Semalam suntuk Langit tidak bisa tidur karena di pikirannya terus memutar adegan Rania yang b******u bersama Arga. Terlebih, saat dia tahu jika Rania dan Arga sempat memesan kamar. Bukan hanya itu, setelah Langit memeriksa rekaman dari kamera dashboard, kesakitannya semakin bertambah. Karena ternyata Rania rela mengkhianatinya demi “jatah mantan” yang terus Arga pinta.
“b******k!” Langit sesekali mengumpat, masih tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini, berharap dirinya bisa tertidur pulas dan terbangun, berkahir dengan semua itu hanyalah mimpi.
Sialnya, detak jam masih terdengar jelas, bahkan berimprovisasi dengan detak jantung yang terpacu oleh amarah. Bukan mimpi, melainkan itu kenyataan pahit yang datang di waktu yang genting–kuranh dari 24 jam lagi menjelang pernikahannya.
“Apa salahku, Rania? Kenapa kamu setega ini?” ucapnya lirih, seraya menyimpan pergelangan tangan di keningnya.
Sudut matanya berair, menunjukkan betapa remuk redam perasaannya saat ini. Pria jarang menangis, bukan? Yang artinya Langit benar-benar hancur.
[Lang, nanti kita bicara setelah akad dan resepsi selesai, okey. Kumohon, aku memiliki penjelasan untuk semua itu.]
Sebuah notifikasi pesan masuk mengusiknya, embusan napas kasar terlontar. Gerak mata yang malas akan hal itu pun tampak jelas. Langit memilih mengabaikan pesan dari Rania. Lalu menonaktifkan ponsel dan menyimpannya di laci.
***
Keesokan paginya, Langit bercermin dengan tuksedo hitam dan dasi kupu-kupu yang menawan. Namun, tidak dengan ekspresi wajahnya. Dia benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini. Hingga akhirnya, Langit pun dengan amarah membuka kembali pakaian yang dikenakan. Lantas, pergi ke ruang keluarga yang saat ini sedang berkumpul dan bersiap-siap.
“Mama, Papa!” panggil Langit.
Syahnas dan Sammy menoleh cepat ke arah putranya. Awalnya raut wajah keduanya biasa saja. Namun, saat melihat Langit dengan ekspresi datar dan tegang, keduanya tahu. Putranya sedang tidak baik-baik saja.
“Ada apa?” tanya Sammy.
“Haruskah aku membatalkan pernikahan ini?” celetuk Langit, dengan nada tertahan. Tentu saja, dia juga berat mengatakan hal itu.
“Apa maksudmu? Penghulu sebentar lagi datang, kenapa harus batal?” tanya Sammy.
“Tolong dengarkan ini, dan beri tahu aku, aku harus bagaimana?” ujar Langit, lantas menyodorkan ponsel dengan isi rekaman percakapan antara Rania dan Arga.
Langit juga meletakkan tanda bukti chek-in, atas nama Rania dan Arga. Niadara yang kebetulan ada di sana bersama Embun untuk menjadi pengiring si mempelai wanita cukup kaget dengan apa yang mereka dengar dan lihat.
Sementara itu, Syahnas yang biasa dipanggil Nanas, seketika lunglai. Tubuhnya tak bisa bertahan, lalu terduduk lesu karena syok mendengar itu.
“Bagaimana kita akan menghadapi para tamu dan keluarga, Lang? Kamu siap menerima akibatnya? Kita akan menjadi perbincangan sepanjang masa, jika pernikahan ini batal,” jawab Sammy.
“Sebenarnya, aku tidak peduli dengan diriku akan hal itu. Aku lebih peduli pada nama baik dan kehormatan Keluarga Pradipta. Apa lagi, aku hanya anak sambung Papa,” ungkap Langit.
“Namun, di sisi lain, egoku memberontak, Pa. Bagaimana bisa aku hidup dengan orang yang telah mengkhianatiku, bisakah aku menjadi suami yang baik nantinya?” tutur Langit.
“Kak, jangan batalkan! Ganti saja mempelai wanitanya,” celetuk Embun.
“Embun juga tidak ingin Kak Langit menikah dengan w************n kayak Kak Rania, tapi di sisi lainnya Kakak harus tetap menjaga nama baik keluarga. Enggak masalah kita ganti mempelai dan ubah jadwal. Keluarga jauh kita enggak ada yang tahu wajah Kak Rania, bukan?” Embun mengusulkan ide gila yang terdengar kekanakkan.
Namun, hanya itu jalan satu-satunya untuk kebaikan semua orang.
“Masalahnya, siapa yang mau mengganti? Mau cari di mana?” tanya Sammy.
“Aku, biar aku saja yang jadi istri Kak Langit,” celetuk Niadara.
“Jangan ngawur!” sergah Langit.
“Aku serius! Memangnya Kak Langit punya pilihan?” desak Dara.
“Enggak bisa, Dara! Kamu ini sudah kuanggap adikku sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa menikah?!” sentak Langit, benar-benar terdengar jelas keputusasaan yang dirasakannya.
“Aku telepon Papi Dewa sekarang, dia pasti akan setuju tentang ini. Dibandingkan harus mencari orang lain yang tak tahu entah siapa,” jelas Niadara seraya mengeluarkan ponsel dari tas.
“Jangan gegabah, Dara. Ini bukan keputusan yang mudah untuk diutarakan,” cegah Sammy.
“Terus apa yang akan kita lakukan, Mama juga enggak mau Langit menikah dengan orang yang menyakitinya,” timpal Nanas.
“Ya sudah, aku akan telepon Papi Dewa.” Niadara memaksakan niatnya untuk menjadi mempelai pengganti.
Akan tetapi, Langit yang tidak setuju dengan hal tersebut memilih beranjak dari ruangan itu. Sejurus kemudian, tepat saat Langit membuka pintu, betapa terkejutnya dia saat Dewa dan Sonia–orang tua Dara sudah ada di sana.
Langit terkejut bukan main, saat melihat mata tajam itu menatapnya.
“Om sudah mendengar semuanya,” celetuk Dewa.
“Masuklah, kita bicara,” ucap Dewa melanjutkan.
Dengan enggan, Langit kembali masuk. Rapat keluarga pun akhirnya dilakukan.
***
Sementara itu, Rania sudah dengan make up dan gaunnya. Seolah tanpa rasa bersalah, perempuan berlesung pipi itu memutar badan di depan cermin, merasa diri paling cantik untuk saat ini.
“Aku yakin, walau bagaimana Langit tidak akan bisa melepasku,” ucapnya.
Dia tahu pasti Langit sangat mencintainya, tetapi tidak tidak tahu jika seseorang yang mencintai dengan ugal-ugalan, ketika disakiti akan pergi tanpa menoleh.
Mungkin, bukan hanya pernikahan mereka yang batal, bisa saja Langit sudah tidak mau mengenalnya lagi. Tanpa Rania tahu
Rania dan keluarga datang ke gedung tempat resepsi akan dilaksanakan, tetapi ada yang membuatnya heran. Semua mata tertuju padanya, tatapan heran yang begitu mengganggu. Namun, Rania mengira itu adalah tatapan takjub karena kecantikannya.
Beberapa orang yang datang bergunjing dan berbisik, bertanya-tanya tentang siapa dirinya. Namun, seolah tak peduli, Rania tetap naik ke pelaminan dengan percaya diri. Dia duduk di meja depan meja akad nikah diiringi dengan Hanum dan Setya.
Tamu undangan semakin ricuh, hingga tak lama kemudian, Langit dan Dara keluar dari ruang wadrobe, keduanya berjalan menuju pelaminan seraya bergandengan dengan begitu serasi. Sontak, Rania terkejut melihat calon suaminya telah menggandeng wanita lain.
“Apa-apaan ini?” teriak Rania, kaget, dia berdiri spontan sembari membeliak.
Sejurus, dia berjalan cepat dengan gaun pengantin yang membuatnya kesulitan. Amarah yang membuncah membuatnya tak peduli akan hal itu, saat sampai di pelaminan, Rania mendorong Dara lalu menarik Langit ke arahnya.
“Siapa kamu?! Berani-beraninya kamu menyentuh calon suami orang lain!” sentak Rania dengan wajah merah dan napas tersenggal.
Rania memenggang erat lengan Langit seolah tak ingin melepaskan pria tampan itu.
“Ayok, Lang. Kita ke sana, Pak Penghulu pasti sebentar lagi datang.” Tanpa menunggu penjelasan dari keduanya, Rania mengajak Langit untuk menuju meja akad.
Tanpa dia ketahui, jika acara sudah berlangsung satu jam yang lalu, karena Langit sengaja memundurkan jadwal.
“Acara sudah selesai!” ujar Langit, seraya melepas tangan Rania.
“Sudah selesai? Aku baru datang, loh! Bagaimana bisa kamu bilang udah selesai?” cecar Rania dengan getar di suaranya.
Padahal, Rania sudah bisa memastikan jawaban yang akan didengar, tetapi mencoba menepis semua itu karena begitu mencintai Langit.
“Bagiku sudah selesai dan dia istriku, bukan kamu!” tegas Langit, lalu merangkul Dara di hadapan Rania.
Selain itu, Langit dan Dara menunjukkan buku nikah yang baru beberapa menit lalu ditandatangani.
“Apa maksud kamu, Lang? Kenapa begini?” teriak Rania mulai tak terkendali.
“Maksudku, pernikahan kita batal!” tegas Langit, “aku sudah memilih wanita lain untuk menjadi istri, yaitu Dara!”
“Lang, kamu enggak bisa kayak gini, Lang, aku–”
“Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu putuskan, jadi sekarang giliranku untuk memutuskan, Rania,” sela Langit, memotong ucapan Rania.
Rania masih tak terima dengan itu, dia merasa dipermainkan sekaligus dipermalukan di depan umum. Namun, Langit dengan wajah dinginnya memberi kode pada MC untuk melanjutkan acara, tanpa mempedulikan Rania lagi.
Rania berusaha mencegah itu, tetapi Dara tidak membiarkannya. Dia yang tadinya diam untuk menghargai Langit, kali ini tidak bisa begitu.
“Jika kamu terus mengusik aku dan Langit, akan kupastikan bukti perselingkuhanmu tersebar!” kecam Dara.
Hingga akhirnya, Rania hanya bisa menatap Dara dengan penuh amarah. Lalu mendengkus kasar dan turun dari pelaminan dengan rasa malu dan marah yang menjadi satu. Sesekali dia menyeka air maya yang terjun bebas ke pipi. Namun, tak ada seorang pun yang peduli.
“Aku enggak akan biarin kalian hidup bahagia, tunggu saja!” guman Rania, hingga dirinya benar-benar meninggalkan pesta itu.
Bersambung ….