“Nggak apa-apa, nih, kita ninggalin mereka berdua?”
Pertanyaan bernada cemas dari Bintang itu hanya ditanggapi dengan tawa oleh Revro. Cowok itu turun dari sepeda dan berjalan sambil menyeret benda tersebut. Bintang juga melakukan hal serupa sambil sesekali melirik ke belakang untuk mengintip kakak kembarnya dan Hikari.
“Emangnya kenapa? Lo takut kalau Bravo apa-apain Hikari?”
Bintang memutar bola matanya jengkel. Dia berhenti melangkah, diikuti oleh Revro. Keduanya sama-sama menoleh ke belakang, mengamati Bravo dan Hikari yang sepertinya sedang terlibat percakapan serius.
“Kakak lo jatuh cinta sama Hikari dan Hikari juga ngerasain hal yang sama.”
“Hah?!” seru Bintang. Cewek itu melongo, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Revro. Kembaran dan sahabatnya saling mencintai? Lantas, kenapa selama ini mereka tidak pernah jadian? Bahkan kalau bertemu, keduanya akan melempar tatapan sinis dan dingin ala beruang kutub. “Kok bisa?!”
Revro mengangkat bahu tak acuh. Dia menunjuk sebuah pohon besar di ujung jalan, mengajak Bintang untuk duduk di sana sambil menunggu percakapan serius ala Bravo dan Hikari selesai. “Gue juga nggak tau. Tapi, Bravo cerita kalau waktu itu, pas Hikari pingsan karena dicekik kembaran lo, tuh cewek minta Bravo untuk jauhin dia karena nggak mau Bravo celaka di tangan Reinhard. Karena sebenarnya, Hikari cinta sama dia dan nggak mau liat Bravo kenapa-napa.”
Bintang merenungkan ucapan Revro. Semua masalah ini bermula darinya. Karena dia melupakan siapa itu Reinhard, membuat cowok tersebut marah dan gelap mata. Akhirnya, target Reinhard sekarang adalah Hikari, karena cewek itu adalah sahabatnya dan bisa dimanfaatkan.
Hikari, maafin gue, batin Bintang sedih.
“Bravo frustasi, lah,” lanjut Revro. “Dia bilang, dia nggak sudi kalau harus jauhin Hikari dan liat dia dicelakai sama Reinhard tanpa bisa berbuat apa pun. Dia nggak mau Hikari terluka. Akhirnya, Bravo ngaku ke gue kalau dia sebenarnya mulai jatuh cinta sama Hikari, setelah ngeliat cewek itu selalu lebih dekat sama Reffal.” Revro tertawa pelan dan mendengus. “Bahkan, dia juga cemburu sama gue!”
“Kak Bravo cemburu sama lo?” tanya Bintang geli. “Kok aneh, sih? Lo sama Hikari kan sahabatan.”
Revro tertawa lagi dan mendesah panjang.
“Hikari minta gue jauhin dia!” Bravo mengacak rambutnya gusar dan berdecak frustasi. Dia meninju dinding di depannya, tidak peduli tangannya mulai memerah akibat tindakannya tersebut. “Mana bisa gue ngejauhin dia, coba?!”
“Alasan dia apa minta lo ngelakuin hal itu?” tanya Revro dengan nada tenang. Menghadapi orang yang sedang emosi memang harus selalu tenang.
“Karena dia nggak mau gue dicelakai sama si b******k Reinhard itu! Karena katanya, dia jatuh cinta sama gue!” seru kakak kembar Bintang itu dengan nada tegas. “Ya Tuhan! Bahkan kalau gue harus mati untuk ngelindungin Hikari, gue sama sekali nggak keberatan, Vro!”
Alis Revro terangkat satu. Ini mulai menarik.
“Kenapa lo ngomong begitu?” Revro mulai memancing. “Jangan bilang kalau lo jatuh cinta juga sama Hikari?”
Bravo diam. Dia duduk di sofa, tepat di depan Revro dan menopang dagunya. Bayangan Hikari melintas di benaknya, tersenyum ke arahnya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi, tiba-tiba saja senyuman itu berganti. Wajah teduh yang memancarkan kebahagiaan itu berubah menjadi wajah kesakitan dan berlumuran darah. Dan tahu-tahu saja, ketakutan itu membuncah dalam dirinya.
Dia tidak sudi kehilangan Hikari!
Walau terlambat, walau dia baru menyadari sekarang, tapi, Hikari adalah orang penting untuknya. Cewek itu hartanya.
Dia jatuh cinta pada Hikari Nevandra Putra.
“Ya!” tegas Bravo. Cowok itu sangat yakin pada jawabannya. “Gue emang jatuh cinta sama Hikari. Mungkin gue terlambat menyadari perasaan cinta gue untuk dia, tapi, gue yakin kalau gue memang mencintai dia dan nggak mau kehilangan dia. Kalau gue liat dia sama Reffal atau sama lo, rasanya gue mau meledak dan mau mencincang lo berdua karena udah berani berdekatan sama cewek itu di depan mata gue, sementara gue nggak bisa ngelakuin hal yang sama!”
“Cih,” cibir Revro agak keki. “Kenapa juga lo harus cemburu sama gue dan Reffal, sih? Reffal udah punya pacar dan gue jelas-jelas cintanya sama kembaran lo. Dan lagi, gue sahabatnya Hikari dari kecil! Mana mungkin gue punya rasa lebih buat sahabat gue sendiri, coba? Dan soal lo nggak bisa dekat dengan akrab sama Hikari, bukannya lo sendiri yang menutup diri dari dia dan selalu bersikap dingin?”
“Cewek dan cowok nggak akan bisa bersahabat, Vro,” sahut Bravo bete. “Sahabat antara cowok sama cewek itu cuma label doang! Judulnya aja sahabatan, aslinya mah cuma kedok buat dekatin orang yang disukai.”
“Tolong, ya, gue tegasin sekali lagi kalau gue udah ambil keputusan bakal buatin lo keponakan dari rahim saudari kembar lo.” Revro melempar bantal sofanya ke arah Bravo yang menghindar dengan gesit. “Perlu gue realisasiin sekarang tuh rencana untuk tiga sampai empat tahun ke depan?”
“Siap gue lempar ke dasar neraka?”
Revro terkekeh dan menarik napas panjang. “Udahlah, Hikari itu single, kok. Dia nggak ada perasaan khusus buat gue dan Reffal. We’re just best friend, nggak lebih. Mendingan, lo cepat-cepat maju dan bikin dia jadi milik lo, supaya lo bisa lebih leluasa melindungi dia dari jamahan tangan kotornya si Reinhard b******k itu.”
“Nggak segampang itu, kali! Kalau dia nolak gue, gimana?”
“Cemen!” ejek Revro. “Lo takut ditolak? Ngapain juga Hikari nolak elo kalau dia ngaku cinta sama lo, pinter?”
Revro berani taruhan kalau saat ini, Bravo sedang mengungkapkan perasaannya pada Hikari. Terlihat dari raut wajah serius dan aura yang tercipta di sekitar cowok itu.
“Karena Hikari lebih dekat sama gue dan Reffal, ketimbang sama dia. Dia nggak suka liatnya.” Revro menjawab pertanyaan Bintang. “Kalau misalkan kakak kembar lo jadian sama Hikari, lo setuju?”
Bintang mengangguk mantap sambil memeluk leher Revro tanpa cewek itu sadari. Tindakannya itu membuat Revro tersentak dan menahan napas sepersekian detik, sebelum kemudian berhasil mengeluarkan karbondioksida dan membiarkan oksigen masuk ke saluran pernapasannya. Cowok itu merasa nyaman luar biasa dan membiarkan Bintang memeluknya dengan sangat erat sambil bersinandung riang.
“Jelas gue setuju, dong! Gue senang dan bahagia banget kalau Hikari jadi kakak ipar gue!”
Revro tersenyum dan membalas pelukan Bintang. Cowok itu mengusap rambut dan punggung Bintang sekaligus menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Sejuk tiada tara, ditambah kedamaian yang tercipta karena adanya Bintang di sisinya.
“Kalau... kita jadian lagi, lo mau?”
Pertanyaan itu membuat Bintang kaget dan menguraikan pelukannya. Cewek itu mengerjap dan panas menjalar cepat di wajahnya hingga menimbulkan rona kemerahan. Revro sangat menyukai rona merah itu, sehingga tanpa sadar, dia sudah mencium pipi putih mulus mantan pacarnya tersebut.
“Gimana?” tanya Revro lagi, meminta jawaban. Digenggamnya tangan Bintang erat, menegaskan pada cewek itu bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa dia, Revro Emerald Abimanyu Thampson akan menjaga dan melindungi Bintang Maladewi Bagaskara sekuat tenaga. Bahkan jika dia harus mengorbankan nyawa sekalipun, dia rela.
Asal dia bisa terus berada di sisi Bintang, selamanya.
“Gue... gue....” Bintang bingung harus menjawab apa. Sungguh tawaran yang manis, tapi, dia masih trauma dengan ancaman Reinhard di masa lalu. Bagaimana kalau Reinhard mencelakai Revro, Bravo dan Hikari kalau cowok itu sampai mendengar kabar kembalinya dia pada sang mantan? Apa yang harus dia lakukan? Dia tidak mau orang-orang yang disayanginya terkena masalah hanya karena dirinya.
“Nggak apa-apa, Bintang,” ucap Hikari yang datang entah darimana. Cewek itu tersenyum meyakinkan ke arah Bintang, duduk berlutut di depan cewek itu dan ikut menggenggam tangan Bintang, seperti yang dilakukan oleh Revro. Bravo sendiri berdiri di belakang Hikari, melihat kejadian ini dengan tatapan lembutnya dan mengangguk mantap ke arah adik kembarnya. “Reinhard nggak akan mencelakai Revro, gue atau Bravo, kalau lo balikan lagi sama Revro. Kalian berdua kan saling mencintai. Gue akan pastikan, Reinhard nggak akan berbuat macam-macam. Lagipula, tujuan dia sekarang adalah gue.”
Meskipun tidak suka dengan ucapan itu, tapi Revro dan Bravo terpaksa menyetujui dalam hati. Dan mereka akan melakukan apa pun untuk membuat Bintang serta Hikari aman.
“Soal Bulan, nggak usah dipikirin juga.” Hikari terkekeh geli. “Revro nggak akan masuk perangkap cewek ganjen dan kecentilan kayak dia. Lo bisa minta bantuan Elif kalau mau.”
“Elif?” tanya Bintang memastikan. “Emang, Elif kenapa?”
Revro dan Hikari saling tatap kemudian tertawa keras. Bintang menatap keduanya dengan kening berkerut bingung dan Bravo hanya memusatkan tatapannya pada Hikari. Menatap cewek itu dengan tatapan teduh dan hangatnya.
Dia akan terus menjaga dan melindungi Hikari, mencintai cewek itu sepenuh hatinya.
Walau sudah ditolak.
Hikari berdiri dan menjauh dari Revro yang kini sibuk menggoda Bintang. Cewek itu terlihat malu-malu karena baru saja menyetujui permintaan Revro untuk kembali merajut kasih. Kedua sahabatnya itu resmi berpacaran lagi. Untuk menjaga hubungan keduanya agar tetap utuh, Hikari berpikir dia harus bertindak cepat. Menjauhkan Reinhard dan Bulan dari hubungan keduanya.
Untuk menjauhkan Bulan, Hikari bisa meminta bantuan Elif. Sahabatnya itu tipe cewek yang sangat membenci kaum Hawa tipikal keganjenan dan kecentilan seperti Bulan. Dia tinggal menceritakan semua hal yang diketahuinya mengenai Bulan, saat cewek manis di depan namun busuk di dalam itu menggoda Revro habis-habisan. Bisa dipastikan oleh Hikari, Elif akan mengintil Revro kemana pun cowok itu melangkah, terkecuali kamar mandi.
Sementara untuk Reinhard, Hikari tidak boleh gegabah. Dia harus memutar otak untuk membuat Reinhard jauh-jauh dari Revro dan Bintang. Walau dia harus berkorban diri dan rasa cintanya pada Bravo.
“Gue tau isi otak mungil lo itu, Hikari.”
Cewek itu menoleh dan tersenyum. Senyuman yang sanggup membuat Bravo membeku dan tidak bisa mengalihkan tatapannya. Kenapa baru sekarang dia menyadari senyuman Hikari begitu manis dan memesona? Kenapa perasaan itu baru dia rasakan sekarang?
Dan kenapa rasanya dia akan kehilangan senyuman ini?
“Gue nggak mau lo melakukan hal gegabah apa pun!” tegas Bravo. Didekatinya Hikari dan dipeluknya cewek yang sudah menolak cintanya itu dengan erat, sepenuh hati. Padahal, Hikari juga mencintainya. Hanya karena tidak ingin dirinya terluka oleh Reinhard, Hikari terpaksa menolaknya.
b******k!
Gue nggak akan ngebiarin Reinhard berbuat semaunya terhadap lo, Hikari!
“Bravo, gue—“
“Just stay still, would you?” pinta Bravo sambil memejamkan mata dan menarik napas panjang. Dia bisa merasakan debaran jantung Hikari dan hal itu membuatnya tenang. “Biarin gue meluk lo sebentar aja.”
Hikari hanya bisa mengangguk pelan dan memejamkan mata. Menahan tangis karena rasa sesak yang mulai tidak terkendali.
I'll run my fingers through your hair and watch the lights go wild.
Just keep on keeping your eyes on me, it's just wrong enough to make it feel right.
And lead me up the staircase
Won't you whisper soft and slow?
I'm captivated by you, baby, like a firework show
(Taylor Swift-Sparks Fly)
###
Untuk merayakan hari bahagia mereka karena kembali merajut tali kasih, Revro memutuskan untuk mengajak Bintang pergi seharian.
Cowok itu mengajak Bintang ke tempat wisata terdekat. Taman Mini Indonesia Indah dipilih Revro sebagai tempat untuknya dan Bintang berkencan. Keduanya meminjam sepeda untuk dua orang dan bersama-sama mengelilingi Indonesia versi mini tersebut sambil bercanda dan tertawa.
“Kamu senang?” tanya Revro. Saat ini, keduanya sedang mengendarai wahana semacam bebek raksasa di danau. Angin memainkan rambut Bintang, membuat Revro mengulurkan tangan dan merapikan anak rambut cewek itu.
“Banget!” seru Bintang riang. “Makasih banyak untuk jalan-jalannya hari ini, ya!”
“Sama-sama, Sayang.”
Dipanggil dengan sebutan ‘sayang’ membuat Bintang merona. Cewek itu berdeham dan menunduk untuk menyembunyikan warna kemerahan pada pipi putihnya dari tatapan Revro. Hanya saja, Revro sudah lebih dulu melihat rona merah tersebut, sehingga dia tertawa dan mengacak rambut Bintang pelan kemudian mencium pipinya cepat.
“Revro, kamu—“
Niat Bintang untuk mengomeli Revro terhenti karena ketika dia menoleh, wajah Revro sudah teramat dekat dengannya. Cowok itu tersenyum lembut dan mengusap pipi Bintang, membuat hati cewek itu berdesir. Saat ini, mereka ada di tengah danau, tidak lagi menggerakan wahana bebek raksasa tersebut.
“Aku bahagia banget karena aku bisa jadiin kamu milik aku lagi, Ntang,” kata Revro memulai percakapan. Atmosfer yang tercipta benar-benar romantis, sehingga Bintang merasa jantungnya berdegup sangat liar. Dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari mata Revro yang memancarkan cinta begitu besar untuknya.
“A... aku juga senang,” sahut Bintang gugup. Sungguh, ini bukanlah yang pertama kalinya dia berduaan saja dengan Revro. Dulu, saat dia masih berpacaran dengan Revro, sebelum Reinhard masuk ke kehidupan mereka dan merusak segalanya, dia sudah jutaan kali berduaan dengan Revro. Tapi, tetap saja efeknya begitu hebat pada jantungnya.
Revro menyentuh dagu Bintang dan mulai memajukan wajahnya. Semakin lama, semakin dia bisa merasakan hangat napas Bintang di wajahnya. Matanya menatap lembut ke manik Bintang yang begitu teduh dan nyaman. Bintang bagaikan obat penenangnya. Cewek itu bagaikan nikotin yang sanggup membuatnya kecanduan.
Tak lama, bibirnya mulai menyentuh bibir mungil Bintang. Cewek itu mulai memejamkan mata dan menikmati sensasi lembut bibir Revro di bibirnya. Revro menghisap bibir bawah Bintang dan mulai menyusupkan lidahnya di sana. Mengajak Bintang untuk bermain bersama, menyatukan cinta mereka.
Dan Bintang dengan senang hati menyambut ciuman lembut, dalam dan hangat Revro. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Revro, sementara cowok itu merangkul pinggang Bintang hingga tubuh mereka berpelukan erat.
Lalu, ciuman itu terpaksa berhenti tatkala ponsel Revro berbunyi. Sambil menggerutu karena harus melepas bibir manis Bintang, dia meraih ponselnya dan mengumpat tidak jelas. Bintang sendiri menunduk malu dan memegang kedua pipinya yang terasa panas.
“Reffaldi Elroya Abimanyu! Sebaiknya lo nelepon gue untuk mengabarkan hal penting, karena kalau nggak, gue akan—“
“Hikari masuk rumah sakit.”
Apa?
Reffal bilang apa barusan?
Mendadak, Revro merasa kedinginan. Cowok itu mencengkram ponselnya kuat, hingga buku tangannya memutih. Menyadari keterdiaman Revro, Bintang mengangkat kepala dan mengerutkan kening saat melihat sikap aneh pacarnya itu.
“Vro? Ada apa?” tanya Bintang mulai cemas. “Kenapa? Siapa yang nelepon?”
Revro mengabaikan pertanyaan Bintang dan berkata, “Kenapa? Kenapa Hikari masuk rumah sakit?”
Mendengar Hikari masuk rumah sakit, Bintang terperangah. Cewek itu segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Bravo. Namun, kakak kembarnya itu tidak bisa dihubungi. Ponselnya tidak aktif.
Kenapa sekarang perasaannya tidak enak?
“Dia... bunuh diri.”
Revro terbelalak dan merasa jantungnya diremas sangat kuat.
Sahabatnya... bunuh diri?
Mustahil! Hikari bukan tipe cewek berotak dangkal seperti itu! Hikari cewek pintar yang selalu mengedepankan logika dan akal sehat. Kenapa? Ada apa sebenarnya?
“Jangan bercanda!” teriak Revro. “Nggak mungkin Hikari bunuh diri, sialan!”
Mendengar itu, Bintang menutup mulut dengan kedua tangan. Cewek itu mulai ketakutan dan gemetar. Air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. Kenapa Hikari bunuh diri?
“Semua ini karena Bravo!” seru Reffal di ujung sana dengan nada dingin. “Hikari terpaksa bunuh diri karena Bravo! Karena Reinhard nggak mau Hikari dekat dengan cowok lain, dia memancing Hikari dan Bravo ke suatu tempat dan menyuruh Hikari untuk mencabut nyawanya sendiri di depan Bravo. Bravo yang salah! Semua ini gara-gara Bravo!”
Revro merasa fokusnya mulai hilang. Semua penjelasan Reffal di telepon tadi terputar berulang-ulang di gendang telinganya. Sambungan sudah terputus entah sejak kapan, dan cowok itu sendiri tidak sadar jika Bintang terus menyebut namanya sambil mengguncang tubuhnya.
Hatinya mulai sakit. Rasanya sangat panas dan sesak. Kepalanya mulai terasa berat dan berputar hebat. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Di otaknya, hanya ada satu keinginan. Ralat, dua! Seperti apa yang tadi dikatakan oleh Reffal di telepon, dia harus melakukan dua hal tersebut untuk membalaskan dendam Hikari. Untuk Hikari yang saat ini berada di ujung nyawanya karena harus rela bunuh diri demi melindungi orang lain.
Semua ini karena Bravo, Rev! Bravo yang patut disalahkan! Dia yang harusnya mati, begitu juga dengan Bintang, saudara kembarnya! Kalau bukan karena Bravo dan Bintang, Hikari nggak akan bunuh diri demi melindungi mereka berdua. Mereka berdua yang membuat masalah, membuat onar, membuat Reinhard marah dan akhirnya menyuruh Hikari untuk mencabut nyawanya sendiri. Kalau Bravo dan Bintang nggak ada, Hikari pasti baik-baik aja!
Manik Revro mulai menggelap. Dia kehilangan kontrol akan dirinya sendiri. Cowok itu merasa kosong dan hampa. Revro menoleh dan menatap datar Bintang yang terlihat bingung dan... takut.
“Revro... kamu... kenapa?”
Jantung Bintang berdetak liar. Dia merasa takut pada Revro, entah kenapa. Tubuhnya semakin gemetar. Tak lama, Revro mulai mengulurkan kedua tangannya, seolah-olah sedang bersiap untuk mencekik Bintang.
“Revro?”
Panggilan Bintang tidak bereaksi pada Revro. Cowok itu tetap mendekatkan kedua tangannya ke arah leher Bintang yang tidak bisa lari ke mana pun. Tangis cewek itu semakin pecah. Dia memanjatkan doa dalam hati, berharap ini hanya mimpi buruknya saja.
Revro, sadar!
###
Bravo merasa tidak enak.
Cowok itu seolah mendengar suara Bintang, padahal saudara kembarnya itu sedang jalan-jalan bersama Revro. Dia sudah menunggu lebih dari dua puluh menit, tapi orang yang sejak tadi ditunggunya tak kunjung datang.
“Sori, telat.”
Suara itu membuat Bravo kaget dan refleks menoleh. Melihat keterkejutan Bravo, orang yang baru saja datang itu mengangkat satu alis dan bertanya, “Lo kenapa, deh?”
“Nggak apa-apa.” Bravo berusaha mengenyahkan perasaannya yang sangat tidak enak itu. “Kenapa baru datang?”
“Kayaknya hari ini hari sial gue.” Cowok itu mendengus dan duduk di depan Bravo. “Ponsel gue dicopet! Gue udah berusaha ngejar, tapi tuh copet cepat banget ngilangnya!”
Bravo hanya mengangkat bahu tak acuh. Perasaan asing itu masih mengendap di dalam hatinya. Perasaan yang mengatakan bahwa saudara kembarnya berada dalam bahaya. Dia tidak tahan lagi. Dia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Bintang baik-baik saja.
“Lah? Lo mau ke mana? Bukannya kita mau bikin strategi untuk ngelawan Reinhard?”
Bravo menoleh cepat dan mengibaskan sebelah tangan. “Itu bisa nanti. Hikari di mana?”
“Di tempat Tristan. Gue titipin di sana, sama Tristan, Casey dan Elif. Kenapa?”
“Seenggaknya dia aman.” Bravo yakin dengan pemikirannya itu. “Lo bisa ikut gue buat datangin Bintang dan Revro? Perasaan gue nggak enak. Gue kepikiran si Bintang.”
“Kontak batin antar saudara kembar, heh?” Reffal tersenyum miring dan mengangguk. “Ayo, berangkat!”
###