Mimpi Yang Hancur
Alana
_
Aku pernah percaya bahwa setiap orang akan menemukan tempat yang bisa mereka sebut rumah.
Dulu, saat masih kecil dan tidur di ranjang besi panti asuhan yang berderit setiap kali aku bergerak, aku sering membayangkan seseorang datang menggenggam tanganku, lalu berkata bahwa aku tak perlu merasa sendirian lagi.
Hari itu memang datang.
Namun rumah yang akhirnya kutemukan ternyata hanya singgah sementara.
Aku kehilangan kedua orang tuaku bahkan sebelum sempat mengingat wajah mereka. Hidupku dimulai di sebuah panti asuhan sederhana di Jakarta. Di sanalah aku belajar bahwa menangis terlalu lama tidak akan mengubah apa pun.
Saat usiaku lima belas tahun, seorang perempuan datang menemuiku. Namanya Tante Riana, adik dari ayah Kevin. Meski hidupnya jauh dari kata berkecukupan, hatinya begitu luas.
"Aku tidak bisa memberimu kehidupan mewah," katanya sambil mengusap kepalaku. "Tapi kalau kamu bersedia, mulai hari ini kamu punya keluarga."
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menangis karena bahagia.
Rumah Tante Riana kecil, tetapi hangat. Setelah suaminya meninggal, beliau bekerja sebagai pengasuh sekaligus pembantu di rumah keluarga Kevin. Sepulang sekolah, aku sering datang membantunya. Di sanalah aku mengenal Kevin.
Kami tumbuh bersama, belajar bersama, bertengkar karena hal-hal sepele, lalu diam-diam saling jatuh cinta.
Aku selalu berpikir kisah hidupku akan berakhir sederhana. Menikah dengan laki-laki yang sudah kukenal sejak remaja, membangun keluarga kecil, dan hidup tenang meski tanpa kemewahan.
Namun Tuhan kembali mengajariku arti kehilangan.
Tiga tahun lalu, Tante Riana meninggal karena komplikasi penyakit jantung. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia menggenggam tanganku erat.
"Jangan pernah berhenti bermimpi, Alana. Rumah bukan tentang tempat, tapi tentang orang yang membuatmu merasa pulang."
Pesan itu masih kuingat hingga hari ini.
Sesuai keinginannya, aku menjual rumah peninggalannya untuk biaya pengobatan dan melanjutkan kuliah Psikologi yang sempat tertunda. Sejak saat itu aku tinggal sendirian di sebuah apartemen studio kecil di Jakarta.
Pagi hari aku bekerja di sebuah kafe. Sore hingga malam kuliah. Setelah itu aku menerima pekerjaan lepas sebagai penerjemah dan penulis konten demi membayar biaya hidup dan uang semester.
Melelahkan, tetapi aku tidak pernah mengeluh.
Aku percaya semua perjuangan ini akan terbayar ketika aku lulus.
Dan selama Kevin masih bersamaku, aku yakin semuanya akan baik-baik saja.
Pagi itu, setelah menyelesaikan shift di kafe, aku membuka aplikasi perbankan.
Saldo rekeningku membuat dadaku sesak.
Uang itu tidak akan cukup untuk membayar cicilan kuliah bulan depan.
"Sedikit lagi, Alana," bisikku. "Kamu pasti bisa."
Aku mengakhiri pekerjaan lebih cepat karena Kevin mengirim pesan semalam.
*Datang ke apartemenku. Ada yang ingin kubicarakan.
Di perjalanan, aku membeli Black Forest cake favoritnya.
Kupikir ia ingin merayakan pekerjaan barunya.
Atau mungkin...
Aku tersenyum sendiri.
Mungkin hari ini ia akan melamarku.
Tanganku sedikit gemetar saat menekan bel apartemennya.
Tidak ada jawaban.
Namun pintunya tidak terkunci.
"Kevin?"
Aku melangkah masuk.
Apartemen itu sunyi.
Lalu terdengar tawa pelan dari arah kamar.
Firasat buruk tiba-tiba memenuhi dadaku. Tanganku mulai berkeringat ketika perlahan kudorong pintu kamar yang terbuka sedikit.
