4

1483 Words
Adalah rahasia umum jika minggu pertama berada di perusahaan baru adalah yang paling melelahkan. Ralat, bahkan untukku, itu bisa berkepanjangan hingga satu atau bahkan dua bulan. Permasalahanku adalah, aku tidak bisa beradaptasi dengan cepat. Belum lagi, aku yang berasal dari asia pasti dianggap tidak terlalu terbuka untuk komentar-komentar sehari-hari, sehingga mereka akan lebih berhati-hati padaku. Tapi, di luar dari itu, aku juga butuh menyesuaikan dengan pola pekerjaan yang baru, pola administrasi yang baru, bos yang baru, permintaan-permintaan baru, dan berkas-berkas baru yang masih harus kupelajari lebih dulu. Kepala departemenku memberikanku waktu dua minggu untuk memahami semua, sebelum kemudian akan mulai mengharapkan aku memberikan performaku seperti saat berada di Indonesia, atau bahkan lebih. Dan karena itulah, aku sering kali pulang hampir pukul sepuluh malam dari kantor, dan harus menunggu kereta Zaandam-Amsterdam Centraal ada kurang dari 10 menit sekali. Itu bukan bagian terburuk. Karena ada cukup banyak orang di kerta, walaupun mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri. Bagian terburuknya adalah, setelah sampai di Zaandam Centraal Station, aku masih butuh berjalan kaki kemudian menaiki bus menuju Takstraat dan dilanjutkan berjalan kaki lagi hingga bisa sampai ke rumah. Perjalanan panjang yang harus kutempuh selama berada di sini. Dan harus mengulangi ini selama dua minggu, karena kurasa aku akan terus pulang larut selama waktu adaptasiku. Tante Mer menyarankanku untuk mengajukan sim internasional. Tapi kelihatannya aku tidak akan mengajukannya. Aku tidak yakin akan membeli mobil. Kantor juga sama sekali tidak mengatakan akan meminjamkan mobil. Jadi untuk apa mahal-mahal membuat surat izin satu itu. Mengurus woning verklaring (red: surat izin tinggal di satu daerah di Belanda. Berbeda dengan Visa) saja sudah cukup membuatku lelah. Aku berpikir untuk membeli sepeda. Kelihatannya itu yang paling mudah. Awalnya. Tapi setelah mencari-cari informasi di internet, mencari sepeda di Indonesia dan di Belanda jauh berbeda. Ada aturan khusus yang harus kuikuti. Tidak sembarangan sepeda bisa kugunakan untuk bepergian, Karena itu, aku meminta bantuan tetangga satu rumahku. Awalnya aku meminta bantuan pada Tante Mer, tapi dia sibuk bukan main, dengan toko bunga kecilnya dan kehidupan sosialnya. Aku kemudian hendak beralih pada Arco, tapi sulit bisa melihatnya minggu lalu saat aku bahkan masih belum bekerja. Sekarang lebih parah lagi. Aku tidak yakin kapan aku melihat Arco terakhir kali di rumah. Mungkin Selasa dini hari waktu itu, saat Arco baru pulang dan menemukanku menonton acara berita di ruang TV. satu-satunya acara yang bisa kutonton di ruangan umum tanpa harus merasa aneh. Karena acara lainnya sebaiknya ditonton sendirian dengan volume rendah atau tidak kau tonton sama sekali jika kau di bawah umur. Akhirnya, aku pun beralih pada Chacha, orang yang seharusnya paling tidak sibuk karena dia hanya sedang melanjutkan kuliahnya tanpa bekerja. Dan aku benar. Dia menyanggupinya dalam sekali bertanya. Kami pun berjanji akan pergi mencari sepeda besok, di hari Sabtu. Aku harus bangun pagi seperti biasa, karena toko tutup cepat di hari Sabtu. Sial, tidak ada bangun siang dan tidur sepanjang hari untuk besok. “Florimel!” aku mendengar suara seseorang memanggilku dari belakang. Dengan segera aku menoleh sambil memelankan langkahku. Aku sudah setengah bernyawa, kalau masih harus berurusan dengan orang kantor yang aku yakin wajahnya saja belum tentu kuingat, apalagi namanya, aku tidak yakin aku bisa terlihat ramah. Saat akhirnya otakku yang nyaris lumpuh ini berhasil mengenali perempuan yang sedang berjalan cepat ke arahku sambil tersenyum lebar, aku kemudian menyunggingkan senyumku, “Bianca,” sahutku. Wartawan satu ini punya karakteristik khas wartawan yang memang mudah bergaul, tajam dan penuh perhatian, juga banyak bertanya. Saat dia sudah sampai di sebelahku, aku melanjutkan langkah dan dia mengikuti. Dia kemudian membuka pembicaraan, “Pulang malem mulu kayaknya. Engga pernah lihat lo di rumah pas makan malem.” Aku menghela napas dan mengangguk, “Iya, masih penyesuaian, jadi masih banyak banget yang musti dikejar. Numpuk deh jadinya, sementara waktunya cuman dua minggu.” Bianca mengangguk, tapi kelihatannya dia belum puas dengan ini, jadi dia melanjutkan pembicaraan, “Gimana Belanda so far?” Kuangkat bahuku tak yakin, “Bukan pertama kalinya dealing with the dutch sih,” sengaja menggunakan kalimat terkenal yang sedikit terasa bermakna negatif bagi beberapa orang Belanda, dan kemudian tertawa kecil. Menandakan aku sedang bercanda dengannya. Tidak ada orang lain di sekitarku, jadi candaan sensitif tidak akan menyakiti siapapun sekarang. Dan kelihatannya Bianca memahaminya dan ikut tertawa. Setelah selesai dengan tawa singkatku, aku melanjutkan, “Tapi pertama kalinya stay permanently here. Adaptasi tempat baru emang yang paling susah sih. Plus, administrasinya Belanda luar biasa. Ngurus legitimatiebewijs en verklaring (surat-surat izin) di Stad Gemeente (gedung walikota) aja udah seminggu sendiri kemaren.” Bianca menggeleng dan tertawa, “Bahasa lo berantakkan yah,” katanya dan kemudian mengubah topiknya lagi, “Gue denger mau keluar sama Chacha besok yah? Ikut dong! Gue mau ikutan girls day out juga.” Dengan semangat aku mengangguk, “Please, by all means,” sahutku, “Gue butuh masukan untuk milih sepeda,” yang langsung membuatku menyadari sesuatu, “Kok lo jalan kaki anyway?” Dengan senyum polos dia meresponku lebih dulu sebelum menjawab, “Gue ada mobil, biasanya pake mobil, karena kerjaan gue kan mobile banget. Tapi karena hari ini jadwalnya cuman ke HO doang, jadi naik kereta,” lalu kembali mengalihkan topik padaku, “Engga pake mobil, Mel?” Aku meralatnya dengan segera, “Flo would be nicer, orang-orang biasa manggil gue pake Flo di Indonesia,” lalu kembali ke topik semula dan menjawabnya, “Engga ada sim internasional.” Bianca menatapku tak percaya sebelum kemudian mendengus, ‘Pantesan cocok lo sama Chacha,” lalu tertawa ringan. *** “Dude, you don’t wanna share something?” Bagas tiba-tiba saja bersuara. Memecahkan keheningan yang sudah ada sejak dia bergabung denganku di meja untuk sarapan. Aku sengaja turun agak terlambat, karena saat aku keluar kamar pagi tadi, aku bisa mendengar suara Be di sini bersama dengan Bianca dan Chacha. Kelihatannya mereka punya rencana bersama pagi ini. Dan benar saja. Bianca mengetuk pintu kamarku tadi sebelum mereka keluar, mengatakan kalau mobilku menghalangi mobilnya keluar, dan dia meminta kunci mobilku untuk memindahkannya. Tanpa pikir panjang aku segera memberikannya. Awalnya, aku sendirian di sini. Karena yang lain sudah keluar, kukira Tante Mer juga mungkin sudah sarapan, dan begitu juga Bagas. Tapi tidak berapa lama, Bagas bergabung dan kami hanya bertegur sapa sebentar sebelum akhirnya keheningan menyelimuti. Keheningan yang akhirnya dipecahkan olehnya juga. “Do I need to tell you something?” tanyaku bingung. Aku lebih nyaman bicara dengan mereka dalam Bahasa Inggris. Bukan sejak awal, karena aku masih menggunakan Bahasa Indonesia saat pertama tiba, tapi setelah aku mulai merasakan dampak kedua bahasa ini untuk diriku. Bahasa Inggris bukanlah Bahasa Ibuku, jadi aku merasakan jarak dengan bahasa ini. Selain karena terbiasa menggunakan Bahasa Inggris selama berada di rumah sakit, dan pada dasarnya aku menghabiskan hidupku di rumah sakit, hal tadi juga kugunakan untuk orang yang hanya kuajak bicara menggunakan Bahasa Inggris. Berharap kami saling menghormati batasan satu sama lain. Sesuatu yang kuharap bisa kulakukan dengan Be. Maksudku, sekarang saja aku sudah tidak pernah bertemu lagi dengannya. Walaupun aneh kalau tiba-tiba bicara menggunakan Bahasa Inggris dengannya, sementara sebelum ini aku menggunakan Bahasa Indonesia yang sangat santai, tapi setidaknya dengan jarak yang sedang kubuat, secara psikologis ini akan membantuku. Pasti akhirnya akan lebih mudah menjalankan rencanaku. Dia menyipitkan matanya sebelum menjawab, “Engga sih. Kebetulan aja temen serumah kita wartawan dan dia pernah minjem tablet lo dan akhirnya tahu, terus ngegosipin ke Chacha dan akhirnya sampe ke gue. Lo engga ada utang ngejelasin apa-apa sama gue. Dan ini Belanda, bukan Indonesia. Jadi tinggal bareng sama mantan yang kayaknya lo belum bisa move on engga masalah. Walaupun mungkin masalahnya ada pas lo balik Indo, atau kalo sampe kenapa-napa di sini.” “The hell?” tanyaku tak percaya, “Who are you talking about?” Sekali lagi dia menyipitkan matanya, “Siapa lagi? Tenant cewe cuman Bianca, Chacha sama Florimel. Tapi yang baru dateng kan Florimel. Yang Bianca lihat IG-nya di recent search lo. Dan lo juga manggil dia masih pake petname. Dia juga manggil lo beda dari kita. Lo juga ngomong pake Indo sama dia, engga pernah in English.” Aku menatapnya tak percaya dan kemudian menghela napas. Kelihatannya aku harus mengganti pilihan bahasaku sejenak, “Jangan sampe dia denger ini, atau lo bakal malu setengah mati.” Bagas cukup menunjukkan kekagetannya karena aku menggunakan Bahasa Indonesia dengannya. Sekali lagi dia menyipitkan matanya dan mencibirkan bibirnya sebelum merespon, “Loh? Kenapa?” tanyanya membela diri. Aku memutar bola mataku dan kembali pada mode pertahananku, “She’s my cousin, and Be is her nickname. Arco is also what my family usually calls me.” Bagas mendecakkan lidahnya sebelum menatapku sinis dan kembali sibuk dengan sarapannya. Dengan itu aku melanjutkan makan pagiku yang tenang. Aku masih harus terus melanjutkan rencana ini. Walaupun sudah dipastikan gagal total sebelumnya, tapi aku masih punya beberapa jalan lain yang belum dicoba. Dan lagi, sampai saat ini, sepertinya rencana ini berhasil. ‘You haven’t failed until you quit trying.’ - Gordon B. Hinkley. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD