6

799 Words
Sudut mataku menatap sosok familiar yang sedang menyender ke pintu, menunggu untuk masuk ke ruanganku sambil memperhatikan suster yang sedang mengambil darahku untuk pengecekan hari ini. Katanya, jika hasil darahku dan kandungan nutrisi dalam tubuhku sudah bagus, kemungkinan aku bisa pulang besok. Sudah hampir seminggu aku di sini. Sudah selama itu juga aku melihat dan bercakap-cakap dengannya lebih dari dua kali dalam sehari. Hari pertama setelah aku sadar dari pingsan, Arco adalah orang pertama yang kulihat. Dia memeriksa keadaanku dulu sebelum kemudian memanggil suster jaga dan Tante Mer. Tidak sampai di situ, dia juga menghubungi mama dan memberi tahu kalau aku sudah sadar. Membuatku mendapatkan omelan berulang yang rasanya seperti de djavu. Tante Mer dan mama sama-sama mengatakan mereka tidak percaya aku bisa sebodoh dan seceroboh itu dan tidak akan membiarkan ini terjadi lagi, bahkan ketika artinya mereka harus memperlakukanku selayaknya anak kecil. Arco tidak bicara apa-apa saat itu, tapi matanya sudah cukup menghakimi. Dan semenjak saat itu, dia terus muncul di kamar rawat inapku saat sedang bertugas dan melewati kamarku, atau ketika tidak ada jadwal. Setelah si suster, aku mengucapkan terima kasih dan dia meninggalkan ruangan. Dengan segera aku membuka pembicaraan dengan Arco, "Asuransi gue bakal nelepon gue nih," Arco menatapku bingung sambil berjalan masuk dan duduk di sofa sebelah tempat tidurku, "Kenapa?" tanyanya polos. Aku memutar bola mataku, "Iya, biaya rumah sakit gue mahal banget pasti nih, padahal cuman malnutrisi sama dehidrasi. Secara dokternya visit mulu ada kali sejam sekali." Mendengar penjelasanku, Arco mendengus, "Gue engga se-gaji buta itu. Dan kayak yang nyokap lo bilang, sampe lo nunjukin lo capable untuk ngurus waktu dan soal makan lo, harus ada yang mastiin. Dan karena lo di rumah sakit, jadi lebih gampang kalo gue yang ngelakuin, dari pada Tante Mer." Aku menatapnya tak suka. Aku tidak akan menang berdebat dengannya soal ini. Aku sudah pernah mencoba sebelumnya, berkali-kali beberapa hari belakangan ini. Mencoba menyadarkan dirinya kalau aku adalah wanita dewasa yang tidak perlu dikhawatirkan lagi dan bisa mengurus diriku sendiri. Mengatakan kalau dia juga perlu menggunakan waktu kosongnya untuk beristirahat, dibandingkan harus ke kamar rawat inapku. "Lo di rumah sakit dan bos lo masih aja nanyain kerjaan?" tanyanya tak suka. Dia menyadari keberadaan laptop di meja kecil sebelah bangsalku. Aku menggeleng, "Gue yang ngerjain, engga ada yang minta. Gue bosen di kamar mulu." Aku mendengarnya menghela napas, “Gue engga perlu ngingetin kalo mikir itu lebih konsumsi banyak energi dibanding ngegunain otot, kan? Lo ini lagi defisit energi dan nutrisi. Lo mau pulang, kan? Engga tiba-tiba jadii pengen terus di rumah sakit?” Sungguh, aku melihat sisi baru dari Arco yang tidak pernah kulihat seumur hidupku. Maksudku, selama berada di Indonesia dan hanya saling mengetahui nama masing-masing tanpa pernah bicara sekalipun. Aku sudah berkali-kali melihatnya berbicara dan berinteraksi dengan sepupu-sepupuku. Selayaknya pria pada umumnya, membicarakan hal-hal yang cukup berat jika dibandingkan dengan pembicaraan perempuan. Tapi aku tidak pernah melihatnya mengekspresikan pikirannya secara sarkastik seperti ini. Entahlah, mungkin Arco sudah terbiasa dengan cara orang di Belanda. Tunggu, tapi dia bahkan tidak bisa Bahasa Belanda. Bagaimana bisa terpapar sampai sejauh ini? Selama berada di rumah sakit, aku menyadari Arco berbicara dengan suster dan rekan dokternya menggunakan Bahasa Inggris. Dia juga tidak banyak bicara. Entahlah, untuk yang ini aku mungkin salah, karena yang kulihat hanya saat Arco berada di kamarku, saat sibuk mengecek keadaanku langsung dari dokter dan suster yang menanganiku. Sebagai seorang dengan latar belakang psikologi, dan berkat beberapa kelas tambahan lintas fakultas, aku setidaknya tahu dengan level Bahasa Belanda Arco, dan intensitas komunikasi yang bisa kulihat, seharusnya dia belum atau bahkan tidak akan terpengaruhi hanya dalam waktu hampir satu setengah tahun. “Be?” suaranya membuat pikiranku berhenti mencoba menggali informasi yang nampak tak tepat dan kembali fokus padanya. Saat aku kembali menatapnya, yang kutatap ini sedang menatapku sambil menyipitkan kedua matanya dan menunggu jawaban. Kelihatannya jawaban dari pertanyaan penuh sarkasme yang dilemparkannya tadi. Aku menggeleng tegas, “Engga Pak Dokter, Saya paham kok,” kemudian menutup layar laptopku tanpa mematikannya. Berharap ketika Arco keluar nanti, aku bisa kembali melanjutkannya. Arco menggeleng, “Gue engga pernah tahu lo bisa sebocah ini.” Tanpa bisa kutahan, aku memutar bola mataku. Balasanku pun mengalir tanpa terbendung, “Gue juga engga pernah tahu lo sesarkas ini.” Arco diam untuk beberapa saat. Kukira aku berhasil membuatnya tidak melanjutkan topik ini dan menyerah, tapi ternyata, dia malah mengangguk dan berkata, "Great. Now we’re totally in the same boat.” Seberapa pun aku sangat penasaran dengan maksudnya, aku lebih memilih untuk tidak melanjutkan topik ini dan mencoba mengubah hal yang sedang kami bicarakan. Apapun, asal bukan soal Arco yang merasa aku kekanak-kanakkan dan bertingkah seolah dia sedang membantuku dan menyadarkanku kalau aku tidak bisa tanpa bantuannya. “Gue keluar dari rumah sakit, gue traktir yah. Itung-itung jadi dokter pribadi gue seminggu ini.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD