Bab 2 - Kenangan Manis

1205 Words
Dua bulan setelah perbincangan di rumah sakit kala itu, yang kini mengantarkan Shena pada situasi di mana ia duduk tanpa perlawanan di dalam sebuah kamar berhiaskan kain-kain putih menutupi sekeliling dinding. Di hadapan cermin yang terpaku gagah bersanding meja rias, gadis itu menatap pantulan dirinya dengan tatapan putus asa. Kebaya putih sakral telah melekat di tubuh rampingnya. Riasan elegan nan anggun menyatu dengan baik bersama keelokan rupanya. Tidak ketinggalan sanggul berserta pernak-perniknya, dan hiasan bunga melati yang menjuntai dari rambut hingga menyeberang bahunya, menjadi pelengkap sempurna penampilannya sebagai seorang pengantin. Cantik. Sungguh ini merupakan salah satu momen yang pernah Shena tunggu-tunggu untuk terjadi dalam hidupnya. Tapi ... mengapa matanya berkaca-kaca? Mengapa pula hatinya terasa sesak mendapati bukan kebahagiaan yang mengiringi jiwanya melainkan kesengsaraan? Ya, pada akhirnya hari ini tiba juga. Hari pernikahannya dengan Dikta. Betul-betul tak terelakkan, tidak bisa Shena cegah. Sempat gadis itu berpikir untuk kabur saja. Tapi pikiran itu langsung tertepis begitu bayangan senyum ayah dan ibunya melintas di benaknya. Sebetulnya yang paling memberatkan bukan bagian itu. Melainkan ... beban utang budi yang selama ini selalu tampak di wajah mereka, pagi ini mulai memudar. Yang kemudian berhasil menciptakan setitik keyakinan dalam keengganan Shena dalam mengambil langkah ini. Jemari gadis itu yang sudah dihiasi kuku palsu serta ukiran hena, meremas kuat lututnya. Tak terasa air mata jatuh menetes di atas lapisan kain batik yang membalut tungkai jenjangnya. Sungguh Shena tidak kuat sebetulnya. Ia ingin berontak. Namun, tubuhnya dirantai oleh keadaan yang memaksa. "Tuhan, tolong aku ... tolong kuatkan aku untuk menunaikan pernikahan yang tidak kuinginkan ini," ratapnya pilu. Di celah doanya itu, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan. Bagaimana perasaan Dikta saat ini? Apakah dia juga meratap seperti Shena? Atau bergembira karena sebentar lagi dia akan mendapat seluruh harta warisan Sanjaya? Jika boleh berharap, Shena ingin Dikta berbahagia saja, meskipun itu untuk alasan materi, bukan karena menikah dengannya. Tidak apa-apa, ketimbang dia meratap lalu melampiaskan kesedihannya dengan menyiksa Shena lagi seperti yang sering dilakukannya beberapa tahun lalu. "Dikta! Ayo pulang bareng! Tapi antar aku dulu ke suatu tempat ya?" Entah kenapa dalam kondisi ini Shena malah teringat pada momen-momen terakhir di mana ia masih merasakan kehangatan seorang Dikta. Sebelum badai es datang membekukan hatinya. "Mau kemana sih? Kok kayaknya rahasia banget?" Dikta yang masih berbalut seragam putih abu-abu kala itu, merangkul Shena sembari menatap mata bulat gadis itu penasaran. "Ada deh. Nanti juga kamu tahu. Ayo jalan sekarang!" Shena muda yang juga berbalut seragam serupa, menarik manja tangan Dikta menjauhi gedung sekolah. Hari itu adalah hari ulang tahun Dikta. Shena diam-diam telah menyiapkan hadiah untuknya. Saat itu Dikta sedang gemar-gemarnya main motor sport. Dia suka sekali memodif motornya. Mangkanya Shena membelikannya knalpot racing yang beberapa waktu terakhir sering dia kagumi. Dan kebetulan motornya sedang ada di bengkel. Jadi sekalian saja Shena menjadikannya sebuah kejutan kecil. Sepanjang jalan Shena terus sibuk menarik-narik tangan Dikta memintanya untuk lebih cepat mengikuti langkahnya. Bengkel tempat motor Dikta dibetulkan memang tidak jauh dari sekolah. Hanya beberapa ratus meter jalan kaki. Shena antusias sekali, tidak sabar ingin melihat seperti apa reaksi Dikta saat melihat hadiahnya. Dan benar saja, kala itu Dikta tersenyum lebar sekali. Bahkan Shena masih mengingatnya sampai hari ini. "Kejutan!" seru Shena memamerkan penampakkan motor sport Dikta yang sudah dihiasi knalpot racing impian pria itu. Untuk sesaat Dikta hanya diam terpaku, mencerna situasi yang masih membingungkan. Sampai ketika ia menyadari ada yang berbeda dari penampilan motornya. "Wah ... Shena!" pekiknya. "I-ini beneran motor aku nih?!" Mata Dikta berbinar terharu, lantas langsung berlari menyambar motornya. Berputar mengelilinginya dengan terkagum-kagum, membelai-belainya penuh kasih sayang bak boneka kesayangan. Shena mengangguk. "Selamat ulang tahun, Dikta si joki abal-abal. Nih, aku dandanin sedikit motor kamu, supaya kamu nggak jadi joki abal-abal lagi." "Shena ... ini ... makasih banyak!" Dikta menghampiri Shena lagi, menggenggam tangannya dengan mata hampir berkaca-kaca, lantas memeluknya. "Ini kado terbaik sepanjang ulang tahun aku asal kamu tahu!" "Lebay!" Shena menarik diri dari pelukan pria yang sudah dikenalnya sejak kecil itu. "Serius!" Bola mata Dikta melotot seakan meyakinkan Shena akan keseriusannya. "Tapi omong-omong, kamu dapat uang dari mana buat beli ini? Ini 'kan cukup mahal, aku aja masih mikir-mikir mau beli ini." Sesaat kemudian tatapannya mendadak memicing curiga. "Jangan-jangan kamu nyolong uang di dompet Om Devan ya? Aku bilangin loh!" "Enak aja! Aku nabung tahu!" bantah Shena langsung, tak terima. Wajahnya cemberut kesal. "Asal kamu tahu, beberapa bulan belakangan aku bela-belain nggak jajan supaya bisa beli kado sweet seventeen terbaik buat kamu! Malah kamu tuduh aku sembarangan! Dasar jahat!" Shena buang muka marah. Sontak Dikta kembali mencoba meraih tangan gadis itu, tidak enak karena sudah menuduh. Padahal niatnya cuma bercanda, tetapi sepertinya Shena marah betulan. Terlihat dari gelagatnya yang berkali-kali menepis kasar tangan Dikta. "Shena ... aku cuma bercanda. Kamu mah serius banget ih nanggapinnya. Jangan marah dong. Shena cantik deh." Kali ini Dikta bicara dengan nada sok imut, berharap amarah Shena mencair akibat jijik melihat tingkahnya. Dan rupanya berhasil. Gadis itu langsung menatapnya jijik. "Apaan sih? Geli banget!" tukasnya. Dikta tersenyum, lantas bicara lagi dengan masih mempertahankan nada sok imutnya. "Kan biar kamu nggak marah lagi. Udah ya marahnya? Maafin aku ... oke?" Awalnya Shena hanya diam. Tapi lama-lama ia tidak bisa juga menahan senyum. Sampai akhirnya tawanya meledak tak tertahankan lagi "Hahaha ... kena deh! Segitunya banget demi bujuk aku? Sumpah deh kamu jijik banget, hahaha ...." Ya, rupanya Shena sedari tadi juga iseng pura-pura marah. Kali ini gantian Dikta yang cemberut. "Awas kamu ya." Dikta membalas Shena dengan mengincar ingin menggelitiknya. Tapi gadis itu menghindar gesit. Mereka pun terlibat aksi kejar-kejaran memutari motor Dikta yang sedang terparkir di pelataran bengkel yang cukup luas. Tawa gembira tak terelakkan di wajah keduanya. Sungguh sebuah momen yang menghangatkan. Setetes lagi air mata jatuh kala Shena usai mengingat momen tersebut. Kali ini kian menderas sampai membuatnya sedikit sesenggukan. "Andai yang akan menikahiku hari ini adalah sosok kamu di hari itu, tentu bukan air mata yang mengiringi renunganku, melainkan kebahagiaan tak terkira. Sungguh, Dikta ... kenapa kamu berubah? Apa salah aku sampai kamu memutuskan untuk berhenti menjadi malaikat dan malah berubah menjadi monster yang mengukir trauma mendalam untuk aku di hari ini?" Shena meracau dalam ratapannya. Untuk beberapa saat, Shena masih menangis. Sampai ketika tatapannya kembali berpaku pada cermin dan menyadari kalau ia tidak boleh terus seperti ini. Riasannya bisa rusak. Tidak, sebetulnya bukan itu yang lebih ia khawatirkan. Melainkan, ia takut seseorang akan datang lalu menanyainya macam-macam. Terlebih kalau yang datang orang tuanya. Akan berpikir apa mereka nanti, menyaksikan putri semata wayang mereka menangis di detik-detik menjelang akad? Tentunya mereka akan mulai menyadari bahwa Shena tidak bahagia atas rencana perjodohan yang mereka ciptakan. Shena geleng-geleng membayangkannya. Sungguh ia tidak mau menambah beban kedua orang tuanya dalam kondisi sulit ini. Di mana kemalangan terus menimpa mereka sekeluarga dalam delapan tahun terakhir. Sebaliknya, Shena ingin membuat mereka bahagia dan damai, meskipun hanya untuk hari ini. Shena pun berusaha menguatkan diri. Mengatur napas berulang kali, hingga ketenangan mulai kembali ia kuasai. "Mungkin pernikahan ini akan menjadi bencana baru dalam hidupku. Tapi jika ini adalah awal kedamaian bagi Ayah dan Ibu, maka akan aku hadapi neraka itu,” tekadnya. "Dikta ... untuk kali ini dan kedepannya nanti, aku nggak akan cuma diam dan meratap seperti dulu. Lihat aja nanti, kamu akan melihat versi terkuat seorang Shena Candramaya." **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD