2

774 Words
Seperti kata Tante Mer, saat sudah landing aku diminta segera menghidupkan ponselku. Saat kulakukan, ada beberapa pesan baru yang masuk. Kebanyakan dari mama yang mencoba memastikan keadaanku dan mengatakan aku harus menghubunginya saat sudah sampai di rumah Tante Mer. Lalu Tante Mer yang mengatakan kontak selanjutnya akan dilakukan oleh tenant-nya agar lebih mudah, dan dia sudah memberikan nomor ponselku. Lalu kemudian chat paling atas di pesan instant di nomor pribadiku yang menyatakan dia sebagai Archard dan mengatakan dia yang menjemputku. Kemudian pesan baru yang mengatakan dia sudah sampai, dan aku bisa menghubunginya lewat telepon di aplikasi ini agar lebih mudah saat sampai. Tanpa menunggu, aku segera menghubunginya setelah selesai dengan proses imigrasi. Aku tidak yakin apa aku akan mengucapkan namanya dengan benar, karena tulisannya nampak asing, jadi aku memilih membuka percakapan dengan, “Hallo, ini dengan Florimel. Tenant barunya Tante Mer.” “Hallo, gue Archard,” dia mengucapkan namanya dengan SY sebagai pengganti CH. Baiklah, setidaknya aku tahu bagaimana harus mengucapkan namanya sekarang, “Udah selesai imigrasi? Gue di luar karena engga bisa masuk. Kalo udah keluar front gate Schiphol, nanti lo telepon lagi aja, nanti gue arahin.” Karena aku menghubunginya sampai melangkah dan mendorong trolley-ku, jadi aku sudah sampai saat dia menyelesaikan kalimatnya, “Gue udah di luar. Di West. Gue kemana?” “Oh, gue juga di West. Coba cari Jimny item, gue di samping pintu penumpang, pake hoodie coklat sama jacket jeans.” Aku mengangguk dan mulai mengikuti instruksinya. Jujur saja, aku hanya mengandalkan informasi warna yang diberikannya. Satu, karena aku tidak yakin aku tahu apa itu Jimny, dan dua, aku tidak sedang menggunakan kacamataku. Wajahnya hanya akan kabur jika dilihat dari jarak jauh. Setelah beberapa lama mencari, aku akhirnya menemukannya. Tapi untuk memastikan, aku bertanya, “Gue pake joger abu-abu sama sweater putih sama jacket jeans. Gue lihat lo, tapi in case gue salah orang, lo lihat gue?” *** Kukira aku mengigau. Saat keponakan Tante Mer yang merupakan landlord tempatku tinggal selama di Belanda menghubungiku dan mengatakan dia sudah di lobi barat, aku segera mendeskripsikan pakaianku sambil mencari-cari. Tak kusangka, pandanganku mendarat pada wajah familiar yang terakhir kulihat setahun lalu di Indonesia. Wajah yang seharusnya kulupakan supaya aku bisa melanjutkan hidup, karena kenyataannya aku tidak punya kesempatan sama sekali dengannya. Seharusnya. Sayangnya, satu hal ini masih tidak bisa kutemukan jalannya. Aku masih tidak bisa memahami perasaanku sendiri. Satu-satunya organ tubuh yang pada dasarnya bisa diperbaiki, dan kupelajari sebelumnya untuk dipahami, tapi bahkan dengan pekerjaan dan pendidikanku tidak bisa kukendalikan sama sekali. Dual-function dari organ hati inilah yang membingungkan, yang membuatku tak bisa mengerti fungsi abstraknya yang tidak sama sekali bisa diajak bekerja sama. Bahkan ketika aku tidak lagi bisa melihatnya secara langsung karena jarak ribuan kilometer yang memisahkan kami. Orang yang seharusnya sudah tidak membuatku merasakan reaksi aneh di dadaku ini sedang mendorong trolley-nya sambil menoleh ke kanan dan kiri. Tangan satunya menekan ponselnya ke telinga. Dia sedang menghubungi seseorang. Sampai akhirnya dia melihat ke arahku dan bicara di telepon. Saat itu juga, orang yang sedang kuhubungi terdengar suaranya. Dia menjelaskan pakaiannya dan mengatakan kalau dia mungkin saja melihatku, tapi dia takut salah orang. Seketika aku menyadarinya kalau deskripsi yang kudengar adalah deskripsi orang yang sedang menarik perhatianku. Orang yang tak jauh di depanku. Sedang melihat ke arahku. “Salah yah?” suara itu terdengar lagi. Membuyarkanku dari kekagetanku dan ketidak percayaanku akan jalan yang dibukakan takdir. Maksudku, kami tidak pernah mengobrol dan sangat amat jarang bertemu di negara kami sendiri, tapi sekarang aku mengobrol dengannya dan berada di rumah yang sama selama kami di Belanda. “Eh, engga bener kok,” jawabku cepat, bahkan jadi terdengar terlalu terburu-buru. Dia mengangguk dan tersenyum, tampak sama sekali tidak menyadari siapa aku. Memangnya dia tidak sama sekali merasa pernah melihatku? Kenapa dia tidak terlihat mengenaliku? Dia memutus hubungan teleponnya dan kemudian melangkah mendekat. Satu lagi alasan kenapa aku harus lebih berusaha keras untuk berhasil menghapus bayangan orang ini dari pikiranku. Dia tidak merasakan perasaan yang sama terhadapku. Dia tidak menggila hanya dengan melihatku. Dia tidak tiba-tiba saja lumpuh otak untuk sementara waktu saat pandangan kami bertemu. Saat sudah kurang dari sepuluh langkah, dia tiba-tiba memelankan kecepatannya dan kemudian nampak menyadari keadaannya. Tunggu, dia baru ingat sekarang? “Arco yah?” tanyanya tiba-tiba menggunakan namaku yang digunakan keluargaku. Dia kelihatannya baru menyadarinya. Aku mengangguk dan tersenyum kecil, “Be, kan?” balasku. Juga menggunakan namanya di keluarganya, “Gue pikir cuman mirip, abis kayaknya lo engga ngenalin gue.” Dia tersenyum bersalah, “Gue engga pake kacamata. Mukanya baru jelas beberapa saat lalu. Makanya baru ngeh.” Luar biasa. ‘Dreams don’t have deadlines.’ - Unknown. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD