Revro membawa Bintang, Bravo dan Hikari ke rumahnya.
Keempatnya memutuskan untuk bolos kuliah dan merundingkan hal yang baru saja terjadi. Jelas sekali kalau ada yang berusaha mencelakai Bintang dan Hikari, sehingga Revro tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi ke depannya. Hal serupa juga diinginkan oleh Bravo. Karenanya, kedua cowok itu akan memaksa Bintang juga Hikari untuk menceritakan apa yang sudah keduanya ketahui.
“Tante Phoebe sama Om Jack nggak ada di rumah, Vro?” tanya Hikari sambil menatap sekitar. Dia mengucapkan terima kasih kepada pembantu rumah Revro yang sudah membawakan minuman dan kue kering untuk mereka semua.
Revro yang duduk di samping Bintang, menatap Hikari dan menggeleng. “Lagi ada acara keluarga di rumah saudara bokap di luar kota. Seminggu mereka di sana.”
Hikari hanya tersenyum tipis dan diam. Cewek itu menunduk, memegang mug khusus miliknya yang memang ditaruh di rumah Revro untuk dia gunakan jika sedang bermain ke rumah cowok itu. Tatapannya datar dan tidak fokus, ketika dia menatap cairan cokelat yang mengepul hangat dari mug tersebut. Pikirannya bercabang. Teringat lagi olehnya telepon dari nomor tersembunyi yang dia terima semalam.
Menjauh dari Bintang, Revro dan Bravo. Lo itu cuma pengganggu, Hikari. Lo itu benalu. Kalau ada lo di sekitar mereka, mereka akan celaka! Kalau lo nggak menuruti perintah gue, terpaksa gue cabut nyawa mereka semua. Kecuali, lo bersedia jadi tumbal.
“Hikari!”
Hikari yang tersentak langsung melepaskan mug yang dia pegang. Mug itu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping, membuat Bintang dan Revro terkesiap. Bravo yang jaraknya memang dekat dengan Hikari, langsung mencekal pergelangan tangan cewek itu dan menariknya berdiri. Ada bekas kemerahan di punggung tangannya, kemungkinan besar karena panas dari minuman cokelat milik Hikari tersebut.
“Hikari, tangan lo kena cokelat panas tadi!” seru Bintang panik. Dia segera mengeluarkan sapu tangan dan menyiramnya dengan air mineral dingin yang dibawakan oleh pembantu rumah Revro tadi. Kemudian, sapu tangan itu dibasuh di punggung tangan Hikari dan diikatkan di sana. “Hikari nggak apa-apa?”
Hikari tetap diam. Ucapan si penelepon terus terngiang, membuat kepalanya terasa sakit. Dia harus melakukan sesuatu untuk membantu Revro bersatu kembali dengan Bintang. Dia juga harus memastikan kalau Revro, Bintang dan Bravo baik-baik saja. Mungkin, yang dikatakan si penelepon memang benar.
Dia hanya seorang pengganggu.
“Hikari?” panggil Bintang lagi. Cewek itu benar-benar khawatir dengan keadaan Hikari sekarang. Disentuhnya pundak cewek itu, yang tiba-tiba saja langsung ditepis oleh Hikari.
Membuatnya kaget, pun dengan Revro dan Bravo.
“Hei!” seru Bravo emosi. Dia semakin memperkuat cekalan tangannya pada pergelangan tangan Hikari. “Apa-apaan lo?!”
“Diam!” teriak Hikari kemudian. Mengerahkan seluruh tenaganya, dia menyentak tangan Bravo. “Lo berisik! Kalian semua terlalu berisik!” Cewek itu kemudian meraih ranselnya dan memakainya. Menatap ketiga orang di sekitarnya dengan tatapan datar, lantas pergi dari rumah Revro sambil berlari.
“Hikari!” seru Revro. Dia berniat mengejar, tapi menahan diri. Cowok itu tidak ingin Bintang berpikiran macam-macam. Meski sudah putus, dia masih sangat mencintai Bintang dan tidak mau Bintang beranggapan sama seperti Bravo yang mengira Hikari ada hubungan khusus dengannya.
Lagipula menurutnya, Hikari butuh waktu untuk sendiri. Sepertinya, sahabatnya itu sedang banyak pikiran dan harus menyegarkan otak.
“Lo nggak ngejar sahabat lo?” tanya Bravo. Ada penekanan nada dalam kalimat sahabat yang tadi dia ucapkan. Entahlah, kesal saja dengan bentuk persahabatan mantan pacar saudara kembarnya itu dengan anak dari sahabat orang tuanya.
“Dia butuh waktu untuk sendiri,” jawab Revro, lalu duduk kembali diikuti oleh Bintang. “Dia butuh waktu untuk jernihin pikirannya.”
“Beneran nggak apa-apa, kita biarin Hikari sendirian?” tanya Bintang sangsi. “Gue rasa, dia nyembunyiin sesuatu.”
“Kayak kamu yang menyembunyikan sesuatu dari kita, Bintang?” tanya Bravo tegas. Sudah cukup dia menahan diri. Ditatapnya sang kembaran dengan tatapan tajam. “Kamu pikir, kamu cukup kuat untuk menyelesaikan apa pun masalah yang kamu sembunyiin itu?”
“Kak, aku—“
“Nggak mau ngerepotin aku? Nggak mau membebani aku dan Revro?” Bravo semakin tegas berbicara. “Kamu sadar kalau sikap kamu yang seperti itu justru membebani kita berdua? Kita jadi nggak tau harus berbuat apa dan cuma bisa berharap kalau kamu baik-baik aja. Kenapa, sih, kamu harus nurunin sifat Mama yang satu itu?”
Revro mengangkat satu alisnya. Kenapa dia jadi bawa-bawa nyokapnya?
“Papa ngajarin kita untuk kuat, Bintang, bukannya jadi manusia lemah! Bahkan Mama yang katanya nggak mau membebani Papa saat mereka ada masalah dulu pun, akhirnya memberanikan diri menghadapi semua bersama Papa dan Om Ren, kan?” (baca: The Sweet Angel of Death)
Revro menarik napas panjang dan memijat pelipisnya. Dia ingin membela Bintang, tapi ini murni masalah di antara sepasang saudara kembar. Walau sebenarnya, Revro sangat tidak suka melihat Bintang bersedih karena dimarahi oleh kakak kembarnya sendiri.
Tapi, ini demi kebaikan Bintang dan juga kebaikan mereka semua.
“Maafin aku, Kak,” kata Bintang kemudian, setelah sempat terdiam beberapa menit. “Maafin gue, Rev,” ucapnya lagi untuk Revro.
Kedua cowok itu saling tatap. Lalu, sambil menarik napas dan memantapkan hati, Bintang menceritakan semuanya.
Tentang SMS dan telepon dari seseorang yang tidak dia kenal, yang selalu mengucapkan kata-kata manis tetapi membuatnya ketakutan, juga ancaman-ancaman yang semakin mengerikan dan berubah menjadi kenyataan.
###
Hikari menendang kerikil kecil yang ada di sekitar kakinya.
Cewek itu saat ini ada di taman kompleks perumahan Revro. Duduk di atas ayunan berantai, Hikari menunduk dan menggoyang sedikit ayunan tersebut. Angin pagi ini terasa sangat sejuk dan kencang, membuat wajah dan otaknya segar, walau hanya sedikit. Langit di atas sana juga mulai berubah. Musim hujan sepertinya sudah mulai datang.
Hikari menarik napas panjang dan berhenti menggoyangkan ayunannya. Cewek itu mencengkram dua rantai di sisi ayunan hingga punggung tangannya memutih. Dia takut, tapi dia harus memberanikan diri. Demi orang-orang yang dia sayangi, dia harus rela menjauh atau, seperti yang dikatakan oleh si penelepon gila semalam, dia harus menjadi tumbal.
Asal Bintang dan Revro bersatu, asal keduanya juga Bravo baik-baik saja.
“Mungkin ini rasanya jadi pemain sampingan di sinetron-sinetron atau FTV-FTV. Harus rela dimusnahkan.” Hikari merasa matanya mulai memanas. Lalu, buliran kristal itu turun, membasahi pipi putih mulusnya dan cewek itu sama sekali tidak ada niat untuk menghapusnya. Dia benar-benar ketakutan. “Duh, kenapa jadi nangis, sih?”
Saat sedang menghapus air matanya dengan kasar itulah, Hikari menyadari sebuah bayangan berada tepat di depannya. Cewek itu mengerutkan kening dan mendongak. Menatap cowok berambut panjang mencapai tengkuk itu dengan tatapan bingung. Cowok itu memakai sebuah kalung, di mana Hikari bisa melihat sebuah jam saku berwarna perak berbentuk bulat sempurna tergantung di tengahnya.
Siapa?
“Halo, Hikari.” Cowok itu tersenyum tipis. Senyuman berbahaya dan misterius. Senyuman yang membawa aura aneh di sekeliling Hikari. Senyuman yang terasa dingin dan membelai tubuh Hikari hingga membuatnya merasa beku dan tidak bisa bergerak. Dia sepenuhnya terpusat pada senyuman dan kedua mata beda warna milik cowok di depannya tersebut. Sebelah kanan matanya berwarna biru muda, sementara sebelah kiri matanya berwarna hijau muda. “Kayaknya lo butuh kekuatan, deh.”
Hikari mulai bersikap waspada. Dia ingin bangun, tapi kedua kakinya seolah tidak bisa digerakkan. Kemudian, cowok itu bersimpuh dengan satu lutut menyentuh tanah, memegang dagu Hikari dan mengangkat wajah cewek itu agar tatapan mereka sejajar.
“Lo akan gue beri kekuatan.” Cowok itu kembali bersuara. Dia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Hikari dan semakin menatap intens kedua mata cewek itu. Senyumannya semakin mengembang, membangkitkan hawa negatif di sekitar Hikari.
Dan Hikari semakin terseret masuk ke dalam dua mata beda warna yang sangat memukaunya tersebut.
“Lo akan jadi cewek kuat, Hikari. Lo akan menyingkirkan semua penghalang lo. Lo akan berubah menjadi cewek yang tidak tertandingi, mengenyahkan semua pengganggu, termasuk ketiga teman lo, Bintang, Revro dan Bravo. Lo akan menjauhi mereka, lo akan menghabisi mereka. Setelah itu, lo akan hidup bahagia. Selamanya.”
Hikari merasa dunianya kosong. Gelap, tidak ada apa pun. Dia merasa sangat tenang dan anehnya, dia menyukai keadaan ini. Ketika cowok itu telah selesai berbicara, dia bangkit dan mengusap kepala Hikari. Lalu, cowok tersebut pergi meninggalkan Hikari yang masih menatap kosong ke depan.
Seseorang yang sejak tadi melihat kejadian tersebut dari balik batang pohon yang besar kini menarik napas panjang. Dia berdecak, merapikan rambut bagian belakangnya, kemudian mulai mendekati Hikari. Setelah berdiri tepat di depan cewek itu, orang tersebut menunduk. Menatap Hikari yang masih saja menatap ke depan dengan tatapan kosong. Seolah tidak peduli dengan kehadirannya di sana.
Membuatnya berlutut, menatap wajah datar Hikari dan lagi-lagi menarik napas panjang.
“Lo terlalu memendam semuanya, Hikari-chan. Lo nggak bisa menghadapi semuanya sendiri.” Orang itu menjentikkan jari dan tahu-tahu saja, Hikari sudah jatuh tak sadarkan diri dan langsung ditangkap dengan sigap oleh orang tersebut. “Lo lemah, tapi lo berusaha kuat. Dan orang-orang seperti lo ini gampang jadi sasaran empuk kejahatan, Hikari-chan.”
Lalu, orang tersebut menggendong Hikari. Membawanya ke pinggir jalan, menghentikan taksi yang lewat dan membawa Hikari ke rumahnya.
###
“Gimana kalau lo berdua nginap di sini selama orang tua gue ada di luar kota?”
Usul Revro itu ditanggapi oleh Bravo dengan alis terangkat satu, sementara Bintang cuma mengangkat bahu tak acuh. Cewek itu baru saja menceritakan semua pengalaman mengerikan yang dia alami, termasuk alasan dibalik dia memutuskan hubungannya dengan Revro. Semua keputusan ada di tangan Bravo, jadi, Bintang akan mengikuti apa pun yang diputuskan oleh kakak kembarnya itu.
“Buat apa?” tanya Bravo dengan nada datar. Tidak melihat adanya keuntungan dari usul tersebut.
“Buat jaga-jaga aja,” jawab Revro santai. Dia menyandarkan punggung dan bersedekap. Senyuman khas klan Abimanyu itu keluar, membuat Bintang terpana, dan Bravo berdecak. “Kita bisa jagain Bintang dan menyusun rencana untuk menjebak oknum b******k yang udah mengancam adik kembar lo dan berniat mencelakai dia juga Hikari. Tentu aja nanti gue akan ajak Hikari.”
Bravo nampak berpikir sejenak, sebelum kemudian menarik napas panjang. Rencana Revro memang sedikit-banyak ada benarnya dan Bravo terpaksa mengakui hal tersebut. Karenanya, dia mengangguk dan berdeham. “Have it your way, then.”
Sementara Revro semakin tersenyum, jantung Bintang justru tidak bisa dikontrol dengan baik. Dia akan menghabiskan waktu seminggu penuh bersama Revro di rumah cowok itu. Bukannya dia memikirkan yang tidak-tidak, demi Tuhan, di rumah ini ada beberapa pembantu Revro dan kakak kembarnya sendiri. Nanti, Hikari juga akan ikut bergabung. Tapi...
“Kenapa muka lo merah begitu, Bintang?”
Suara yang teramat dekat itu membuat Bintang tersentak dan menoleh cepat. Lalu, cewek itu menahan napas saat wajah Revro sudah sangat dekat dengan wajahnya. Dia bisa melihat wajah tampannya, senyuman khasnya, maniknya yang menyorot tegas namun juga menenangkan, semuanya. Alhasil, jantung malangnya semakin semangat menggebrak-gebrak rongga dadanya, hingga dia merasa sesak.
“Woi, ada gue di sini! Status lo sama dia udah jadi mantan, ya! Misalkan kalian balikan pun, jangan harap gue bakal biarin lo berbuat yang aneh-aneh ke saudara kembar gue!”
“Cih,” cibir Revro lalu memundurkan wajah dan terkekeh juga. “Calon kakak ipar yang menyebalkan. Mungkin sebaiknya lo harus cari pacar juga.”
Baru saja Bravo akan membalas ucapan Revro, terdengar suara bel. Revro menyuruh pembantunya untuk diam saja karena dia yang akan membukakan pintu. Ketika pintu rumahnya terbuka, sosok sahabatnya sekaligus sepupu jauhnya, yang dulu pernah terlibat masalah dengan Tristan, muncul sambil tersenyum. Reffal. (Baca: Emergency Couple)
“Reffal! Tumben ke sini pagi-pagi,” sapa Revro sambil menepuk pundaknya beberapa kali. Reffal hanya tersenyum dan melenggang masuk.
“For your information, ini udah jam sebelas siang.” Reffal memperlihatkan arlojinya. “Lo nggak ke kampus?”
“Hah? Jadi sekarang udah siang? Gila, gue ngobrol di dalam lama dong, ya?” Revro berjalan lebih dulu, menyuruh Reffal mengikutinya. “Ada sedikit masalah, Fal. Jadi, gue cabut kuliah. Di dalam juga ada Bintang sama Bravo.”
“Mantan lo sama kembarannya?”
“Yup.” Revro duduk di sofa, di samping Bintang yang mengangguk dan tersenyum ramah untuk menyapa Reffal, sementara Bravo hanya melirik sekilas dan tersenyum paksa. Bravo memang sosok yang selalu datar dan cuek pada orang-orang di sekelilingnya. “Lo nggak usah acuhin si patung datar itu, ya.”
“Sialan,” desis Bravo. Cowok itu bangkit dan berjalan ke dapur. Mencoba mencari minuman dingin yang lain. “Gue acak-acak kulkas lo, ya!”
“Silahkan, tapi jangan sentuh puding vanilla yang ada di sana sama dua buah mangga warna orange yang entah namanya apa itu, ya.” Revro memperingatkan. “Punya Hikari soalnya. Nanti dia marah!”
DEG!
Mendengar nama Hikari disebut entah kenapa membuat langkah Bravo terhenti. Cowok itu menatap lantai di bawahnya datar dengan kedua tangan yang mengepal. Hatinya tiba-tiba saja merasa tidak nyaman, tidak tenang. Kemudian, cowok itu segera menggeleng dan menghela napas.
Mungkin dia sedang lelah saja.
Reffal menatap sikap aneh Bravo dengan tatapan datar. Cowok itu menilai kekuatan Bravo. Sosok yang dingin dan sedikit angkuh, juga tidak pantang menyerah. Reffal kemudian melirik Revro sekilas, yang kini mengobrol dan menggoda Bintang hingga wajah cewek itu sedikit merona. Kurang lebih, Revro dan Bravo memiliki sifat yang sama.
Nggak heran kalau mereka masing-masing menganggap satu sama lain sebagai rival, batinnya geli.
“Omong-omong soal Hikari, dia nggak ikut ke sini?” tanya Reffal bingung. Dia melirik Bravo yang sudah kembali ke ruang tamu dengan sekaleng minuman bersoda dengan wajah kakunya. Apa karena nama Hikari disebut, makanya sikap cowok itu jadi berubah?
“Tadi pagi ada,” jelas Revro. Mendadak, suasana berubah suram. “Tapi, tiba-tiba aja dia marah-marah nggak jelas, terus pergi. Dia kayaknya lagi ada masalah, tapi nggak mau ngasih tau gue, Fal. Gue khawatir, cuma gue mau biarin dia dinginin kepalanya dulu.”
“Gitu?”
Ada sesuatu dalam nada suara Reffal yang tidak disukai oleh Bravo. Cowok itu mengamati klan Abimanyu yang lain, yang katanya adalah saudara sepupu jauh milik Revro itu. Senyuman tipis, rahang keras, hidung mancung, tatapan tegas dan tajam. Ada sesuatu dalam manik mata itu, sehingga membuat Bravo feeling uneasy.
“Ada sesuatu di wajah gue, Bravo?”
Bravo tersentak dan diam. Dia mengamati senyuman Reffal. Tidak ada yang dipaksakan di sana, tapi, ada hawa aneh dalam senyuman itu.
“Nope.” Bravo meminum minumannya. “Just... don’t mind me.”
Reffal tertawa. Lebih tepatnya karena dia menyadari sesuatu.
###
Bintang benar-benar cemas.
Dia tidak bisa menghubungi Hikari, pun dengan Revro dan Bravo. Semalaman suntuk mereka bertiga memikirkan Hikari, mencoba menelepon cewek itu, tapi tidak pernah berhasil. Revro yang mencoba menelepon ke rumah sahabatnya itu pun, dijawab oleh Aurora, bundanya Hikari, bahwa cewek itu tidak pulang ke rumah. Hanya ada sebuah pesan singkat dari Hikari bahwa dia akan menginap di rumah salah satu temannya.
Hanya itu.
“Rev, gue khawatir sama Hikari, loh.” Bintang bersuara. Dia mendekap diktat kuliahnya dan berjalan dengan diapit oleh Bravo juga Revro. Saat ini, keduanya akan mengantar Bintang masuk ke kelas. “Dia nggak ada kabar sama sekali.”
“Bundanya juga bilang kalau cewek itu nginap di rumah teman,” timpal Bravo. “Lo nggak ada pikiran dia nginap di mana, gitu?”
“Gue mana kenal sama teman-temannya.” Revro gusar dan mengacak rambut. “Dia kalau nggak main sama gue, ya ke rumah Elif. Tapi, Elif bilang Hikari nggak ke sana. Gue juga nggak mau membebani Elif, karena Elif lagi ada masalah.” (Baca: Abimanyu Junior’s Series: Friendzone)
“Di rumah Tristan atau Reffal, mungkin?” tanya Bintang. Revro melirik cewek itu.
“Nggak mungkin.” Cowok itu mendesah panjang. “Tristan sama Casey lagi nginap di rumah orang tua Casey. Dan itu jauh dari sini. Sementara di rumah Reffal, Hikari nggak pernah betah kalau ada di sana.”
“Kenapa?” tanya Bravo penasaran.
“Rumahnya Reffal agak seram.” Revro mencoba mengingat-ingat. “Kalau nggak salah ada ular besar, harimau mantan peliharaan nyokap gue dulu, sama burung elang.”
Langkah si kembar otomatis berhenti.
“You’ve got to be kidding me!” seru Bravo. “Itu dia niat buka kebun binatang khusus binatang berbahaya apa gimana?”
“Mana gue tau.” Revro mengangkat bahu. Tiba-tiba, melalui ekor matanya, dia melihat sosok Hikari. “Eh, itu Hikari. Hikari!”
Hikari menoleh dan Bintang tersenyum lebar ke arah cewek itu. Lega karena Hikari baik-baik saja, walau wajah cewek itu sedikit pucat dan tatapannya terlihat datar juga kosong. Pun dengan ekspresi wajahnya yang terlihat tidak bercahaya. Melihat itu, senyuman Bintang pun sirna.
“Hikari,” panggilnya sambil berusaha mendekat. “Lo nggak apa-apa, kan?”
Lengan Bintang langsung disambar oleh Revro, begitu dia melihat Hikari mengeluarkan sebuah pisau dari dalam tas selempangnya. Dia menarik Bintang ke arahnya, menyembunyikan cewek itu di belakang punggungnya. Sementara itu, Revro dan Bravo mulai bersikap waspada. Koridor kampus saat ini begitu sepi, karena jarum jam masih berhenti di angka tujuh.
“Hikari... lo kenapa?” tanya Revro. Meski begitu, kewaspadaannya tidak berkurang sama sekali. “Ini sama sekali nggak lucu, loh.”
Mendadak, Hikari berlari ke arah mereka. Tepatnya ke arah Revro karena sasarannya adalah Bintang. Cewek itu mengacungkan pisaunya, berusaha menusuk Bintang yang menjerit, tapi Revro dengan sigap menahan laju tangan sahabatnya itu.
“Hikari, sadar!” teriak Revro. “Lo kenapa?!”
Hikari tetap diam. Matanya kosong. Dia berusaha keras untuk menusuk Bintang, tapi Revro tetap bertahan. Kemudian, Bravo bertindak. Cowok itu menarik lengan Hikari hingga tubuh cewek itu beralih kepadanya. Bravo menyentak pisau di tangan Hikari, lantas menampar cewek itu dan mendorong tubuhnya sampai jatuh dengan bunyi keras ke lantai.
“BRAVO!” seru Revro berang.
“Diam, lo!” Bravo balas berseru. Napasnya terengah. Dia menatap Hikari yang terduduk di atas lantai sambil menunduk. Ketika kepalanya mendongak, pipi putih itu berubah merah dan ada darah di sudut bibirnya. “Dasar cewek b******k! Lo mau celakain Bintang, setelah dia semalaman suntuk cuma mikirin keadaan lo dan khawatirin lo?! Lo harusnya menjauh dari Bintang! Lo harusnya pergi aja dan nggak usah balik lagi! Selama ini lo cuma jadi penghalang bagi hubungan Bintang sama Revro, sialan!”
“Kakak!”
“Bravo!”
Bravo mengabaikan teriakan Revro juga Bintang. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Mata Hikari masih kosong dan mengarah pada Bravo, sementara tatapan Bravo terlihat sangat dingin dan tajam. “Jangan pernah muncul di hadapan gue sama Bintang juga Revro lagi, ngerti lo?!”
Suasana mendadak mencekam. Keempatnya terdiam. Sampai kemudian, terdengar langkah kaki mendekat, membuat Bravo dan Revro waspada, lalu bertiga dengan Bintang, mereka menoleh ke sumber suara.
Dan menemukan Reffal berjalan mendekati mereka berempat.
“Reffal?” panggil Revro bingung. “Lo ngapain di kampus gue?”
Reffal menarik napas panjang dan membantu Hikari berdiri. Cowok itu memeriksa keadaan Hikari. Tubuhnya sedikit gemetar, Reffal bisa merasakannya. Lalu, sudut bibir yang berdarah itu, perlahan mulai berubah biru.
“Lo tau? Gue mengawasi keadaan.” Reffal mulai menjelaskan. Dia merangkul pundak Hikari dengan kedua tangannya, memberikan kekuatan yang dia miliki. “Ada yang mengawasi kalian berempat. Nggak jauh dari sini. Baru aja dia pergi sambil tersenyum puas.”
“Apa?!” seru Bintang, Revro dan Bravo bersamaan. Sementara itu, Hikari tetap menatap ke depan dengan tatapan datarnya. Matanya mulai memerah karena mencoba sekuat tenaga agar tidak menangis.
“Kemarin, gue mau ke rumah lo pagi-pagi,” kata Reffal lagi. “Terus, gue nggak sengaja ngeliat Hikari di taman kompleks perumahan lo. Lagi duduk sendirian di ayunan. Sampai akhirnya, ada cowok yang datangin dia, ajak dia bicara. Dan lo tau apa yang dia lakuin, waktu gue secara sembunyi-sembunyi memperhatikan dari jarak yang lumayan dekat?”
Ketiganya tetap diam.
“Dia menghipnotis Hikari. Dia nyuruh Hikari untuk melenyapkan kalian bertiga. Setelah orang itu pergi, gue langsung mendekati Hikari dan bikin efek hipnotis orang itu hilang. Gue bikin Hikari nggak sadarkan diri, gue bawa dia ke rumah gue, dan gue ceritain semuanya ke dia waktu dia sadar.”
Bintang menutup mulut dengan kedua tangan, sementara Revro menatap Hikari dengan tatapan kaget. Bravo sendiri menatap cewek itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Dia merasa sangat... entahlah. Apalagi saat dia melihat darah itu, juga saat dia mengingat sudah mendorong Hikari dengan sangat keras.
Tidak bisa disalahkan juga, karena Bravo hanya berniat melindungi saudara kembarnya.
“Gue suruh Hikari pura-pura tetap terhipnotis, karena gue yakin, orang itu akan mengawasi Hikari. Karena itu hari ini gue datang, ikut mengamati. Dan benar dugaan gue.” Reffal menarik napas panjang. “Maaf karena nggak bilang rencana ini sama lo, Vro. Maaf, Bintang, karena udah bikin lo ketakutan.” Cowok itu kemudian menatap Hikari. “Kita pulang. Luka lo harus diobati.”
Saat akan pergi itulah, Bravo langsung menahan Hikari. Dia mencoba memegang pundak Hikari, namun cewek itu menepis tangannya. Tatapannya masih datar dan tidak fokus.
“Hikari, gue—“
“Nggak apa-apa,” potong Hikari cepat. “Bukan salah lo.”
Lalu, cewek itu pergi bersama Reffal.
Meninggalkan Bintang dan Revro yang terlihat lesu, meninggalkan Bravo yang diserang perasaan tidak enak juga perasaan asing lainnya yang menyusup dalam hati.
Cemburu akan kehadiran Reffal di sisi Hikari.
###