Dua minggu berlalu sejak pernikahan mereka. Naira kembali bekerja di Mahendra Group. Kali ini dengan status resmi sebagai sekretaris pribadi Adrian. Sebuah keputusan yang diambil agar pernikahan mereka terlihat wajar. Setidaknya di mata publik dan media yang mulai gencar memberitakan pernikahan mendadak sang CEO muda.
Pagi itu, Naira sedang merapikan berkas di mejanya. Meja itu terletak tak jauh dari ruangan kaca Adrian. Seorang pria berpenampilan rapi dengan senyum ramah mendekat.
"Naira, kan?" sapanya. "Aku Kevin. Manajer divisi pemasaran. Aku dengar kamu baru saja menikah dengan Pak Adrian. Selamat, ya."
"Terima kasih, Pak Kevin," jawab Naira sopan. Tersenyum kecil.
"Panggil Kevin saja," ia tersenyum lebih lebar. "Kudengar kamu belum sempat kenal banyak orang di kantor ini. Bagaimana kalau makan siang bersama nanti? Aku bisa perkenalkan kamu dengan tim yang lain. Supaya kamu tidak merasa asing."
Naira mengangguk ramah. Ia memang belum memiliki banyak teman sejak pindah divisi. "Boleh. Terima kasih tawarannya."
Tanpa mereka sadari, dari balik dinding kaca ruangannya, Adrian mengamati interaksi itu dengan rahang mengeras. Matanya menyipit tajam. Ia meletakkan pena yang sejak tadi digenggamnya dengan keras. Terdengar bunyi berdebam pelan di atas meja.
Saat jam makan siang tiba, Naira dan Kevin berjalan bersama menuju kafetaria. Disusul beberapa rekan kerja lain yang ikut bergabung dalam obrolan ringan. Kevin sesekali melontarkan lelucon yang membuat Naira tertawa kecil. Tawa pertama yang benar-benar tulus sejak pernikahannya yang penuh sandiwara.
Namun tawa itu terhenti seketika saat ponsel Kevin berdering mendadak.
"Halo? Ya, saya Kevin...apa?!?! Proyek Meridian dibatalkan?" Wajah Kevin berubah pucat pasi. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Tapi proyek itu sudah disetujui dewan direksi minggu lalu, kenapa tiba-tiba...."
Ia mendengarkan sejenak. Tak lama, lelaki itu menutup telepon dengan tangan gemetar.
"Ada apa, Kevin?" tanya Naira khawatir. Melihat perubahan drastis di wajah rekannya itu.
"Proyek besar yang sudah aku kerjakan selama enam bulan baru saja dibatalkan sepihak," jawab Kevin dengan suara bergetar, "oleh Pak Adrian sendiri. Tanpa alasan yang jelas."
Naira terdiam. Sebuah kecurigaan mulai menyusup di benaknya. Ia teringat tatapan Adrian dari balik kaca ruangannya pagi tadi. Tatapan yang entah mengapa terasa berbeda saat melihatnya berbicara dengan Kevin.
Sore harinya, Naira memberanikan diri masuk ke ruangan Adrian tanpa mengetuk. Wajahnya menyiratkan tanya yang tak sabar untuk dijawab.
"Kenapa Anda membatalkan proyek Kevin?" tanyanya langsung. Tanpa basa-basi.
Adrian terlihat sedang menandatangani beberapa dokumen. Pria itu tidak mengangkat wajahnya. "Proyek itu tidak lagi menguntungkan bagi perusahaan."
"Itu tidak masuk akal," bantah Naira. Melangkah lebih dekat ke meja kerja Adrian. "Proyek itu sudah disetujui dewan direksi minggu lalu. Kevin sudah bekerja keras selama enam bulan untuk itu."
Untuk pertama kalinya sejak Naira masuk, Adrian mengangkat wajahnya. Menatap Naira dengan sorot mata yang sulit diartikan. Campuran antara kesal dan sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tampak seperti kecemburuan yang enggan ia akui.
"Kau membela dia begitu gigih," kata Adrian dingin. Meletakkan penanya dengan keras. "Sampai lupa siapa yang seharusnya kau bela di sini, Nona Adelia."