Dan dalam satu detik...
Seluruh duniaku runtuh.
Kevin berada di atas ranjang bersama perempuan lain.
Sprei putih kusut. Pakaian berserakan di lantai. Perempuan itu melingkarkan kedua tangannya di leher Kevin sambil tersenyum manis.
Kotak kue di tanganku terlepas dan jatuh ke lantai.
Mereka menoleh bersamaan.
Wajah Kevin langsung pucat.
"Alana..."
Aku membeku.
Dadaku seperti diremas hingga sulit bernapas.
"Jadi..." suara ku bergetar. "Ini yang ingin kamu bicarakan?"
Perempuan itu bangkit tanpa sedikit pun terlihat bersalah. Ia cantik, berpenampilan elegan, dan cincin berlian di jarinya berkilau terang.
"Oh, jadi ini Alana?"
Kevin buru-buru mengenakan kaus.
"Alana, dengarkan aku dulu."
"Apa lagi yang harus kudengar?"
Ia menghembuskan nafas panjang.
"Hubungan kita memang sudah lama tidak berjalan."
Aku tertawa lirih.
"Itu menurutmu?" tanyaku ketika ia mengatakan kami tidak lagi cocok.
Kevin mengusap wajahnya.
"Aku capek terus melawan keluargaku."
Aku terdiam.
"Mereka tidak pernah benar-benar menerima hubungan kita."
"Kita berasal dari dunia yang berbeda."
Aku merasakan tenggorokanku tercekat.
"Kamu tahu sendiri siapa ayahku. Keluargaku punya perusahaan, sedangkan kamu..."
Kalimatnya terputus.
Namun aku sudah memahami sisanya.
"Aku cuma anak panti?"
Kevin memejamkan mata.
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi itu yang kamu maksud."
Perempuan di sampingnya tersenyum tipis.
"Aku rasa kamu perempuan yang baik, Alana. Tapi dalam dunia nyata, status sosial tetap penting."
Aku menatapnya.
Tidak ada rasa bersalah sedikit pun.
Kevin kembali berbicara.
"Celine bisa membantuku mengembangkan bisnis keluarga."
"Lalu aku?"
"Kamu terlalu sederhana."
Dua kata itu menghancurkan seluruh harga diriku.
Jadi selama ini...
Aku hanyalah pilihan sementara sampai ia menemukan perempuan yang lebih menguntungkan.
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena ingin memohon.
Melainkan karena begitu bodohnya aku mempercayai masa depan yang ternyata hanya kubangun sendirian.
Aku menghapus air mata dengan punggung tanganku.
"Baik."
Kevin menatapku tanpa berani mendekat.
"Kalau memang itu pilihanmu..."
Aku memaksakan senyum.
"...semoga suatu hari nanti kamu tidak pernah merasakan sakit seperti yang kamu berikan kepadaku hari ini."
Aku berbalik sebelum mereka melihat tubuhku mulai gemetar.
Begitu pintu apartemen tertutup, seluruh kekuatanku menghilang.
Aku terduduk di lorong.
Menangis tanpa suara.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku kembali merasa seperti gadis kecil di panti asuhan.
Sendirian.
Malam itu aku kembali ke apartemenku tanpa menyalakan lampu. Ponselku terus berdering oleh telepon dan pesan dari Kevin, tetapi semuanya kuabaikan.
Saat sedang memandangi langit Jakarta dari balik jendela kecil, terdengar bunyi notifikasi dari laptop di atas meja.
Sebuah email iklan lowongan kerja muncul.
Job Offer — Live-in Nanny Needed, London, England.
Aku membukanya dengan tangan yang masih gemetar.
Mereka mencari seorang pengasuh bayi untuk bekerja di London dengan gaji yang bahkan lebih besar daripada seluruh penghasilanku selama satu tahun di Jakarta.
Beberapa bulan lalu, aku memang pernah mencoba mencari informasi tentang kerja paruh waktu di luar negeri.
Aku menatap layar cukup lama.
Di tengah hati yang baru saja hancur, secercah harapan perlahan muncul.
Mungkin...
Inilah kesempatan untuk memulai hidup yang baru.