"Butuh waktu lama untuk bisa sampai pada titik bahagia karena semuanya tidak sederhana seperti mengucapkan, 'Kamu bisa'.
...
"Lea cepetan nanti keburu macet Bunda di jalan sayang ?"
"Iya, ini Lea udah siap"
"Udah dicek semuanya nggak ?"
"Udah Bun, Aman."
Naomi mengunci pintunya, dan menyerahkan kepada Lea.
"Seperti biasa ya, Ingat langsung pulang pas pulang sekolah dan langsung kunci pintunya ya sayang.."
"Iya Bun Lea ngerti."
Cuma motor matic ini lah yang menemani Naomi dan Lea untuk kemana-mana. Ini kendaraan sangat berarti buat Naomi.
Semoga aja nanti ada rejeki dia bisa membeli Mobil untuk kendaraannya.
"Lho udah mau berangkat aja ?" Tiba-tiba seseorang menyapa Naomi saat Naomi mau jalan.
"Lho Bu Rini ? Iya Bu, takut macet di jalan nanti."
"Kenapa pagi-pagi sudah datang kesini Bu, ada hal apa ya Bu ?" tanya Naomi dengan penasaran Bu Rini pasti akan ke panti asuhan depan rumanya.
"Iya ada yang ingin di berikan sama anak panti."
"Lea kok diam aja, Oma nggak dengar suara Lea lho, apa kabar sayang ?"
"Alhamdulillah baik Oma."
"Ma, cepat nanti aku telat ke kantornya, malah ngobrol lagi, kalau begini mama pergi sama Pak Weki aja tadi."
"Iya, kamu ini tiap antarin Mama selalu aja bla.. blanya banyak banget, Ini Mama cuma menyapa aja. Bawel banget sih kamu Fa."
Naomi tidak begitu jelas melihat anak Bu Rini yang berada di mobil itu yang ngoceh karena kesal. "Kami permisi dulu ya Bu takut macet di jalan."
"Iya, kalian hati-hati ya di jalan."
"Iya."
Naomi melajukan motornya meninggalkan Bu Rini. Kebetulan Panti asuhan letaknya persis didepan, cuma berjarak dua rumah dari rumah Naomi tepati ini.
Akhirnya Naomi sudah berada di depan sekolahnya Lea yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dia sengaja memilih sekolah yang dekat dengan rumahnya agar Lea bisa pulang sendiri saat pulang sekolah.
Lea anaknya bukan seperti anak yang manja pada umumnya, dia sudah di berikan pemahaman dari sejak kecil, Dia juga bukan anak yang pendiam dia anaknya sangat aktif sekali.
"Maafkan Bunda ya sayang ?"
"Lho kok minta maaf Bun ?"
Naomi tersenyum kepada Lea, "Nggak kenapa-kenapa, cuma mau minta maaf aja. Pokoknya Lea baik-baik ya, di sekolah ya sayang."
"Iya Bun" Lea mencium tangan Bundanya berjalan menuju ke kelasnya
Dia melihat kebelakang lagi dan tersenyum sambil melambaikan tangan ku.
"Hati-hati di jalan ya Bunda."
"Iya sayang"
Naomi tersenyum dan dia melanjutkan perjalanan menuju ke kantor. Takut kena macet bisa-bisa dia akan telat ke kantornya.
Kadang Naomi merasa sedih sendiri melihat keadaannya, seharusnya Lea memiliki keluarga utuh tapi takdir hidup ku malah harus seperti ini.
***
Naomi sudah berada di kubikelnya, dia sudah berkerja selama kurang lebih 3 tahun di Devisi ini, di perusahaan Enourmus WDF Company. Dia bersyukur menyelesaikan pendidikannya di Universitas Terbuka (UT) dulu hingga dia menjadi sarjana, kini membuat dia memiliki pekerjaan di perusahaan besar disini.
Tidak banyak orang yang tau, dengan status jandanya. Emang Naomi tidak banyak bergaul dengan siapa-siapa cuma orang tertentu saja. Dia juga harus siap-siap menebalkan telinganya bakalan ada omongan negatif tentang status Janda memiliki anak satu. Sudah kenyataannya begitu Naomi menjalani kehidupannya dengan rasa bersyukur.
"Eh dengar-dengar hari ini ada rapat pemegang saham. Ada pergantian direktur hari ini." Gosip mulai di utarakan oleh Andrew.
"Wah maksud mu Pak William akan di ganti ?"
"Wah Lo jangan nyebar gosip yang nggak benar Andrew ?"
Mereka ngobrol sambil berkerja ini tidak untuk dicontohkan.
"Serius aku nggak bohong aku mendengar dari devisi lain."
"Hm, Padahal kita betah-betah aja kerja disini selama ini karena Pak William emang baik lho."
"Duh gawat kalau kita dapat direktur galak. Bakalan kerja rodi kita."
Naomi cuma manggut-manggut menyimak obrolan temannya, benar kata temannya tersebut pak William emang baik selama ini kepada seluruh karyawannya. Tapi Pak William tertutup dengan kehidupan keluarganya dia tidak mengumbar sana sini bagaimana anak dan istrinya. Apa cuma aku yang nggak tahu siapa istri dan anak Pak William?
Mereka terus bergosip
"Bakalan Rame kantor hari ini, pemilik saham akan datang hari ini."
"Benar Ci.."
"Wah Bakalan melihat orang kaya berdatangan ke kantor kita hari ini."
Naomi menghela napasnya dia tidak peduli omong temannya tersebut lagi dan dia memilih melanjutkan pekerjaannya.
Tidak terasa, Naomi melihat jam di tangannya udah waktunya makan siang. Naomi menunggu kabar dari Anaknya terlebih dahulu, baru dia bisa tenang.
Ting !
Naomi membuka pesan WA di ponselnya.
Lea
"Bun, Lea sudah nyampe rumah, Tadi Budhe Atika kasih Lea main ke Panti Bun, apa boleh Lea main ke sana ?"
Bunda
"Boleh sayang.. Pintunya jangan lupa di kunci dan Ponselnya juga jangan lupa dibawa ya sayang ?"
Lea
"Oke Bun.. I Love you Bunda "
Bunda
"l Love you too kesayangannya Bunda."
Naomi memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya lagi.
"Na ayo kita lunch dulu.. !"
"El kapan datangnya ?"
"Baru beberapa menit aku melihat kamu sedang sibuk dengan ponsel mu."
"Oh ini dari Lea dia ngabarin aku kalau dia sudah berada dirumah."
"Aku jadi kangen sama Lea Minggu ini aku akan main kerumah mu dan kita akan jalan-jalan ya Na."
"Oke, atur aja"
"Yang lain udah duluan ya Na ?"
"Iya tadi mereka mengajak ku, kamu tau sendiri aku belum tenang kalau Lea belum ngabarin aku".
Iya juga sih ayo kita turun untuk makan siang.
Mereka berdua hari ini memilih makan di seberang gedung ini.
Mobil mewah berdatangan begitu banyak hari ini ke gedung Enourmus WDF Company, Mereka berhenti di depan pintu utama gedung. Dan mobil mereka di parkirkan di basement gedung ini
"Wow.. Mobil aja mewah belum lagi pakaiannya." El berkomentar orang-orang yang masuk ke Perusahaan hari ini.
Iya El dengar-dengar tadi gosip akan ada pergantian direktur utama hari ini.
Oh ya, pantasan aja barang mereka pakai pada mewah semua itu mau rapat atau cosplay jadi model. Ujar El dengan mencemooh
Benar kata El, itu semua barang mereka pakai brand semua. Setidaknya aku pernah memakai barang mewah tersebut yang di belikan sama Mas Carlos waktu dulu.
Dengan jarak yang sudah jauh Nana memutar tubuhnya dia melihat seseorang yang dia kenal sedang bersama Pria bertubuh tinggi, tegap bersama dengan wanita paruh baya.
"Hah, itu kan Bu Rini ?"
Kenapa dia ada disini ?
Apakah dia juga memiliki saham di perusahaan ini ?
Naomi dengan pikirannya sendiri.
"Na kenapa, kamu kenal salah satu dari mereka yang masuk ke gedung kita itu ?"
"Uhm, nggak kenapa-kenapa El aku mungkin salah lihat saja." Ujar Naomi dia tidak mau memberi tahu El mungkin saja benar dia salah orang atau ada yang mirip dengan Bu Rini.
Naomi dan El tidak menghiraukan lagi yang datang ke perusahaan mereka menuju rumah makan.
"Selamat datang Nyonya dan Pak Fahlefi Tuan sudah menunggu di dalam sana."
Bu Rini mengangguk.
Fahlefi dengan tubuh tegap tinggi itu, menatap gedung milik Papanya yang menjulang tinggi ini, di balik kaca mata hitamnya. Sejak dari awal dia sudah diberitahu untuk meneruskan perusahaan ini Setelah menyelesaikan Pendidikan S2 di Inggris, dia benar-benar tidak bisa mengelak apa lagi menolak keinginan orang tuanya karena dia adalah putra satu-satunya yang mewarisi perusahaan tersebut.
Dia benar-benar tidak pengen mengecewakan Papa dan mamanya.
Fahlefi menarik napas dalam-dalam,
Oke Lefi mari kita lihat apa yang harus kamu lakukan di perusahaan ini nanti..!
***