Edward tersenyum tipis. “Kenapa?” “Aku malu.” Elanor membuang wajahnya. Edward kembali tersenyum. Elanor gadis yang baik—alangkah sayangnya dia jika hanya dijadikan pelampiasan Harry yang tak bisa memilihnya. Batin Edward. “Aku juga puas melihat Harry memilih ke toilet dibandingkan mendengarkan celotehanku.” Mata cemerlang Elanor berubah sedikit tajam karena Edward membicarakan Harry—mantan Tuannya yang sangat disayanginya. “Dia tidak tahu kalau kau sudah bersama Anne saat dia memilih Anne sebagai kekasihnya.” “Elanor, Harry tahu. Dia tahu dari teman-temannya. Anak itu memang nakal, tapi yang jelas dia tidak tahu siapa aku sebenarnya. Dia baru tahu setelah aku mendatanginya saat dia menghabiskan malam bersama Anne di rumah mungil.” Elanor meliri

