Hesa memandang sendu wajah Ita. Gadisnya sedang tidak baik-baik saja. Pundak itu bergetar. Menahan tangis. Membungkuk. Seolah kejadian ini terjadi karena dirinya. "Aku tau ini berat.... kita kesini lagi kalau keadaannya mulai baik. Ucapan Kak Fano jangan dimasukin hati-" "Tapi ucapan Kak Fano benar! Aku bawa pengaruh buruk buat Tina...." "Ta. Yang nilai itu Tina bukan Kak Fano... pandangan orang beda. Setau ku, bagi Tina kamu temen yang paling bisa mengerti dia." Hesa menyeka air mata Ita. "Udah ya...." "Tapi... Tina kayak gini gara-gara aku," beo Ita lagi. Isaknya semakin dalam dan perih. Tidak ada yang mengerti. Bahkan Hesa sekalipun. Karena yang tau masa depan hanya Ita seorang. Seharusnya Tina tidak pernah mengalami hal mengerikan seperti ini jika Ita tidak menyarankan. Takdir yan

