BAB 7. DARA MEMANG PELAKOR

1411 Words
“Kak Langit?!” Dara sontak berdiri saat mendapati suaminya berada di tempatnya berada. Sean yang mendapati itu ikut berdiri, dia cukup peka saat melihat raut wajah Langit. Sean pun tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Langit. “Pasti Anda suami Nona Dara, ya? Kenalkan, saya Sean, bos Nona Dara,” jelas Sean, tak ingin ada kesalahpahaman di antara keduanya. Langit tampak menurunkan emosinya, dia menatap ke arah Dara, lalu beralih ke arah Sean. Langit pun menjabat tangan Sean dan memperkenalkan diri. “Langit,” ucapnya singkat. “Silakan duduk, kita makan bersama,” tawar Sean, mempersilakan Langit untuk bergabung dengannya dan Dara. Langit mengembuskan napas perlahan, lalu ikut duduk di kursi kosong dekat dengan Sean. Sebab, Dara duduk bersebelahan dengan Sheza. Gadis kecil itu seolah tidak mau jauh dari sekertaris ayahnya. “Senang bisa bertemu dengan Anda, Pak Langit,” ucap Sean, bicaranya penuh wibawa dan bijaksana, membuat Langit merasa ciut dan tidak percaya diri. “Saya juga, semoga kita bisa lebih sering bertemu kedepannya,” jawab Langit. “Maaf, saya jadi mengganggu acara kalian,” ucap Langit menyadari suasana yang awalnya hangat menjadi kaku. “Tentu tidak, kebetulan Nona Dara dekat dengan putri saya, karena dulu sempat menjadi guru lesnya. Jadi, malam ini dia ingin makan ditemani Nona Dara, itu saja,” papar Sean. “Oh, begitu? Tapi ini di luar jam kerja, kan? Apa menuruti kemauan putri Anda termasuk dalam pekerjaan sekertaris, Pak Sean?” celetuk Langit, dia mendelik ke arah Dara. Entah bagaimana menjelaskan ekspresi itu, Langit tampak tidak menyukai ada di sana. Namun, dia juga tak ingin jika harus meninggalkan Dara berdua dengan Sean saja. “Aku sudah mengirim pesan, apa Kak Langit tidak membacanya?” sela Dara, tidak ingin menunjukkan ketidakharmonisan di depan Sean. Langit tertawa kecil, lalu memeriksa ponsel dan membaca pesan dari Dara. Kedua alisnya bertaut. Ternyata benar, istrinya memberitahukan jadwalnya. Namun, karena dia sibuk, pesan itu terlewatkan. Ketegangan di wajah Langit mereda setelah membaca itu. Ketakutan akan masa lalu membuat pikiran buruknya terlalu mendominasi. “Maafkan aku, aku telat membacanya,” ucap Langit, lantas menatap Dara dengan tatapan lembut. Sebuah anggukan kecil menjadi jawaban dari wanita cantik itu. Dia lagi-lagi tak ingin meruntuhkan harga diri suaminya di depan Sean. Usai makan malam, mereka pun berpisah di parkiran. Ada hal yang tidak terduga, Sheza tidak mau ditinggalkan oleh Dara. Dia terus merajuk dan meminta Dara untuk naik di mobil ayahnya. Namun, Sean yang tidak enak hati dengan situasi itu, terus memberi pengertian kepada putrinya. Walaupun harus membuat gadis kecil itu menangis. Adegan itu dilihat oleh Rania yang kebetulan lewat area itu, wanita itu baru saja selesai makan malam bersama Setya dan Hanum. Merasa itu waktu yang pas untuk mempermalukan Dara di depan bosnya, mereka pun memutuskan untuk menghampiri. “Kak Sean!” Rania menyapa Sean, yang ternyata masih kerabatnya. Sean yang sedang berusaha merayu Sheza terkesiap mendengar sapaan dari Rania. Dia menoleh, lalu tersenyum ramah. Sementara, Langit dan Dara langsung memasang wajah malas ketika melihat keluarga itu ada di sana. “Ayok Dara kita pergi!” Langit menarik Dara, yang membuat Sheza menangis semakin kencang. “Sebentar, Kak, gadis kecil itu masih menangis, aku enggak enak sama Bos Sean,” jawab Dara, seraya menahan langkah dan sontak membuat langkah Langit pun tertahan. “Itu bukan urusanmu lagi,” sahut Langit, dengan nada ketus, sebab yakin jika ada Rania di tempat itu semua akan kacau. Dara ragu untuk mengambil keputusan, apalagi saat mendengar Sheza terus merengek karena tidak ingin dia tinggalkan. “Ternyata, kamu memang ahli dalam menggoda pria kaya, Niadara. Padahal, sekarang sudah mempunyai suami hasil merebut dati putriku, sekarang kamu malah menggoda pria lain melalui putrinya, benar-benar jalang tak tahu malu!” celetuk Hanum dengan nada sinis dan mimik wajah julid. “Jaga mulut Anda, Nyonya!” sahut Dara merasa tak terima dengan cacian yang Hanum lontarkan. “Kenapa? Enggak terima? Mau jaga imej di depan Kak Sean, ya?” Rania menimpali dengan senyum mengejek, dia juga melipat tangan di d**a menunjukkan betapa angkuh dirinya. “Bukan enggak terima, tapi tuduhan yang kalian tunjukkan padaku itu enggak berdasar, punya bukti apa kalau aku merebut Kak Langit dari kalian? Lalu apa tadi? Menggoda Bos Sean? Jangan mengada-ada!” tegas Dara, dia tidak ingin membuktikan jika dirinya manusia baik-baik, tetapi dihina seperti itu membuatnya tidak bisa menahan kesabaran. “Halah, mana ada sih penjahat mau ngaku. Kalau memang wanita baik-baik, enggak mungkin mau menikahi calon suami orang lain, merebutnya dari calon istrinya. Dasar munafik!” sahut Rania, lalu dia mengambil air di meja, dan menyiramkannya ke arah Dara. Dengan refleks, Langit menarik Dara dan melindungi dengan tubuhnya, sehingga air yang Rania siramkan mendarat lepas di punggung pria itu. Langit mendengkus kesal, lalu dia berbalik dan menatap Rania dengan sorot tajam. “Jangan pernah lemparkan kesalahanmu kepada orang lain, Rania. Aku meninggalkanmu, karena kamulah masalahnya, bukan Dara!” ucap Langit dengan nada tegas, walaupun ekspresinya begitu dingin dan datar. Namun, tidak dengan nada bicaranya. Keributan terjadi begitu saja, orang yang tadinya tidak tahu tentang kisah mereka, sontak menjadi penasaran. Termasuk Sean. “Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana kalian saling mengenal? Kenapa kedengarannya begitu rumit?” tanya Sean, penuh selidik. Sebab, yang selama ini dia ketahui Dara adalah gadis baik-baik dan sopan santun. Walaupun terkadang keputusannya terlalu berani, tetapi dia tidak pernah memiliki niat buruk terhadap siapa pun. “Kak Sean, asal kamu tahu, Niadara ini, dialah yang membuat pernikahanku batal. Dia merebut Langit dariku!” cerocos Rania, lalu terisak saat mengingat betapa malu dirinya saat itu. Sean melempar tatapan ke arah Dara, perempuan berwajah imut itu masih membisu. “Dara, benarkah itu?” tanya Sean. Dara membalas tatapan Sean, lantas menghela napas berat, dia pun menjawab tanpa keraguan, “Ya, benar! Aku merebut Langit darinya, aku yang membuat pernikahan kerabatmu gagal, karena suaminya memilih menikahiku.” “Dara, kamu serius? Apa yang kamu pikirkan? Apa tidak ada lagi pria di dunia ini, sehingga kamu memilih pria yang memiliki calon istri?” Sean merasa tak percaya dengan hal yang baru saja dia dengar. Rasa jijik perlahan terpancar dari raut wajah pria itu, kemudian Sean menarik Sheza dari dekat Dara. Seolah tidak ingin, putrinya berdekatan dengan dara lagi. “Aku enggak pernah menyangka kamu serendah itu, Dara. Kupikir kamu wanita mahal yang sulit disentuh, ternyata pikiranku keliru,” ujar Sean, menatap tidak percaya pada Dara. “Pikirkan sesuka Anda, Bos. Lagi pula, tidak ada yang bisa membenarkan apa yang saya lakukan, tempo hari. Sebab kenyataannya, saya memang merebut Kak Langit dari pernikahannya dengan wanita itu!” jelas Dara seraya menunjuk ke arah Rania. “Oke, kalau begitu, setelah cuti, saya tunggu surat pengunduran diri darimu! Saya kecewa sama kamu, Dara. Ternyata kamu wanita picik yang penuh intrik!” Sean begitu mudah terhasut oleh ocehan Rania, hal itu membuat Langit merasa sentimental. Dia hendak mengungkapkan kebenaran yang terjadi, tetapi tepat saat hendak membuka mulut dan mengatakan kenyataanya, Dara meraih tangan Langit dan meremasnya agak kuat. “Ayok kita pulang, Kak,” ajak Dara. “Tapi, Dara, itu–kamu–” “Enggak usah dipikirin, banyak perusahaan lain, kok,” jawab Dara. Begitu besar pengorbanan yang dilakukan untuk menjaga nama baik Langit. Lagi-lagi, dirinya tidak peduli kepada diri sendiri. Dara dan Langit pergi meninggalkan situasi yang masih kacau. Setibanya di dekat mobil, Langit menghentakkan tangannya yang sontak membuat gerak langkah Dara terhenti, dia pun berbalik menghadap Langit. “Apa yang kamu lakukan, Dara? Kamu rela dihina demi membuatku terkesan, begitu?” celetuk Langit, lalu mengempaskan genggaman tangan Dara. “Apa?” Dara mengernyitkan dahi, antara heran dan terkejut dengan pertanyaan Langit yang terdengar tak menghargainya. “Kenapa aku harus membuat Kak Langit terkesan? Hah! Apa untungnya buatku?” balas Dara, hatinya bagaikan tercabik hingga ke akar, rasanya lebih sakit dibandingkan saat mendengar hinaan dari keluarga Rania. “Terus kenapa kamu melakukan itu semua? Kenapa kamu menghentikanku untuk mengatakan semuanya?!” cecar Langit, tak mengerti. “Lalu, haruskan kubiarkan mereka tahu jika kamu dibodohi Rania? Haruskah semua orang tahu jika CEO Pradipta Capital diselingkuhi tunangannya menjelang akad? Hah! Haruskah?” Mata Dara membelalak, dia tidak percaya dengan pertanyaan yang Langit lontarkan, lebih tepatnya kecewa. Mata berbingkai rambut lentik itu bergetar dan kini mulai mengeluarkan air, buru-buru Dara mengusapnya dan berbalik meninggalkan Langit yang tak menjawab apa pun. “Dara!” panggil Langit mencoba menghentikan istrinya. Tanpa menoleh, Dara memberhentikan taksi yang kebetulan lewat, dia menaiki mobil biru muda itu dengan perasaan yang remuk redam. Langit mengejar, dia meminta Dara membuka pintu, tetapi tak diindahkan. “Dara! Tunggu!” Bersambung ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD