12

1084 Words
"Saya ngga tau mau menghabiskan hari ini dengan siapa. Tapi terima kasih kamu sudah jadi hadiah saya hari ini." Kalimat Sean beberapa waktu lalu masih terngiang-ngiang di benak Aire. Biasanya seseorang menghabiskan hari ulang tahunnya dengan keluarga atau sahabat atau yang terkasih. Tapi Sean bahkan tidak tau harus melaluinya dengan siapa. Memangnya dia sebatang kara disini? Dimana keluarganya? Terus Faro itu betulan saudara kembarnya kah? Oh, sekarang Aire merasa dia punya banyak pertanyaan tentang Sean Abraham. Tapi sekalipun itu yang dia rasakan, Aire tetap tidak termotivasi untuk bertemu Sean lagi. Terlalu berisiko. Tidak mau memikirkan Sean lebih jauh lagi, Aire yang sudah tiba di kost-nya segera rebahan di kasur. Dia juga baru selesai mandi. Sedang sangat fresh untuk lanjut tidur. Dia meraih ponsel dan mengecek notifikasi. Penasaran dengan isi group chat-nya yang sempat dia tinggalkan karena tertidur. Oke, berarti rencananya besok dengan teman tim jadi. Besok mereka bakal menjenguk Seila dan Angga berhubung keduanya dirawat di rumah sakit yang sama. Tenang kok, mereka tidak korupsi waktu di jam kerja. Soalnya, ini Arjuna sendiri yang mengusulkan. Berhubung hari ini mulai penggarapan lahan dan tim harus terjun lapangan untuk meninjau proses awal, mereka bakal langsung ke rumah sakit menjelang jam makan siang. Aire sudah sibuk scrolling i********:, mencari online shop yang menjual hampers untuk bawaan besok. *** Hari Rabu pagi. Begitu keluar dari areal kost khusus perempuan itu, langkah Aire sudah dihadang Sean. Laki-laki tinggi itu bersedekap, menatap Aire dengan pandangan memindai. Sejenak bergumam, cantik, yang membuat Aire salah tingkah. Ya ampun! Aire ini kenapa sih?! Padahal Sean bukan laki-laki pertama yang menyebutnya cantik. Jadi harusnya dia tidak perlu merasa malu. Biasa saja dong, Aire! "Bapak kok pagi-pagi udah nongkrong disini?" Aire bertanya basa-basi, meskipun dia bisa menebak maksud kemunculan laki-laki itu. Daripada fokus ke saltingnya kan? "Sarapan dekat sini ya, Pak?" Membuat Sean mendengus dengar kata nongkrong. Memangnya dia terlihat seperti pengangguran? Dia bahkan meluangkan waktunya datang kesini untuk menjemput Aire. "Kamu berangkat bareng saya." "Saya naik busway, Pak." "Masih untung saya jemput." Kalimat 'saya kan ngga minta dijemput' sudah di ujung lidah, tapi Aire telan kembali begitu wajah Sean tampak cemberut. Eh? Ngambek si Bapak? "Saya belum sarapan," ujar Sean. "Loh kenapa belum, Pak?" Sean lagi-lagi berdesis. Bisa ya, Aire tidak peka? Tidak menjawab, dia menggiring cewek itu masuk ke mobilnya. Yang digiring menurut saja dengan lugunya. "Kalau saya sudah sarapan, Pak." Aire melanjutkan seolah tidak memperhatikan wajah bete laki-laki itu. Padahal tidak sepatutnya Sean cemberut padahal hari masih pagi. Sebagai direktur yang punya image bagus, harusnya dia memberi contoh yang positif pada pegawainya. Sean masih diam. Dia melajukan mobil ke jalan raya, terus menuju area kampus Trisakti untuk mencari sarapan. Laki-laki itu kemudian menghentikan mobil di depan gerobak yang jual nasi liwet khas Solo. "Pak, tau ngga?" "Ngga." Sabar, Aire. Kadang Sean memang jutek seperti betina lagi datang bulan. "Saya pikir orang-orang kaya macam Bapak sarapannya ngga pake nasi." "Emang ngga." Sean menjawab pendek sambil melepas sabuk pengamannya. Sesaat sebelum turun, dia melanjutkan, "Tapi saya lagi pengen makan nasi." Aire juga buru-buru ikut turun, menyusul Sean yang sekarang malah meninggalkannya. "Pak, apa ini masih dalam rangka merayakan hari ulang tahun Bapak?" "Hm." Aire mengangguk-angguk. Jalannya agak susah payah karena memakai rok span, lagi. Sudah begitu harus menyusul langkah Sean yang lebar mentang-mentang kakinya panjang. Sebenarnya tidak ada yang menyuruh Aire menyusul laki-laki itu, tapi dia takut kena semprot. Kalau Sean sih enak, kan pakainya celana. Usai memesan seporsi nasi liwet, Sean beranjak duduk di bangku paling bersih dan menatap Aire tajam. "Kamu belum ngucapin apa-apa buat saya." Oh iya, benar juga. Kenapa kemarin tidak mengucapkan selamat? Kadang reflek Aire memang perlu dipertanyakan. Contohnya untuk hal seperti ini. Sampai lupa memberi ucapan selamat saking leganya keluar dari areal pemakaman. "Selamat ulang tahun ya, Pak." "Yang ikhlas kalau ngucapin." Aire paksakan seulas senyum lebar yang semoga terlihat ikhlas. "Pak Sean Abraham yang baik, selamat ulang tahun. Semoga panjang umur dan sehat sentosa. Kalau pun sakit semoga bukan yang parah-parah amat." Sean mendelik. Tidak peduli, Aire lanjutkan, "Semoga rejekinya lancar jaya biar pegawai kayak saya bisa naik gaji. Terus-" "Udah, cukup." Aire malah bertanya, "Bapak udah punya jodoh belum?" "Ngapain tanya-tanya?" "Biar saya doakan sekalian, mumpung ikhlas." Sean mendengus. Aire lanjut. "Kalau belum punya jodoh, semoga segera dipertemukan. Kalau udah punya jodoh, semoga awet sampai selamanya. Kalaupun mau bertengkar, jangan yang gawat-gawat amat. Biar awet, langgeng." Sean mendelik lagi terhadap doa yang seharusnya terkesan realistis itu. Tapi, tetap diaminkannya dalam hati. Doanya baik sih, tapi kok agak ngadi-ngadi ya? "Amin." Aire tersenyum cerah. "Ucapan saya udah ikhlas kan, Pak?" "Mana saya tau, saya bukan Tuhan. Ikhlas atau tidak kan perkara hati manusia sama Tuhan." Aire menghela napas. Sabar. Meski ingin nge-gas, terus buat apa tadi disuruh mengucapkan dengan ikhlas? "Terus sekarang mana hadiah saya?" Laki-laki itu menodong dengan wajah bak rentenir kelas kakap, membuat Aire bingung. "Masa hadiah juga, Pak? Kan kemarin udah saya temenin jalan." "Terus kamu ngga mau kasih saya hadiah? Kenapa? Gaji kamu ngga cukup?" Aire sontak menggeleng. "Ngga, Pak. Ngga cukup." Sean menjitak kepala Aire. Waw. Selain suka usap-usap manja, bisa main kasar juga ternyata. "Dasar boros! Gaji 10 juta itu kamu pakai buat apa aja?!" "Yaaa... buat hidup lah, Pak." Lagipula ya, buat apa Sean Abraham tanya-tanya kemana gaji karyawannya mengalir? Itu kan urusan pribadi! Tapi pikiran Aire sudah teralihkan melihat adanya kesempatan untuk bertanya, "Saya mau ditawarin naik gaji ya, Pak?" "Ngga usah berkhayal." Yeu! "Omong-omong, gaji 10 juta buat karyawan yang belum punya pengalaman lebih dari 5 tahun kayak kamu itu masih terlalu besar." Aire melirik Sean curiga. "Maksud Bapak?" "Kayaknya gaji kamu perlu diturunin-" "Astaga, Pak!" Aire nge-gas, mendelik. Yakali turun gaji padahal kerjanya bagus?! Perusahaan tidak pailit. "Ngga boleh gitu. Nanti matanya bintitan!" Sean memutar mata malas. "Jangan diturunin gaji saya. Awas aja kalau betulan, nanti saya bakal bikin petisi dan seluruh netizen Indonesia bakal bersatu untuk membela saya. Reputasi Bapak pasti langsung anjlok atas ketidak adilan ini." "Drama," cibir Sean. "Beneran, Pak. Ya udah deh, saya usahain ada hadiah. Tapi ngga janji. Jadi jangan ditungguin. Pokoknya ntar saya nabung dulu." "Kalo gaji kamu ngga cukup, saya bilangkan ke HRD buat nahan gaji kamu biar bisa beli hadiah." Eh- kok jadi bawa-bawa urusan pribadi ke pekerjaan? Aire langsung manyun, merengut kesal. "Pak, kalau mau hadiah ya tinggal minta ke orang rumah Bapak juga kan beres. Atau orang tua pasti ngasih lah." "Ngga ada siapa-siapa di rumah saya," jawabnya tanpa ekspresi. "Dan orang tua saya udah ngga ada." Rahang Sean yang mengatup rapat membuat Aire terdiam. *** []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD