10. Tolong Tetaplah Hidup

1077 Words
"Na, are you okay ?" Naomi dengan senyum manisnya. "Aku baik-baik aja, kenapa El ?" "Kamu ngelamun apa, panjang banget ngelamunnya?" El, selalu mampir di kubikel ku kalau pagi-pagi begini. "Haha..ketahuan ya aku lagi ngelamun " Dia adalah Hellena Octavia, teman sekantor ku tapi beda divisi dengan ku. Kami sudah berteman sejak aku dan dia saling kenal saat wawancara kerja pertama kali di perusahaan ini. Hingga berlanjut sampai sekarang. "Hm, kenapa Na apakah kamu lagi ada masalah ?" Naomi menggeleng kepalanya. "Tidak kok El" "Aku jadi kepikiran aja tadi pas aku mendengarkan pertanyaan karyawan kita di lift tadi. Kebetulan tadi aku berada di belakang mereka pembahasan nya bikin aku speechless aja selama di lift tadi hingga kepikiran yang di omongin mereka kepada ku." "Kenapa mereka menyindir kamu lagi Na ?" Naomi menggeleng kepalanya lagi. "Nggak kok El, mereka tidak menyengol ku sama sekali." "Aku merasa kata-kata mereka tadi kok mirip dengan kisah hidup ku. Mereka bilang tadi, jika orang-orang pergi atau amit-amit aku tidak lagi di cintai sama siapapun lagi, siapa yang akan tetap tinggal ?" "Itu sama persis seperti kisah hidup ku El sebab jawabannya selalu diri sendiri." "Aku benar selalu sendiri selama ini, di tinggalkan Mama dan Papa ku di campakkan oleh orang yang sudah aku anggap keluarga sendiri dan labuhan terakhir aku sendiri pun menghancurkan hidup ku. Kini tidak ada yang peduli sama nasib aku, terombang-ambing di kota yang asing ini. Kamu lihat sendiri cuma aku sendiri yang mengurus Lea." "Na, kamu ngomong apa sih ?" "Perlu kamu tahu El, langit biru ku sudah redup !" "Aku merasakan hidup ku terlalu berat untuk dijalani." Nana menghela napasnya. "Tapi diri ini yang seolah menahan ku untuk terus jalan tanpa peduli kaki ku terluka atau tidak." "Aku juga pernah sangat ingin menyerah tapi katanya langkah ku tinggal selangkah akan ada kabar baik di ujung sana, jadi aku menyakini diri ku kembali." "Ah sedikit lagi karena pertolongan Tuhan itu akan sampai." "Na, please jangan putus asa, kamu dan Lea sudah menjadi bagian dari keluarga ku sekarang. Tolong tetap lah hidup." "Iya El, aku akan berjuang bersama Lea. Dia adalah nyawa ku sekarang ini." "Syukurlah aku takut dengan omongan mu tadi." "Tenang saja aku tidak akan melakukan hal yang bodoh mengakhiri hidup ku dengan sia-sia, kalau aku kenapa-kenapa Lea gimana nasibnya." Naomi menarik napas dalam-dalam, rasanya menyesakkan didalam dadanya. "Aku benar-benar pengen anak ku bahagia dia satu-satunya yang ku miliki, aku akan berjuang untuk anak ku El." "Ya aku yakin kamu pasti bisa, jangan segan-segan ngomong apa pun sama aku jika kamu butuh apa-apa bilang sama aku juga Na." "El, aku ini seperti layaknya air hujan jatuh dengan beribu alasan dan Lea dihadirkan oleh Tuhan di kehidupan ku untuk membasahi hatiku yang kerontang (kering sekali). Setidaknya ada bunga yang mekar, Aku sangat bersyukur sekali Bunga itu adalah Lea sendiri yang kini mewarnai keindahan hidup ku." "Kamu harus membuktikan kepada mereka yang sudah membuat kamu seperti ini Na, dan mereka akan menerima ganjaran yang mereka buat kepada mu, pokoknya kamu jangan menyerah Na." "Iya El, Aku cuma ingin hidup dalam kedamaian, sesekali pikiran ini terlalu berisik dan cukup berantakan. Lagi-lagi aku memilih untuk diam. Ini sangat lelah namun susah untuk dijelaskan semua, rasanya kepala ku mau pecah." "Setiap malam rasanya ingin menyerah, namun akhirnya aku bertahan untuk kesekian kalinya demi Lea. Bahkan untuk bisa tertawa saja kadang harus membohongi diri sendiri karena begitu banyak luka yang harus aku tutupi." "Hidup ini ternyata harus terus berjalan entah bagaimana takdir yang sudah di gariskan Tuhan, yang terpenting aku tetap memilih bangkit setiap hariku. Sekalipun badan sudah hampir babak belur, namun akan aku usahakan menjadi manusia tangguh dan kuat demi Lea aku akan bahagia bersama dengannya." "Na, kamu memang ibu yang hebat aku salut sama kamu berjuang sendiri dan membesarkan Lea sendiri itu keren sekali. Banyak orang diluar sana memilih membuang anak mereka karena tidak mampu bertahan dan ada juga yang lebih baik mengakhiri hidup mereka karena beban hidup yang mereka tanggung sendiri." El memeluk Naomi. "Bertahan lah Na demi kamu dan demi Lea ya." "Makasih ya El, sudah mau berteman dengan ku." "Iya sama-sama Na, aku bersyukur bisa kenal dengan mu dan berteman dengan mu juga Na." Tapi aku akan bertahan sampai Tuhan akan bilang kepada ku kamu cukup sampai disini aja perjalanan hidupnya. *** "Nana sayang kok masih tidur aja ayo Bangun...?" Panggilan kesayangan dari Mama untuk ku. "Nana.. Na.. ! Mama sudah buatin sarapan kesukaan mu nanti terlambat lho datang ke sekolahnya. Nggak mau kena marah sama Pak Jono, bersihin WC lho. Mama menakuti agar aku segera bangun. "Hm" "Ayo bangun Kesayangannya Mama ?" "Masih ngantuk Ma, lima menit lagi ya " "Ya Ampun Na, kenapa susah banget sih pasti tadi malam bergadang lagi nonton Drakor. Auh, Mama lebih baik pergi aja deh, terserah aja nanti Nana telat ke sekolahnya jangan salahkan Mama." "Aarggh..!" tiba-tiba Naomi tersentak dan terbangun dari tidurnya dengan peluh yang bercucuran lagi-lagi dia mimpi. "Mama.. ! " kenapa tiba-tiba Mama hadir di dalam mimpi ku. "Mama, apakah Mama juga kangen sama Nana di sana Ma ?" Ya Tuhan,, ternyata merindukan seseorang yang telah pergi ke pangkuanMu ternyata sesakit ini rasanya. "Nana kangen sama Mama dan Papa." Naomi bergumam pelan sambil menatap jendela diluar sana. Sejak Naomi memutuskan untuk menetap di Jakarta dia belum sama sekali berkunjung lagi ke makam Mama dan Papanya, padahal saat di Semarang dia sering melakukannya. Kini terlalu menyakitkan untuk kembali kesana lagi, yang penuh dengan luka dan trauma sendiri buat Naomi. Tapi dia berjanji suatu saat akan berkunjung ke Semarang lagi. "Ma, Nana berjanji akan mencari tahu tentang semuanya, bersabarlah Ma, suatu saat kebenaran akan terungkap tentang kematian Mama dan Papa. Ini sepertinya sudah di rencanakan Nana tidak punya kekuasaan untuk semua ini tapi Nana akan mencari tahu semuanya. Tolong bersabarlah Ma, Pa." "Bunda.. " Lea mengucek-ngucek matanya. Naomi menoleh ke arah anaknya. Mereka kembali seperti malam kemarin mereka berdua sama-sama bertemu di dapur mengambil minum. "Lea haus Bun, Minuman Lea habis nih." Dia memperlihatkan botol kosong kepada Bundanya. "Kenapa bunda bangun juga, masih lembur Bun ?" "Enggak kok Bunda tadi kebelet pipis jadi sekalian ambil minum juga." "Ya udah Lea duluan Bun besok ada ulangan mau belajar sebentar dulu karena Lea sakit kemarin jadi Lea harus memahami materinya takut Lea nggak bisa jawab soalnya besok." "Jangan terlalu larut belajarnya" "Siap Bun, Bunda tentang aja Lea tinggal mengulang-ulang aja kok sebagain udah dipahami kok." Cup pipi kiri dan kanan jadi sasaran Lea kepada Bundanya. "Selamat Malam Bun" "Selamat malam sayang." ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD