bc

Diikat Kontrak Sang CEO Dingin

book_age16+
2
FOLLOW
1K
READ
love after marriage
system
forced
arranged marriage
kickass heroine
stepfather
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
lighthearted
serious
city
office/work place
assistant
like
intro-logo
Blurb

"Naira, ini tidak seperti yang kau pikirkan," Adrian buru-buru bangkit dari kursinya, namun Naira sudah mundur beberapa langkah, matanya berkaca-kaca menahan air mata kekecewaan yang mendalam.

"Saya bangun karena kedinginan, mencari Anda ke mana-mana," suara Naira bergetar, "dan saya menemukan Anda di sini, berduaan dengan Karin, di malam ketika ayah saya sedang kritis?"

"Naira, dengarkan aku dulu," Adrian melangkah mendekat, namun Naira semakin mundur.

chap-preview
Free preview
Malam Kehancuran
Hujan turun deras. Taksi online yang ditumpangi Naira Adelia berhenti di depan rumah mewah keluarga Winarko. Di pangkuannya tergeletak kotak kue cokelat kesukaan Rio. Dibungkus rapi dengan pita merah. Malam ini ulang tahun Rio yang kedua puluh tujuh. Malam ini juga hari terakhir ia bekerja di kantor "pengap" PT. Pribadi Jaya. Mahendra Group yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di seluruh negeri, menawarkan kontrak kerja berkali lipat lebih menggiurkan. Naira sengaja pulang lebih cepat dari kantor lamanya demi memberi kejutan. Ia tersenyum sendiri membayangkan wajah Rio nanti. Dua bulan lagi mereka akan menikah. Semua undangan sudah dicetak. Gaun pengantin sudah dijahit setengah jadi di butik langganan ibunya, ibu kandungnya yang telah lama tiada. Meninggalkan Naira sendirian menghadapi dunia bersama ayah dan ibu tirinya. Naira membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Rumah itu sepi. Lampu di lantai atas menyala remang. "Rio?" panggilnya pelan. Ia menaiki tangga. Suara desahan menjadi hal yang pertama ia dengar. Setelah itu, tawa kecil yang begitu familiar. Terlalu familiar. Naira berhenti di depan pintu kamar. Tangannya gemetar saat mendorong daun pintu yang tak terkunci. Dunia Naira runtuh dalam sepersekian detik. Di atas ranjang tempat Rio pernah berjanji akan mencintainya seumur hidup, Rio tengah memeluk erat seorang wanita. Wanita yang wajahnya begitu dikenal Naira. Karena wajah itu setiap hari ia lihat di meja makan. Sela. Adik tirinya sendiri. Kotak kue di tangan Naira jatuh ke lantai. Pita merahnya terlepas. "Naira?" Rio setengah berteriak. Buru-buru menarik selimut. "Ini... ini tidak seperti yang kau pikirkan..." "Tidak seperti yang kupikirkan?" Suara Naira pecah. Antara marah dan hancur. "Kau sedang tidur dengan adikku, Rio!!! Di kamar kita! Dua bulan sebelum pernikahan kita!" Alih-alih malu, Sela malah bangkit dengan tenang. Membungkus tubuhnya dengan seprai sambil melempar senyum sinis. "Jangan berlebihan, Kak Naira. Rio bilang dia sudah lama tidak bahagia denganmu. Kau terlalu sibuk kerja, terlalu... biasa saja. Rio butuh yang lebih..." ia melirik tubuhnya sendiri, "....menarik." Tamparan keras mendarat di pipi Sela. Padahal wanita itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Naira tidak menyesalinya sedikit pun. Keributan itu memancing langkah kaki tergesa dari lantai bawah. Bu Ratna ibu tiri Naira, muncul di ambang pintu dengan wajah pucat. Namun, bukan pucat karena syok melihat perselingkuhan. Ia pucat karena melihat pipi Sela memerah. "Naira!!! Berani-beraninya kau memukul adikmu!!" "Adik sedang tidur dengan tunanganku, Bu. Ibu justru membelanya?!" Naira nyaris tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Sela tidak salah apa-apa! Kalau Rio memilih dia, itu berarti kau memang tidak pantas untuknya!" bentak Bu Ratna. Wanita paruh baya itu menarik Sela ke belakang tubuh, seolah melindungi anak kandungnya dari monster. "Sekarang juga keluar dari rumah ini!!! Kau bukan siapa-siapa di sini, Naira. Kau hanya beban peninggalan ayah bodohmu itu!" Kata-kata itu menghunjam lebih dalam dari pengkhianatan Rio. Naira mundur selangkah. Matanya panas menahan air mata. Pantang baginya menangis di depan mereka. Ia tidak akan memberi mereka kepuasan melihatnya bersedih. "Baik," bisiknya. Suaranya bergetar tapi tegas. "Aku pergi. Kalian akan menyesal pernah memperlakukanku seperti ini." Ia berbalik. Menuruni tangga dengan langkah yang terasa seperti menginjak pecahan kaca. Melangkah keluar ke tengah hujan tanpa berpayung. Wanita muda itu sama sekali tidak membawa apa pun selain hatinya yang koyak. Baru saja ia berjalan dua blok, ponselnya bergetar. Nomor rumah sakit. "Halo, dengan Naira Adelia?" suara di seberang terdengar tegang. "Kami dari IGD Rumah Sakit Harapan Bunda. Ayah Anda, Bapak Wahyu Adelia baru saja masuk dalam kondisi kritis. Serangan jantung. Kami butuh keluarga pasien untuk tanda tangan persetujuan. Tindakan operasi harus dilakukan secepatnya." Dunia Naira yang sudah runtuh, benar-benar hancur berkeping-keping. "Ba-bagaimana bisa..." suaranya tercekat. "Menurut informasi yang kami terima dari pihak pengantar, Bapak mengalami tekanan berat. Alasannya karena didatangi penagih utang di rumah. Jumlahnya cukup besar, hampir dua miliar rupiah." Naira nyaris terjatuh di trotoar. Utang? Ayahnya tidak pernah berutang seumur hidupnya. Ayahnya seorang pensiunan guru yang hidup sederhana. Kecuali... kecuali ini ulah Bu Ratna. Judi. Naira memang pernah mendengar bisik-bisik tetangga. Mereka membicarakan tentang kebiasaan judi online ibu tirinya. Tapi ia tak pernah menyangka sampai sejauh ini. Hujan semakin deras. Membasahi seluruh tubuhnya hingga menggigil. Naira berdiri sendirian di tengah trotoar Jakarta yang basah. Wanita muda itu memegang ponselnya erat-erat. Seolah itu satu-satunya hal yang tersisa dalam hidupnya. Ia tidak punya uang. Ia tidak punya tempat tinggal malam ini. Sekarang, nyawa satu-satunya orang yang benar-benar menyayangi Naira sedang di ujung tanduk. Akibat utang besar yang bahkan bukan miliknya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah juga. Bercampur dengan air hujan yang mengguyur wajahnya. Naira jatuh berlutut di pinggir jalan. Memeluk lengannya sendiri. Tubuhnya berguncang oleh isak. Kesedihannya tak lagi bisa ia tahan. "Aku akan melakukan apa saja," gumamnya di antara tangis. Menatap langit yang gelap dan kejam. "Apa pun!! Aku bersumpah. Aku akan menyelamatkan Ayah. Apa pun harganya."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
768.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
994.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
368.6K
bc

Not just, the Beta

read
353.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook