Cais mengetuk pintu kamar abangnya, saat tadi mobilnya masuk ke pekarangan rumah, mobil Cato telah terparkir di sana menandakan kalau abangnya itu telah terlebih dahulu pulang. Cais sebenarnya menyesal, ya, dia sangat menyesali perkataannya pada Indi saat itu. Sebelumnya, Cais tidak pernah terbawa emosi. Entah kenapa saat itu dia begitu marah pada abangnya, Cato. Juga marah pada keadaan. Dia mengingat pertemuan terakhir dengan Indi, Cais lelah karena berjaga setelah piket. Kemudian dia melihat Indi sedang check up bersama ibunya. Cais berharap saat itu perasaannya sedikit membaik karena bertemu dengan Indi, nyatanya, semua pikirannya benar, Indi telah berpacaran dengan Cato. Bukankah itu terlalu cepat? Baru beberapa bulan berlalu sejak pertemuan mereka. Kenapa Indi bisa begitu cepat men

