BINTANG MALADEWI BAGASKARA
Sesaat, aku seperti diseret ke dalam film Terminator dan berperan sebagai John Connor.
Bagaimana tidak? Aku dihadapkan pada kenyataan yang tidak bisa diterima oleh nalar manusia. Sampai-sampai, aku jatuh tidak sadarkan diri. Saat tersadar, di depanku sudah muncul sepasang kembar berbeda jenis kelamin, seperti aku dan Kak Bravo, dan keduanya mengaku sebagai anakku dari masa depan.
Violine dan Oscar.
Tuhan, mimpi apa aku semalam? Seakan masalah Reinhard dan Bulan belum cukup bagiku dan sahabat-sahabatku, kini, muncul masalah yang lebih aneh lagi. Aku hanya bisa merasa takjub, ketika berhadapan dengan cewek bernama Violine tersebut.
Seperti bercermin.
Nyaris semua yang ada pada diri Violine seperti diriku. Rambutnya, matanya, hidung, bibir. Tapi, wajah itu, juga caranya tersenyum, alisnya, dan gaya bicaranya, mengingatkanku pada... Revro.
Pada pacarku.
“Aku anak Bunda sama Ayah di masa depan,” jelas Violine sambil menunjuk Revro yang kelihatan salah tingkah. Wajahku memanas dan aku hanya bisa berdeham untuk mencairkan suasana. Violine nampak bersemangat dan begitu riang ketika memaparkan fakta itu. “Oscar kembaran aku. Yang di sana, Meilin dan Zefran. Mereka anaknya Tante Hikari yang cantik, sama Om galak di ujung sana.”
Aku melongo dan menatap Kak Bravo. Cowok itu mendelik dan memberikan Violine pelototan ganasnya, membuat Violine cengengesan, alih-alih mengkeret ketakutan. Sikap beraninya itu lagi-lagi mengingatkanku akan Revro. Meski selalu diberikan tatapan dingin dan tajam oleh Kak Bravo, Revro tetap berdiri tegak dan menentangnya.
Kurang lebih, seperti Violine barusan.
Tuhan, apakah semua ini benar-benar terjadi? Apa Violine dan Oscar memang anakku dan... Revro? Dari masa depan? Tapi, bagaimana bisa semua ini terjadi?
“Om Bravo, jangan galak-galak.” Violine menggoyangkan telunjuknya dan tersenyum jahil. “Di masa depan, Om menderita penyakit jantung, loh. Itu semua karena Om suka marah-marah.”
“SERIUS?!” teriak kakak kembarku itu berapi-api. Wajahnya perlahan memucat dan dia tidak malu-malu menampilkan tatapan takutnya pada kami semua.
“Nggak, dong.” Violine tertawa keras, membuat kami semua bernapas lega, tapi tidak dengan oknum yang baru saja dikerjainya. “Om lagian galak, sih. Vio kerjain aja sekalian.”
Aku mengerjap tatkala melihat Kak Bravo menghampiri Revro dan menjitak pacarku itu, hingga Revro mengaduh.
“Apa-apaan, sih?!” seru Revro tidak senang.
“Lo nurunin sifat yang aneh-aneh ke anak-anak lo, tau?!”
“Dih, emangnya gue bisa milah-milah sifat mana yang boleh dan nggak boleh gue warisi ke anak-anak gue?” tanya Revro dengan nada kesal. Aku hanya bisa tersenyum tipis dan menggeleng, sementara Hikari memijat pelipisnya di sampingku. Kini, aku melihat si anak cowok bernama Zerfran mendekati sahabatku dan mengusap pipi Hikari.
Aduh, lucunya. Kalau benar Zefran dan Meilin adalah anak Hikari dengan Kak Bravo, berarti dia adalah keponakanku. Sangat menggemaskan.
