11

1525 Words
Gara-gara Sean bilang 'ingin mengenal Aire lebih jauh', mereka baru bisa meninggalkan kafe saat menjelang sore. Sepertinya Sean betah disana sebab hujan masih setia turun. Betul memang kata orang, Bogor yang hujan, Jakarta yang banjir. Tapi Aire lihat di berita kalau akhir-akhir bukan Jakarta saja yang kerap kena banjir. Bogor saja bisa kena banjir. Kemudian, usai saling melempar pertanyaan untuk mengenal satu sama lain -sebenarnya Sean yang lebih banyak bertanya, laki-laki itu akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan. Sayang sekali. Padahal kalau tidak hujan, inginnya Sean ajak Aire jalan-jalan di kebun teh saat sore begini. Sudah dikata, Sean sedang ingin jalan. Tidak langsung turun. Sean masih membawa mobilnya ke daerah yang lebih atas. Dimana pemandangan hijau dan kabut makin menyenangkan dilihat. "Mau nginep?" Sean menawarkan. "Ada vila keluarga saya dekat sini." Aire menoleh kaku. Yakali nginap? Bersama Sean?! Itu bahaya. Apalagi dia tidak bawa baju ganti. Dengan Sean yang berani memporak porandakan lip cream di bibir Aire, dengan Sean yang selalu memandangnya intens bak Aire adalah pusatnya, Aire ngeri membayangkan kemungkinan itu. Mana suasana sedang mendukung untuk bertindak yang iya-iya. Cewek itu menggeleng kaku. "Terima kasih tawarannya, Pak. Tapi saya lebih baik pulang." Yang Sean angguki. "Ngga masalah," gumamnya. Omong-omong soal Sean yang sempat mengapa-apakannya, kenapa sekarang Aire tidak marah lagi?! Tidak mungkin ini karena perutnya berhasil disogok kan?! Tapi tetap, bagian waras dari dirinya masih berpikir kalau sebaiknya dia jaga jarak dengan Sean. Laki-laki ini sepertinya berbahaya. Sekarang, mobil sudah putar balik dan jalanan yang dilalui mulai turun. Kali ini Aire bertekad tidak akan tidur karena, ya ampun, siapa yang tidak trauma sih gara-gara kejadian tadi? *** Sean heran kenapa Aire semudah itu jatuh tertidur. Mereka bahkan belum sampai Jakarta, baru melewati Cibinong, tapi tidurnya sudah pulas sekali. Terakhir Sean melirik Aire, cewek itu masih sibuk dengan ponsel. Waktu Sean sindir karena laki-laki itu terlihat seperti supir, Aire dengan cueknya berkilah kalau itu urusan pekerjaan. Ada chat seru di timnya. Baiklah, Sean pikir Aire cuma berkilah biar tidak tidur karena tidak mau diapa-apakan lagi olehnya. Tidak taunya, ya begitu. Pulas sekali. Mentang-mentang sudah kenyang. Cewek itu bergelung dengan kehangatan jas Sean. Sebab sekarang Sean kembali bertanya-tanya. Bagaimana kalau Aire memakai kemeja Sean yang tentunya kebesaran di tubuh cewek itu? Bayangan Sean seperti ini : dia sedang melihat Aire di dalam rumahnya. Menginap di kediaman Sean. Hanya mengenakan kemeja putih Sean yang menutupi sampai pertengahan paha. Aire bertelanjang kaki alias tidak memakai sandal rumah. Rambutnya yang halus itu digerai berantakan. Dan menatap Sean dengan mata kucingnya yang cantik. Sean mengumpat dalam hati. Bayangan seperti itu malah membuatnya kacau. Dicengkeramnya kemudi dengan erat sampai urat tangannya menonjol. Dia... harus menahan. Tidak peduli bahwa situasi saat ini amat menguntungkannya. Mereka jauh dari rumah. Ada di sebuah jalanan antar kota yang sedang agak sepi karena hujan. Sekali Sean parkirkan mobilnya di balik pepohonan, tidak ada yang tau apa yang ia perbuat pada pegawai yang sejak kemarin memenuhi pikirannya itu. Iya, mereka bahkan baru bertemu kemarin. Tapi sesuatu dalam diri Sean sudah bergolak seliar itu. Fokus, Sean! Menambah kecepatan, Sean mengemudi lurus sampai hujan tidak lagi mengenai. Mobil mewah itu kemudian memasuki areal pemakaman yang cukup sepi. Diparkirnya mobil di tepi jalan utama, menarik rem tangan, dan melepas sabuk pengaman tanpa mematikan mesin mobil. Karena Aire tidur, dia berencana meninggalkan cewek itu di mobil selagi dia turun. Tapi pada saat itu, Aire justru menggeliat. Bangun dan membuka mata. Bingung mengamati sekitar. Tidak lama kemudian langsung syok. "Kita... kenapa di kuburan, Pak?" "Saya mau berkunjung." Sean menjawab singkat. Dia meraih buket mawar putih di belakang. "Kamu disini aja kalau masih ngantuk." Aire menggeleng. Dia ikut melepas sabuk pengaman, berniat ikut turun meski matanya bahkan masih sembab karena baru bangun. "Masa saya di mobil? Saya ikut. Janji ngga ganggu kok, Pak." Sean sih terserah. Dia mematikan mesin mobil dan turun diikuti Aire. Langkah kaki panjangnya membawa mereka ke salah satu makam terawat dengan rumput di sekelilingnya yang terpotong rapi. Aire tidak mengira bahwa makam yang agak jauh dari jalan utama itu bisa sedemikian rapi dan terawat. Aire menghentikan langkah saat Sean berhenti di depan makam itu dan meletakkan mawar putihnya. Oh, jadi untuk itu. Aire sempat berpikir kalau Sean pastilah sedang datang ke tempat orang yang istimewa untuknya sampai-sampai menyempatkan diri membeli mawar putih. Orang itu pastilah kesayangan Sean Abraham. Seorang wanita yang cantik. Tapi ternyata bukan. Nama di batu nisan itu membuat Aire berhenti berpikir bahwa orang itu seorang wanita. Nyatanya, makam yang sedang dikunjungi Sean adalah makam seorang laki-laki. 'Faro Abraham 14 April 1984 - 14 April 2014' Siapa Faro ini? Kakaknya Sean kah? Atau adiknya? Sayang sekali dia meninggal di usia yang cukup muda. 30 tahun. Tapi umur tidak ada yang tau. Apalagi, laki-laki ini meninggal di tanggal yang sama dengan kelahirannya. Sebuah hadiah kehidupan yang tidak diduga. Perhatian Aire teralihkan pada Sean yang masih diam menatap makam. Tidak ada ekspresi yang bisa dia tebak. Tidak ada Sean yang tadi bertanya banyak hal padanya. Tidak ada Sean yang menanyakan makanan apa yang disukai Aire, tempat liburan macam apa yang diinginkan cewek itu, atau hal apa yang bisa membuatnya senang. Sean sekarang terasa jauh sekali. 10 menit Aire menunggu, Sean masih bergeming. Dan itu membuatnya takut. Ayolah, ini sudah petang. Sebentar lagi gelap. Ralat, sekarang bahkan sudah hampir gelap. Angin dingin yang berhembus membuat Aire mendekati Sean. Tapi dia kemudian membeku di tempat. Sean masih membelakanginya, bergeming. Itu betulan Sean kan? Tidak sedang dirasuki sesuatu? Tangan Aire tergantung di udara. Urung menyentuh Sean karena takut. Ya ampun. Dia tidak tau harus apa sekarang. Sekedar mau memanggil pun takutnya bukan main. Dia membayangkan kalau sedikit saja dia mengalihkan perhatian Sean, laki-laki itu akan menoleh dan menatapnya dengan kosong. Tidak. Aire tidak mau Sean seperti itu. Kenyataan bahwa mereka berada di makam yang sangat sepi, di jam hampir maghrib, dengan Sean yang bergeming seperti itu membuat jantung Aire berdetak tidak karuan. Dia mulai tertekan dengan ketakutannya sendiri. Dan yang secara refleks dia lakukan adalah, berjongkok seraya menutupi wajahnya. Sekarang, selesai dengan lamunannya, Sean berbalik. 2 langkah darinya, dia menemukan Aire sudah berjongkok, menutup wajahnya dengan takut. "Aire?" Yang dipanggil malah terisak. Sean ikut berjongkok di hadapannya, menyentuh tangan Aire. "Kamu kenapa?" Aire terisak. Takut. "Aire, lihat saya." Tidak juga membuka tangannya meski Sean meraih. Laki-laki tinggi itu menghela napas. "Saya mau pulang. Kamu mau ditinggal disini?" "JANGAN!!" Aire nge-gas dengan wajah tertutup. Tidak peduli kali ini betulan membentak atasannya itu. Sean kembali meraih tangan Aire. "Lihat saya coba, bilang ada apa." Aire menggeleng dengan wajah tertutup. "Pak?" "Ya? Saya disini." "Ini beneran Pak Sean kan?" "Kamu pikir saya hantu?" Aire merinding sejenak. Tidak perlu menotis yang bersangkutan kan bisa. "Ayo pulang." "Pak, saya masih di dunia ini kan? Bukan di dunia lain terus ketemu makhluk lain yang mirip Bapak?" "Kamu ngga percaya ini saya?" balas Sean pada Aire yang masih menutup wajah. Tangisnya sudah berhenti. "Makanya lihat saya. Atau kamu mau saya cium?" Aire mengintip dari celah jarinya, mendongak pada Sean yang sudah berdiri. Tidak tau. Tidak kelihatan. Makam sudah gelap sekarang. Perlahan, dia menurunkan tangan dan menatap sekitar. Hanya ada satu lampu temaram di sudut pemakaman. "Pak, saya takut," bisiknya pada Sean. "Makanya ayo pulang. Kamu ngapain malah jongkok? Mau saya tinggal?" "Jangan." Ketika tangan Sean terulur, Aire langsung menyambutnya dengan ganas. Tidak butuh waktu lama bagi cewek itu untuk mengenali tangan Sean yang hangat sebagai manusia. Dan tidak butuh waktu lama bagi Aire untuk merapatkan dirinya pada Sean. Yang segera merengkuhnya kembali ke mobil. Di sepanjang perjalanan kaki itu, dimana Aire banyak komat-kamit merapalkan doa dalam hati setiap langkahnya melewati kuburan entah siapa, Sean bertanya, "Harus ya saya bawa kamu ke makam biar mau mepet-mepetin saya kayak gini?" "Pak!" Aire bergumam kesal. "Ngga lucu." "Saya serius." Tapi Aire sudah sibuk kembali berdoa. Sampai tiba di mobil, dia langsung bergelung lagi dengan jas Sean. Berlindung di baliknya seolah perisai. "Dengan kamu juga suka film horor, saya pikir kamu ngga penakut," komentar Sean sembari melajukan mobil keluar pemakaman. Aire melengos. "Siapa juga yang ngga takut kalau kayak tadi." Sean diam. Aire melanjutkan, "Lagian ya, Bapak kenapa ngadi-ngadi sih berkunjung ke makam di jam ngga wajar kayak gini?! Mana diam lama banget kayak tadi. Saya udah takut Bapak kerasukan. Mau melarikan diri tapi ngeri sama kuburan. Mana jauh banget dari jalan raya!" Aire masih mengomel, melampiaskan rasa takutnya menjadi sebuah kekesalan yang tidak ia kendalikan lagi. "... ya saya tau saudara Bapak ini berharga buat Bapak. Tapi hargai saya juga dong. Mati kutu saya ngga tau harus gimana!" Sean mengangguk saja. Sampai akhirnya Aire diam, dia menjawab, "Faro bukan saudara saya. Dia... bagian dari saya yang pernah hidup." Aire tidak repot-repot mencerna kalimat Sean yang ambigu. Dia masih ingin protes. "Kan berkunjungnya bisa besok!" Tidak peduli kalau dia dicap pegawai durhaka tidak tau sopan santun. Pokoknya dia kesal. "Saya datang hari ini... untuk mengingat 7 tahun kepergian dia." Agaknya Aire terdiam. Dia memutuskan mencerna ucapan Sean kali ini. "Maksudnya bagian dari Bapak itu... kembaran Pak Sean?" "Hm, bisa jadi," gumamnya rancu. Aire terdiam, tertegun. Sedang mengingat-ingat. Kalau Sean datang hari ini untuk memperingati 7 tahun kepergian Faro-faro Abraham ini, yang berarti kembarannya, berarti... "Hari ini saya ulang tahun," sambung Sean lebih pelan. *** []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD