Bravo berhenti berlari dan menoleh ke segala arah.
Saat ini, dia sudah berada di Taman Mini, tempat yang dikunjungi oleh adik kembarnya dan Revro. Beruntung Bintang mengatakan ke mana dia akan pergi bersama pacarnya itu, sehingga Bravo tidak perlu berpikir ke mana dia harus mencari Bintang. Tapi, tetap saja, di antara semua tempat-tempat yang ada di Taman Mini, Bravo tidak tahu harus mencari Bintang ke mana.
Dan lagi, perasaannya semakin tidak enak. Benar-benar menyesakkan dan membuatnya ingin berteriak saking cemasnya pada keadaan sang kembaran.
“Lo punya aplikasi pencari gitu, nggak?”
Pertanyaan Reffal membuat Bravo menoleh cepat ke arah cowok itu. Cowok yang sudah membuatnya cemburu dari awal, karena bisa berdekatan dengan Hikari. Dipikir-pikir, salahnya juga, sih, karena terlalu mementingkan ego dan gengsi.
“Kalau lo sama Bintang sama-sama punya aplikasi itu, bukannya lo bisa melacak di mana keberadaan dia?”
Benar juga! Saking cemasnya, Bravo sampai tidak tahu kalau dia memang memiliki aplikasi itu dan memasangkannya ke ponsel Bintang. Langsung saja, Bravo meraih ponselnya dan mengumpat dengan kata umpatan paling kasar di sepanjang sejarah hidupnya—karena dia lupa kalau sudah mematikan ponsel sialan itu. Dinyalakannya ponsel dan keningnya mengerut ketika mendapat satu pesan suara.
“Ada voice mail dari Bintang!” seru Bravo. Reffal mengangguk, menyuruh Bravo untuk mendengarkan voice mail dari adik kembarnya itu dan menyuruhnya untuk menggunakan mode speaker phone.
“Kak! Revro baru aja dapat telepon dari Reffal! Reffal bilang, Hikari masuk rumah sakit karena bunuh diri! Tolong cepat ke rumah sakit, Kak! Tolong cek keadaan Hikari. Bintang nggak mau Hikari kenapa-napa!”
“Apa maksudnya, tuh?!” seru Bravo kepada Reffal. Reffal sendiri hanya menarik napas panjang dan bersedekap.
“I told you, bro,” kata cowok itu dengan nada tenang. Memang harus tenang kalau menghadapi orang yang sedang kalut dan emosi, ditambah lagi dirinya adalah sasaran kecemburuan orang tersebut. “Ponsel gue dicopet. Dan Hikari ada di rumah Tristan. You can call him, if you want.”
Menggeram marah, ditambah rasa khawatir yang semakin memuncak, Bravo segera mencari nama Tristan di phone book ponselnya. Namun, belum sempat Bravo menghubungi cowok itu, terdengar kasak-kusuk di sekitarnya. Otomatis, Bravo menajamkan pendengaran dan mengerutkan kening.
Tapi, Reffal lebih inisiatif. Dihampirinya salah satu pengunjung dan diberinya senyuman terbaik.
“Maaf, ada apa, ya? Kelihatannya ramai banget.”
“Oh, itu....” Si cewek yang dihampiri oleh Reffal sempat terdiam sejenak karena terpesona oleh ketampanan cowok tersebut. “Di danau ada cewek naik bebek raksasa dan bawa busur.”
Reffal dan Bravo saling tatap.
Busur?
“Si cewek yang bawa busur itu ngarahin busur dan anak panahnya ke bebek raksasa lainnya sambil teriak-teriak gitu.” Cewek berambut kepang itu nampak berpikir sejenak. “Jarak mereka lumayan jauh, sih. Nah, di bebek raksasa yang satunya lagi, ada sepasang kekasih. Cowoknya kayak berusaha untuk cekik pacarnya.”
“Bintang!”
Sambil menyerukan nama Bintang dan meninggalkan Reffal yang harus mengucapkan terima kasih terlebih dahulu kepada si cewek berambut kepang, Bravo berlari bak kesetanan ke arah danau. Di sana, semua pengunjung sedang berkerumun dan membicarakan tentang bagaimana Revro—yang bisa terlihat jelas oleh Bravo—sedang mendekati Bintang yang terlihat ketakutan. Cowok itu seperti akan mencekik Bintang, membuat Bravo menggeram emosi.
“b******k!”
Baru saja Bravo akan mengambil alih salah satu bebek raksasa yang ada di tepi danau, dia mendengar suara yang sudah sangat familiar di telinganya. Suara seseorang yang dicintainya, yang kata Reffal tadi ada di rumah Tristan.
“Hikari-chan! Awas, bahaya!”
Bravo menoleh dan mendapati sosok Reffal. Entah darimana cowok itu datang dan sudah berdiri di sisinya sambil menatap Hikari dengan tatapan khawatir. Dan, apa itu tadi? Memanggil Hikari dengan akhiran chan?
Sialan!
Sebenarnya, sedekat apa, sih, hubungan Reffal dan Hikari? Memuakkan sekali cowok sialan di sampingnya ini!
“REVRO! GUE NGGAK MAIN-MAIN!” teriakan Hikari bisa didengar oleh Bravo dan Reffal. Sambil berteriak, Bravo bisa melihat Hikari mengarahkan busur dan anak panahnya ke arah Revro. Cowok itu diam saja di tempatnya, dengan tangan terarah ke leher Bintang. “SADAR! ITU BINTANG, CEWEK LO YANG SANGAT LO CINTAI! BUKA MATA LO! LAWAN PENGARUH DIA, VRO!”
“Pengaruh?” gumam Reffal. Tak lama, cowok itu mengumpat, menarik perhatian Bravo. “Ponsel gue yang dicopet! Sialan! Kayaknya si Reinhard udah nyari tau semua hal di sekitar Hikari, Revro, Bintang dan lo! Dia nyari tau tentang gue dan nelepon Revro, bilang ke Revro kalau Hikari masuk rumah sakit karena bunuh diri sekaligus menghipnotis Revro untuk mencelakai Bintang.”
Kedua tangan Bravo mengepal kuat mendengar kalimat Reffal. Cowok itu kembali fokus pada Hikari. Menatap cewek rapuh namun berusaha untuk terlihat berani demi teman-temannya. Demi Revro, demi Bintang, demi Reffal.
Dan demi gue!
“REVRO! KALAU LO NGGAK LEPASIN BINTANG, GUE DENGAN SANGAT TERPAKSA AKAN MELUKAI LO!”
“Gawat!” Reffal bergegas menghampiri Hikari, tapi dicekal oleh Bravo.
“Ada apa?” tanya Bravo tidak paham. Bisa dia lihat raut wajah tegang Reffal. “Ada apa, Fal?”
“Lo nggak tau?” tanya Reffal dengan nada agak tinggi. “Lo sama sekali nggak tau kalau Hikari itu rival lo dan Revro?”
Apa?
“Maksud—“
“Bego!” Reffal mengatai Bravo bahkan sebelum cowok itu menyelesaikan kalimatnya. Gemas, Reffal menyentak tangan Bravo dari lengannya dan mengacak rambut. Dia berkacak pinggang, menarik napas sejenak dan kembali mengumpat. Kali ini, umpatan Reffal tidak terdengar oleh Bravo. “Gue nggak nyangka kalau lo nggak tau apa-apa soal Hikari, Brav! Nggak heran kalau Hikari nolak elo waktu itu.”
What the hell?! Cewek itu cerita pada Reffal?
“Lo tau? Hikari nolak lo bukan karena dia nggak mau pacaran sama lo, meski dia cinta sama lo.”
“Karena dia nggak mau liat gue terluka, kan? Karena dia berniat untuk mengorbankan diri, kan?” tanya Bravo dengan ketus. “Dan gue nggak akan biarin itu terjadi!”
“Bukan! Itu karena lo nggak tau apa-apa soal dia, Bravo!”
DEG!
“Dia bilang, lo selalu bersikap dingin sama dia sejak dulu. Dia cuma akrab sama Bintang, padahal orang tua kalian bersahabat. Tapi, dia santai aja ngadepin lo. Dia kalem karena emang dia nggak mau terlalu ambil pusing. Tapi, semenjak dia jatuh cinta sama lo, semua sikap lo itu bikin dia sesak! Dia tau semua tentang lo, makanan kesukaan, film kesukaan, anime kesukaan, komik kesukaan, bahkan hobi dan berapa jam lo tidur dalam sehari! Dan lo?”
“Apa maksudnya dia rival gue sama Revro, sialan?!” seru Bravo, mengabaikan semua fakta yang dibeberkan oleh Reffal dan meninggalkan luka di hatinya. Sampai sejauh itu Hikari mengetahui semua hal tentang dirinya karena cewek itu mencintainya, tapi... dirinya?
“Lo tau pemanah yang namanya Vandra?”
Vandra? Vandra... Vandra... Vandra... si cowok dengan rambut jamurnya dan berkacamata itu?
“Tepat!” seru Reffal. Bravo tersentak dan baru sadar kalau dia sudah menyuarakan pikirannya. “Hikari-chan adalah Vandra! Dia menyamar jadi cowok dan ikut klub memanah itu supaya nggak ketauan sama Tante Aurora dan Om Haikal!”
“LIAR!” Bravo menarik kerah kemeja Reffal. “Jangan mengucapkan hal yang nggak masuk akal, Reffal! Vandra itu salah satu rival terberat gue setelah Revro! Dan lagi, kalau memang benar dia Hikari, kenapa Revro—“
Kalimat Bravo terhenti saat dia mengingat kejadian di masa lalu. Waktu itu, Vandra yang menjadi juara dalam lomba memanah, sementara Revro di posisi kedua dan dirinya posisi ketiga. Saat itu, dia ingat kalau dia sempat ingin memberi pelajaran pada Vandra karena cowok berkacamata berambut jamur dan selalu memakai seragam kedodoran itu. Dia kesal karena sepertinya, Vandra meremehkannya dan memberinya senyuman mengejek.
Lalu, Revro menghampirinya dan menatapnya tajam sambil mengancam.
Kalau sampai Vandra kenapa-napa atau celaka karena ulah lo, gue nggak akan segan-segan menghajar lo, Bravo!
Revro membela Vandra! Karena Vandra adalah... Hikari?
Hikari Nevandra Putra! Astaga, kenapa dia bisa melupakan hal itu?!
“REVRO!”
Teriakan Hikari kembali terdengar, menyadarkan Bravo dan Reffal. Kedua cowok itu membulatkan mata ketika Hikari melepaskan anak panahnya dari busur. Anak panah itu melesat kencang ke arah Revro.
Ke arah paha cowok itu.
Revro berteriak kesakitan. Cowok itu mengerang keras, lantas jatuh terduduk. Bravo dan Reffal segera bertindak. Keduanya bergegas menaiki bebek raksasa yang ada di tepi danau untuk mendekati Revro juga Bintang.
Tepat ketika mereka berdua menjalankan bebek raksasa itu sekuat tenaga ke tempat Revro dan Bintang, saat itu juga, mereka mendengar para pengunjung berteriak kencang.
“s**t! Hikari nggak ada!” teriak Reffal kalut. “Hikari jatuh ke danau! Dia nggak bisa berenang! Lo lanjut aja ke tempat Revro dan Bintang, biar gue—“
Dan saat itu juga, ucapan Reffal terhenti karena tahu-tahu saja, Bravo sudah melompat ke dalam danau. Reffal mengerjap dan mendengus. Menertawakan Bravo dalam hati karena rasa cemburu cowok itu padanya.
“Malu-maluin banget cemburunya. Kayak anak kecil,” gumamnya.
###
Saat kedua matanya terbuka, wajah khawatir Bintang menyambutnya.
Revro mengerang dan memegang kepalanya yang terasa pusing. Dia mengerjap, menatap sekeliling dan mengerutkan kening tatkala menyadari bahwa ini bukanlah rumahnya, juga bukan Taman Mini, tempatnya dan Bintang kunjungi tadi. Seingatnya, dia ada di danau bersama Bintang, dan... dan....
“Vro, kamu udah sadar?” tanya Bintang cemas. Cewek itu tersenyum lembut dan membantu Revro untuk duduk. Kemudian, tatapan Revro jatuh pada Reffal yang bersandar di dinding sambil mengangkat tangan untuk menyapanya. “Kamu nggak apa-apa, kan?”
“Mm-hm. Aku baik-baik aja,” jawab cowok itu pelan dan langsung mengaduh keras ketika merasakan nyeri dan sakit pada pahanya. Ditatapnya paha kanannya dan cowok itu terperangah karena menemukan perban dan bekas kemerahan di sana. “Paha gue kenapa?!”
“Dipanah sama Hikari. Hebat, kan?” tanya Reffal dengan nada geli.
“WHAT?! SHE DID THAT TO ME?! HOW CRUEL! WHAT DID I DO TO HER?! Gila, salah gue apaan sama dia, coba?”
Sementara Bintang tersenyum maklum sambil mengusap rambut Revro, Reffal justru tertawa. Geli dan keras. Menertawakan kecerobohan Revro karena sudah masuk perangkap hipnotisnya Reinhard. Padahal, kalau Revro menentangnya dalam hati, mau jutaan kali Reinhard menghipnotisnya pun, Revro akan lolos dan tidak terpengaruh.
Hati Revro mungkin memang sedikit lemah.
“Kalau bukan Hikari yang panah elo, gue yang bakalan pancung elo, tau!”
Suara ketus ini membuat Revro menoleh dan bertemu mata dengan Bravo. Ditatapnya kakak kembar Bintang itu dari ujung rambut sampai ujung kaki dan berkata, “Kok lo basah kuyup? Abis nyemplung di mana?”
“Cih,” cibir Bravo. Didekatinya Revro dan dipukulnya paha bekas anak panah Hikari menancap. Tidak keras memang, tapi sanggu membuat Revro berteriak gila-gilaan.
“BRAVO MINTA DIRAJAM, YA?!” teriak Revro. Langsung saja Bintang menyumpal bibir Revro dengan bibirnya. Secepat kilat tentu saja, dan Revro langsung diam. Duduk manis dan kalem sambil berdeham salah tingkah.
“Dicium aja baru diam,” kata Reffal geli. “Yuk, ah... gue cabut dulu liat keadaan Hikari-chan.”
Bravo memicingkan mata ke arah Reffal yang dibalas dengan kedipan mata, sementara Revro mengerutkan kening tidak mengerti. Ada apa dengan Hikari?
“Hikari kenapa?” tanya Revro penasaran sekaligus cemas. “Dia nggak apa-apa, kan?”
Bintang dan Bravo saling tatap lantas menghembuskan napas berat. Bintang mengusap pipi Revro dan memeluknya dengan erat. Mengusap rambut belakang Revro, Bintang berbisik, “Semuanya bukan salah kamu, Vro.”
Bukan salah gue? Maksudnya?
“Aku ke luar dulu, ya?” pamit Bintang. Dia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Revro. Diciumnya kening dan bibir cowok itu sekali lagi. Kali ini cukup lama dan ada sedikit permainan bibir di antara keduanya, membuat Bravo mengalihkan tatapan dan memutar bola matanya. Jengah. “Semuanya akan dijelasin sama Kak Bravo. Satu hal yang harus kamu ingat, ini bukan salah kamu. Aku ke ruang inap Hikari dulu.”
Sepeninggal Bintang, suasana IGD tempat Revro dirawat terlihat canggung dan sedikit tegang. Revro sibuk mencerna ucapan Bintang dan sesekali melirik Bravo. Menghela napas kesal, Revro akhirnya angkat bicara.
“Bisa tolong jelasin apa yang sebenarnya terjadi?”
Bravo masih diam. Dia melirik Revro dan duduk di dekat cowok itu. Bravo menarik napas panjang dan menatap lantai di bawahnya dengan tatapan menerawang.
Ketakutan itu masih menyelimutinya. Hampir saja nyawanya ikut pergi bersamaan dengan ucapan dokter yang mengatakan kalau jantung Hikari sempat berhenti berdetak, sebelum akhirnya cewek itu kembali lagi bersama mereka. Dokter bilang, semangat Hikari untuk bertahan hidup lah yang mengembalikan detak jantung cewek itu.
“Lo... hampir nyelakain Bintang, Vro.”
Cepat, Revro menoleh ke arah Bravo. Berusaha mencari kebohongan di sana, tapi tidak berhasil. Yang ditemukan oleh Revro adalah kejujuran.
“A... pa...?”
“Lo hampir membunuh Bintang. Lo hampir mencekik adik kembar gue, cewek yang lo cintai.” Bravo mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. “Karena lo dihipnotis sama Reinhard melalui telepon. Dia mencopet ponsel Reffal dan menghubungi lo dengan ponsel Reffal.”
Revro terperangah. Cowok itu mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali dia menghajar diri sendiri karena sudah hampir mencelakai Bintang.
Ya Tuhan...
“Reffal dan gue berencana bikin strategi untuk melawan Reinhard. Gue tanya sama Reffal di mana Hikari, dia bilang ada di rumah Tristan. Tapi, tiba-tiba, saat gue samperin lo dan Bintang ke Taman Mini karena perasaan gue yang mendadak nggak enak dan selalu kepikiran Bintang, Hikari ada di sana. Mengarahkan busur dan anak panahnya ke lo, sambil berusaha untuk menyadarkan lo. Nyatanya, Hikari nggak berhasil dan terpaksa memanah lo. Terus, Hikari... jatuh ke danau. Dia terlalu banyak menelan air dan... sempat kehilangan detak jantungnya waktu lo masih pingsan tadi.”
Apa?!
“Reffal sempat nelepon Tristan dan nanya, kenapa Hikari ada di Taman Mini dan bukannya di rumah sepupu kalian itu. Kata Tristan, Hikari mendadak pergi setelah dapat telepon. Cewek itu keliatan panik dan tergesa-gesa.” Bravo menatap Revro. “Gue dan Reffal berasumsi kalau Reinhard lah yang menelepon Hikari.”
“b******k!” umpat Revro emosi. Reinhard sudah mencelakai dua orang paling penting di hidupnya! “Akan gue bunuh dia!”
Bravo mengangguk dan mengusap wajahnya lagi. Melihat itu, Revro jadi bersimpati. Ditepuknya pelan bahu Bravo, mengalirkan energi positif yang dia punya.
Ketakutan Bravo sama dengan ketakutannya sendiri. Mereka berdua sama-sama takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Bintang dan Hikari.
“Gue takut, Vro... gue benar-benar nyaris kehilangan akal sehat gue, saat dokter bilang Hikari meninggal. Untungnya, cewek itu kembali lagi. Gue... apa yang harus gue lakukan? Gue ngerasa, gue nggak akan bisa ngeliat senyumannya lagi. Setiap gue tidur, gue selalu bermimpi kalau Hikari... kalau dia....”
“Gue nggak akan biarin itu terjadi!” seru Revro yakin. “Gue akan mengakhiri ini semua. Bintang dan Hikari akan baik-baik saja!”
“Begitu?” gumam seseorang dari depan pintu ruang IGD dan mendengar percakapan Bravo serta Revro. Orang tersebut tersenyum misterius dan meninggalkan tempat tersebut. Dia kemudian berjalan ke sebuah kamar, tempat di mana orang yang harus dia lenyapkan ada di sana. Yang tidak diketahui oleh semua orang t***l itu adalah, dia ada di tempat kejadian perkara. Menyaksikan semuanya sambil tersenyum puas dan mengikuti semuanya sampai ke rumah sakit ini. Kemudian, dia tahu letak kamar orang tersebut.
Dari balik kaca yang ada di pintu kamar tersebut, orang itu menatap ke dalam. Mengusap kacanya, dia kembali tersenyum misterius sambil membentuk pistol dengan jari-jarinya.
“Boom!” orang itu tertawa pelan. “Hai, Bintang... sebelum teman kecil lo itu mati, mungkin gue akan melenyapkan lo terlebih dahulu. Lalu, Revro akan jadi milik gue.”
###