“Mama yang sabar, ya,” kata Zefran, si cowok kecil tampan dan menggemaskan itu. Sahabatku, Hikari, hanya bisa tersenyum tipis dan mengusap rambut Zefran lembut dan penuh kasih sayang. Benar-benar seperti seorang ibu yang sedang membelai rambut anaknya. Mau tidak mau, aku ikut tersenyum dan mencubit gemas pipi Zefran, sementara Meilin, kembaran Zefran, sedang menjahili Reffal yang tertidur di atas kasur.
“Sabar kenapa emangnya, Fran?” tanyaku mendadak kepo. Kini, tatapan Zefran beralih padaku.
“Tante selalu manggil aku dengan panggilan Fran. Aku suka.” Zefran memelukku dan hal itu membuatku tertawa renyah. Tiba-tiba, ucapan Oscar, yang katanya adalah anakku dari masa depan, mampir lagi di benakku.
Ada orang-orang yang berniat memisahkan kami berempat. Memisahkanku dari Revro, juga Hikari dari Kak Bravo. Dan kalau hal itu sampai terjadi, masa depan akan berubah. Kemungkinan besar, keempat orang dari masa depan ini tidak akan pernah hadir. Seolah terhapus begitu saja dari peradaban, seperti yang ada pada film Terminator.
Dan aku tidak sudi hal itu terjadi!
“Waktunya kami pulang, Bunda.”
Kalimat Oscar membuatku menatapnya. Dia sangat mirip dengan Revro. Aku seperti melihat kembaran Revro saja. Kini, Violine bergabung dengan Oscar sambil menggendong Meilin, sementara Zefran dengan senang hati menghampiri Oscar. Kemudian, Kak Bravo terlihat mendelik ke arah Zefran dan berdecak tidak suka, tatkala Zefran mengusili Meilin dengan cara menarik rambut cewek kecil itu.
“Kamu nggak boleh nakal sama saudara kembar kamu, ngerti?”
“Cih,” cibir Zefran bete. Kulihat dia bersedekap sambil menatap Kak Bravo dengan tatapan malasnya. “Ayah emang pilih kasih. Selalu Meilin yang disayang dan dibela, mentang-mentang dia anak cewek. Untung Bunda selalu belain aku dan omelin Ayah, kalau Ayah marahin aku. Sampai-sampai, Ayah ditendang ke luar dari dalam rumah.”
Aku melongo, pun dengan Revro. Kak Bravo dengan senang hati menatap Hikari sambil mengangkat satu alisnya dan bersedekap. Tingkahnya sangat serasi dengan Zefran saat ini. Sementara itu, Hikari hanya mengerutkan kening, membalas tatapan kakak kembarku dengan tatapan nyolot.
“Apa?” tanya Hikari jutek. “Itu belum kejadian, kan? Jadi, nggak usah bersikap seolah-olah gue udah nendang lo ke luar dari rumah saat ini.”
Keempat anak dari masa depan itu hanya bisa terkekeh sambil menggeleng. Mereka pamit, mengucapkan salam perpisahan dengan senyum lebar tersungging di wajah. Lalu, tiba-tiba saja, terdengar suara petir. Begitu kencang dan mengerikan. Aku langsung terlonjak dan tanpa sadar memeluk Revro, sementara Hikari hanya mengangkat bahu tak acuh ke arahku.
Tak lama, sebuah sinar muncul di hadapan kami. Sinar yang begitu menyilaukan. Kami harus memicingkan mata dan menyaksikan hal yang tidak bisa diterima oleh nalar. Keempat anak itu melambai, lantas menghilang begitu saja dari hadapan kami semua.
They’re gone.
Tapi, aku yakin, kami pasti akan bertemu lagi nanti.
Pasti!
###
HIKARI NEVANDRA PUTRA
Akhirnya, aku bisa ke luar dari rumah sakit.
Kuhirup dalam-dalam udara segar di pagi hari ini sambil merentangkan kedua tangan. Tersenyum senang, aku menoleh saat menyadari kehadiran seseorang di sampingku, lantas mengangkat satu alis.
“Apa?” tanyaku datar, ketika melihat Bravo hanya menatapku dalam diam dan tidak mau berpaling sama sekali. Risih sebenarnya, tapi, aku merasa aman dan nyaman hanya karena ditatap oleh cowok itu.
Ya, aku tahu, aku sudah bersikap egois. Aku yang berkata bahwa aku mencintainya, tapi, di saat dia juga mengatakan hal yang sama, aku justru menolaknya. Mau bagaimana lagi? Aku tidak mau kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Bravo. Semua masalah ini ada karena kehadiranku. Karena diriku, Reinhard selalu mencelakai Bintang, Bravo dan Revro. Walau tujuan awalnya adalah untuk mendapatkan Bintang, tapi, tujuan itu sudah berubah. Reinhard sendiri yang mengaku padaku.
Bahwa dia tertarik padaku dan akan mencelakai siapa saja yang berusaha mendekatiku atau mengacaukan rencananya.
“Kejadian semalam emang nggak bisa diterima oleh akal sehat,” katanya kemudian. Aku mengangkat bahu tak acuh dan mengangguk, menyetujui kalimatnya. “Tapi, gue percaya dengan semuanya.”
Maksudnya?
Baru saja aku ingin membalas kalimatnya, Bravo memutar tubuh dan menarik pinggangku hingga tubuhku membentur tubuhnya. Menahan napas, aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tahu apakah ada orang lain yang melihat aksi gila Bravo ini. Aku mencoba melepaskan diri, tapi si cowok arogan di depanku ini tidak mau melepaskanku.
Dan jantungku semakin melemah karena tindakannya.
Arrrgggh!
“Bravo! Lo udah gila?!” seruku tertahan. Aku menahan dadanya dengan kedua telapak tanganku agar tubuh kami tidak benar-benar bersentuhan. “Lepasin gue, nggak?!”
“Zefran dan Meilin,” ucapnya pelan sambil menerawang. Tapi, seulas senyum muncul di bibirnya. “Nama yang bagus, kan? Gue tau kalau nama itu pasti pemberian lo. Siapa lagi yang suka dengan karakter Zefran dari film 5 cm dan Meilin, si cewek berisik tapi luar biasa baik hati hingga merelakan Shaoran memilih Sakura, dari anime Cardcaptor Sakura?”
Ya Tuhan! Bravo tahu kalau dua film itu adalah film kesukaanku?! Dia tahu darimana?!
“Mereka anak-anak kita. Itu pengakuan Zefran dan Meilin. Artinya, lo dan gue akan menikah.”
“Ta—tapi....”
“Soal penghalang sialan yang Oscar bicarakan, gue nggak akan membiarkan mereka berbuat seenaknya pada lo dan juga gue. Pun dengan adik kembar gue dan pacarnya yang menyebalkan itu.” Bravo mengangkat daguku dan membuatku hanya fokus pada kedua maniknya saja. “Gue akan lindungi lo, juga Bintang. Jadi, tolong, izinkan gue ada di sisi lo. Jangan biarin gue khawatir dengan keadaan lo setiap detiknya dan mendadak jadi gila karena hal itu.”
Aku menelan ludah susah payah. Aku juga sebenarnya sangat ingin Bravo berdiri tegak di sisiku. Tapi, aku benar-benar takut kalau Reinhard akan melukai Bravo. Aku tidak bisa.
“Bravo, Reinhard bilang, dia akan—“
“I don’t care!” Cowok itu dengan seenak dengkulnya saja memotong kalimatku. “Gue nggak akan mati karena dia. Gue nggak akan mati hanya karena melindungi lo dan melawan dia, Hikari. Zefran dan Meilin adalah bukti kalau kita bisa bersatu.”
Aku terdiam. Cukup lama aku menatap matanya, melihat kesungguhan dan tekad dari manik Bravo, hingga akhirnya aku menyerah. Kutarik napas panjang dan perlahan, kudorong d**a bidang Bravo hingga kami berdua terpisah oleh jarak.
Aku memutar tubuh, pergi meninggalkan Bravo. Baru lima langkah aku berjalan, aku menghentikan langkah dan menoleh. Bravo masih ada di tempatnya, menunduk dan mengepalkan kedua tangannya.
“Mau sampai kapan lo berdiri kayak patung di sana, Brav?”
Pertanyaanku membuat kepala Bravo terangkat. Cowok itu menatapku aneh dan terlihat jelas kalau dia bingung dengan kalimatku barusan. Aku bersedekap dan tersenyum.
“Katanya mau terus ada di sisi gue? Jadi, pidato lo barusan cuma bualan belaka? Lo nggak sungguh-sungguh mau jadi pacar gue, ya? Atau mungkin, Zefran dan Meilin itu sebenarnya anak gue sama Reinhard?”
Kulihat Bravo mendengus dan tertawa keras. Dia menunduk lagi, menarik napas panjang dan segera menghampiriku. Kemudian, Bravo menangkup wajahku, membuatku hanya bisa menahan napas dan terkejut sepersekian detik, sebelum akhirnya kedua mataku membulat maksimal ketika dia menyatukan bibirnya dengan bibirku.
Bravo sialan!
“Ayo, kita lawan para psikopat sinting itu!” serunya berapi-api sambil merangkul pundakku. Sama sekali tidak peduli bahwa wajahku sudah merah padam akibat ulah konyolnya barusan.
Well, it doesn’t matter actually. I really love him, anyway.
###
BRAVO MALADEWA BAGASKARA
Hal yang paling membahagiakan untukku adalah, ketika aku bisa bersatu dengan orang yang kucintai.
Setelah sempat bergalau ria karena Hikari tidak mau menerima pernyataan cintaku, padahal cewek keras kepala itu juga mencintaiku seperti aku yang mencintainya dan lebih memilih menyakiti hati sendiri lantaran tidak mau diriku celaka akibat ulah Reinhard, kini kami berdua resmi menjadi sepasang kekasih. Kalau boleh, aku ingin terbang bebas di angkasa.
Tunggu... sepertinya itu adalah lirik lagu. Masa bodoh, lah.
Aku sangat berterima kasih dengan kedatangan dua bocah tengil dari masa depan yang bernama Zefran dan Meilin itu. Dua bocah tengil yang mengaku anakku dan Hikari dari masa depan. Terlepas kejadian misterius itu adalah mimpi atau tidak, aku benar-benar tidak mau ambil pusing. Yang jelas, karena hal itulah, aku dan Hikari bisa bersatu.
Dan kami akan melawan Reinhard, bersama dengan adik kembarku juga pacarnya yang super menyebalkan alias Revro itu. Ah, jangan lupakan si cewek genit menyeramkan bernama Bulan. Cewek psikopat yang bersembunyi dibalik tampilan polos dan lugunya. Cewek titisan Medusa, alias ular! Kalau saja memukul cewek itu legal dan tidak merendahkan kaum Adam, mungkin aku sudah memberi Bulan barang satu-dua jotosan karena sudah menggoda pacar adikku.
Hei, walau aku sebal pada Revro, tapi dia pacar Bintang. Dan semua hal yang membuat Bintang sedih, tidak akan aku biarkan begitu saja.
Setelah mengantar Hikari pulang, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Revro guna mengabarkan hal gembira ini. Sekalian, aku juga mau meminta izin untuk memacari sahabat tersayangnya itu. Revro dan Bintang sudah lebih dulu pulang dari rumah sakit sebelum Hikari dan aku ke luar dari tempat tersebut.
Sesampainya di rumah Revro, aku melihat cowok itu berlari menuju garasi dan menuju motor Ninja kesayangannya. Keningku mengerut tatkala melihat tampangnya yang cemas dan panik luar biasa.
Ada apa?
“Rev!” teriakku memanggilnya. Aku menekan tombol pada kunci mobilku dan setelah terdengar bunyi ‘beep’ tiga kali, aku bergegas berlari menghampiri Revro. Cowok itu menoleh dan wajah paniknya tetap tidak meredup. Mendadak, hatiku tidak enak dan sesuatu yang kejam berkecamuk dalam benakku.
Bintang.
Entah kenapa, pikiranku jatuh pada adik kembarku. Senyum dan tawanya menghilang dari khayalanku, berganti dengan wajah penuh darah dan tangis kesakitannya.
“Hikari?” Pertanyaan pertama yang ke luar dari bibir Revro adalah mengenai keberadaan sahabatnya. Aku mengangguk sebentar sebagai jawaban.
“She’s fine. Dia udah gue antar ke rumahnya dengan selamat, bahkan sampai ke hadapan orang tuanya.” Kuperhatikan Revro mendesah lega sejenak, lalu tidak malu-malu menampakkan wajah paniknya—lagi. “Lo kenapa? Ada masalah?”
“Gue dapat telepon ancaman.” Cowok itu menyerahkan helm lainnya kepadaku. “Dari Bulan. Entah gimana caranya, tuh cewek sialan berhasil ketemu sama Bintang dan nyandera Bintang!”
“WHAT?!” teriakku kalut. “Gimana bisa?”
“Gue rasa, dia nekat nyulik Bintang di depan rumah kalian.” Revro mengenakkan helm-nya dan membuka kacanya. “Gue udah antar Bintang sampai rumah dan dia nyuruh gue untuk pulang, meskipun gue maksa untuk antar dia sampai ke dalam. Dan, begitu gue sampai rumah, Bulan nelepon gue pakai nomor nggak dikenal. Kayak nomor rumah gitu.”
Sialan si Bulan! Aku bersumpah akan memasukkan cewek itu ke dalam penjara jika Bintang sampai kenapa-napa! Tidak, penjara saja tidak cukup. Aku akan menjebloskan dia ke neraka!
“Lo tau dia nyekap Bintang di mana?” tanyaku dingin. Aku tidak bermaksud berbicara dengan nada dingin pada Revro, tapi, amarahku yang memuncak lah yang menyebabkan nada suaraku berubah drastis. “Apa kita nggak sebaiknya nelepon polisi?”
“Jangan!” cegah Revro langsung. Aku mengerutkan kening dan bersiap membantah, ketika dia kembali berbicara. “Gue udah minta Reffal sama Tristan buat back-up gue. Lagian,” ucapannya terhenti sebentar, membuatku was-was dan bermaksud untuk membentaknya. Tapi, niat itu kuurungkan ketika Revro mengangkat kausnya sedikit, menyebabkan aku terperanjat. “Gue bawa pistol. Mau gue benar atau bersalah, polisi bakalan nangkap gue karena udah pakai senjata api sembarangan.”
Aku bermaksud mencegah Revro untuk membawa senjata mematikan itu, ketika kusadari suaraku tidak mampu ke luar dari kerongkongan dan aku terpaku kala menatap wajah dingin, bengis dan tak berbelas kasihan yang baru pertama kali kulihat pada diri Revro.
Sosok asli Revro Emerald Abimanyu Thampson muncul ke permukaan.
Sosok penerus keluarga Abimanyu yang terkenal dan tersohor itu. Klan Abimanyu yang tidak pernah main-main dengan lawannya, apalagi sampai ada orang yang bermaksud mencelakai keluarga mereka.
Darah Abimanyu itu memang mengalir pada tubuh Revro.
Dan aku tidak tahu, apakah Revro di hadapanku adalah Revro yang kukenal atau justru Revro dari dimensi lain.
###
REVRO EMERALD ABIMANYU THAMPSON
Baru pertama kali ini, aku benar-benar merasakan haus darah.
Sebut aku monster, sebut aku iblis. Aku tidak akan pernah peduli dengan apa pun persepsi kalian. Yang jelas, aku tidak akan pernah tinggal diam jika orang-orang yang aku sayangi berada dalam jamahan orang-orang jahat.
Seperti Bulan yang menyekap Bintang dan mengancam akan membunuhnya, jika aku tidak datang dan tidak mau menjadi kekasihnya.
b******k sekali cewek itu! Dikiranya, dia itu siapa? Jangan karena nama Wijaya yang disandangnya, lantas aku akan bertekuk lutut dan menuruti semua keinginannya. Enak saja! Akan kutunjukkan kalau yang memegang kendali atas permainan ini adalah diriku.
Aku, cucu dari tiga serangkai Abimanyu!
Bersama Bravo, kularikan motor Ninjaku ke tempat yang disebutkan oleh Bulan. Akan kuberi cewek itu pelajaran berharga, bahwa tidak semua keinginannya bisa dia dapatkan dengan mudah. Menculik Bintang, cewek yang kucintai? Lihat saja jika kutemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh pacarku itu. Tidak peduli Bulan seorang cewek atau bukan, aku akan memberi pelajaran bagi siapa saja yang mengajakku bermain seperti ini.
“Kenapa lo?” tanyaku sambil menatap Bravo dari spion motorku. Sejak kami berangkat, kuperhatikan Bravo tidak banyak berbicara seperti biasanya. Mungkin dia hanya mengkhawatirkan keadaan Bintang, tapi, aku tidak terbiasa dengan sikap Bravo yang pendiam seperti ini.
“Nothing,” jawabnya singkat. Tidak, tidak. Bukan kebiasaan Bravo membalas kalimatku dengan kalimat-kalimat singkat seperti ini.
“Seriusan, deh! Lo kenapa?”
“Fokus aja sama jalanan karena gue nggak mau mati sebelum nikah sama Hikari, terlebih di saat gue sama dia baru jadian hari ini.”
Jawaban Bravo berhasil membuatku kaget. “Lo jadian sama sahabat gue?”
“Yup. Baru tadi pas di pelataran parkir rumah sakit.”
Aku mencibir. “Nggak romantis amat jadian di tempat parkir.”
“Berisik!”
Aku akhirnya memilih diam dan fokus pada jalanan. Lima belas menit kemudian, kami sampai di tempat tujuan. Bangunan bertingkat yang sudah tidak terpakai lagi. Aku mematikan mesin motor dan melepas helm. Tanpa menunggu Bravo, aku berlari masuk ke dalam bangunan itu, mencari keberadaan Bintang dan Bulan.
Dan kutemukan keduanya di bagian belakang bangunan, di samping kolam renang yang sudah tidak terpakai.
“Hai, Revro... lo ternyata sangat mencintai cewek ini, ya?”
Aku mencoba tenang, terlebih saat melihat Bulan memainkan pisaunya di leher Bintang. Pacarku itu hanya diam, mencoba tenang dan tersenyum ke arahku. Aku benar-benar merasa ngilu dan sesak tiada tara karena melihat senyuman Bintang tersebut. Cewek itu ketakutan, aku sangat yakin akan hal itu, tapi dia tetap mencoba tenang.
Aku percaya kamu akan nolong aku. Kira-kira, itulah pesan tersirat Bintang padaku. Dan aku memang akan melakukannya. Aku akan menolong Bintang, meskipun nyawaku adalah taruhannya.
“This is between you and me, Bulan Wijaya.” Aku mendengar nada dingin pada suaraku sendiri dan entah kenapa, aku menggigil karenanya. Kemudian, aku menyadari keberadaan Bravo di sampingku. “This is nothing to do with her! Let her go!”
“Gue akan lepasin Bintang, asal lo memenuhi syarat dari gue.”
Dan aku tahu dengan pasti, apa syarat yang akan diajukan oleh Bulan.
“Putusin dia, dan jadi milik gue!”
Like hell, i will!
“Nggak semua hal bisa lo dapatkan dengan mudah, Bulan Wijaya,” kata Bravo di sampingku. “Nggak peduli lo cewek, gue akan ngejar lo kalau sampai adik kembar gue kenapa-napa!”
Tak disangka, Bulan justru tertawa. Kurasa cewek itu benar-benar memiliki gangguan mental.
“Lo liat, Bintang? Banyak banget orang-orang yang care dan sayang sama lo! Padahal, dibandingkan dengan lo, gue jauh sempurna. Gue cantik, gue memesona, gue elegan, gue punya segalanya! Tapi, lo yang jauh di bawah gue bisa mendapatkan apa yang harusnya jadi milik gue!”
“Bulan!” teriakku kalap, ketika darah mengucur dari leher Bintang akibat ujung mata pisau yang dimainkan oleh Bulan di sana. Tanpa ragu dan tanpa berpikir dua kali, kukeluarkan pistol dari balik kausku dan kuarahkan pada Bulan. Bisa kulihat, Bintang terkesiap, sementara Bulan tertawa keras.
“Lo mau nembak gue, Rev? Dengan resiko mengenai pacar tercinta lo ini?” tanya Bulan meremehkanku. Aku menggeram dan mengeraskan rahangku.
Sesaat, aku dan Bintang saling tatap. Aku memberikan Bintang kepastian dan keyakinan bahwa tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi padanya. Bahwa dia bisa percaya padaku, karena aku akan segera mengeluarkannya dari mimpi buruk ini.
“Lo nggak sadar nyawa cewek lo di tangan gue, Rev? Kecepatan tangan gue dan peluru lo, menurut lo mana yang lebih dulu mengenai sasaran? Hmm?”
Aku mencoba tenang, mencoba tidak tersulut hasutan Bulan. Kupejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Tarik napas, fokus. I’ll be alright... she’ll be alright... we’ll be alright.
Ketika mataku terbuka, aku merasa Bulan terlihat aneh di tempatnya. Cewek itu menatapku dengan tatapan takut. Tatapan tidak fokus. Pun dengan Bintang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi, tatapan takut Bulan semakin jelas terlihat, seiring dengan mulutku yang menyunggingkan seulas senyum.
“Revro, elo....”
Bahkan, kalimat Bravo tidak diselesaikannya. Aku mengarahkan moncong pistolku ke sasaran dan menghitung mantap dalam hati.
Satu... dua... tiga...
Lalu, suara mengerikan itu terdengar. Seperti letusan, seiring dengan kemunculan Reffal dan Tristan. Kulihat Bulan terperangah dan membeku di tempatnya. Bintang meluruh begitu saja, sepersekian detik setelah suara mengerikan itu tercipta, hingga membuat Bulan terpaksa melepaskannya.
Aku mengarahkan timah panasku pada kaki Bintang. Timah panas yang hanya berniat melintas di dekat kakinya, dan hanya menimbulkan luka gores di sana. Lalu, Bravo menghampiri Bintang, sementara Tristan dan Reffal segera menyergap Bulan lalu mengikatnya.
Kuhampiri Bintang dan tersenyum ke arahnya. Detik berikutnya aku berjongkok dan mengusap pipi Bintang yang berada dalam dekapan Bravo. Kutatap kakinya yang mengeluarkan darah.
“Maaf, Ntang... aku terpaksa, supaya kamu terbebas dari dia. Itu salah satu taktik untuk menyelamatkan orang yang disandera.”
Bintang menggeleng dan menggenggam erat tanganku sambil tersenyum. “Aku percaya sama kamu. This is nothing. Thank you, for saving my life.”
Kuambil alih tubuh Bintang dari Bravo dan kupeluk erat. Aku menghela napas lega dan tersenyum tenang. Ini adalah awal dari kehidupan bahagiaku bersama Bintang, juga bagi Bravo dan Hikari.
Hanya tinggal selangkah lagi.
Tinggal menyingkirkan Reinhard.
Reinhard yang rupanya sudah menyiapkan rencana jahat dan kejam untuk kami semua.
Melenyapkan Hikari juga Bintang di saat yang sama.
###