9

836 Words
Setelah mengisi perut di cafe yang kelihatannya cukup terkenal dan merupakan Hot Place di De Pijp, aku dan Arco memutuskan keluar dari kerumunan orang-orang di cafe. Arco membawaku ke Sarphatipark. Katanya, kita harus menurunkan makanan sebelum kembali ke mobil dan pulang. Jujur saja, awalnya aku mengeluh. Mengira kalau dia mengatakan itu hanya untuk alasan membuatku bergerak lebih banyak hari ini. Tapi ternyata, kecurigaanku tak berdasar. Atau setidaknya jika itu memang benar, tempat ini menebus dosa Arco. Beberapa orang sedang menikmati pemandangan danau buatan dan lingkungan hijau yang mengelilinginya. Ada yang sibuk mengobrol sambil memegang botol minuman di tangan mereka. Ada juga yang sedang memberi makan burung-burung di taman. Aku bisa melihat beberapa orang sibuk dengan earphone atau headphone nya dan terputus dengan dunia di sekitarnya. Pemandangan yang bisa menenangkan. Aku pun bisa menghabiskan waktu di sini dan terputus dari sekitarku seperti mereka, jika saja aku tidak menyadari keberadaan Arco yang sangat tidak bisa tidak dirasakan. “Lo masih mau kemana lagi?” tanyanya membuka pembicaraan. Tidak ada dari kami yang bicara setelah sampai di taman ini. Seolah sibuk dengan pemandangan yang ditangkap masing-masing indera penglihatan kami. Aku menoleh menatapnya sambil berpikir. Sejujurnya, aku mau. Tapi aku kelelahan karena terlalu semangat sebelumnya di Albert Cuypmarkt. Aku juga harus memikirkan kondisi Arco karena dia masih harus menyetir kembali ke Zaandam. Walaupun hanya butuh 20 menit jalan tol, tapi tetap saja. Dan setelah memutuskan, akupun menjawab, “Pengen sih, tapi gue harus simpen tenaga kayaknya. Lo juga masih harus nyetir, kan? Jadi mending kita pulang sebelum kemaleman.” Arco menatapku dengan sebelah alisnya terangkat, “Biasanya juga lo engga peduli pulang kemaleman.” Menyesal memerhatikannya dan mengungkapkan alasanku, aku memutar bola mataku, “Itu kerjaan, Co,” jawabku. Aku melihatnya sudah membuka mulut bersiap untuk membalas tapi kemudian segera mengambil kesempatan dan bicara lagi, “Jangan mulai, Co. Mood gue lagi bagus banget sampe gue bisa aja bilang iya ke permintaan-permintaan aneh.” Arco mengembangkan senyum jahilnya dan bicara, “Kalo gue minta lo…” “Engga,” putusku, “Buat lo, otak gue masih bisa rasional,” dan dalam hitungan detik aku mendengar tawa puas menyebalkannya lagi. Orang ini sungguh. Aku tidak pernah membayangkan kalau Arco punya sarkasme yang tinggi sebelum melihat dirinya yang asli di rumah sakit. Tapi yang kulihat setelahnya lebih membingungkan lagi. Dia bisa sangat menyebalkan dan mengganggu. Dia juga bisa sangat jahil dan kemudian tertawa seperti raja jahat yang mendapatkan apa yang diinginkannya. Mungkin itu salah satu sifat bawaan sebagai anak tunggal. Sesuatu yang selama berada di Indonesia tidak pernah kulihat atau kusadari, karena kami bahkan tidak berinteraksi. Yah, mungkin ada bagusnya juga aku akrab dengan Arco di sini. Jadi nantinya, ketika aku harus menghadapi kakak laki-lakiku yang keras kepala bukan main, aku sudah lebih siap. Aku bisa melihat sedikit kemiripan mereka. Bukan tidak mungkin lagi pula, mereka kan juga sepupu. Ah, sudahlah. Itu urusan nanti. Sekarang, aku hanya perlu memikirkan soal hari ini dan besok. Dan Minggu. Aku punya hari Minggu yang bisa kugunakan untuk beristirahat. Dan karena tidak ada pekerjaan yang tertinggal, aku juga bisa menghabiskan Sabtuku untuk melakukan apapun yang aku inginkan. Tentu saja, memperpanjang masa ‘Turis’-ku di Belanda. Aku menoleh ke arah Arco. Dia kelihatannya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Tapi, kurasa tidak ada salahnya mencoba peruntunganku dan bertanya, “Co?” Dia kembali memfokuskan pandangannya padaku sebelum kembali melihat jalan di depannya. Itu adalah sinyalku untuk bicara. Jadi aku memulai, “Lo besok ke rumah sakit?” Arco menggeleng, “Engga ada jadwal. Kecuali ada emergency, gue engga harus ke rumah sakit.” Mendengar jawabannya aku jadi semakin semangat dan semakin berharap. Arco adalah teman menjadi turis dan tour guide yang luar biasa. Aku tentu saja tidak mau melewatkannya dan memilih pergi sendirian dan kemudian tersesat. Jadi aku memberanikan diri dan bertanya, “Temenin gue besok jalan-jalan mau ga?” aku diam sebentar sengaja memberikan jeda untuknya memahami kalimatku sebelum melanjutkan untuk mendukung permintaanku, “Daripada gue ilang, kan?” Arco menatapku sebentar sebelum bertanya, “Lo mau kemana emang?” Aku tersenyum malu dan mengangkat bahuku, “Gue mau jadi turis seharian besok dan go on a day trip. Lo kan udah lebih lama, nah, lo nemenin gue lah. Yah?” Tatapannya berubah bingung, “Bukannya lo sama keluarga lo udah sering ke Belanda?” Dia benar. Walaupun sering adalah pilihan kata yang salah. Orang bisa mengira aku pergi ke Belanda setidaknya setahun sekali jika mendengar kalimatnya. Tapi bukan itu yang harus menjadi fokusku sekarang. Jadi aku segera membalas, “Tapi itu kan sama keluarga. Tahu lah. Nah, sekarang lo yang ngenalin gue tempat baru, dari orang yang emang tinggal di sini dan seenggaknya seumuran. Engga perlu jauh-jauh, tetep di Noord-Holland -North Holland: salah satu provinsi di Belanda dimana Amsterdam berada- aja.” Dia diam sebentar. Seolah memikirkan sesuatu yang berat. Cukup lama sampai membuatku putus asa. Tapi akhirnya dia mengangguk, “Gue yang nentuin tempatnya dan lo engga boleh complain.” Dengan semangat membara aku mengangguk setuju, “Deal!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD