Bab 05. Sekretaris Pribadi

1060 Words
Sejak hari wawancara itu, Liora tahu hidupnya tidak akan sama lagi. Terlalu cepat, terlalu aneh, tapi juga terlalu nyata untuk disangkal. Ia diterima langsung menjadi sekretaris pribadi CEO Corvin Corporation, Rhazel Corvin. Hari pertamanya dimulai dengan udara pagi yang sedikit menusuk. Liora berdiri di depan cermin, merapikan rambut panjangnya yang ia ikat setengah ke belakang. Kemeja putih dan rok pensil hitam membuatnya tampak cantik sempurna tapi juga… membuatnya sedikit gugup. Liora menarik napas panjang, lalu menatap bayangan dirinya didepan cermin sambil meyakinkan dirinya sendiri. “Tenang, Liora. Ini cuma pekerjaan. Kau bisa menanganinya.” Ucap Liora pada dirinya sendiri . . Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 meniat akhirnya, Liora sampai di gedung Corvin Corporation, langkah kakinya sedikit gemetar menapaki lantai marmer yang sama seperti waktu wawancara. Namun kini, semua mata terasa menatap kearahnya. Beberapa pegawai perempuan berbisik pelan, dengan pandangan sinis yang tak berusaha disembunyikan. “Baru juga diterima, sudah langsung jadi sekretaris pribadi CEO?” “Mungkin ada… alasan khusus.” “Dia pasti punya koneksi.” Liora mendengar bisikkan yang tengah membicarakan dirinya, tapi ia memilih untuk diam. Ia tak datang untuk membenarkan pandangan orang, hanya untuk membuktikan dirinya pantas berdiri di sini. Lift berdenting lembut. Saat pintu terbuka, beberapa staf keluar, menyibak aroma parfum dan wangi kopi. Liora melangkah masuk, berdiri di pojok, menatap angka digital yang naik perlahan ke lantai 30. Di lantai itu, suasana lebih sunyi. Hanya langkah sepatunya yang terdengar ketika ia menuju ruangan besar bertuliskan CEO' Officer– Rhazel Corvin. Tangan Liora terhenti di depan pintu. Detak jantungnya berpacu tak karuan. Ia mengingat kembali sorot mata pria itu saat wawancara. Dingin, dalam, tapi juga tajam. Liora mengetuk pelan. “Permisi, Tuan Corvin.” “Masuk.” Suaranya berat, dalam, dan tegas. Ketika Liora membuka pintu. Rhazel tengah merapikan jas dan dasi nya sambil menatap keluar gedung. Cahaya matahari memantul di rambut hitamnya, membuat siluet tubuhnya tampak kokoh. Begitu ia berbalik, pandangan mereka bertemu. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat napas Liora tercekat. “Nona Vyane, kau sudah tau posisi mu?,” ucap Rhazel tanpa ekspresi. Liora menunduk sopan. “Iya tuan. Posisi saya menjadi sekretaris pribadi anda. Dan, saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan ini.” Rhazel melangkah perlahan ke arah meja kerjanya. “Kesempatan? Sebut saja… takdir yang menuntunmu kembali ke tempat seharusnya.” Mendengar itu, Liora menatap Rhazel bingung, tapi sebelum sempat bicara, Rhazel sudah duduk, membuka beberapa berkas di mejanya. “Tugasmu sederhana,” kata Rhazel datar. “Kelola semua jadwal rapat, dokumen kontrak, dan jangan pernah terlambat menghadiri briefing pagi.” “Baik, Tuan.” “Dan satu lagi.” Ia menatap langsung ke arah Liora. Tatapannya menusuk, dingin, tapi juga menyiratkan sesuatu yang tak terucap. “Aku tidak suka kesalahan. Sekecil apa pun.” Liora menegakkan tubuhnya. “Saya mengerti.” Rhazel menyandarkan punggung ke kursinya, tangan kanannya menyentuh dagu. Ia memperhatikan Liora dari ujung rambut hingga kaki, bukan dengan tatapan menggoda, tapi menelisik. Seolah setiap gerak tubuh gadis itu menyimpan sesuatu yang perlu ia pecahkan. "Sepuluh tahun… dan kau benar-benar kembali kembali Liora". Ucap Rhazel dalam hatinya, ia menunduk sedikit, menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya. “Liora.” Suara Rhazel memecah lamunan Liora yang tengah mencatat tugas di tangannya. "Ya tuan?" Sahut Liora "Bawa kemari.." titah Rhazel seraya melirik catatan tugas yang ada ditangan Liora itu dengan dagunya Liora mendekat dengan berkas jadwal rapat yang baru ia cetak. “Ini, Tuan. Jadwal Anda untuk minggu ini.” Ia menyodorkan map itu dengan tangan sedikit bergetar. Rhazel menunduk menerima dan tak sengaja ujung jari mereka kembali bersentuhan. Liora terdiam. Napasnya seolah berhenti sepersekian detik. Kulitnya merasakan dinginnya sentuhan Rhazel, tapi dari dalam, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat jantungnya berdetak cepat. Rhazel tak menarik tangannya segera. Ia menatap Liora dari jarak sangat dekat. “Masih gemetar saat berhadapan denganku?” tanyanya pelan, hampir berbisik. “S-saya hanya—” “Fokus, Nona Vayne.” Nada suaranya rendah, tapi sarat penuh makna. Ia akhirnya melepaskan map itu dan bersandar ke kursi. “Aku tidak butuh sekretaris yang mudah gugup.” “Baik, Tuan,” jawab Liora menunduk, menahan degup di dadanya. "Masih polos seperti dulu… Tapi matanya kini berbeda. Ia lebih berani! Mungkin akan lebih menyenangkan melihat bagaimana kau berjuang di bawah tekanan ini." Rhazel memutar pena di jarinya, tampak berpikir sejenak. “Jam sepuluh nanti, kau ikut denganku ke ruang rapat utama. Siapkan berkas perjanjian investor.” “Baik, Tuan.” Liora segera mencatat perintah itu. Namun sebelum ia beranjak, Rhazel menambahkan dengan nada santai yang membuat udara seketika menegang. “Dan mulai hari ini, aku ingin kau selalu ada di ruangan ini selama jam kerja. Aku tidak suka menunggu jika sewaktu-waktu membutuhkan sesuatu.” "T-tapi tuan..." "Aku tidak butuh bantahan apapun Liora. Jonas yang akan mengurus kepindahan ruang kerja mu". Kata Rhazel dengan tegas Mendengar itu, Liora hanya bisa mengangguk pasrah seraya menghela nafas pelan. "Baik tuan". Rhazel tersenyum kecil, nyaris tak terlihat. "Bagus, kau boleh kembali ke meja kerja mu". Liora mengangguk pelan, setelah itu ia berbalik dan segera kembali ke meja kerja nya. --- Hari terasa berjalan lambat. Liora sudah bekerja dengan begitu keras, mulai dari mengatur dokumen, menjawab telepon, dan menyiapkan berkas rapat dengan disiplin sempurna. Tapi setiap kali Rhazel berbicara, setiap kali suaranya terdengar di balik meja besar itu, sesuatu di dalam dadanya bergerak, bukan hanya gugup, tapi campuran antara takut dan… sesuatu yang ia benci untuk akui. Ketika hari menjelang sore, ketika ruangan sudah mulai sepi, Rhazel berdiri dan menatap arloji mahal yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. “Cukup untuk hari ini. Liora, kau boleh pulang.” Liora menunduk sopan. “Terima kasih, Tuan.” Namun sebelum ia melangkah keluar, suara bariton Rhazel kembali memanggil, namun ebih lembut tapi menggema di telinganya. “Liora.” Liora menoleh. Rhazel menatapnya dalam diam, sorot matanya sulit dijelaskan. "Ya tuan ?" “Selamat datang kembali di dunia yang pernah meninggalkanmu.” Ucap Rhazel datar Liora terdiam.Kata-kata itu tak seperti ucapan biasa. Ada makna lain di dalamnya, samar, tapi menusuk. Tapi, Liora tak menggubrisnya. Ia segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Rhazel. Ketika pintu tertutup di belakangnya, Rhazel perlahan memalingkan wajahnya menatap kearah jendela besar lagi. "Sepuluh tahun kau hilang dari hidupku… Sekarang aku ingin tahu sejauh apa kau bisa bertahan di tempat yang kupimpin. Mari kita lihat, Liora… apakah kau masih bisa menatapku dengan mata yang sama", gumam Rhazel pada dirinya sendiri
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD