Bab 3 - Hari Pernikahan

1126 Words
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema di setiap sudut pelataran masjid tempat akad Shena dan Dikta dilangsungkan. Terlihat ayah dan ibu Shena duduk bersanding di belakang penghulu dengan sorot mata penuh haru bahagia. Sementara Sanjaya yang duduk di sisi kanan meja akad juga tampak sama gembiranya. Pun di sekeliling, kerabat-kerabat dekat kedua mempelai telah memadati setiap celah kosong yang tersedia. Turut menyaksikan upacara sakral di mana sebuah janji suci akan dikumandangkan sebentar lagi. Di antara mereka, Shena sempat beradu tatap dengan sepasang mata milik seorang wanita paruh baya yang sudah lama tidak dilihatnya dalam tahun-tahun terakhir. Ibu Dikta, Jovina Ariani. Berbeda dengan keluarga inti lainnya seperti Sanjaya dan kedua orang tua Shena, dia duduk memencar sendiri, agak jauh di ujung barisan. Kedua tangannya terlipat di d**a, bibirnya samar-samar menyembunyikan gemeretak. Shena buru-buru mengalihkan pandang darinya. Selain Dikta, dia lah alasan lain mengapa Shena tidak menginginkan pernikahan ini. Jovina membencinya. Sama juga seperti Dikta, dulu sekali dia pernah menjadi sosok yang baik kepada Shena. Dia selalu merangkulnya hangat, menyambutnya antusias tiap kali Shena main ke kediaman mereka. Namun, suatu hari sikapnya mulai berubah. Kiranya saat Shena dan Dikta menginjak bangku SMP, setelah sebuah peristiwa duka melanda keluarga Dikta. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil. Sejak saat itu, Jovina mulai tak acuh pada Shena, menganggapnya seperti orang asing. Lalu puncaknya di hari setelah ulang tahun Dikta yang ke tujuh belas. Entah oleh sebab apa tiba-tiba dia bersama putranya kompak membenci Shena habis-habisan. Shena memejamkan mata, mengatur napas diam-diam, menahan tangis yang sudah mau keluar. Shena dapat menebak, besok-besok Jovina pasti juga akan turut berperan dalam menciptakan neraka untuknya. Bayangan itu membuatnya sedih dan ingin lari. Tapi sekali lagi ia tegaskan, ia tidak bisa lari. Tak terasa, lantunan doa-doa panjang telah memasuki bagian akhir. Terdengar dengung pengeras suara, pertanda bahwa detik-detik sakral itu akan segera tiba. Jantung Shena berdegup kencang. "Baik Bapak Ibu sekalian, Alhamdulillah doa-doa telah kita panjatkan bersama." Sang penghulu membuka suara setelah ahli agama selesai memimpin upacara pembacaan doa. "Selanjutnya, kita akan memulai prosesi akad nikah antara saudara Dikta Wiratama dan saudari Shena Candramaya." Para hadirin tampak menyimak dengan saksama. Sementara Shena justru semakin tertunduk lemas. Entah kalau Dikta. Sedari duduk bersanding dengannya di sini, gadis itu tidak sempat melihat ke arahnya. Lebih tepatnya, tidak berani. Shena tidak sanggup menatap raut penyesalan serta keterpaksaan di wajah Dikta. Sang penghulu bicara lagi, "sebelum akad dimulai, izinkan saya menyampaikan bahwa pernikahan ini akan diwakilkan oleh saya sebagai wali hakim, dikarenakan kondisi ayah mempelai perempuan tidak memungkinkan untuk menjadi wali. Begitupun kerabat laki-laki dari pihak ayah, mempelai perempuan tidak memilikinya. Apakah keluarga mempelai perempuan sepakat dan menyetujui bila saya menjadi wali hakim?" Nirma mengangguk, memberi jawaban mewakili suaminya. "Insya Allah kami setuju, Pak Penghulu." "Baik." Sang penghulu beralih menatap Shena. "Dan kepada mempelai perempuan, apakah kamu juga menyetujui bahwa akad akan dilaksanakan dengan wali hakim?" Shena mengangguk paksa. "Iya. Saya menyetujui." Suaranya terdengar bergetar di pengeras suara. "Alhamdulillah. Sekarang semuanya sudah setuju, mari kita mulai akad nikahnya. Kepada calon mempelai pria dan para saksi, mohon bersiap." "Kepada calon mempelai pria, mohon jabat tangan saya." Sang penghulu mengeluarkan tangannya di hadapan Dikta. Untuk beberapa saat, Dikta tampak hanya diam. Pandangannya datar nan dingin. Bagi Shena itu jelas sekali sebuah penolakan. Kalau tidak ada Sanjaya di dekatnya—yang kini tengah berperan sebagai saksi—menatap sang cucu seraya memberi anggukan penegasan, Dikta mungkin tidak akan sudi mengulurkan tangannya. "Saya nanti akan mengucapkan ijab sebagai wali hakim, kamu cukup menjawab dengan tegas, jelas dan sekali coba kalau bisa. Para saksi mohon memperhatikan." Lagi, dengan begitu dinginnya Dikta tidak menjawab atau sekedar mengangguk. Dia justru melempar tatapan tidak senang di hadapan sang penghulu. Ya, dia seterang-terangan itu membenci pernikahan ini. Jujur ada rasa sakit yang terukir jauh di lubuk hati Shena kala melihat sikap Dikta barusan. "Bismillahirrahmanirrahim ...." Entah harus bersyukur atau semakin meratap, ucapan bismilah yang dilontarkan oleh sang penghulu sebagai pembuka ijab kabul, mengalihkan rasa sakit Shena menjadi ketegangan tak terkira. Gadis itu kembali tertunduk dalam, menggigit bibir diam-diam. 'Tuhan ... kuatkan aku. Jadikan keputusanku ini terbaik untuk di masa depan nanti.' Hanya rapalan doa berulang kali yang mampu sedikit memecah kekalutan yang menyerang Shena bertubi-tubi. Sang penghulu pun akhirnya tiba pada tanggung jawab besarnya. "Saudara Dikta Wiratama. Saya nikahkan engkau dengan saudari Shena Candramaya binti Devandra Adhikara dengan mas kawin cincin berupa emas seberat dua setengah gram beserta uang tunai senilai dua juta dua ratus sepuluh ribu seratus sembilan puluh sembilan rupiah, dibayar tunai." Mendengar nominal mas kawin itu disebutkan, membuat Shena mampu sedikit mengukir senyum. Tipis sekali. Kemarin-kemarin saat Sanjaya mengiriminya pesan untuk menanyakan berapa mas kawin yang Shena minta, dengan setengah sadar Shena menjawab, 'Shena cuma minta cincin sederhana untuk dikenang, dan uang sebesar 2.210.199.' Entah Sanjaya sadar atau tidak, nominal itu adalah tanggal ulang tahun Dikta. Mungkin kekalutan Shena di tengah suasana perjodohan ini membuat alam bawah sadarnya tanpa sengaja menyelipkan tanggal tersebut sebagai mahar pernikahan, dengan harapan suatu hari itu dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik. Dari penuh kebencian menjadi sebaliknya, penuh cinta. Namun, Shena tidak terlalu berharap. Ia sadar itu harapan yang mustahil. Bahkan dirinya sendiri meragukan kalau ia bisa mencintai Dikta lagi seperti dulu, setelah perlakuan pria itu terhadapnya beberapa tahun lalu di penghujung masa SMA. "Saya terima nikahnya Shena Candramaya binti Devandra Adhikara dengan mas kawin tersebut, tunai." Dikta membalas ijab sang penghulu, membuat lamunan singkat Shena buyar seketika. Berganti menjadi debaran tak terkira. Entah ini debaran rasa bahagia atau kesengsaraan. "Bagaimana para saksi? Sah?" "Sah!" jawab para saksi yang hadir dalam upacara sakral ini. "Alhamdulillah." Sang penghulu mengusap wajah, yang lain pun mengikuti, kecuali Shena dan Dikta. Kedua sejoli yang baru saja resmi menjadi sepasang suami istri itu justru kini tengah terlibat saling tatap penuh duka. "Sekarang, cium tangan suamimu," titah sang penghulu kepada Shena. Dengan menahan gemetar Shena meraih tangan Dikta. Tangan yang dulu pernah selalu digenggam dan menggenggamnya. Sampai keadaan memburuk lalu tangan itu tak lagi berperan demikian, malahan menjauh hingga tak tergapai. Kini setelah sembilan tahun, akhirnya Shena dapat menggenggamnya kembali, bahkan menciumnya. Sayangnya sekarang situasinya sudah tidak seperti dulu. Rasanya jadi tidak menyenangkan lagi. "Sekarang gantian kamu cium kening istrimu." Kali ini sang penghulu menitah Dikta. Selama beberapa detik, dua sejoli itu kembali saling beradu pandang. Pancaran mata mereka sama-sama menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan. Mungkin rasa sakit serta kebencian. Mungkin juga terselip kenangan lama yang mampu menepis segala perselisihan teruk yang membayangi keduanya. Ketika Dikta memajukan kepalanya lalu sentuhan bibirnya terasa di kening Shena, tanpa sadar gadis itu terpejam gemetar. Berada sedekat ini dengan Dikta, ternyata bukan kehangatan yang ia rasakan. Melainkan kembalinya trauma masa-masa kelam itu. Semuanya kini berputar kembali di kepala Shena secara cepat dan acak bagai kaset rusak. Membuat perasaannya campur aduk tak karuan, hingga pening menyerangnya tak tanggung-tanggung. Dan .... Shena pun ambruk. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD