Bab 01. Pemakaman

1006 Words
Hujan turun sejak pagi, menitik pelan di atas payung-payung hitam yang berjejer di halaman pemakaman keluarga Corvin. Langit seperti berduka, meneteskan air matanya untuk seseorang yang sudah tak dipedulikan lagi oleh dunia— Elara Vayne. Liora berdiri di antara kerumunan itu, tubuh mungilnya setengah basah, jemarinya menggenggam erat gagang payung yang hampir patah. Tak ada tangan yang menggandengnya, tak ada pelukan yang menenangkan nya. Dia sendirian, anak dari perempuan yang kini jasadnya hampir dikebumikan dan dibicarakan dengan nada bisik-bisik penuh kesinisan. Di seberang liang kubur, Damian Corvin - Ayah tirinya berdiri kaku dengan setelan pakaian hitamnya yang nampak sempurna, tapi tatapan matanya dingin, nyaris tanpa duka. Sesekali pandangannya beralih ke arah Liora, hanya sekilas, cukup untuk membuat gadis itu menunduk. Ia bahkan tak mendekat, seolah tanah di antara mereka adalah jurang yang tak bisa diseberangi. Bunga terakhir jatuh dari tangan Liora, menimpa tanah basah di atas peti. Air hujan bercampur air mata, tak jelas mana yang lebih asin. “Selamat tinggal, Ibu…” bisik Liora nyaris tanpa suara. Di balik kerumunan itu, di bawah naungan payung hitam, Rhazel Corvin menatapnya diam-diam. Tatapan itu menusuk tapi penuh kegetiran antara ingin mendekat tapi tahu dirinya tak berhak. Sudah satu tahun sejak terakhir kali ia bicara dengan Liora. Satu tahun sejak dunia mereka berubah menjadi dinding dingin bernama status dan keluarga. Rhazel menatap punggung gadis itu yang bergetar halus.Wajah Liora tak lagi seperti dulu, bukan lagi anak yang suka tersenyum di taman belakang rumahnya sambil membawa buku tebal. Sekarang dia tampak dewasa sebelum waktunya. Pucat, tangguh namun juga rapuh. Rhazel menghela napas yang berat. Dia tahu setelah hari ini, semuanya akan berubah. Damian sudah menunjukkan sikapnya. Elara akan segera dikuburkan. Dan Liora… mungkin gadis itu akan semakin rapuh tak terkendali. Langit makin muram. Tanah pemakaman berubah becek, sepatu Liora sudah kotor penuh lumpur, tapi dia belum juga bergerak. Orang-orang mulai pergi satu per satu. Sahabat palsu, kerabat jauh, semua yang hanya datang demi formalitas. Liora menunduk, memandangi batu nisan yang masih baru dengan nama ibunya yang diukir rapi disana. Rasanya masih seperti mimpi, ibu nya meninggalkan dirinya untuk selama-lama nya. “Kenapa harus kamu, Bu…” lirih Liora, suaranya serak terbawa angin dan hujan. “Kenapa mereka semua memandang kita seperti aib?” Ucapnya lagi Hujan menetes dari ujung rambutnya, membasahi pipinya yang pucat. Liora tak tahu lagi mana air mata dan mana air hujan. Tubuhnya mulai gemetar, mungkin karena dingin, tapi juga karena rasa kehilangan. Tiba-tiba terdengar langkah kaki berjalan mendekat. Liora refleks menegakkan tubuhnya, mengira itu Damian tapi ternyata bukan. Yang berdiri beberapa meter darinya adalah seorang pria muda bertubuh tegap, wajahnya sebagian tersembunyi di balik payung hitam. Rhazel... Mata mereka bertemu sekilas, cukup lama untuk membuat waktu berhenti sejenak. Liora membeku. Napasnya tercekat, ingatan masa lalu menyeruak, tawa masa kecil di taman keluarga Corvin, hari-hari mereka berdua pergi jalan-jalan, berlari-larian hingga detik terakhir mereka ketika semuanya direnggut atas nama status dan keluarga. “Kak Rhazel…” panggilnya lirih, nyaris tak terdengar. Tapi Rhazel tak menjawab. Hanya menatapnya dari balik tirai tetesan air hujan dari payungnya. Tatapan itu sulit diartikan, seperti seseorang yang ingin memeluk, tapi tahu pelukannya justru akan menyakitkan. Rhazel ingin melangkah, tapi Damian berdiri tak jauh dari sana, menatap dirinya dengan tatapan tajam penuh peringatan. Rhazel akhirnya menunduk sedikit, lalu berbisik pelan, namun hanya untuk dirinya sendiri. “Maaf… aku datang terlambat.” Ucap Rhazel lirih. Setelah mengatakan itu, Rhazel berniat ingin pergi namun saat ia berbalik, tiba-tiba ia melihat payung Liora terlepas dari genggaman. Angin membawanya jatuh ke tanah, dan gadis itu ikut terhuyung, hampir terjatuh di atas tanah yang basah. Refleks, Rhazel menoleh cepat dan menangkap gadis itu kedalam pelukannya. Pelukan itu singkat, tapi cukup untuk membakar sesuatu yang sudah lama padam di d**a mereka. Hujan jatuh lebih deras, seperti ingin menyembunyikan keintiman singkat itu dari dunia. Liora terkejut. Wajah Rhazel begitu dekat, mata gelapnya menatapnya seperti penuh luka dan penyesalan. Namun sebelum sempat berkata apa pun, pria itu sudah melepaskannya. Rhazel mundur dua langkah, menegakkan bahu, lalu berbalik. Suara langkah kakinya perlahan menjauh, menyatu bersama gemericik hujan yang jatuh di atas tanah basah. Liora hanya bisa memandangi punggungnya yang perlahan menghilang di balik derasnya air hujan. Entah kenapa, d**a gadis itu terasa sesak. Seolah hujan tak hanya membasahi bumi, tapi juga membuka kembali luka yang selama ini ia kubur rapat. Tak jauh dari sana, Damian menyaksikan semuanya. Kedua tangannya terkepal erat, rahangnya mengeras menahan amarah. Tatapannya dingin menusuk ke arah Liora. “Jaga sikapmu, Liora.” Nada suaranya datar, tapi penuh ancaman halus yang menusuk hingga ke tulang. Liora hanya menunduk. Ia tak berani membalas, bahkan sekadar mengangkat wajah pun tidak. Hening menyelimuti pemakaman, hanya suara hujan yang masih jatuh tanpa henti. Beberapa saat kemudian, Damian berbalik. Langkah kakinya menjauh, meninggalkan Liora sendirian di samping pusara Elara, ditemani hujan yang kian turun deras. Tubuhnya sudah basah kuyup, tapi ia tak peduli. Ia berlutut di depan nisan sederhana itu, jemarinya mengusap pelan nama ibunya. “Ibu... kenapa harus aku yang menanggung semua ini sendirian? Aku... aku tidak sanggup,” bisiknya lirih, bibirnya bergetar di antara isak tangis tertahan. Ketika hujan mulai reda, Liora perlahan bangkit. Ia menatap batu nisan itu sekali lagi, pandangan penuh rindu, pasrah, dan kehilangan. Lalu, dengan langkah gontai ia berbalik meninggalkan makam itu kembali menuju Rumah besar keluarga Corvin . Rumah yang kini menjadi satu-satunya tempat yang tersisa, satu-satunya tempat yang bisa ia tuju setelah semua perlindungan pergi bersama kepergian Elara. Namun, di balik pohon besar di tepi pemakaman, Rhazel masih berdiri diam. Hujan membasahi wajahnya, tapi ia tak bergeming. Pandangannya hanya tertuju pada punggung Liora yang menjauh. Dalam hati, ia ingin sekali berlari mengejar gadis itu. Memeluknya dan menenangkan tangisnya, menegaskan bahwa dunia belum sepenuhnya jahat. Tapi suara peringatan Damian masih terngiang di kepalanya. "Jangan berurusan lagi dengannya", itulah peringatan yang Damian ucapkan. Rhazel mengepalkan kedua tangannya. “Liora... aku janji akan selalu menjagamu,” bisiknya pelan mengucapkan sebuah janji. “Tak akan ada yang boleh menyakitimu lagi.” Ucapnya sekali lagi, menegaskan pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga dan melindungi Liora, gadis yang diam-diam mencuri perhatiannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD