bersenandung ceria karena merasa lebih baik. Begitu membuka pintu kamar Seila, yang dia lihat pertama kali adalah Sean Abraham. Sedang berbicara serius dengan Seila saat dia menoleh dan mendapati senyum di wajah Aire lenyap. "Sudah selesai acara jenguk-jenguknya kan?" tanya Sean. "Sekarang ikut saya." Huh! Dikiranya Aire lupa dengan kejadian di depan lift pagi tadi? Dikiranya Aire lupa bahwa sebenarnya Sean sudah mencuri ciuman pertama Aire dengan tidak sopan? Tanpa menjawab, Aire raih barang-barangnya di meja dan berujar pada Seila, "Mbak Seila, aku pamit dulu ya. Bila udah nunggu." Menyindir. Memperjelas kalau Aire akan ikut Bila dan tidak mempedulikan Sean. Dia kemudian hengkang dari kamar inap itu. *** "Ngambek." Adalah kata pertama yang dilontarkan Seila begitu Aire pergi. Sean mengendikkan bahu, tidak ambil pusing. "Kemarin ada apa aja kok Aire sampai kayak gitu, Pak?" "Bukan kemarin," jawab Sean. "Lebih tepatnya hari ini." Seila menunggu kelanjutan kalimat Sean. Yang tentu saja datang kesini bukan untuk menjenguknya semata. You know lah, untuk 'menjemput' Aire yang rupanya sedang marah pada laki-laki itu. Tau bahwa Seila menunggu, Sean mengendikkan dagu, "Nanti juga kalau kamu balik ngantor bakal denger gosipnya." Ah, gosip. "Itu pun kalau memang ada." Sean malas memberi tau. Cuek-cuek begitu, Sean juga tau gosip apa yang sedang terjadi di balik punggungnya. Leon, Seila, atau bahkan Arjuna kadang melaporkannya tanpa diminta. Dan karena gosip yang sudah-sudah itu, Sean sudah bisa menduga ke depannya akan ada gosip macam apa. Tidak, dia sama sekali tidak terbebani. Sean juga mengerti... kenapa Aire mengacuhkannya. Makanya dia tidak ambil pusing. Mengesalkan memang. Usai berbicara sejenak dengan Seila, Sean keluar dari sana. Langkahnya pasti menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Begitu melewati parkiran motor, Sean hentikan mobilnya tidak jauh dari sana. Jendela dia buka dan Sean menatap langsung ke kumpulan pegawainya yang sedang cekikikan. Khas perempuan sekali. Dia lihat Aire ada di antara mereka, sedang tertawa sambil memasang helm. Oh, jadi Aire bisa tertawa seperti itu juga. Cila yang ada disana kemudian menemukan Sean yang sedang menatap mereka tajam dari bangku kemudi. Dia lantas menyikut teman-temannya agar diam dan menunjuk Sean dengan sungkan. Sean memberi isyarat gerakan kecil lewat tangannya. Memanggil entah siapa. Tapi yang jelas, mereka dengan kompak langsung mendorong Aire untuk maju. Biar, biar Aire yang memenuhi panggilan Sean Abraham itu. Yang orangnya berjalan pelan menghampiri, dengan wajah cemberut dan helm di kepala. Anak siapa sih lucu begitu? Ingin Sean datangi orang tuanya biar bisa dibawa kemana-mana. Aire tiba di jendela dekat Sean, menjaga jarak. "Ada apa, Pak?" Agak tidak ikhlas waktu bertanya. Dia sudah tau bahwasannya Sean bakal bilang, "Kamu ikut saya." "Kok saya?" "Saya nunjuknya kamu." Aire menahan geramannya di bawah terik matahari yang membuatnya mulai berkeringat. "Tapi kenapa saya terus sih, Pak? Yang lain dan lebih senior ada loh, mereka jelas lebih peofesional buat ikut Bapak kemana-mana." "Saya ngga butuh yang profesional." "Pak--" "Saya ngga suka dibantah." Aire kiceup. Kesal. Sean kenapa sih? Berbicara seperti ini saja harus sampai berurat. Arogan sekali sampai menyuarakan ketidak sukaannya akan bantahan saja sampai tidak menatap lawan bicara. "Masuk mobil, Aire." "Eh-" Aire melirik teman-temannya yang sedang menunggu sambil menatap penasaran. Kasihan mereka, pasti kepanasan. "Saya balikin helm dulu." Dan cewek itu langsung melipir pergi. Tidak menoleh lagi pada Sean yang menunggu. Ketika yang lain bertanya ada apa, Aire menjawab, "Ngga ada apa-apa. Yuk berangkat." Aire... dengan kurang ajarnya meninggalkan Sean yang menunggu di mobil. *** Sean memiliki saat-saat buruk yang dapat membuat harinya berantakan. Setelah tadi pagi Aire meninggalkannya di lift, siang ini Aire juga kembali berulah setelah bilang dia akan mengembalikan helm. Tapi 2 hal itu adalah hal yang berbeda. Pagi tadi, Sean bisa memaklumi. Tapi siang ini? Alih-alih mengembalikan helm, Aire justru ngeluyur pergi di boncengan motor Bila. Dari gesturnya, Sean tau kalau Aire berusaha sebisa mungkin tidak melihat ke arah Sean waktu motor meninggalkan area parkir. Tidak peduli beberapa dari mereka sempat membunyikan klakson motor untuk menyapa Sean. Yang rahangnya mengetat karena amarah. Harusnya dia paksa saja Aire biar langsung masuk mobilnya. Kalau sudah begini, Sean merasa bodoh. Karena Aire berhasil membodohinya. Cengkeramannya pada roda kemudi mengerat, seolah dia sedang bersiap menghajar sesuatu. Amarah di ubun-ubun membuat wajahnya memerah. Sean mengumpat. Dengan kasar, dia melajukan mobil. Tujuannya tentu saja lahan proyek dimana semula Aire akan kesana bersama yang lain. Dan sekali lagi, Sean tidak mendapati apa-apa disana. Aire tidak ada. Yang ada hanya beberapa arsitek dari kantor yang sedang mengawasi saat buldozer mulai meratakan tanah. Salah seorang karyawan yang mengenali mobil Sean, mendekat, bertanya, "Pak Sean cari siapa?" Sebab dia melihat tatapan tajam memindai dari Sean. Seperti mencari seseorang. Yang dijawab, "Aire Senjakala. Dia kesini?" "Oh- iya, tadi kesini buat ketemu Pak Arjuna. Tapi cuma sebentar habis itu pergi buru-buru sama Bila, Pak." "Kemana?" "Balik kantor, Pak." "Oke." Sean mengangguk tanpa banyak bicara lagi. Pegawai itu kembali ke tempatnya semula, di dekat mandor dan kembali mengawasi. Di tempatnya, Sean menutup kembali jendela dengan rahang mengeras. Emosinya meradang. Brak!! Sean memukul setir dengan emosi. Oh well, sepertinya ada yang berani mempermainkan Sean disini. *** []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD