Suara petir saling sahut menyahut, membuat semua orang yang mendengarnya pasti tersentak dan merinding.
Kilat juga terlihat tidak mau mengalah. Berulang kali, cahaya putih menakutkan itu berkilauan di langit malam, menemani air yang turun dengan sangat deras ke bumi. Setelah kilat menampakkan diri, petir akan menggeram marah. Kata orang tua zaman dahulu, ketika anak-anak mereka tidak bisa tertidur di malam hari, mereka membuat cerita ini.
Mereka bercerita bahwa kilat dan petir sedang melakukan lomba lari. Kilat yang keluar sebagai pemenang, membuat petir tidak menerima kekalahannya dan akhirnya berteriak menggelegar.
Hujan deras yang tidak berhenti sejak sore hari itu membuat siapa pun lebih memilih mengurung diri di dalam kamar hangat mereka. Angin juga berhembus sangat kencang. Suasana malam ini nampak menakutkan dan mengerikan. Terlebih untuk mereka yang berada di rumah sakit, guna menjaga dan menemani keluarga mereka yang harus dirawat.
Seperti Bintang, Bravo juga Reffal. Ketiganya menjaga Revro dan Hikari. Kamar keduanya juga sudah disatukan, seperti permintaan Bravo, agar kedua orang tersebut bisa diawasi dengan lebih mudah. Tentu saja untuk terhalang dari jangkauan jahat Reinhard.
Sampai mereka melupakan kehadiran Bulan. Bulan yang belum lama ini mengintip kamar inap Hikari, ketika cewek itu masih belum disatukan ruangannya dengan Revro. Bulan yang menatap Bintang dengan tatapan benci dan tersenyum jahat.
Bulan dengan segudang rencana jahatnya untuk melenyapkan Bintang dari hadapan Revro.
Namun, bukan Bulan maupun Reinhard yang jadi fokus utama Bintang, Revro dan juga yang lainnya. Untuk saat ini, mereka akan dipusingkan dengan kehadiran orang lain. Kehadiran orang lain yang sanggup membuat akal sehat mendadak raib.
Dan petir dengan suara menggelegarnya barusan, hingga sanggup menggetarkan kaca-kaca di sekitar rumah sakit, membuat alarm-alarm mobil yang diaktifkan oleh pemilik kendaraan masing-masing dengan penuh semangat menjerit, juga barang-barang yang berjatuhan dari atas meja, merupakan permulaan dari semua kejadian di luar akal sehat Bintang, Revro, Hikari, Bravo dan Reffal.
###
“Gue tau lo menyesal, tapi, lo nggak bisa berbuat apa pun. Lo dihipnotis.”
Bravo sudah berulang kali mencoba menyemangati Revro, berusaha mengenyahkan rasa bersalah di dalam diri pacar adik kembarnya itu, tapi Revro selalu saja menanggapinya dengan hal yang sama: menarik napas panjang sambil merenung.
Kalau bukan karena kehadiran Bintang di dalam ruangan ini, juga Hikari yang masih belum sadarkan diri, mungkin Bravo akan dengan senang hati memberikan Revro barang satu-dua jotosan untuk membuatnya sadar.
Sementara itu, Reffal sibuk menahan tawa. Dia tahu kalau Bravo sebenarnya khawatir dengan keadaan Revro. Meski selama ini selalu bersikap lumayan ketus pada Revro, Reffal bisa mengetahui kalau Bravo sebenarnya orang yang baik. Dia hanya tidak mau Bintang lebih bergantung pada Revro dibanding dengan diri cowok itu sendiri. Reffal memakluminya, karena, biar bagaimana pun, Bintang adalah adik kembar sekaligus saudara kandung satu-satunya yang dimiliki oleh Bravo.
“Iya, Vro,” kali ini, Bintang ikut membuka suara. Cewek itu tersenyum lembut dan menggenggam tangan Revro dengan erat. Diusapnya rambut Revro, kemudian diciumnya pipi cowok tersebut. “Ini bukan salah kamu, kok. Benar apa kata Kak Bravo. Kamu cuma korban hipnotis Reinhard.”
“Daripada lo sibuk menyalahkan diri sendiri, lebih baik lo khawatirin keadaan sahabat lo itu.” Bravo berkata dengan nada cemas. “Dia belum sadar sejak dibawa ke sini. Meski dokter bilang dia nggak apa-apa, tapi, gue tetap cemas setengah mati! Kalau sampai Hikari kenapa-napa, akan gue kejar si Reinhard itu biar sampai ke ujung neraka sekalipun!”
Revro melirik Hikari dan kembali menarik napas panjang. Dia sudah menelepon kedua orang tuanya dan menceritakan apa yang terjadi. Cowok itu juga meminta dengan sangat kepada kedua orang tuanya untuk membantunya menyembunyikan keadaan Hikari dari kedua orang tua cewek itu.
Tak lama, pintu ruangan itu terbuka. Sosok seorang cewek kecil berambut pendek sebahu dan memiliki mata lebar itu muncul di sana. Matanya yang besar itu menatap sekitar, mengerjap dan begitu dia masuk, Bintang langsung terpesona akan kecantikan dan keimutannya.
Tapi... kenapa rasanya anak itu mirip seseorang, ya?
“Halo, anak manis,” sapa Reffal lembut dan ramah. Dia berjongkok, mengacak gemas rambut pendek si cewek kecil dan mengusap pipi putihnya yang sedikit gembil. “Kamu mau cari siapa? Salah masuk kamar, ya?”
Anak kecil yang umurnya ditebak oleh semua orang berkisar antara enam sampai tujuh tahun itu menggeleng. Dia kemudian tersenyum, menampilkan lesung pipitnya dan wajahnya tersenyumnya itu membuat Bintang melongo.
“Mukanya mirip Kak Bravo!”
Langsung saja, Revro, Bravo dan Reffal menoleh ke arah Bintang. Cewek itu nampak kaget setengah mati dan mengerjap berulang kali guna menajamkan penglihatannya. Benar, anak kecil itu sangat mirip dengan Bravo. Terlebih caranya tersenyum.
“Anak lo, Brav?” tanya Reffal kalem. Bravo langsung salah tingkah dan mendelik.
“Enak aja! Gue masih perawan! Eh, perjaka maksud gue!” Bravo buru-buru beralih menatap Bintang. “Kamu sembarangan aja kalau ngomong, Ntang!”
“Serius, Kak! Coba kakak perhatiin cara anak itu tersenyum. Garis wajahnya, caranya tersenyum, lesung pipit di pipi kanan yang sama kayak Kak Bravo, juga cara matanya menatap. Itu duplikat Kak Bravo banget!”
Tak lama, cewek kecil itu terdorong ke depan, yang langsung ditangkap oleh Reffal. Datang lagi seorang anak lainnya. Kali ini, cowok. Dan yang membuat semua orang sibuk terperangah adalah, ketika mereka menyadari kalau cowok kecil ini seperti Bravo versi junior!
Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya sedang terjadi?!
“Hai, Pah!”
Pah?!
Pah?!
PAH?!
Seketika itu juga, Reffal, Revro dan Bintang menatap tegas ke arah Bravo, meminta penjelasan. Cowok itu sendiri, yang kini benar-benar tidak paham dan memilih untuk terjun bebas saja dari atap gedung rumah sakit, meremas rambutnya gusar. Dia berjalan mendekati anak cowok itu dan berjongkok.
“Dengar, Nak. Om nggak kenal siapa kamu, dan jangan bikin ulah yang bisa membahayakan orang lain, loh.” Bravo menjelaskan dengan nada yang dibuat sesantai mungkin. Padahal, dia sudah sangat ingin berteriak sekarang. Menyalurkan rasa frustasinya akibat kemunculan dua anak ini.
Salah-salah, kalau Hikari sadar, dia bisa salah paham! Kesempatan gue untuk mendapatkan hati sama cintanya bakalan lenyap selamanya!
“Dia... anak lo, Brav?”
Suara lirih itu membuat Bravo berdiri tegak. Jelas, doanya supaya Hikari tidak sadarkan diri dulu, di saat kedua bocah tengil ini masih ada di dalam ruangan, tidak terkabul. Dia menoleh cepat ke arah Hikari yang saat ini sedang dibantu duduk oleh Bintang. Entah sejak kapan, cewek itu sadar. Yang jelas, tatapan matanya saat ini terlihat... terlihat....
Bete?
“Gue bakalan punya anak nanti, setelah bikin sama lo!” Bravo berseru keras, membuat Reffal dengan senang hati menutup kedua telinga anak cewek yang ada di dekapannya, kemudian menendang tulang kering Bravo sambil memelototinya.
“Be careful, please... there’s a children here.”
“Mama, udah sembuh, ya?”
Kali ini, semua kepala beralih ke arah Hikari. Bagaimana anak cowok tadi tersenyum lembut, mengusap pipi Hikari, menggenggam tangan cewek itu dan menciumnya dalam. Kemudian, anak cowok itu memeluk Hikari, membuat cewek itu mengerjap dan bingung harus merespon apa.
“Lo berdua... kapan bikinnya?” tanya Revro takjub.
Tidak ada yang menjawab.
Untuk sesaat, mereka seperti merasa bermain dalam film Terminator.
###
Kedua anak kecil berbeda jenis kelamin, namun memiliki wajah yang mirip dengan Bravo itu pun tertidur lelap di atas ranjang, ditemani oleh Hikari dan Bintang.
Di lantai kamar inap tersebut, Revro, Bravo dan Reffal sibuk memikirkan apa yang sedang terjadi. Ini semua terlalu absurd. Tidak mungkin ada dua orang anak yang sangat mirip dengan Bravo, salah masuk ruangan, kemudian memanggil Bravo dan Hikari dengan sebutan papa-mama.
“Pernah nonton Terminator, kan?” tanya Reffal kalem.
“Please, ya! Jangan bikin gue tambah gila!” Bravo menoyor kepala Reffal. “Nggak ada yang namanya mesin waktu dan semacamnya, Fal!”
“Loh? Apa yang nggak mungkin di dunia ini, sih?” tanya Reffal lagi. “Look, zaman sekarang udah kelewat canggih. Robot-robot menggantikan peran manusia. Kalau udah begitu, apa menurut lo di masa depan, nggak akan ada mesin waktu?”
Baru saja Bravo ingin membalas, terdengar suara ketukan. Kali ini, seorang cowok dewasa menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Tanpa sadar, ketiga cowok yang sedang melakukan konferensi meja bundar versi mereka itu menghela napas lega.
Thank,God! Bukan anak-anak lagi!
“Ya? Cari sia—“
Pertanyaan Revro terhenti di udara dan cowok itu langsung berdiri sambil membulatkan mata. Bukan hanya Revro, Bravo pun demikian. Keduanya sudah siap untuk membunuh si cowok asing b******k yang seenaknya saja menghambur ke arah Bintang dan memeluk cewek itu dengan erat.
“What the fu—“
Untungnya, Reffal segera membungkam mulut kedua temannya itu, sebelum kalimat rusak parah tadi berhasil lolos.
“Nda, Nda cantik banget, loh! Lucu, gemesin! Coba aku hidup di dunia sebagai pacarnya Nda!” Cowok itu tersenyum sumringah dan semakin mempererat pelukannya. Sementara itu, Bintang sendiri hanya bisa mematung. Hikari mengerjap dan menyentuh pundak cowok itu.
“Mmm... kayaknya, lo harus liat ke belakang, deh,” kata Hikari memperingatkan, saat tampang-tampang horor Revro dan Bravo semakin terlihat. “Mereka udah siap buat nerkam el—“
“Tante Hikari!” teriak cowok tadi, kemudian beralih memeluk Hikari. Hikari yang kaget, hanya bisa berteriak, kemudian segera menutup mulut. Terlambat, kedua anak kecil tadi akhirnya terbangun sambil mengucek mata masing-masing. “Apa kabar, Tante? Ternyata, dari dulu Tante Hikari emang cantik banget. Nggak kalah dari cantiknya Nda!”
“Nda, Nda, Nda! Woi, lo siapa, sih?! Dia itu namanya Bintang, bukan Nda! Dan lo dengan seenak dengkul lo meluk-meluk calon istri gue?! Minta dirajam banget kayaknya lo, ya!” geram Revro. Cowok itu berniat menghajar si cowok asing, saat cewek kecil yang muncul pertama kali di dalam ruangan itu, menarik-narik kaus si cowok asing tersebut.
“Oscar ngapain di sini?”
Waduh, anak kecilnya nggak sopan banget, Reffal membatin.
Oscar? Dia kenal cowok asing itu? tanya Bravo dalam hati.
Siapa sih tuh cowok? Main peluk-peluk gue aja! Gerutu Bintang.
“Oh, jadi lo kenal sama dua anak ini?” tanya Revro dengan nada tingginya. “Good job! Sekarang, mendingan lo pergi dari kamar ini dan bawa kedua anak itu! Gue nggak paham apa yang terjadi, kenapa tuh bocah dua manggil sahabat gue dengan sebutan Mama dan Papa, dan lo seenak dengkul main peluk cewek gue! Tapi, sebelum gue tambah emosi, mendingan lo bawa mereka dan—“
“Ayah!”
Dan sekarang, Revro yang tidak berkutik, ketika seorang cewek berambut panjang bergelombang sepunggung, menghambur ke pelukannya. Yang membuat semua orang terperangah adalah, ketika pelukan itu terurai, mereka melihat sosok... Bintang!
Ada dua Bintang Maladewi Bagaskara!
“Ayah, maafin kita yang datang tiba-tiba, ya!” Cewek itu meminta maaf, kemudian mengetuk kepalanya pelan. “Ah, aku sampai lupa. Nama aku Violine, dan itu Oscar, kakak kembar aku. Kita dari masa depan! Di masa depan, semuanya udah canggih, Yah! Kita bisa pergi ke masa lain dengan menggunakan mesin waktu. Nah, waktu kita datang ke masa kanak-kanak kita berdua, Violine sama Oscar dapat info kalau Meilin dan Zefran hilang. Nggak taunya, mereka kembali ke masa ini.”
Reffal rasanya sudah tidak sanggup menampung apa yang terjadi, karenanya dia naik ke atas ranjang Revro dan menyelimuti diri sendiri. Bersiap untuk tidur.
Sementara itu, Revro, Bintang, Bravo dan Hikari sibuk mencerna semuanya.
“Kamu... Violine dan dia, Oscar?” tanya Bintang kemudian. Violine menoleh dan terpekik senang. Wajahnya benar-benar mirip dengan orang yang saat ini sedang berbicara padanya. “Kalian... dari masa depan? Kalian... siapa?”
“Anak Bunda sama Ayah!” seru Violine senang dan menunjuk Bintang serta Revro bergantian. Saking kagetnya dengan berita barusan, Bintang hanya bisa mengerjap sebentar, sebelum akhirnya hilang kesadaran yang langsung ditangkap oleh Revro. “Duh, aku bikin heboh di masa ini kayaknya, ya?”
“More than you know!” gerutu Bravo. Walau sulit diterima akal sehat, dia sudah malas berdebat dengan akal sehatnya sendiri. Mendengar suara Bravo, Violine menoleh dan mengedipkan sebelah mata. “Hai, Om Bravo! Sifat Om masih galak, ya, di masa ini!”
Bravo memelototi Violine. Sosok cewek yang sangat mirip dengan adik kembarnya. Seperti pinang dibelah dua.
“Intinya, kami lagi jalan-jalan ke masa kanak-kanak kami. Masa di mana Meilin dan Zefran berada.” Oscar menjelaskan. “Meilin dan Zefran itu anaknya Tante Hikari dan Om Bravo, loh.”
“WHAT?!”
“Gue nggak mau ikutan, ya! Kalau disuruh ngurusin si Reinhard, gue masih oke, deh!” Reffal berseru nyaring. Kepalanya mulai sakit sekarang.
“Dan, di masa kanak-kanak Violine-Oscar, juga Meilin-Zefran, sedang terjadi kekacauan. Intinya, ada beberapa pengacau yang mengacau di masa ini. Kalau nggak segera dihentikan, kemungkinan besar kehadiran kita berempat nggak akan pernah ada.”
“Apa gue bilang! Kayak film terminator!” teriak Reffal. Ini mimpi kali, ya? tambahnya dalam hati.
“Kalian nggak akan pernah ada? Maksudnya apa?” tanya Hikari, mewakili kedua temannya yang lain.
“Maksudnya, kalian nggak akan pernah bersatu. Bisa jadi ada yang menghalangi hubungan kalian, atau, skenario terburuknya... akan ada yang meninggal dunia.”
DEG!
“Intinya,” sambung Oscar. “Masa depan terjadi karena masa lalu. Kalau di masa ini sesuatu yang buruk terjadi sama kalian, keberadaan di masa depan pun akan menjadi kacau.”
###