Saat kedua mata Bravo terbuka, wajah khawatir Bintang menyambutnya.
Cowok itu meringis dan memegang kepalanya yang terasa sakit. Tidak hanya bagian kepala, dia juga merasakan nyeri pada bagian tengkuknya, membuat Bravo mendesis ketika bangkit dari posisi tidurnya. Kini, Bravo bukan hanya melihat Bintang, tetapi juga Revro yang tersenyum pahit ke arahnya, juga Reffal yang menatapnya serius.
“Lo semua kenapa? Kenapa ngeliatin gue kayak begitu?” tanya Bravo pada Revro dan Reffal. Dia menoleh ke arah Bintang dan baru saja akan mengeluarkan pertanyaan yang sama, saat dilihatnya sosok Hikari tengah terbaring tak sadarkan diri, seperti sedang tertidur, di tempat tidur di sampingnya. “Hikari kenapa?!”
“Lo nggak ingat apa-apa, Brav?” tanya Revro. Bravo menatapnya dan menggeleng tegas.
“Ada apa? Apa yang udah terjadi?!”
“Apa lo di hipnotis?”
“Apa?” Bravo kini memusatkan perhatiannya pada Reffal. “Apa maksud lo?”
“Sebelum ini, lo ketemu seseorang?”
Bravo diam, nampak berpikir. “Gue jalan ke taman kompleks perumahan si Revro, mau jernihin pikiran gue setelah dengar informasi dari Bintang dan Revro soal Hikari, dan... dan....” Cowok itu meremas rambutnya gusar. “Gue nggak tau apa-apa lagi!”
Revro, Bintang dan Reffal saling tatap dan menghembuskan napas panjang. Tidak salah lagi, orang yang pernah menghipnotis Hikari, sepertinya bertemu dengan Bravo dan melakukan hal serupa pada cowok itu. Mungkin, cowok bernama Reinhard itu mengawasi keadaan rumah Revro, karena Revro dan Bintang dengar dengan jelas kalau cowok sialan itu ingin membuat Hikari jauh dari mereka semua.
“Hikari pingsan setelah lo cekik dia.”
Kepala Bravo berputar cepat ke arah Revro dan menatap tajam cowok tersebut. Berharap dengan tatapannya itu, Revro akan berhenti mengatakan lelucon tidak bermutu seperti tadi. Tapi, Revro justru balas menatapnya tegas, hingga membuat Bravo turun dari ranjang dan langsung mencengkram kerah kaus Revro. Bintang bahkan sampai harus berusaha menjauhkan kakak kembarnya itu dari Revro, tapi tidak berhasil.
“Jangan bercanda!” desis Bravo dingin. “Gue nggak mungkin mencelakai Hikari!”
“Ask your sister, then.” Revro membiarkan saja Bravo semakin menguatkan cengkramannya, hingga dia nyaris tercekik. “She was there. Reffal as well.”
Mata Bravo memancarkan ketidakpercayaan yang begitu besar. Cengkramannya terlepas begitu saja dan dia melangkah mundur. Kepalanya menggeleng, disertai dengan dengusan dan tawa datar dari cowok tersebut.
“This is a lie.” Bravo meracau tidak jelas. “Nggak mungkin gue—“
“Apa yang Revro bilang itu benar, Brav,” potong Reffal. Cowok itu berdiri, berhadapan dengan Bravo. “Lo emang mencekik Hikari, nyaris bikin dia mati kehabisan napas. Gue nggak menyalahkan lo karena menurut gue, lo bukan lo saat melakukan hal itu. Sepertinya lo dibawah pengaruh hipnotis.”
“Tapi, gue—“
“I asked you before, right? Gimana kalau objek si psikopat sialan yang mengejar Bintang itu beralih jadi Hikari?”
DEG!
Kita dengar cowok bernama Reinhard itu bilang ke Hikari, kalau Hikari hanya milik dia, Kak Bravo. Kalau dia nggak bisa mendapatkan Hikari, maka orang lain nggak akan ada yang bisa milikin dia. Kalau Hikari dekat dengan orang lain, Reinhard akan bunuh semua orang tersebut. Kalau perlu, dia akan bunuh Hikari supaya Hikari nggak jatuh ke tangan orang lain.
Ucapan Bintang saat cewek itu sedang menceritakan semua informasi mengenai Hikari yang bertemu dengan cowok bernama Reinhard, yang rupanya dalang dibalik semua kejadian beberapa minggu belakangan ini, kembali terngiang. Kedua tangan Bravo mengepal di sisi tubuhnya. Jantungnya berpacu cepat.
Apa... apa dia mencekik Hikari karena bertemu dengan Reinhard di taman? Lalu, cowok itu menghipnotisnya untuk melenyapkan Hikari? Agar tidak ada orang lain yang bisa mendekati cewek itu?
Sakit jiwa!
Suara erangan pelan membuat fokus Bravo, Revro, Bintang dan Reffal sepenuhnya tercurah pada ranjang Hikari. Cewek itu membuka kedua matanya perlahan dan tersenyum tipis ke arah semua orang.
Termasuk ke arah Bravo.
“Hikari, lo nggak apa-apa, kan?” tanya Bintang cemas. Dia menghampiri Hikari yang baru saja bangkit dan duduk bersandar di tempat tidur. Dipeluknya Hikari dari arah samping, membuat cewek itu terkekeh pelan dan mencubit pipi Bintang.
“I’m fine,” jawabnya serak. Ketika tatapannya beradu dengan tatapan Bravo yang terlihat menyesal dan pahit, Hikari berkata, “Bisa tolong tinggalin gue berdua sama Bravo sebentar?”
Menjawab pertanyaan Hikari barusan, Revro segera menggamit tangan Bintang dan mengajak cewek itu keluar dari dalam kamar, diikuti Reffal. Kini, hanya tinggal Hikari dan Bravo. Suasana yang hening membuat Hikari mendesah panjang dan menepuk ruang kosong di dekat kakinya, meminta Bravo untuk duduk.
“Gue ada satu permohonan untuk lo, Bravo.”
Bravo tetap diam.
“Karena hanya lo yang bisa memenuhinya.”
###
Untuk dua hari terakhir semenjak insiden Bravo mencekik Hikari, suasana masih terbilang aman dan terkendali.
Hikari masuk kuliah seperti biasa, dengan pengawasan ketat dari Revro. Tak hanya menjaga Hikari, cowok itu juga sibuk menjaga Bintang. Kini, Revro bisa sedikit bersantai karena kedua cewek itu sedang ada kelas dan Revro sengaja membolos untuk sedikit menjernihkan pikiran.
“Hai,”
Suara itu membuat Revro menoleh dan tersenyum ke arah Bulan. Cewek itu duduk di kursi depan Revro dan menopang dagu dengan kedua tangan. Senyuman Bulan terlihat sangat menggoda, tapi Revro menanggapinya dengan biasa saja.
Baginya, senyuman paling menggoda di dunia ini adalah senyuman Bintang.
“Sendirian aja, Rev?” tanya Bulan dengan nada yang dibuat semanja mungkin.
“Mm-hm. Lagi nunggu Hikari sama Bintang.” Revro mengeluarkan ponsel dan tersenyum lebar saat mendapat sms dari Bintang yang meminta maaf karena harus membuat Revro menunggu lebih lama lagi, akibat cewek itu yang sedang dipanggil oleh dosen. “Lo sendiri ngapain di kantin? Nggak ada jam kuliah?”
Bulan tidak menjawab pertanyaan Revro karena merasa kesal akibat cowok itu menyebutkan nama Bintang. Bintang, lagi-lagi Bintang. Padahal mereka sudah putus, tapi kenapa Revro masih kekeuh mengejar Bintang, coba?! Apa, sih, bagusnya cewek sialan itu dibanding dirinya?!
Dirinya cantik, kaya dan terhormat. Apa semua itu masih kurang untuk Revro?
“Hei, Revro....”
“Hmm?” gumam cowok itu tidak jelas karena terlalu asyik membalas sms Bintang.
“Apa lo nggak suka sama gue?”
Saat itulah, perhatian Revro teralihkan. Cowok itu mendongak dari layar ponselnya dan terpaku ketika tubuh Bulan sudah berada sangat dekat dengannya, akibat cewek itu yang memajukan tubuhnya melewati meja di antara mereka. Bulan bahkan tidak peduli jika semua pasang mata para penjual di kantin, juga beberapa mahasiswa yang memang sedang berada di sana, memperhatikan aksinya saat ini.
Dia harus menjadikan Revro sebagai miliknya. Harus!
Akan dia buka mata Revro, bahwa Bintang sialan itu kalah jauh jika dibandingkan dengan seorang Bulan Wijaya!
“Bulan! Jaga sikap lo!” tegur Revro. Dia memundurkan kursinya sedikit agar bisa terbebas dari Bulan. Tapi, cewek keras kepala itu tidak pantang menyerah. Bulan memang menjauh, tapi cewek itu justru mendekati Revro dan memosisikan tubuhnya di depan cowok tersebut.
Kedua tangan Bulan diletakkan di masing-masing sisi lengan kursi, sementara tubuhnya dimajukan ke arah Revro yang tidak memiliki akses pergi ke mana pun. Revro menatap tegas manik Bulan yang terlihat sedang menggodanya, pun dengan senyuman sensual cewek itu. Bahkan, Revro berani bertaruh bahwa Bulan sudah menghabiskan hampir sebagian isi parfumnya ke tubuh cewek itu sendiri, karena aroma tubuh Bulan harus Revro akui sangat memabukkan.
“Lo nggak berkedip, Revro,” kata Bulan dengan nada sensual. Dia semakin berani, memajukan tubuhnya dengan senyum penuh kemenangan. Siulan menggoda dari para mahasiswa diacuhkannya, karena fokusnya saat ini adalah menaklukan Revro. “Akui aja, lo terpesona sama gue, kan? Gue jauh segalanya dari Bintang!”
Revro memang tidak berkedip karena dia berniat mengintimidasi Bulan melalui tatapan tajamnya. Tapi, cewek itu sepertinya tidak ambil pusing. Kini, jari telunjuk Bulan bahkan berada di dagu Revro, kemudian berangsur turun hingga mencapai dadanya. Revro bahkan bisa merasakan dadanya bergesekan dengan sesuatu yang kenyal dari tubuh Bulan, yang kalian jelas pasti tahu apa maksudnya.
“I’m ready if want to feel me right now... i’ll give you everything, Revro....”
“Even your virginity?” tanya Revro menantang.
Mendengar itu, senyuman Bulan semakin terlihat sensual dan menggoda. Bisa Revro dengar napas Bulan sedikit berat, membuat cowok itu nyaris mendengus. Awalnya Revro pikir, Bulan adalah tipikal cewek lemah lembut dan baik hati, hingga tidak sanggup membalas perbuatan orang yang sudah menabraknya waktu itu di kantin. Bahkan, Bulan tidak berkata apa pun pada orang tersebut.
Tapi, sekarang?
“Yes!”
Revro hanya diam ketika bibir Bulan sudah sangat dekat dengan bibirnya sendiri. Hangat napas cewek itu begitu terasa, dan terdengar berat karena gairah nafsu milik Bulan sendiri. Bibir Bulan sudah mulai terbuka, bersiap untuk melahap bibir Revro, dan semakin bersemangat tatkala siulan serta sorakan di kantin semakin terdengar.
Tepat saat akan bersentuhan, Revro menahan pundak cewek itu dan mendorongnya agak kasar, hingga Bulan mundur ke belakang, nyaris terjungkal. Cewek itu mendesis dan menatap gusar Revro yang bangkit sambil memasang wajah dan tatapan datar.
Seolah tidak terpengaruh dengan aksinya barusan.
“Apa-apaan, lo?!” seru Bulan marah. Wajahnya merah padam. Napasnya memburu karena emosi dan rasa malu akibat sudah dipermalukan di depan umum. “Lo mau bikin gue malu?! Iya?!”
“Bukannya lo yang bikin malu diri lo sendiri?”
Suara itu membuat Bulan menoleh dan terkesiap. Kedua tangannya terkepal dan emosinya semakin memuncak ketika melihat Bintang berdiri di samping Revro. Di belakang keduanya, seorang cewek sedang bersandar di pilar sambil bersedekap, sementara di samping cewek itu, seorang cowok dengan wajah yang tingkat kemiripannya dengan Bintang mencapai tujuh puluh lima persen, seolah dia adalah Bintang versi cowok, berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana jeans.
“Apa maksud lo, Bintang?!”
“Gue liat dan dengar, kok. Waktu lo menggoda Revro dan bikin aksi memalukan barusan.” Bintang tersenyum miring. “Jadi, jangan fitnah orang lain dengan berkata kalau orang tersebut yang mau bikin lo malu.”
“Elo?!” geram Bulan. Ketika cewek itu maju hendak menampar Bintang, Revro dengan sigap menahan pergelangan tangan Bulan. Bulan menoleh, mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Revro. “Lepas, b******k!”
“Sekarang lo ngatain gue b******k?” tanya Revro dengan nada tidak percaya. Cowok itu kemudian tertawa dan melepaskan cengkraman tangannya, menyebabkan Bulan terdorong mundur sambil mengusap pergelangan tangannya tersebut yang sedikit memerah. “Tapi ngegodain gue, sekarang maki-maki gue. Nggak paham gue sama sikap lo, sumpah.” Cowok itu menggeleng dan menarik napas panjang.
Kemudian, senyuman ala klan Abimanyu itu keluar, membuat Bulan membeku dan entah kenapa sedikit gemetar.
“Tadinya, gue nggak mau main kasar. Gue anggap lo cewek baik-baik dan bisa dijadikan teman. Tapi, sikap lo ternyata beda luar dan dalamnya. Lo pasang wajah ala malaikat, yang ternyata sangat busuk di dalam alias seperti setan!” Revro memasang tubuhnya di depan Bintang, menentang tatapan emosi Bulan. “Gue juga pantang nyakitin perasaan cewek dengan ucapan, tapi sikap lo udah kelewat batas. Tadi lo bilang, lo rela ngasih keperawanan lo buat gue?”
Bulan hanya diam, pun dengan Bintang yang masih menatap Bulan dengan tatapan tegasnya, seperti yang dilakukan oleh Revro.
“Sorry dissappointed you, tapi gue sama sekali nggak tertarik.”
Setelah mengucapkan hal tersebut, Revro memutar tubuh dan pergi meninggalkan Bulan sambil merangkul pinggang Bintang. Di belakang keduanya, Hikari dan Bravo yang hanya menyimak dari pilar, mengikuti langkah kedua orang tersebut.
Meninggalkan Bulan yang menatap ke arah Bintang dan Revro dengan tatapan geram dan kedua tangan mengepal kuat hingga memutih.
“Akan gue pisahin lo berdua!”
###
Minggu pagi.
Hikari sedang menunggu di atas sepeda, ketika sosok Revro mendekatinya juga dengan mengendarai sepeda. Keduanya berada di depan rumah Bravo dan Bintang. Karena situasi masih terkendali dan Reinhard sepertinya belum melakukan hal apa pun, si kembar memutuskan untuk pulang ke rumah.
“Udah lama lo di sini, Nev?” tanya Revro. Hikari mengangkat bahu tak acuh dan tersenyum lembut ketika mendengar Revro memanggil nama tengahnya lagi. Nama yang katanya hanya boleh diucapkan olehnya saja.
“Baru lima menit.” Hikari melirik jam tangannya. “Lo bawa puding sama minuman gue, kan?”
“Of course! How can i forget about that?” tanya Revro sambil tertawa dan memukul dadanya bangga. Hikari mendengus, meninju d**a Revro dengan kepalan tangan mungilnya dan ikut tertawa. Sampai kemudian, si kembar muncul sambil mengendarai sepeda masing-masing.
“Siap?” tanya Revro dengan penuh semangat. Bintang mengangguk tak kalah semangat dengan suara sang mantan yang masih dicintainya itu, pun dengan Hikari. Bravo sendiri hanya tersenyum tipis ketika Hikari mengacungkan tinjunya ke udara sambil berteriak dan tertawa.
Keempatnya bersepeda sambil bercengkrama, tertawa bersama, bercanda. Melupakan kejadian-kejadian menyeramkan dan menyakitkan yang sempat terjadi. Membiarkan angin sejuk di pagi hari ini menerpa wajah dan tubuh, mendinginkan wajah dan otak. Memberikan sensasi nyaman yang tiada tara. Bintang dan Hikari bahkan menyanyikan beberapa bait lagu Korea dari drama Korea terbaru yang mereka tonton sejak sebulan lalu.
sarangi mwonde mwonde
nae mami wae irae irae
maeil nunmure kosmure
gaseumman sseurideon jisinde
sarangi mwonde mwonde
tto gaseumi ttwine ttwine
neoui dalkomhan ipsure
nae mameul pogaego sipeunde
dream a dream of you
a dream I’m kissing you
(Seo Hyun Jin feat Yoo Seung Woo-What’s Love? : Another Oh Hae Young Soundtrack)
“Aduh, itu bahasa apa, sih? Bisa diganti, nggak?” tanya Revro pura-pura bete. Tapi, cowok itu akhirnya tertawa juga melihat Bintang dan Hikari menjulurkan lidah, memutar ibu jari mereka ke bawah sambil terbahak. Wajah cantik keduanya semakin bersinar, diiringi lirik lagu yang selalu mereka nyanyikan berulang-ulang.
“Dream a dream of you, a dream i’m kissing you!!!” teriak Bintang dan Hikari bersamaan. Keduanya kembali tertawa, membuat Revro dan Bravo yang berada di belakang mereka saling pandang dan menggeleng. Tapi, kedua cowok itu juga ikut tertawa.
Hanya saja, Bravo lebih sering diam. Merenungkan permintaan Hikari saat insiden pencekikan itu terjadi. Permintaan yang hanya bisa dikabulkan olehnya saja. Setidaknya, itulah yang dikatakan oleh Hikari padanya.
Gue cinta sama lo. Entah sejak kapan. Karena itu, gue nggak mau lo terluka. Tolong jauhi gue. Gue mau lo baik-baik aja.
Kalau Hikari ingin dia menjauhinya, kenapa cewek itu tidak keberatan bersepeda dengannya? Ya, walaupun saudari kembarnya ada bersama mereka, juga Revro, tapi, apakah Hikari tidak merasa sedih berada bersamanya?
“Hei, seenggaknya, lo harus bersenang-senang hari ini bersama gue, Bravo.”
Suara itu mampir di gendang telinganya, membuat Bravo tersadar dan langsung mengerem. Sepedanya berhenti, pun dengan sepeda Hikari. Di depan mereka, Revro dan Bintang sepertinya sedang adu balap sepeda.
“Sejak kapan lo ada di samping gue?”
“Sejak lo melamun.” Hikari terkekeh. “Nggak usah dipikirin permintaan gue. Gue yakin, lo bisa mengabulkannya.” Cewek itu bersiap menggoes lagi sepedanya, ketika suara Bravo terdengar dan membuatnya terpaku.
“Kalau gue nggak bisa, apa yang akan lo lakuin?”
Hikari menoleh dan tatapan tegas Bravo menyambutnya.
“Lo nyuruh gue menjauh, tapi lo ngebiarin Reffal dekat sama lo.”
Loh? Kenapa jadi bawa-bawa Reffal?
“Gue nggak suka liatnya! Gue cemburu, oke? Karena gue juga cinta sama lo, jadi, jangan suruh gue buat jauhin lo karena gue nggak sudi ngelakuinnya!”
Hikari speechless.
Jadi... Bravo juga mencintainya?
###