8

1664 Words
Kelihatannya hari ini bisa kunobatkan menjadi hari keberuntunganku. Aku sungguh-sungguh merasa hari ini berjalan sangat baik. Entah aku harus curiga dan mulai menyiapkan diriku terhadap sesuatu yang buruk yang mungkin akan terjadi, atau aku harus menikmati yang ada sekarang. Aku tidak yakin. Presentasiku berjalan lancar. Proposalku diterima, dan kelanjutan proyekku sudah sangat jelas. Aku memimpin langsung. Walaupun tidak memilih sendiri rekan timku, tapi ternyata orang-orang yang sangat mumpuni ini menjadi bagian dari tim yang kupimpin. Rapat pertama berjalan lancar dan aku rasanya bisa me-manage mereka dan bekerja sama dengan mereka. Mereka juga kelihatannya cukup berpikiran terbuka dan berada di kapal yang sama denganku. Hasilnya, rapat lebih seperti diskusi casual, dan bisa berakhir dengan cepat karena sangat produktif. Dan sekarang, di sinilah aku. Sedang berjalan menuju Amsterdam Centraal di sore hari. Kelihatannya, pertama kalinya aku bisa pulang saat matahari belum terbenam, dan ini juga hari Jumat. Seharusnya, aku bisa mampir ke beberapa tempat, dan mungkin makan malam di luar di Amsterdam sebelum kembali ke Zaandam. Toh, sudah lebih dari setengah tahun berada Belanda, dan aku belum punya kesempatan untuk menjelajah dan menjadi turis. Yah, walaupun tujuan utamaku ke sini memang bukan untuk bertamasya. Dengan segera aku melipir dari trotoar, mendekat ke salah satu toko dan berdiri di pojokkan agar tidak menghalangi pandangan orang-orang yang mungkin ingin melihat etalase toko dari luar sebelum memutuskan untuk masuk. Kukeluarkan ponselku dan mulai mencari tempat untukku makan malam. Tapi, belum juga aku selesai mengetik kata kuncinya di mesin pencari, layarku berubah dan nama Arco muncul di layar dan membuat ponselku bergetar. Tanpa berpikir panjang, aku segera mengangkat teleponnya, “Kenapa Co?” “Engga salah lihat ternyata gue, lo udah pulang?” nada suaranya terdengar tak percaya. Aku sungguh tak bisa mengontrol mataku untuk tidak berputar, “Jangan nge-jinx deh, gue juga kaget. Tapi daripada itu, mending terima aja dan dirayain,” tapi kemudian menyadari ada yang aneh, “Wait, kok lo tahu?” “Lihat ke seberang,” hanya itu jawaban yang bisa kudengar dari Arco, dan aku pun mengikuti kata-katanya dan menoleh ke arah jalan. Tapi terlalu banyak orang di jalan, sulit untuk bisa menemukan Arco. Belum lagi ada banyak mobil berlalu lalang yang menghalangi panda … Aku melihatnya. Arco di dalam mobilnya dengan kaca jendela terbuka. Dia sedang melihat ke arahku dan kedua tangannya masih berada di roda kemudi. Kelihatannya dia menggunakan handsfree sekarang. “Oh, I can see you!” kataku senang melihat wajah yang kukenali. Refleks aku melambai dengan semangat, menarik perhatian beberapa orang yang melewatiku, sebelum akhirnya sibuk kembali dengan urusan mereka masing-masing. “Gue tunggu di bus stop depan,” katanya dan kemudian memacu mobilnya menuju bus stop yang hanya membutuhkan beberapa puluh langkah dari tempatku sekarang, walaupun setelahnya aku harus menambahkan beberapa puluh langkah lagi karena aku harus menyebrang jalan. Dia tidak memutuskan sambungan teleponnya, jadi aku bisa mendengar suara radio darinya. Saat dia sudah sampai dan menghentikan mobilnya, aku segera menanyakan pertanyaan yang membuatku penasaran, “Lo udah pulang?” Aku mendengarnya mendengus, “Engga usah kaget gitu, gue lebih sering di rumah dibanding lo, Be.” Ha! Aku salah bicara. Karena dia tidak akan bisa melihat mataku dan raut wajahku yang kesal, jadi aku menghela napasku keras, “Padahal gue berniat ngajak lo makan malem,” kemudian berhenti sebentar dan menekan tombol penyebrangan dan melanjutkan, “Tapi kayaknya engga jadi, lo bikin gue emosi.” “Lo masih punya janji nraktir gue makan pas keluar dari rumah sakit, Be. Udah mau lima bulan dan …” sahut Arco yang langsung kuputus karena aku sudah tahu kemana arah pembicaraannya, “Oke, oke. Oke, gue traktir sekarang. Ada yang lagi pengen lo makan ga?” mengalihkan topiknya menjadi soal Arco dengan sengaja. Kalau sudah membicarakan soal rumah sakit, dia akan terus menerus mengungkit gaya hidupku sebelumnya yang tidak beraturan terhadap diriku sendiri, dan tidak menghargai diriku. Kemudian mengingatkanku akan masa-masa kelam dimana aku harus menghadapi Arco di hari Sabtu untuk menyiapkan makan siang sehat yang bisa kubawa ke kantor. Mendengarkan omelannya kalau aku pulang terlampau larut dan belum makan malam. Dia pada dasarnya menerorku dan memaksaku untuk lebih peduli dengan makananku. Bukan sesuatu yang buruk, harus kuakui. Maksudku, aku juga merasa lebih sehat, dan mood-ku juga jadi sangat baik akhir-akhir ini. Aku tidak sering membutuhkan gula untuk membuatku tetap fokus, dan ide-ide cemerlang banyak mengalir dari otakku. Tapi, caranya cukup ekstrim untukku. Aku seolah merasa orang tuaku ada di sini denganku. Tante Mer saja kalah. Aku sudah sampai di seberang jalan dan sedang mendekati mobilnya. Aku bisa melihat senyum kemenangan yang masih terpampang di wajahnya. Astaga, betapa aku ingin menghapus kesombongan itu. Entah kenapa aku tidak menang saat membicarakan masalah ini dengannya. Sering kali aku membuat alasan pada diriku dengan mengatakan kalau ini adalah bidang pekerjaan Arco, jadi wajar kalau dia sangat paham dan tidak terkalahkan. Tapi, jika otak rasionalku muncul, aku akan mengatakan pada diriku sendiri kalau kesalahannya ada padaku. Arco memang benar soal ini, jadi jelas aku selalu kalah. Tapi sungguh, setidaknya aku ingin menang sekali darinya. Sekali saja. Aku memutuskan sambungan teleponnya sebelum membuka pintu penumpang depan dan naik. Setelah menutup pintunya, aku kemudian bertanya, “Jadi, udah ada ide?” Dia menatapku sejenak sebelum bertanya, “Yakin gue yang nentuin?” Aku mengangguk sebelum menjawab dengan nada ‘yang-benar-saja’, “Co, I’ve been here for almost eight months, but the only places I’ve visited are our home and my office,” sengaja mengurangi satu tempat lagi, karena tidak mau dia kembali tersenyum senang dengan kesombongannya itu. “Dan kantor gue,” tambahnya dan aku mengutuknya dalam hati, “Oh, rumah sakit mungkin lebih tepatnya,” tambahnya dengan penuh sarkasme. Membuatku akhirnya tidak bisa menahan geraman dan Arco langsung tertawa puas karena reaksiku. “OK, karena ini lo yang nraktir, dan ini pertama kalinya lo jalan-jalan di Amsterdam, jadi kita ke De Pijp aja. Ada banyak pilihan di sana, lo juga bisa jadi turis sehari di sana.” Seketika kekesalanku menghilang, dan aku merasakan semangat baru muncul. Aku bisa melanjutkan rencanaku, bahkan ketika Arco tiba-tiba muncul. Kalau boleh kubilang, bertemu Arco di sini sekarang sepertinya salah satu dari keberuntungan yang sudah kudapatkan bertubi-tubi hari ini. *** Aku sengaja mencari tempat parkir yang cukup dekat dengan Albert Cuypmarkt dan membawa Be berjalan-berjalan menikmati pemandangan baru di tengah De Pijp, tempat populer baik untuk turis maupun orang-orang di Amsterdam Be kelihatannya menikmati hal-hal baru yang bisa ditangkap matanya. Beberapa kali dia mendatangi sebuah stand yang ada di pasar terbuka yang paling terkenal dan cukup tua di Amsterdam. Dia hanya melihat-lihat karena kelihatannya tidak ada hal yang cukup menarik perhatiannya untuk beberapa saat. Dia sungguh sibuk dengan dirinya sendiri, sampai kelihatannya dia tidak mengingat kalau dia datang ke sini denganku. Karena di sini cukup banyak orang, jadi aku kelihatannya satu-satunya orang yang harus memerhatikan jalan dan kemana Be pergi. Karena kalau aku juga melihat-lihat, bisa saja aku dan Be pergi ke arah yang berbeda. Lagi pula, aku juga sudah beberapa kali ke sini. Sesekali aku harus menarik tangan Be agar dia tidak terlalu jauh dariku dan akhirnya menghilang. Aku juga harus menariknya kembali ke rute yang benar. Dia benar-benar bisa tersesat kalau dia datang ke sini sendirian. Saat hari sudah mulai gelap, aku kemudian menarik Be dan membuatnya menghentikan langkahnya dan menghadapku. Akhirnya, kembali menyadari kalau dia tidak sendirian di sini. Dari wajahnya, aku bisa melihat dia sedang menikmati harinya. Matanya berbinar, dan ada senyum yang mengembang di bibirnya. Yah, tidak buruk. Setidaknya aku bisa melihat pemandangan ini walaupun sebelumnya hanya bisa memerhatikannya dari belakang. “Kita makan dulu. Het Paardje aja,” kataku setelah berhasil membuat fokusnya kembali padaku. Be menatapku bingung sesaat. Dia juga memandangiku dengan tidak yakin dan kemudian mulai mengedarkan matanya ke sekitar sebelum membuka mulutnya, “Het partje -sebagian-? Yakin kenyang?” tanyanya dengan nada keheranan. Caranya mengatakan Het Paardje juga sedikit aneh. Aku yakin Bahasa Belandanya lebih bagus dariku, tapi sepertinya orang-orang tidak menyebutkan nama tempatnya seperti dia barusan. “Kok lo tumben …” katanya melanjutkan sambil terus melihat-lihat mencari entah apa. Tapi kemudian berhenti. Seolah menyadari sesuatu, “Oh, Het Paardje!” Be mengubah caranya menyebutkan nama Cafe itu, dan sekarang terdengar seperti apa yang biasa kudengar. Dia tertawa dan menggeleng, “Gue pikir lo bilang kita sharing entah apa yang lo bawa aja. Cara lo nyebutin nama tempatnya engga pas. A-nya engga pendek, Co. Artinya lain kalo pendek. Untung mata gue masih bagus dan bisa lihat plang Cafe nya di sana.” Inilah kenapa aku masih kesulitan bicara dalam Bahasa Belanda. Aku bisa memahaminya kalau mereka bicara perlahan, dengan Bahasa yang sederhana, tapi mengucapkannya adalah hal lain. Lebih sulit dari membedah otak. Aku menghela napas, “Het Paardje,” mengulangi nama tempatnya dengan mengikuti yang dikatakannya barusan, “Jadi?” lalu mengembalikan topik. Be mengangguk cepat, “Let’s go!” katanya dan kemudian meraih tanganku dan menariknya. Membuatku juga ikut bersamanya. Bicara dengan kenyataan, hari ini saja aku sudah berkali-kali memegang tangannya atau menariknya mendekat. Aku melakukannya secara sadar, hanya untuk memastikan Be tidak tersesat. Dan aku pun langsung melepaskannya setelah keadaan lebih sedikit aman untuknya. Tapi sekarang, kondisinya berbeda. Efeknya juga luar biasa berbeda. Be yang meraih tanganku lebih dulu, dan dia masih menggandeng tangan kananku sampai sekarang. Bukan menggenggam lenganku atau pergelangan tanganku, tapi benar-benar telapak tanganku. Membuat jantungku seketika bekerja luar biasa kerasnya. Apa ini? Bukannya aku sudah berhasil dan aku sudah bisa dengan yakin mengatakan dia sepupuku, tanpa ada pikiran lain tentangnya. Tidak menginginkannya lebih dari sekedar sepupuku. Tapi kenapa sekarang rasanya aku cukup sesak, dan napasku tidak beraturan. Hanya karena Be yang sedang dalam suasana hati yang baik luar biasa. Aku bahkan yakin dia tidak menyadari apa yang dia sedang lakukan. Jangan memulai. Jangan memulai. Jangan memulai. Aku terus mengucapkan mantra itu selama berjalan mengikuti Be menuju cafe tujuan kami. Ini hanya bagian dari perjalananku. Bagian dari keputusan yang kuambil. Sedikit konsekuensi sebelum akhirnya aku akan berhasil mencapai keinginanku. ‘Try again. Fail again. Fail better.’ - Samuel Beckett ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD