Langkah kaki Liora pelan menapaki halaman batu yang basah oleh sisa hujan. Udara sore masih terasa lembab dengan aroma tanah bercampur bunga kamboja memenuhi indra penciumannya. Di depan sana berdiri rumah keluarga Corvin yang megah, mewah, dan kini terasa asing baginya.
Liora berhenti sejenak di anak tangga pertama, menatap pintu kayu besar yang dulu sering dibukakan ibunya sambil melempar senyum hangat kearahnya. Kini, pintu itu tertutup rapat seperti menolak kedatangannya.
Tangan Liora sempat terulur ke gagang pintu, namun tertahan ketika samar-samar terdengar suara tinggi dari dalam.
“Aku sudah bilang, Kak! Keluarga kita jadi bahan omongan gara-gara dia!”
Itu suara Sinclaire Corvin, adik perempuan Damian. Nada bicaranya terdengar sangat nyaring dan menusuk telinga.
Tak berselang lama, terdengar suara sahutan. Dan, itu adalah suara Damian. Pria itu menjawabnya lebih tenang tapi dingin. “Cukup, Sinclaire. Tidak perlu dibesar-besarkan.”
“Tidak bisa!” Sinclaire menimpali cepat. “Semua orang tahu kalau Elara mati karena depresi setelah ketahuan berselingkuh. Sekarang kau masih mau menampung anaknya di sini? Apa kata mereka nanti? Keluarga Corvin memelihara aib?”
Tangan Liora gemetar di udara. Nafasnya tercekat ditenggorokan.
"Ibu… bahkan setelah kau pergi, mereka masih menyebutmu begitu?".
Liora mendorong pintu itu perlahan engselnya berderit. Ruang utama rumah Corvin langsung menyambutnya dengan hawa dingin dari lantai marmer dan sinar lampu kristal yang memantulkan cahaya pucat.
Sinclaire berhenti bicara seketika, memutar tubuhnya. Tatapan matanya menusuk tajam begitu melihat sosok gadis bergaun hitam basah berdiri di ambang pintu.
“Oh, lihat siapa yang kembali dari pemakaman?,” sindirnya tajam. “Tak perlu repot-repot kembali ke sini, Liora. Tempatmu bukan di rumah ini lagi.”
Liora menunduk, menahan diri untuk tidak menatap balik. “Aku hanya ingin bicara dengan Ayah.”
“Dia bukan ayahmu!” Sinclaire menyela cepat. “Kau pikir darah kotor ibumu bisa menyamakanmu dengan kami?”
“Cukup, Sinclaire.” Damian akhirnya bersuara. Pria itu berdiri di dekat perapian, jas hitamnya masih melekat rapi ditubuhnya, wajahnya terlihat tegang. “Biarkan aku bicara dengannya.”
Sinclaire mendengus kesal, tapi menurut. Ia melangkah ke sofa lalu duduk dan menyilangkan kedua tangan nya didepan d**a. Menonton adegan Liora dan Damian, seperti penonton yang menunggu drama keluarga dimulai.
Liora menatap Damian, matanya memerah tapi suaranya tetap pelan.
“Ayah… Ibu tidak bersalah. Aku tahu, ada seseorang yang menjebaknya. Aku sendiri mendengar—”
“Cukup.” Damian langsung memotongnya dengan cepat dengan nada suara yang keras, membuat Liora tersentak. “Jangan sebut namanya lagi di rumah ini.”
“Tapi, Ayah—”
“Diam!”Damian melangkah maju, suaranya makin meninggi. “Kau pikir aku buta? Aku tahu siapa ibumu! Perempuan itu mempermalukan nama keluarga Corvin, dan sekarang kau datang membawa wajah yang sama dengannya!”
Kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada cambuk.
Liora menatap Damian dengan mata bergetar, tapi sorotnya penuh ketegasan.
“Ayah boleh hina Ibu, tapi jangan lupakan siapa yang menolong Ayah saat hampir kehilangan segalanya dulu. Ibu percaya pada Ayah, bahkan ketika orang lain tidak.”
Damian terdiam sejenak, namun hanya untuk menahan amarah yang makin memuncak.
“Tapi, dia menghancurkan kehormatan keluarga ini.”
“Tidak!” Liora menggeleng keras, air matanya kembali jatuh berlinangan membasahi pipi mulusnya. “Ibu setia pada Ayah sampai akhir. Semua tuduhan itu bohong!”
Sinclaire bertepuk tangan pelan, mencibir Liora.“Lucu sekali. Anak hasil skandal membela ibunya yang selingkuh. Pantas kalian mirip.”
Liora yang mendengar itu hanya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, tapi tetap diam tak membalas cibiran tersebut.
Damian menghela napas panjang lalu berkata dengan suara datar, “Mulai malam ini, kau tidak lagi tinggal di rumah ini.”
Suasana hening seketika. Hanya suara hujan yang kembali turun dari luar jendela.
Liora mematung. “Apa maksud Ayah?”
“Bereskan barangmu dan pergi. Aku akan kirimkan sedikit uang agar kau bisa hidup sampai dewasa. Setelah itu, aku tak ingin melihatmu lagi.”
“Ayah…”
Tiba-tiba terdengar suara berat itu datang dari arah anak tangga.
Rhazel muncul, menuruni satu persatu anak tangga sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampak lelah tapi mata nya menatap ayahnya dengan tajam.
“Dia baru saja kehilangan ibunya. Tidak bisakah ayah tunggu sampai dia sedikit lebih tenang?”
“Rhazel.” Damian mengeraskan rahang. “Ini urusan keluarga. Jangan ikut campur.”
“Tapi dia juga keluarga,” jawab Rhazel pelan.
“Tidak!” Sinclaire memotong cepat, matanya berkilat menahan amarah. “Dia bukan keluarga kita! Jangan bodoh, Rhazel!”
Liora menggigit bibir, menatap Rhazel dengan pandangan putus asa. “Jangan ikut campur. Aku tidak mau membuatmu dimarahi lagi.” Lirih Liora berucap
Rhazel balas menatapnya, menahan kata-kata yang ingin keluar.
Damian menggerakkan tangannya, menunjuk ke arah pintu. “Pergi, Liora. Sebelum aku kehilangan kesabaran.”
Beberapa detik tak ada yang bergerak. Lalu Liora menunduk pelan, menggenggam ujung gaunnya.
“Baik, Ayah. Tapi ingat satu hal, Ibu tidak bersalah. Dan suatu hari nanti, kebenaran itu akan datang padamu sendiri.”
Setelah itu, Liora berbalik melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi.
Suara hentakan sepatu kets nya bergema di lantai marmer, setiap langkah terasa seperti mematahkan sesuatu di dalam dadanya sendiri.
Ketika pintu besar itu tertutup di belakangnya, hujan langsung menyambut. Air nya menetes di wajahnya, bercampur dengan air mata yang tak sempat ia usap.
Dari dalam, Rhazel mematung seraya mengepalkan kedua tangannya.
Damian hanya berdiri membelakanginya, diam tak lagi melontarkan suara. Tapi, tatapan matanya terus mengawasi putranya.
Rhazel melangkah ke jendela, menatap Liora yang berjalan menjauh di bawah guyuran hujan deras.
“Maaf,” bisiknya hampir tak terdengar, “aku tak cukup kuat untuk menahanmu tetap tinggal disini Liora, tapi aku berjanji suatu saat nanti, aku akan membawa mu kembali kerumah ini, Liora".
Hujan turun lebih deras, menelan seluruh suara keheningan malam. Dan di antara gemericik itu, bibirnya kembali terpatri melontarkan sebuah janji.
Janji untuk menjemput gadis yang kini berjalan sendirian di bawah langit yang mulai gelap.
Diluar sana, Liora kembali kehujanan berdiri tepat ditengah-tengah halaman rumah. Ia berbalik badan menatap sejenak rumah megah itu. Tatapan matanya, tak sengaja bertemu dengan tatapan tajam milik Rhazel.
Namun, Liora hanya diam memaku. Sebelum akhirnya ia berbalik badan dan benar-benar melangkahkan kaki nya pergi meninggalkan rumah utama keluarga Corvin yang penuh dengan kenangan itu.