3

1675 Words
Setelah melewati perjalanan tenang yang cukup membuatku merasa tidak nyaman dengan Arco di mobil, akhirnya aku sampai di rumah baruku. Arco tidak banyak berubah, meskipun aku tidak punya hak mengatakannya karena aku pada dasarnya tidak benar-benar mengenalnya. Aku hanya bisa menebak dari saat bertemu dengannya di acara keluarga besar, kalau dia bukan orang yang banyak bicara dan tidak mengeluarkan perasaan dan pikirannya pada banyak orang. Dia cenderung sibuk sendiri dengan dunia di dalam otaknya. Bicara soal rumah, aku belum tahu bagaimana kedepannya, tapi setidaknya, sampai satu tahun ke depan, kelihatannya ini akan menjadi rumahku. Karena ini hari Minggu, semua tenants di rumah ini kebetulan sedang berada di rumah. Beberapa berada di ruang makan saat aku dan Arco sampai. Ruang makan yang menyatu dengan dapur, yang Arco bilang biasa digunakan oleh mereka untuk berkumpul bersama saat sarapan atau makan malam. Waktu di mana kami bisa saling bertemu dengan yang lain. Arco membantuku dengan mengenalkanku pada mereka. Bianca yang seorang wartawan, Chacha yang masih merupakan mahasiswa S2, dan yang terakhir adalah Bagas, seorang pekerja teknik sipil. Dia yang terakhir muncul dan bergabung dengan kami karena mendengar suara berisik, katanya. Setelah itu, Chacha kemudian mengantarkanku ke kamar baruku. Dia juga membantuku membawakan koperku. Dia menjelaskan beberapa peraturan dari Tante Mer, yang pada dasarnya tidak banyak. Dia juga memerlihatkan kertas peraturan yang dicetak Tante Mer dan dilapisi plastik keras agar tidak mudah robek. Itu tergantung di sebelah pintu kamar. Tante Mer dan mama benar-benar saudara. Mereka punya pola yang sama. Pikirku sambil memutar bola mataku dalam pikiranku. Pada dasarnya, peraturan itu hanya peraturan dasar. Seperti, mengetuk sebelum memasukki kamar orang lain. Tidak memasukki kamar tanpa izin. CCTV yang selalu menyala dan mengawasi lorong dan pintu kamar. Tidak masuk ke kamar lawan jenis. Menjaga kebersihan. Bertanggung jawab atas diri masing-masing. Seselesainya Chacha menjelaskan, dia kemudian meninggalkanku sendirian. Aku pun memilih untuk mengistirahatkan tubuhku sejenak, dibandingkan memulai mengeluarkan barang-barangku. Dengan cepat aku kehilangan kesadaranku. Entah aku kelelahan sehingga tidak mengingat mimpiku atau memang otakku sedang tidak ingin bermimpi, inderaku akhirnya mulai kembali ke dunia nyata dan otakku mulai berfungsi. Dengan enggan aku membuka mata. Merenggangkan tubuhku yang rasanya masih kelelahan. Tapi telingaku bisa menangkap bunyi-bunyi mencurigakan dari balik pintu kamarku. Ada ketukan lagi, dan aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. Florimel. Suara seorang perempuan, entah Chacha atau Bianca. Dengan langkah pelan dan sedikit oleng, aku mendekati pintu dan membukanya. Aku menemukan seseorang yang mirip dengan mama, bersama dengan Bianca dan Chacha di depan pintu dengan raut wajah nampak khawatir. “God, wat ben je aan het doen -kamu lagi ngapain sih-?” suara tanteku yang juga landlord di rumah ini. Entah memang dia biasa menggunakan pitch setinggi ini, atau karena dia sedang panik. “Tante ngetukin pintu dari semalem ngajakin makan malem, kamu engga keluar juga. Sarapan juga engga keluar. Makan siang juga. Kalo sampe makan malem sekarang kamu engga keluar juga, mau tante bobol tadinya. Kata Chacha kamu engga keluar dari nyampe rumah pagi kemaren.” Pagi kemarin? Kulirik jam tanganku yang masih berada di pergelangan tanganku. Oh? Sudah hari yang baru? Aku tidur lebih lama dari yang kuinginkan. Terlalu lama bahkan. Aku tersenyum bersalah pada ketikanya, “Jet-lag?” jawabku menyalahkan kenyataan aku masih berusaha menyesuaikan dengan timezone yang baru. Tante Mer menatapku tak percaya sementara Chacha dan Bianca hanya tertawa. Tapi tidak sampai di sana, Tante Mer memilih melanjutkan omelannya, “Kamu kelamaan tidurnya kalau cuman jet-lag. Mau tante teleponin Archard? Dia dokter, bisalah ngecheckin kamu bentar, cuman buat mastiin.” Wah, kelihatannya aku salah mengira Tante Mer akan membiarkanku hidup dengan mandiri. Dia baru saja melakukan hal yang mama akan lakukan kalau mama berada di sini. “Tante, ik ben goed -aku baik-baik aja-,” jawabku mencoba menenangkannya, “Cuman jet-lag. Sekarang cuman perlu makan.” Tante Mer baru akan membuka mulutnya, tapi Bianca mendahuluinya, “Iya tante, kayaknya Florimel lebih butuh makan sekarang. Dia udah ngelewatin 4 kali jam makan.” Aku mengangguk cepat setuju dengan perempuan blasteran tionghoa ini. Berharap itu bisa membuat Tante Mer diam dan membiarkanku mengisi perutku yang tiba-tiba merasakan kelaparan hebat setelah mendengar kalimat Bianca. “Aku bersih-bersih dulu, nanti aku turun,” kataku dan langsung kembali masuk ke kamar. Dengan tenaga yang ada -fully charged dari tidurku, tapi tanpa asupan makanan, aku membersihkan diriku dan mengenakan pakaian baru. Setelahnya merapikan diriku dan kemudian turun ke bawah. Hanya ada Tante Mer di sana. Dia langsung menyuruhku duduk di hadapannya. Satu mangkuk makan malam sudah tersedia di sana. Aardappelpuree -mashed potato-, dengan sayur-sayuran hijau dan daging asap. Rasa lapar semakin terasa, dan tanpa basa-basi, aku segera melahap santapan di depanku. Untuk beberapa menit, hanya ada suara berisik dari peralatan makan yang kugunakan yang beradu. Tapi setelah beberapa lama, akhirnya Tante Mer tidak tahan dan mulai membuka pembicaraan. “Kemaren dijemput Archard ada masalah ga?” tanya Tante Mer membuka pembicaraan. Aku menggeleng sambil masih menatap main course yang kalau kubandingkan dengan yang biasa kusantap, pasti jauh lebih tidak kuat rasanya. Tapi sekali lagi, ada hal lain yang harus kubiasakan di sini. Kali ini, giliran lidahku yang harus beradaptasi dengan rasa baru, setelah tubuhku dengan timezone baru. Setelah menelannya, aku pun memberitahukan informasi yang kelihatannya tidak diketahui Tante Mer, “Arco is toch mama’s neefje -Arco sebenernya ponakannya mama-. Dia anaknya Mama Salma.” Tante Mer menatapku bingung dengan kedua alisnya yang bertautan. Dengan itu aku segera membantunya keluar dari kebingungannya, “Arco, Archard. Di Indonesia Archard dipanggil Arco.” “Dat is toch grappig -Lucu sumpah!-,” kata Tante Mer setelah mengetahui keadaannya, “Maar ook opgelucht -tapi seenggaknya ngelegain-,” lanjutnya, “Jadi mama engga perlu rusuh karena di sini ada tenant beda gender. Toh, ponakan sendiri kan.” Ingin rasanya memutar bola mataku. Dia mengatakan mama rusuh, tapi dia menggedor kamarku beberapa saat yang lalu dan nyaris membobol pintunya. "Eh tapi kok, Archard engga pernah ngomong yah kalo dia anaknya Salma?" Tanter Mer mengembalikan topik pembicaraan. Aku mendengus tak tahan dengan pertanyaannya, "Tante, yang tahu Tante Mer adeknya mama yang cuman yang seangkatan sama tante sama keluarga deketnya mama. Orang tante engga pernah pulang." *** Saat aku pulang dari jaga malam, tidak biasanya rumah sudah menyala seperti ini. Tante Mer akan bangun saat matahari sudah terbit, jadi tidak mungkin dia yang berada di depan TV saat ini. Tidak ada dari kami yang menonton TV di pagi hari karena, Bahasa Belanda kami semua tidak ada yang mencukupi untuk memahami apa yang dikatakan siapapun di layar TV. Ada saluran internasional, tapi kami memilih sibuk dengan ponsel masing-masing saat pagi hari, atau setidaknya dengan wajah empat dimensi dan bukannya layar datar. Karena penasaran, aku pun memilih melangkahkan kakiku yang sudah cukup lelah setelah menyetir dari rumah sakit ke sini, dan mengecek siapa kiranya yang berada di sofa. Saat akhirnya bisa melihat sosok itu, orang ini juga menoleh ke arahku dengan wajah cerah seolah dia tidak tidur dan tersenyum ke arahku. Senyuman yang langsung membuat jantungku bekerja terlampau keras sehingga rasanya ada adrenalin rush yang mengisi seluruh urat nadiku hingga membuatku kembali sadar seratus persen. Lebih bahkan. "Baru pulang Co?" Aku memaksakan diriku untuk fokus dan mengontrol reaksiku. Dengan susah payah aku mengangguk. Sulit untuk membalas senyumnya, jadi aku memilih menjawab, "Lo engga tidur?" Dia segera menyentuh pipi kanan dan kirinya dengan kedua telapak tangannya, "Kelihatan banget yah?" tanyanya khawatir. Tapi seolah dia tak berniat memberikanku kesempatan untuk menjawab, dia segera melanjutkan, "Gue tidur lebih dari 24. Baru bangun makan malem tadi. Jadi sekarang engga bisa tidur. Engga tahu deh kapan bisa tidur lagi. Jam biologis badan gue masih jam Indonesia." Aku mengangguk paham. Tidak yakin apa yang harus kulakukan sekarang. Aku mau sekali berada di sini, tapi tidak yakin apa yang harus kubicarakan. Di sisi lain, aku berangkat ke sini salah satunya adalah untuk menghentikan kegilaanku menjadi pengecut yang hanya bisa mengagumi dari jauh dan tidak beraksi sama sekali. Keputusan yang kuambil sekitar setahun lalu dan kukira sudah berhasil kulakukan -yang ternyata aku salah besar. Ditambah lagi, badanku kelelahan saat memasuki rumah, sebelum mendapat pompaan adrenalin secara tiba-tiba karena Be. "TV ini engga sering dipake kayaknya yah?" Be tiba-tiba memecahkan keheningan. Membuatku kembali memfokuskan diriku padanya, dan bukannya pikiranku yang pada dasarnya juga sibuk berpikir tentangnya. Sekali lagi aku memulai dengan mengangguk, "Engga ada yang nonton TV selain Tante Mer. Dia pun jarang." Be mengangguk sambil bergumam. Dia kemudian kembali mendaratkan pandangannya ke TV, dan tak berapa lama dia tersenyum dan mendengus. Entah apa yang didengarnya dari dua orang pembawa acara ini. Dengan itu, aku memilih untuk melanjutkan rencanaku yang sudah kususun rapih dan kujalankan dengan baik setahun belakangan. Aku pun berbalik dan melanjutkan langkahku menuju kamarku. Seketika adrenalin yang tadinya memenuhi tubuhku seperti tersedot menghilang entah kemana. Saat aku sampai di kamarku, aku sudah kelelahan bukan main dan rasanya ingin sekali langsung membanting tubuhku ke kasur. Sayangnya, tidak bisa. Aku harus membersihkan tubuhku dari semua virus dan kuman yang menempel sebelum bisa berbaring nyaman di kasur dan tidur untuk 4 jam ke depan. Aku harus kembali bangun pukul 10 untuk bersiap dan berangkat ke rumah sakit. Kenyataan itu kemudian membuatku menyadari sesuatu. Kelihatannya aku bisa melanjutkan rencanaku tanpa kesulitan. Aku hanya perlu menghindari Be. Dan nampaknya itu bukan hal yang sulit. Jam kerjaku luar biasa padatnya. Sebagai staff ahli departemen neurologi, aku akan banyak mendapat jadwal jaga malam yang kemudian disambung dengan sedikit waktu istirahat sebelum harus kembali ke rumah sakit. Sementara Tanter Mer bilang keponakannya ke sini karena dikirimkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Saat dia sudah masuk kantor nanti, aku yakin dia juga akan memiliki jam yang padat. Pada akhirnya, walaupun tinggal di satu rumah yang sama, dan sedikit kemajuan dengan akhirnya saling menyapa dan bicara sedikit, aku tetap tidak akan punya harapan karena kesibukan. Jam kami tidak akan bertemu. Konklusi, aku sebaiknya melanjutkan keputusanku. Karena seperti yang kukatakan tahun lalu, aku terlalu tua untuk mempertahankan perasaan ini. Aku bahkan sudah satu tahun lebih tua dari diriku yang dulu. Aku juga terlalu sibuk untuk memikirkan crush masa kecilku. Dan lagi: 'We call it CRUSH because that's how we feel when they don't feel the same way in return.' - Unknown. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD