Salah.
Ternyata bahkan setelah masa gila selama dua minggu itu berakhir, aku masih kelimpungan dan masih sangat sulit mengejar ekspektasi.
Terlalu banyak hal baru yang harus kulakukan dan adaptasi yang harus kuikuti. Aku salah perhitungan dan tidak sama sekali berpikir kalau aku juga harus membagi waktuku dan memberikan jeda pada otakku atau tubuhku menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
Orang Belanda sangat ketat dengan waktu, bahkan untuk janji makan siang bersama saja biasanya mereka catat di agenda mereka. Aku tahu ini, dan tidak punya masalah dengan ini, karena aku biasanya bisa me-manage waktuku dengan baik selama di Indonesia. Tapi masalahnya datang bukan dari kemampuanku mengatur waktu, masalahnya datang dari musim yang kemudian mengubah waktunya mundur atau lebih cepat karena musim yang berganti.
Saat sampai di Belanda bulan lalu, musim panas sudah hampir berlalu. Aku bisa mengerjakan banyak hal karena ada satu jam extra yang mereka berikan berkat jam yang dimundurkan satu jam selama musim semi dan musim panas. Tapi aku melupakan kenyataan kalau satu jam istimewa itu berakhir saat memasuki musim gugur.
Cuaca bukan masalah untukku, Belanda tidak sepanas negara-negara lain, dan tidak banyak membuatku berkeringat seperti di Indonesia karena udaranya tidak lembab. Aku hanya butuh diingatkan untuk minum agar tidak dehidrasi, dan karena itu aku memasang alarm. Tapi masalah utamanya adalah malam yang datang lebih cepat. Waktu cepat sekali berlalu dan menjadi gelap, dan aku juga harus kembali ke rumah lebih cepat.
Karena urusan adaptasi dan mengontrol pekerjaan, aku bahkan jarang bisa duduk bersama dengan Tante Mer, apalagi dengan para tenants yang lain dan mengobrol. Biasanya kami bisa bertemu hanya secara tidak sengaja.
Karena butuh mengerjakan banyak hal, aku tidak begitu memerhatikan asupan makananku. Kalau tidak salah ingat, makan siangku hanya sepotong croissant yang bahkan tidak kuhabiskan karena aku dipanggil rapat mendadak. Setelahnya, tidak ada makanan yang masuk sampai sudah nyaris tengah malam.
Ini sudah terjadi beberapa kali, dan yang terakhir adalah beberapa hari yang lalu. Bianca menemukanku sedang melahap semangkuk sereal seperti orang kesurupan. Dia kemudian memarahiku karena katanya aku sudah nampak seperti model 0 size sekarang. Dia bahkan mengancam akan meminta Arco memberikan suntik nutrisi padaku. Aku hanya tersenyum, orang yang dibicarakannya itu bahkan lebih sibuk dariku. Aku tidak pernah bertemu dengan Arco sampai sekarang. Jadi, bagaimana dia mau membantu Bianca dan mengiyakan permintaan anehnya?
Ok, kembali pada keadaanku.
Aku tinggal di kantor agak malam hari ini, dan syukurlah teman satu tim ku menawarkan mengantarkanku sampai rumah. Tanpa pikir panjang aku menerimanya karena aku tidak yakin kereta masih beroperasi.
Setelah sampai di rumah, aku langsung menuju dapur. Aku harus mengisi perutku dengan sesuatu sebelum mandi dan menyelesaikan sedikit proposalku dan kemudian pergi tidur.
Saat aku akhirnya semakin dekat dengan dapur, indera pendengaranku menangkap adanya suara-suara dari dapur. Kelihatannya aku akan menemukan seseorang di dapur lagi hari ini setelah sekian lama.
Dan aku benar. Arco sedang sibuk dengan entah apa di meja dapur. Dia kelihatannya terlalu fokus sehingga tidak menyadari aku yang melangkah semakin dekat.
"Hai Co!" panggilku membuatnya cukup kaget.
Dia menoleh mencari asal suara dan pandangan kami langsung bertemu. Dia diam sejenak dan hanya melihatku, kelihatannya sedang menata pikirannya atau jantungnya karena kaget melihatku di sini sekarang.
"You look pale," sahut Arco setelah akhirnya dia bisa kembali menguasai dirinya.
Aku tersenyum dan mengangguk, "Didn't get time to eat my lunch this afternoon," sambil terus berjalan meraih oatmeal-ku dan kotak s**u. Aku mau tidur hari ini, jadi tidak membutuhkan asupan gula dari sereal.
Arco mengangguk dan kembali sibuk dengan persiapannya. Tapi, bahkan sebelum aku selesai menyiapkan oatmeal-ku, Arco sudah selesai dan bicara padaku sambil melangkah meninggalkan dapur, "Enjoy your meal."
Dia kelihatan cukup terburu-buru sekarang. Membuatku mencibirkan bibir dan pikiran aneh mulai timbul di otakku. Tapi dengan segera kugelengkan kepalaku. Otakku mulai meracau karena tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Jadi sebelum aku berpikir lebih aneh lagi, lebih baik aku segera makan dan ke kamar.
***
"Ngapain tante?" Bianca memecahkan keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruang makan.
Hanya ada aku dan Bianca di sini. Chacha belum terlihat, dan Bagas sudah meninggalkan kami beberapa menit lalu karena ada meeting penting. Membawa pergi topik pembicaraannya bersama Bianca yang bahkan tidak kugubris. Dia bangun lebih pagi dan sudah berada di sini untuk menyiapkan sarapannya saat aku masuk ke dapur.
"Florimel sakit," jawab Tante Mer singkat. Dia sibuk mengobrak-abrik lemari makanan dan sedang membuatku segelas air hangat yang dicampur dengan madu bersendok-sendok.
Bianca meletakkan sendoknya dengan suara yang cukup membuatku tersadar. Aku baru menyadari aku menghentikan sarapanku dan memusatkan pendengaranku pada Tante Mer saat mendengar kalimatnya. Dengan itu aku kembali mengatur otakku dan melanjutkan makan pagiku, sementara Bianca mengubah tubuhnya menghadap Tante Mer, "Sakit apa? Masih bisa jalan, tante? Ke dokter aja apa?" lalu kemudian seolah menyadari sesuatu, "Florimel sepupu lo kan? Engga mau lo check?"
Aku tidak yakin bagaimana aku harus menjawabnya. Apa aku harus menjawab sebagai Arco yang sedang berusahah menghilangkan Be -tunggu, Florimel. Menghilangkan Florimel dari pikirannya dengan menghindarinya, atau sebagai dokter Archard yang sudah disumpah dan...
"Engga usah," suara Tante Mer membuatku menghentikan perdebatan yang baru saja dimulai di otakku, "Girl's monthly problem. Emang agak parah, tapi besok juga sembuh."
Oh, kelihatannya sudah jelas bukan sesuatu yang bisa kubantu. Sia-sia sudah perselisihanku tadi.
Tante Mer kemudian kembali sibuk dengan urusannya, dan tak lama meninggalkan dapur dengan secangkir besar air hangat dan madu, dan beberapa camilan yang nampak mengandung gula yang tinggi.
Aku pun melanjutkan sarapanku dengan tenang, dan tak menghiraukan pandangan Bianca yang jelas-jelas bisa kurasakan. Aku tahu dia sedang memandangiku entah dengan alasan apa. Tapi kalau dia tidak bicara, apa peduliku, kan?
Setelah beberapa saat, aku akhirnya mendengar Bianca menghela napasnya. Aku masih tidak berencana menanggapinya, tapi ternyata dia bicara padaku, jadi aku mengalihkan pandanganku dari mangkuk sarapanku ke wajahnya, "Florimel beneran sepupu lo, Chard?"
Aku menatapnya bingung, "We've told you before. The day she arrived."
Bianca memutar bola matanya, "Lo engga berencana ngecek sepupu lo?"
Aku mengangkat bahuku dan memilih berdiri. Kelihatannya Bianca akan memermasalahkan keadaan, jadi sebaiknya aku menyudahi sarapanku dan segera meninggalkannya, "You heard her yourself. Girl's stuff. What can I do?" dan kemudian mengangkat mangkukku dan membawanya ke dishwasher dan meletakkannya di dalam, lalu segera berbalik dan mencoba meninggalkan Bianca yang masih menatapku. Meninggalkannya secepat mungkin.
Dia mulai membuatku tidak nyaman.
"Lo kayak anak SMP yang lagi ngehindarin mantan lo, tahu ga?" kata Bianca yang langsung membuatku menghentikan langkahku dan berbalik menatapnya.
Dia sedang menatapku dengan tatapan menantang. Seolah siap jika aku mengajaknya berkelahi sekarang juga. Dia bahkan tidak berkedip sama sekali dan terus menatapku dengan tajam.
Di luar dari apa yang kulihat sekarang, kalimatnya cukup menusukku.
Sedang mencoba menghindari mantanku? Bagaimana bisa aku menghindari orang yang bahkan tidak bisa kusebut sebagai mantan pacarku? Yang bahkan tidak pernah tahu aku mengaguminya.
Tidak seharusnya aku disebut seperti sedang menghindari mantan pacarku, karena kenyataannya, aku sedang mencoba menghindari orang yang memang seharusnya kulupakan. Orang yang tidak sehat untukku dan otakku. Yang sudah susah payah kucoba lupakan setahun lalu, tapi kacau balau begitu saja saat dia tiba bulan lalu. Yang sedang kucoba kembali untuk kulupakan dengan mereset diriku dan pikiranku kembali, tapi rasanya hampir saja semua usahaku sebulan penuh hancur hanya karena bertemu dengan Be... tunggu, Florimel. Bertemu denggan Florimel di sini nyaris tengah malam dua minggu lalu. Melihatnya pucat dan nampak kehilangan banyak berat badannya. Membuatku rasanya ingin bicara lebih banyak dan membuatnya duduk menyantap makan malam sungguhan, dan bukannya oatmeal dengan s**u.
"You need to stop gossiping with Bagas," kataku akhirnya setelah berhasil menguasai diriku. Membalasnya dan kemudian segera melangkah meninggalkan ruangan dan segera menuju mobilku.
'Time heals nothing, unless you move along with it.' - Rachel Wolchin
***
"Van het laatste project hebben we een paar reacties gekregen en daarna ervan iets doen. Ik heb een lijst via email aan elke teamleiders gestuurd. Die bevatten uit alle acties we hebben gedaan en ook de toekomstige. Omdat de ‘preferences’ verschillend zijn, beslissen we dus om een paar nieuwe besloten toe te voegen gebaseerd op het land -dari proyek terakhir, kita sudah mendapatkan beberapa reaksi, dan dari sana, melakukan aksi. Saya sudah mengirimkan sebuah list melalui email ke semua teamleader melalui email. List tersebut berisi hal-hall yang kita sudah lakukan dan juga plan ke depannya. Karena preferences yang berbeda, kita memutuskan untuk menambahkan beberapa keputusan terkait plan-nya sesuai dengan negaranya," jelasku pada ketua departemenku.
Seharusnya aku sudah berada di kantin kantor dengan teman-teman satu departemenku untuk makan siang. Tapi aku mendapatkan panggilan telepon tepat ketika aku melangkah menjauhi mejaku. Dan akhirnya, di sini lah aku sekarang. Jam makan siangku sudah hampir habis, dan aku masih mendiskusikan pembaharuan dari timku untuk Customer Experience di kantor-kantor cabang di berbagai negara.
Aku padahal sudah berjanji pada diriku sendiri kalau hari ini aku harus makan tepat waktu dan harus menyantap makan siang normal. Aku merasa sedikit tidak enak badan pagi tadi, bahkan sampai akhirnya merelakan membayar ongkos taksi berkali-kali lipat dari yang harus kukeluarkan biasanya, karena merasa menutup mata sejenak selama hampir setengah jam mungkin bisa membantu. Dan aku memang benar, saat sampai di kantor, perasaanku sudah lebih baik.
Willem mengangguk perlahan tanpa ekspresi. Kelihatannya dia masih punya pertanyaan dan belum puas dengan penjelasanku. Dan benar saja, dia membuka mulutnya dan bertanya, "Denk je dan of we een webinar moeten geven -Kalau menurutmu, kita perlu mengadakan webinar-?"
Kalau boleh, aku ingin memutar bola mataku sekarang sampai berkata, 'No s**t, sherlock!' Tapi dia adalah atasanku, yang walaupun aku bisa memanggilnya dengan nama depannya, tetap saja dia yang memutuskan apakah aku bisa tetap berada di sini atau harus pulang ke Indonesia dan mencari pekerjaan baru. Jadi, aku memilih mengangguk dan menjawab dengan senetral mungkin, "Ik denk zo. We moeten zich vergewissen dat alle teams van elk land de concept begrijpen -Saya pikir harus. Kita harus memastikan kalau semua tim di setiap negara paham konsepnya."
Sekali lagi Willem mengangguk. Tapi kali ini dia diam cukup lama, sebelum akhirnya dia membuka mulutnya lagi. Hilang sudah kesempatanku makan siang hari ini. Sekali lagi aku harus puas dengan sebungkus roti, "Kan je dan de verbereiding van het webinar leiden -Bisakah kau yang memimpin persiapan webinarnya?"
Seketika, rasa lapar yang sedang kutahan menghilang. Aku baru saja mendapatkan proyek besar yang langsung diberikan padaku oleh ketua departemenku. Seorang anak baru yang baru berada di sini kurang dari tiga bulan.
Dengan cepat aku segera mengangguk, tapi kemudian menyadari aku terlalu bersemangat dan mungkin akan memberikan efek negatif pada Willem, jadi aku mencoba mengontrol emosiku dan menjawab dengan setenang yang kubisa, "Definitely," terlalu bahagia untuk bahkan memikirkan apa Bahasa Belanda yang harus kukeluarkan.
Willem tersenyum kali ini dan mengangguk, "Nou, je mag wel eten, meis, je heb dat echt nodig -sekarang sebaiknya kau pergi dan makan. Kau sangat membutuhkan makan siang."
Kali ini giliranku yang tersenyum dan mengangguk. Dengan segera aku berdiri. Tak lupa mengucapkan terima kasih lagi atas kepercayaannya dan segera keluar dari ruangannya.
Aku akan makan banyak siang ini karena terlampau senang. Aku bisa juga bahkan mentraktir teman-teman di departemenku yang masih berada di kantin, saking senangnya.
Dengan langkah cepat aku menuju lift. Tapi dunia rasanya berputar saat aku akhirnya sampai di depan lift. Aku bahkan belum bisa menekan tombol lift ketika tiba-tiba saja semuanya menggelap.
***
Ponselku berbunyi saat aku baru saja keluar dari ruangan pasien. Barusan adalah pasien terakhirku yang harus kucheck sore ini sebelum aku akhirnya tinggal menunggu waktu pulang pukul 7 malam nanti sambil berharap tidak ada emergency yang datang dan membutuhkan bantuan neurosurgeon.
Saat kucheck layar ponselku, ternyata Tante Mer.
Agak aneh jujur saja. Dia tidak terlalu sering menghubungiku. Bahkan setahun lebih tinggal sebagai tenant di rumahnya, sambungan telepon Tante Mer ke ponselku masih bisa dihitung dengan jari.
Dengan perasaan bingung ini, aku kemudian mengangkat ponselnya, "Halo Tante?"
"Archard, masih di rumah sakit?" tanya Tante Mer tanpa basa-basi. Suaranya terdengar khawatir dan gelisah. Kelihatannya terjadi sesuatu.
"Masih tante," jawabku cepat.
"Be pingsan di kantor, katanya dibawa ke rumah sakit kamu. Orang kantornya nelepon mamanya di Indonesia. Mamanya nelepon tante. Tante lagi siap-siap mau ke sana, 20 menit lagi sampe. Kamu bisa cek dulu dan infoin ke tante ga? atau kalau bisa juga sekalian infoin mamanya Be," Tante Mer langsung membombardirku dengan ceritanya.
Pingsan? Dia...
"Arco cek dulu tante," jawabku dan langsung memutus sambungan telepon. Dalam hitungan detik aku sudah memacukan langkahku secepat mungkin menuju lift sambil mencoba menghubungi nomor bagian emergency. Aku setidaknya harus memastikan.
Saat tersambung, aku segera menanyakan informasinya, "I need to check a new patient, Florimel Beatrice Alkatiri."
Tak ada suara untuk beberapa saat sampai akhirnya respon dari permintaanku terdengar saat aku sudah berada di dalam lift dan menunggu dengan tak sabar. Lift ini terasa berjalan begitu lambat, "She just arrived a few minutes ago. Dehydration and indication of malnutrition."
"Where is she?" tanyaku tanpa jeda.
"Still in ER, waiting for her guardiance before she can be moved to ward," sahut suster di telepon ini. Saat itu juga pintu lift terbuka dan aku sampai di lantai dasar tempat dimana ruang IGD berada. Dengan segera aku melangkah gegas sambil berkata, "I'm her guardian. Move her now if all her check-ups have been done," dan memutuskan sambungan teleponnya.
Saat aku tiba di ruangan IGD, aku segera menghampiri meja utama IGD dan menanyakan keberadaan Be. Tanpa mau mendengar pertanyaan dari suster soal pernyataanku di ponsel sebelumnya, aku segera mengikuti informasi darinya dan menuju bangsal Be.
Ada dua orang yang sedang berada di dekat bangsalnya. Keduanya berpakaian rapih, dan kelihatannya saling mengenal dan juga mengenal Be. Kelihatannya teman kerja.
Aku mengalihkan pandanganku pada Be saat akhirnya sudah bisa melihat keadaannya.
Wajahnya pucat, dan dia memang semakin kehilangan berat badannya. Aku rasanya bisa semakin jelas melihat tulang rahang dan pipinya dibandingkan terakhir kali melihatnya hampir sebulan lalu.
Aku tidak menyangka dia sungguh butuh ...
"Do you know her?" suara si perempuan mengalihkan perhatianku.
Aku mengangguk, "She's my cousin. you're her colleague?"
Perempuan ini melihat ke rekan prianya sebelum kemudian mengangguk seolah memahami keadaan, "Oh, you're the doctor from this hospital. Her aunt called and told us that you'd come."
"What happened to her?" tanyaku tak memerdulikan omongan perempuan ini barusan.
Kali ini si laki-laki yang menjawab, "She'd been looking weird and under the weather since morning. But we thought she was OK this afternoon. We were about to eat lunch when our head called her for a sudden meeting. She was on the way to the canteen when she passed out."
Si perempuan kemudian bicara, "We still need to go back to the office. Here's her bag. We'll leave her with you. Don't hesitate to contact us if you need anything," katanya dan kemudian pamit. Si laki-laki juga melakukan hal yang sama.
Mereka kemudian meninggalkanku dengan Be yang masih tidak sadarkan diri. Dengan infus di lengan kirinya. Dia tidak akan sadar untuk beberapa saat kurasa.
Keheningan ini kembali memberiku kesempatan berpikir.
Aku baru saja menghancurkan sesuatu yang sudah kuperbaiki dengan baik beberapa bulan kebelakang. Menghancurkannya dengan sekali gerakan dan satu keputusan. Keputusan yang kubuat saat panik karena mengetahui Be tida -Lihat, bahkan aku sudah kembali mulai manggilnya Be lagi.
Jujur saja, aku tidak menyangka akan melihat Be yang seperti ini. Aku tidak pernah membayangkan kalau Be punya kebiasaan buruk yang cukup kekanak-kanakkan. Selama ini aku melihatnya sebagai orang yang sangat mandiri dan bisa menjaga dirinya. Seseorang yang mungkin membuat orang lain merasa terintimidasi karena dia serba bisa dan sudah sangat baik dalam bidang akademis sejak sekolah. Karirnya juga sangat cemerlang.
Seolah sekarang ini aku seperti sedang melihat Be yang berbeda dari yang kupikirkan.
Kecewa?
Mungkin saja.
Kecewa karena bayangan yang selama ini kupunya tentang Be adalah salah, dan ternyata aku terjebak dengan duniaku sendiri.
Atau mungkin, ini sebenarnya adalah jalan yang paling tepat. Aku seharusnya tidak menghindarinya, dan justru mencoba mengenalnya, agar aku bisa keluar dari bayanganku sendiri tentang Be yang sangat, sehingga akhirnya aku bisa mengakhiri kebodohan ini.
Kelihatannya ini tepat. Dibandingkan terus menghindar. Dua kali aku mencoba dan dua kali aku gagal.
'Sometimes, reality is the illusion, and the truth is only visible where our eyes can't see.' - Unknown.
***