Bab 03. Sepuluh Tahun Berlalu

1061 Words
Sepuluh tahun sudah berlalu.... Sejak hari di mana langit menangisi kepergian Elara dan Liora diusir dari rumah kediaman Corvin. Kini gadis itu tumbuh menjadi wanita yang cantik, pintar dan mandiri. Sinar matahari menembus celah tirai tipis kamar mungil di sebuah apartemen sederhana di tengah kota. Sinar itu jatuh menyilaukan tepat diwajah cantik Liora yang masih terlelap di antara tumpukan kertas dan buku catatan berserakan di atas meja. Alarm ponsel berdenting pelan, lalu berhenti begitu tangannya terulur malas menekan tombol. Liora menguap panjang, lalu mengusap wajahnya. “Sudah pagi lagi, ya…” gumamnya lirih. Tubuhnya pegal karena semalam lembur mengerjakan proposal lamaran kerja yang bahkan ia sendiri ragu akan dibaca orang. Ia kemudian menatap cermin kecil di sudut ruangan, pantulan wajahnya terlihat lebih dewasa, dengan sorot mata yang lebih tegas. Gadis itu bukan lagi Liora kecil yang dulu menangis di bawah hujan. Tapi luka itu belum benar-benar sembuh, hanya tertutup oleh tumpukan tekad. Ting! Notifikasi ponsel membuatnya menoleh. Surel masuk dari alamat resmi: HR@corvincorp.com. Alis Liora terangkat, jantungnya berdetak cepat. Ia membuka pesan itu dengan tangan yang bergetar. Kepada Liora Vayne, Kami mengundang Anda untuk mengikuti wawancara kerja di Corvin Corporation pada pukul 09.00 besok pagi. Terima kasih atas minat Anda untuk bergabung bersama kami. “C-corvin… Corporation?” bisiknya pelan, nyaris tak percaya. Nama itu terasa asing sekaligus familiar. Nama keluarga yang telah merenggut segalanya darinya rumah, ibu, dan masa kecil. Nama yang ingin selalu dia lupakan. Liora menggigit bibir bawahnya pelan. “Haruskah aku datang…?” “Ya, aku harus datang. Tujuanku hanya untuk melamar bekerja... Baiklah aku akan datang". Ucap Liora meyakinkan dirinya sendiri. Dengan cepat, Liora menyingkap selimut yang menutupi punggungnya lalu melangkah ke kamar mandi. Suara air mengalir menggantikan riuh pikirannya. Tok! Tok! Tok! “Liora! Hei, kau masih hidup ? Aku membawa sarapan!” Terdengar suara Rachel dari balik pintu apartemen, membuat Liora terkekeh kecil. “Masuk aja, Chel! Aku sedang siap-siap.” Rachel, sahabat sekaligus kakak baginya itu masuk sambil nampan kecil berisi roti panggang dan kopi. “Aku kira kau bakal bangun siang lagi. Ternyata sudah mandi?”, ujar Rachel seraya meletakkan nampan itu diatas meja makan. “Aku dapat panggilan kerja.” Sahut Liora Rachel hampir menjatuhkan cangkir berisi kopi yang baru akan ia minum. “Serius?! Di mana?” “Corvin Corp.” Jawab Liora cepat Seketika ekspresi Rachel menegang. “Corvin? Nama itu…” “Ya.” Liora memotong pelan. “Nama keluarga itu.” Rachel menatapnya dengan khawatir. “Kau yakin, Li?” Liora mengangguk mantap. “Sepuluh tahun sudah cukup buat aku berhenti lari, Chel” "Baiklah, aku percaya pada mu, Li". --- Keesokan harinya, Liora sudah tiba 30 menit sebelum acara wawancara dimulai. Ia berdiri di depan gedung megah berlogo CORVIN CORPORATION. Huruf perak raksasa berkilau diterpa cahaya pagi, memantulkan langit biru dari kaca tinggi yang menjulang. Liora menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak tak karuan. “Ini cuma wawancara. Bukan masa lalu yang datang menagih,” bisiknya meneguhkan diri. Sebelum akhirnya, ia benar-benar melangkahkan kakinya masuk kedalam perusahaan tersebut. Suara sepatu heels yang ia kenakan bergema pelan di lantai marmer yang berkilau. Lobi itu terasa terlalu luas, terlalu mewah, terlalu asing namun juga mengingatkannya pada masa kecil di rumah besar yang dulu pernah ia tinggali. Seulas senyum hangat seorang resepsionis menyambut kedatangannya. “Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, Nona?” “Saya Liora. Saya datang kemari untuk panggilan wawancara". Kata Liora sopan “Silakan menuju lantai 27, tempat wawancara ada diruang tunggu eksekutif. Anda bisa langsung naik lift di sebelah kanan.” Kata Resepsionis. “Terima kasih,” ucap Liora menundukkan kepalanya sedikit. Langkahnya membawa dirinya ke arah lift yang ditunjukkan oleh resepsionis tersebut. Dinding-dinding kaca memperlihatkan pemandangan kota di bawah, membuatnya sedikit gugup. Liora menatap pantulan wajahnya di pintu logam. Ia tampak percaya diri di luar, tapi matanya menyimpan sejarah yang tak seorang pun tahu. --- Sementara itu, di lantai paling atas di gedung yang sama, seorang pria berdiri di depan jendela besar sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Jas hitam yang melekat sempurna ditubuh atletisnya, rambutnya selalu disisir rapi kebelakang. Tatapan matanya dingin dan tajam. Ia adalah Rhazel Corvin. Di bawah cahaya pagi, sosoknya terlihat seperti seseorang yang sudah terbiasa memegang kendali dunia. Penuh wibawa dan kharisma, tapi di balik sorot matanya yang tajam itu, ada ruang kosong yang tak pernah terisi selama sepuluh tahun terakhir. Asisten pribadinya, Jonas, berdiri di sampingnya sambil memegang sebuah tablet ditangan kirinya. “Tuan, hari ini ada jadwal wawancara untuk posisi sekretaris pribadi anda. Beberapa kandidat sudah datang.” “Hm... Aku akan menilai sendiri para kandidat itu". Kata Rhazel datar “Baik, Tuan.” Jonas menunduk, lalu meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Rhazel menarik napas panjang. Pandangannya kembali jatuh ke bawah, ke jalanan di mana hujan dulu menghapus jejak seorang gadis kecilnya. “Liora… kau di mana sekarang?” gumamnya pelan. --- Di ruang tunggu, Liora menggenggam berkas lamaran di pangkuannya. Tangannya dingin dan kakinya terasa melayang ringan. Ia melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, pukul 08.58. “Sebentar lagi,” lirih Liora sambil berusaha tersenyum pada dirinya sendiri. Sembari menunggu wawancara dimulai, Liora memandang menatap sekeliling. Pandangan matanya jatuh pada sebuah papan nama yang bertuliskan “Corvin Corp” yang terpampang di setiap dinding membuat dadanya sedikit terasa sesak. Tapi bukan rasa takut, melainkan keyakinan untuk membalas masa lalu dengan keberhasilan. “Liora Vayne, silakan naik ke lantai 30. Direktur utama ingin mewawancarai Anda langsung.” Ucap seorang wanita bagian personalia Liora sontak tertegun. “D-direktur… utama?” “Iya, Tuan Rhazel Corvin sendiri.” kata wanita tersebut Deg... Rhazel Corvin... Nama itu, nama yang sudah sepuluh tahun tak pernah ia dengar lagi, namun masih ia simpan dalam setiap doa. Langkah kaki Liora terasa berat. Lift terbuka, dan ia melangkah masuk perlahan. Musik lembut mengiringi perjalanan ke lantai 30, tapi detak jantungnya jauh lebih keras. “Tidak mungkin… kan?” bisiknya. “Itu pasti kebetulan.” Lift berhenti dengan bunyi pelan. Pintu logam terbuka perlahan. Dan di hadapannya, berdiri sosok pria berjas hitam, dengan tatapan mata tajam yang dulu pernah menatapnya di bawah hujan. Sejenak kedua mata mereka saling bertemu, tak ada kata, tak ada suara. Hanya dua masa lalu yang saling mengenali dalam diam. Dan, seketika itu waktu seolah terasa berhenti sejenak. “Liora..." suara itu berat, pelan, tapi cukup untuk mengguncang udara di antara mereka. "R-rhazel..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD