Bab 06. Malam Panjang di Lantai Tiga Puluh

1021 Words
Sejak sore tadi, pikiran Liora tidak tenang. Meski Rhazel sudah menyuruhnya pulang lebih awal, rasa gelisah tetap menempel di dadanya. Entah karena takut ada kesalahan di hari pertamanya bekerja, atau mungkin karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak sanggup ia jelaskan. Di dalam apartemennya, lampu ruang tamu menyala redup. Televisi menayangkan berita larut malam, tapi suaranya hanya menjadi gema kosong. Tatapan Liora terpaku pada jam dinding. Jarum detik bergerak lambat, seolah memperpanjang waktu yang justru ingin ia percepat. "Apa aku sudah benar-benar merapikan berkas-berkas itu?" ucapnya pada dirinya sendiri. Liora menghela napas panjang, lalu bangkit dari kursi sofa. Tangannya menyambar mantel diatas sandar kursi dan segera mengenakannya. “Mungkin cuma butuh memastikan saja.." bisiknya pelan. Tapi dalam hatinya, ia tahu: bukan berkas yang ia pikirkan. Bukan pekerjaan. Ada sesuatu lain, seperti sebuah rasa ingin tahu, atau mungkin… ketakutan akan perasaan yang sama kembali lagi. Bergegas Liora melangkahkan kakinya keluar dari apartemen, tapi saat Liora tengah mengunci pintu nya tiba-tiba terdengar suara Rachel yang memanggilnya. "Li, kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Rachel berdiri diambang pintu apartemennya sendiri Liora menoleh menatap kearah Rachel." Ke kantor sebentar". "Mau apa? Jangan bilang...." ucapan Rachel menggantung diudara, tapi dengan cepat Liora langsung menyahutnya. Ia tau apa yang akan sahabatnya itu katakan. "Aku hanya ingin memastikan berkas-berkas meeting tadi sudah ku susun rapi, Chel. Tidak ada maksud lain". Sahut Liora mencoba menenangkan pikiran Rachel tentang Rhazel. Mendengar itu, Rachel menghela nafas lega lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Pergi lah ke kantor, dan jangan pulang larut malam. Tidak baik untuk perempuan, Li". "Iya, aku tau Chel. Ya sudah aku pergi dulu". "Hm.. Hati-hati". Liora tak lagi menyahut, ia bergegas melangkahkan kakinya pergi. . . Beberapa menit kemudian, Liora sudah berdiri di depan gedung Corvin Corporation. Udara malam membawa aroma hujan sisa sore. Gedung itu berdiri megah dalam sunyi, dan dari puluhan lantai yang gelap, hanya lantai tiga puluh yang masih menyala. Lift berdenting lembut. Suara pintu logam bergeser memantulkan bayangannya yang tampak kecil di antara lampu-lampu dingin. Liora menunduk, menggenggam ponsel di tangannya erat-erat. Saat pintu terbuka dan tiba di lantai tiga puluh, suasana benar-benar hening. Hanya bunyi langkah sepatunya yang bertubrukan menyentuh lantai marmer. Liora segera menuju ruangannya, menyalakan satu lampu meja kecil. Cahaya hangat menyoroti tumpukan dokumen di atas meja. Liora mulai memilah satu per satu, memastikan tak ada yang tertinggal. Namun di sela kesibukannya, pikirannya melayang kembali pada Rhazel. Tatapan dingin pria itu yang menembus pikirannya. Suara berat yang selalu terdengar seolah berbicara menghujam langsung ke dalam hatinya. “Kenapa harus dia lagi…” gumamnya lirih seraya mengetuk pelan kepalanya dan mencoba kembali fokus pada kesibukannya. Namun, tiba-tiba, suara langkah berat terdengar dari arah pintu. Mendekat pelan tapi pasti. Liora menoleh spontan. Tubuhnya menegang saat melihat siluet pria berjas hitam yang berdiri di ambang pintu. Ternyata itu adalah Rhazel. “Masih di sini?” suara baritonnya terdengar rendah, tapi nyaris bergema di ruang sepi itu. “T-Tuan Corvin… saya hanya—” “Memastikan berkas?” potong Rhazel seraya berjalan mendekat. “Atau memastikan aku tidak mengacaukanmu lagi?” Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di baliknya. Seperti guratan licik yang terbungkus ketenangan. Langkah Rhazel begitu pelan, namun setiap jarak yang ia tapaki terasa mengunci udara di sekitar Liora. “S-saya hanya… tidak ingin ada kesalahan di hari pertama bekerja,” ujar Liora gugup dengan matanya menunduk kebawah. “Kesalahan?” Rhazel berhenti tepat di belakangnya. “Kau takut padaku, Liora?” Nada suaranya berubah rendah, nyaris berbisik. Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa menegang. Liora menelan ludah, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. “Saya tidak takut… hanya—” Rhazel mencondongkan tubuhnya sedikit. “Kalau begitu, mengapa tanganmu gemetar?” Liora menatap tangannya. Map di genggamannya sedikit bergetar. Ia hendak menjauh, tapi gerakan Rhazel lebih cepat. Tangannya terulur, menahan pergelangan tangan Liora. Sentuhannya dingin, tapi lembut dan terlalu dekat. Udara di antara mereka seolah menguap entah pergi kemana hanya menyisakan detak jantung yang saling bertabrakan. “Delapan tahun, Liora…” ucap Rhazel pelan. “Delapan tahun, dan kau masih sama, selalu kembali pada rasa takut itu.” “Bukan takut,” sahut Liora cepat, menatap Rhazel dengan keberanian yang tersisa. “Saya hanya tidak ingin salah paham lagi.” Rhazel memiringkan kepala sedikit. Bibirnya mengulas senyum samar, tapi penuh makna. “Salah paham?” bisiknya. “Kau pikir aku tidak mengenal cara matamu menatap saat berbohong?” Liora terdiam. Ia mencoba menarik tangannya, tapi genggaman Rhazel tak goyah. Sampai akhirnya Rhazel menatap tangannya sendiri, lalu perlahan melepaskannya. “Maaf. Refleks lama,” ucap Rhazel tenang, meski pandangan matanya tak sepenuhnya berpaling. Rhazel berbalik badan, berjalan ke jendela besar. Dari sana, kota terlihat seperti lautan cahaya yang tak berujung. Kemudian, ia bersandar di sana seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. “Sebenarnya aku tidak mengira kau akan kembali, Liora. Dunia ini terlalu sempit, rupanya.” Liora berusaha mengatur napasnya, mencoba mengembalikan ketenangan. “Saya tidak berniat kembali ke masa lalu, Tuan.” Rhazel membalikkan badannya pelan, tatapannya menatap Liora menusuk lembut tapi tajam. “Masa lalu tidak pernah pergi, Liora. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengetuk kembali.” Keheningan merayap di antara mereka. Liora tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya berdiri diam, menatap punggung pria yang dulu pernah berarti begitu banyak untuk dirinya. Tapi, kini yang berdiri adalah sosok yang sama sekali berbeda. Dingin, namun… berbahaya. Saat Liora hendak mengambil berkas di atas meja, tangannya tanpa sengaja menyentuh tangan Rhazel yang tiba-tiba sudah lebih dulu meraih berkas yang sama. Tubuhnya sontak menegang. Rhazel tak bergerak, hanya menatap tangan mereka yang saling bersentuhan. Liora hendak menariknya, tapi Rhazel tak melepaskan. “Tuan…” suaranya nyaris bergetar. Tatapan Rhazel turun ke arah tangannya, lalu kembali menatap wajah cantik Liora. “Aku sudah kehilanganmu sekali, Liora. Kau pikir aku akan melepaskanmu lagi semudah itu?” Mendengar itu, nafas Liora seolah tertahan ditenggorokan. Di matanya, saat ini Rhazel tak lagi tampak seperti CEO yang dingin, melainkan pria yang menyimpan terlalu banyak luka, seperti terlalu banyak keinginan yang tak sempat pria itu ucapkan. Udara semakin terasa dingin menusuk kulit.Tapi, tak ada satu kata pun yang terlontar dari bibir mereka. Dan untuk sesaat waktu terasa berhenti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD