Bab 04. Tatapan Pertama

1091 Words
Udara di koridor terasa berat ketika pintu lift terbuka. Liora terpaku di ambang pintu, tak mampu melangkah masuk. Sosok pria berjas hitam berdiri di dalam, dengan posisi tegak dan wajah yang tenang, tapi pancaran wibawanya cukup untuk membuat siapa pun menunduk. Rhazel Corvin. Nama itu seketika terlintas di benaknya seperti kilat cahaya yang menyilaukan, menyakitkan, sekaligus nyata. Sepuluh tahun berlalu, tapi tatapan mata itu masih sama, tajam, menghujam, dan penuh kuasa. Waktu seolah berhenti di antara mereka, hanya suara mesin lift berdengung pelan. Rhazel menatap Liora tanpa ekspresi. “Kau mau naik, atau hanya berdiri di situ selamanya?” ucapnya tenang, tapi dingin dan raut wajahnya terlihat datar. Liora terperanjat kecil. “M-maaf…” Ia melangkah masuk dengan langkah hati-hati, menjaga jarak. Begitu pintu tertutup, suasana di dalam lift menegang. Aroma parfum maskulin bercampur dengan detak jantungnya yang tak karuan. Udara di dalam lift terasa menekan, seolah ruang sempit itu memerangkap sisa masa lalu yang belum selesai. Tatapan Rhazel hanya bertahan beberapa detik sebelum ia mengalihkan pandangannya ke depan, dingin dan datar seperti tak pernah mengenalnya. “Lantai tiga puluh?,” tanya Rhazel singkat tanpa menoleh, suaranya dalam dan berwibawa. Liora menelan ludah. Jemarinya saling menggenggam di depan tubuh, menahan gemetar yang perlahan merayap. Ia hanya bisa mengangguk kecil, mencoba menyembunyikan gejolak di d**a yang tak bisa dijelaskan. Liora menggigit bibir. Ia bisa merasakan tatapan itu sempat melirik ke arahnya, tapi terlalu singkat untuk disebut perhatian. Lift bergerak naik. Detiknya terasa lebih panjang dari sepuluh tahun penantiannya. Begitu bunyi ting terdengar, pintu terbuka. Liora buru-buru melangkah keluar tanpa menoleh, seolah takut napasnya pecah jika menatap sedikit lebih lama. Sedangkan, Rhazel masih berdiri di tempat, menatap punggung Liora.“Masih sama polosnya,” gumamnya pelan seraya mengulas senyum tipis menyeringai. Setelah itu, ia melangkah keluar dari lift lalu melenggang masuk kedalam ruang kerja nya. beberapa kandidat lain sudah berdiri di area resepsionis lantai tiga puluh. Suara langkah sepatu, bisikan kecil, dan aroma parfum mahal bercampur menjadi satu suasana yang menekan. Liora berjalan pelan menuju kursi kosong di barisan belakang. Ia duduk, memeluk map berisi berkas lamaran yang kini terasa lebih berat dari seharusnya. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah pintu kaca besar bertuliskan “CEO’s Office Rhazel Corvin.” Nama itu masih sama, tapi rasanya jauh berbeda. Satu per satu kandidat dipanggil masuk. Waktu terasa lambat, setiap menit bagai satu jam. Hingga akhirnya, suara Jonas memecah keheningan. “Nona Liora Vayne. Silakan masuk.” Langkahnya kaku saat berdiri. Liora merapikan blazer, menarik napas panjang, lalu mengetuk pelan pintu ruangan itu. Tok… Tok… “Masuk,” suara itu terdengar dalam dan datar. Dengan ragu-ragu Liora membuka pintu tersebut. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyergapnya, berpadu dengan aroma kayu mahal dan kopi hitam yang kuat. Rhazel duduk di balik meja besar, tubuhnya tegap, matanya fokus pada berkas di tangannya seolah Liora hanyalah kandidat lain yang datang melamar pekerjaan. “Duduk,” titahnya tanpa menatap. Liora duduk perlahan, menaruh map di atas meja. Tangannya bergetar halus saat mendorongnya ke arah Rhazel. Tapi ketika jemarinya bersentuhan dengan jemari pria itu, hanya sekejap waktu seolah terasa berhenti. Sentuhan itu dingin, tapi familiar. Rhazel mengangkat pandangan. Tatapan tajamnya menembus dinding pertahanan Liora, tapi ekspresinya tetap tanpa celah. “Liora Vayne,” ucapnya pelan, menyebut namanya seolah hanya membaca tulisan di berkas. “Kualifikasi cukup… tapi saya tidak menilai hanya dari kertas.” Nada suaranya dingin, tapi dalam setiap kata mengandung tekanan yang membuat napas Liora nyaris tercekat. “Jadi… buktikan.” Liora mendongak menatap pria itu dan mencoba tetap mempertahankan kontak mata, tapi tatapan Rhazel terlalu menusuk. Dingin dan tajam Seolah ia sedang menilai bukan kemampuan, tapi keberanian. “B-boleh saya tahu, Tuan… buktikan dalam hal apa?” tanya Liora hati-hati, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha terdengar profesional. Rhazel menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menautkan kedua jari di depan wajahnya. “Dalam hal menghadapi tekanan.” “Tekanan?” Liora mengulangi ucapan itu pelan. “Ya,” Rhazel menatapnya lurus. “Pekerjaan menjadi sekretaris pribadiku tidak mudah. Aku tidak membutuhkan orang yang lemah, yang terbiasa berlindung di balik belas kasihan orang lain.” Kalimat terakhir itu seperti pisau yang menusuk d**a Liora. Ia tahu betul maksud tersirat dari kata-kata itu. Tapi wajahnya tetap datar. Ia menegakkan punggung dan menatap balik dengan keteguhan yang bahkan membuat Rhazel sedikit terdiam. “Saya tidak mencari belas kasihan, Tuan,” jawabnya lembut tapi tegas. “Saya bekerja keras untuk sampai di sini. Tidak ada yang mudah dalam hidup saya, tapi saya tidak berhenti berusaha.” Rhazel menatapnya lebih lama kali ini. Ada sesuatu di balik matanya, seperti rasa ragu? Nostalgia? tapi ia sendiri tidak yakin. Tapi, dengan cepat ia menghapus perasaan itu. Rhazel berdiri perlahan, berjalan memutar ke arah jendela besar di belakang meja, lalu bersandar di tepiannya. “Jika begitu, anggap ini ujian pertamamu, Nona Vayne. Aku ingin laporan keuangan bulan ini direkap ulang, tanpa kesalahan satu angka pun. Jonas akan memberimu akses ke file-nya.” Liora menelan ludah. “S-sekarang?” “Sekarang,” jawabnya cepat, menoleh sekilas dengan tatapan tajam. “Waktu adalah hal paling mahal di perusahaan ini.” “Baik, Tuan.” Kemudian, Liora berdiri membungkuk sopan, lalu melangkah mundur menuju pintu. Tapi sebelum sempat keluar, suara berat itu kembali terdengar. “Dan satu lagi,” kata Rhazel. Liora menoleh. “Jangan pernah terlambat.” Liora mengangguk pelan, ia lalu menutup pintu dengan hati yang berdegup kencang. Begitu keluar dari ruangan itu, napasnya terlepas panjang, nyaris seperti habis berlari. Ia tak tahu apakah Rhazel benar-benar tidak mengenalinya… atau sengaja berpura-pura tidak tahu. Namun satu hal yang pasti, tatapan mata itu yang dulu membuatnya takut dan terluka, kini kembali menyalakan sesuatu yang sudah lama padam di dalam dirinya. Bukan dendam, tapi tekad. Begitu pintu tertutup, ruang itu kembali tenggelam dalam keheningan. Rhazel masih berdiri di sana, menatap bayangan dirinya di kaca besar di belakang meja kerja. Pantulan langit biru terlihat tenang, tapi pikirannya tidak. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun ia membangun kekuasaan, mengubur masa lalu di balik tumpukan ambisi, dan meyakinkan dirinya bahwa gadis kecil itu sudah lama hilang bersama hujan malam itu. Namun satu tatapan darinya saja, cukup untuk mengguncang seluruh benteng yang susah payah ia bangun. Rhazel tersenyum miring, getir, tapi tetap dengan nada tenang yang mengintimidasi. “Setelah sepuluh tahun aku mencarimu, Liora,” suaranya rendah, nyaris seperti bisikan rahasia yang hanya pantulan kaca bisa dengar, “akhirnya kau sendiri yang datang kepadaku…” Ia melangkah ke arah meja, menyentuh berkas lamaran bertuliskan nama Liora Vayne di pojok kanan atas. Matanya menajam. “Dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD